Kamis, 28 April 2011

Kerusuhan Hati


30 September adalah sebuah kenangan pahit. Sebuah kenangan pahit yang terpelihara dihati anak-anak bangsa. Dimana putra-putra terbaik bangsa ini telah “dipulangkan” secara paksa oleh jasad-jasad yang menyimpan ambisi untuk menjadi penguasa negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Banyak hati yang terluka karena peristiwa tersebut, tak terkecuali generasi yang lahir kemudian. Dan perlahan mereka berusaha untuk memahami ada apa dibalik peristiwa tersebut. Begitu kejam dan sadisnya mereka memperlakukan saudaranya sendiri. Sebuah peristiwa biadab yang didasari oleh berbagai keinginan-keinginan kotor dengan muara kekuasaan.

Sedangkan 1 oktober adalah secangkir jamu yang dicampur madu yang menimbulkan efek timbulnya kekuatan baru dari jasad-jasad yang telah lunglai. Jasad-jasad yang kehilangan semangat. Jasad-jasad yang kehabisan air mata. Menyadarkan mereka dari pingsan sesaat bahwa semua telah terjadi dan tidak akan bisa kembali hanya dengan mengandalkan sedih dan air mata. Dibutuhkan kekuatan sejati untuk meraih dan memegang kendali kereta yang porak poranda. Dan butuh penyatuan tekad kembali semua yang telah terpencar untuk dapat melangkah pelan diatas jasad-jasad yang telah pergi membawa cita-cita dan ketulusan hatinya.
Tidak ada satupun jenis obat yang bisa menyembuhkan luka yang terlanjur menyobek dalamnya hati. Kesaktian Pancasila telah memberikan motivasi untuk bangkit dan berusaha memahami semua yang telah terjadi. Secangkir jamu yang memberikan kesadaran, betapa banyak pelajaran yang bisa diambil dari sebuah peristiwa yang melibatkan “kualitas” hati manusia. Kita tak pernah menyangka apa yang akan terjadi pada diri kita esok hari. Dan kita juga tak pernah menyangka apa yang akan dilakukan oleh orang-orang yang kita kenal di esok hari. Prasangka masih berupa prasangka ketika semua terjadi. Dan disaat kita sadar, semuanya telah terjadi. Semua telah mati dan semua telah berganti.

Puluhan tahun kita merangkak, berjalan dan berusaha untuk berlari mengejar ketertinggalan. Kesederhanaan kehidupan masyarakat telah memberikan gambaran semu tentang kemakmuran negeri ini. Prosentase laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi bukan berarti identik dengan kemakmuran rakyat. Ada perbedaan yang tipis antara kemakmuran dan kesederhanaan hidup rakyat. Makmur hanya bisa diterjemahkan dengan terpenuhinya kebutuhan primer secara mudah dan terjangkau. Tentu saja hal ini hanya berlaku bagi masyarakat kecil. Tidak berlaku bagi masyarakat kelas atas. Karena kemakmuran hanya milik masyarakat kelas atas.

Kesederhanaan bisa menjadi sebuah kemakmuran jika disubsidi silang dengan data-data kekayaan masyarakat kelas atas. Dan hal ini bisa terjadi kalau jurang pemisah antara si kaya dan si miskin begitu dalam dan menganga. Parahnya juga, kondisi tersebut telah berjalan atau berlangsung begitu lama dikehidupan rakyat. Mereka dipaksa untuk “nrimo ing pandum” selama bertahun-tahun. Dipaksa “mengalah” demi pembangunan infrastruktur yang tak kunjung habis. Rakyat kelas atas yang menikmati lahan dan besi serta tembok-temboknya. Sementara rakyat kecil hanya menikmati debu-debu yang membawa virus-virus flu tulang. Inilah hasil dari pergantian bulan antara September dan Oktober yang fenomenal itu.

Kekerasan dan kebiadaban pernah terjadi di negeri ini. Meskipun telah diusahakan menutup bayang-bayangnya dengan tabir kesaktian, toh narasi tentang kebiadaban itu sendiri tetap tersebar secara luas. Akibatnya adalah terciptanya sebuah “jurus maut” yang sewaktu-waktu bisa digunakan jika diperlukan. Dan jurus maut ini banyak dimiliki oleh kelompok-kelompok yang berjalan di kebaikan, di kejelekan atau bahkan kelompok yang suka berpura-pura baik. sedangkan rakyat kecil sengaja ditampung di dalam sebuah tempurung. Yang setiap harinya sulit untuk bergerak bebas. Selama dalam tempurung itulah rakyat lebih suka untuk “diam” dan menahan diri dari keinginan-keinginan yang sebenarnya hanya merupakan angan-angan belaka.

Usaha-usaha untuk mencoba melawan kesaktian Oktober sebenarnya telah berjalan berkali-kali dalam kurun waktu yang selaras dengan umur “keris mpu gandring”. Tapi selalu gagal dan berakhir dengan kekalahan dan kutukan seumur hidup bagi para pelakunya. Tapi ketika burung perkutut kesayangan pergi dan membawa semua yoni-yoni yang dimiliki, saat itulah mulai terlihat tanda-tanda dengan mulai bergetarnya pilar-pilar kesaktian untuk kemudian lari dan berbalik menikam Oktober dari berbagai arah. Peristiwanyapun telah bisa digambarkan dengan jelas mulai dari peristiwa jembatan semanggi. Lalu disusul oleh peristiwa-peristiwa lain yang saling bergantian sampai tiba waktunya hari ke 20 di bulan oktober.

Oktober lama telah jatuh dan Oktober yang lain tampil menggantikan. Dan sampai saat ini beberapa kali Pengukuhan dan Penyerahan keris “mpu Gandring” negeri ini juga dilakukan di “bulan” Oktober. Dengan demikian bulan Oktober masih tetap menggenggam “kesaktian”. Meskipun kesaktiannya sudah turun 20 tingkat. Tinggal 10 tingkat lagi oktober akan berada dititik akhir dinastynya. Dan rakyat juga harus bersiap-siap untuk menghadapi apa yang akan terjadi dengan dirinya sendiri, keluarganya, masyarakat sekitarnya, daerahnya dan negeri “gemah ripah loh jinawi” yang dicintainya.

Semua peristiwa yang terjadi setelah hilangnya yoni-yoni Oktober telah mengingatkan kembali kita pada peristiwa september. Dimana kerusuhan-kerusuhan yang terjadi kadang banyak melanggar batas-batas kemanusiaan. Kebiadaban yang terjadi telah membawa sepatu-sepatu yang banyak menyebabkan terinjaknya harkat dan martabat kemanusiaan, pelecehan terhadap kaum perempuan dan ketidak pedulian pada perkembangan psykologis anak-anak yang orangtuanya menjadi korban kerusuhan. Sekali lagi sebuah peristiwa telah mengajarkan kepada kita tentang perbuatan biadab yang ujung permasalahannya juga bermuara pada kekuasaan.

Sampai saat ini “kerusuhan” yang terjadi di negeri ini semakin tanpa jarak. Berbagai permasalahan tampaknya tidak bisa hanya diselesaikan di persidangan hukum. Sepertinya masyarakat sudah tidak lagi memperdulikan aturan-aturan hukum yang bertele-tele dan selalu memenangkan yang kuat. Walaupun yang lemah berada dikebenaran bukan berarti dia akan tampil sebagai pemenang dalam berperkara. Ditambah lagi dengan lemahnya aparat dalam mendeteksi kejadian-kejadian yang melibatkan massa. Sehingga begitu terlihat celah untuk memperbesar api sengketa antara dua pihak yang berperkara, saat itu juga minyak disiramkan untuk membuat api atau pertikaian berubah menjadi perkelahian masal.

Seperti yang kita lihat, berkali-kali pertempuran antara dua kubu menyisakan luka-luka yang menyayat hati, tidak jarang pula berakibat kematian. Sebuah kematian yang tidak pernah dikehendaki oleh mereka yang bertikai. Tapi semakin hari semakin marak saja peristiwa-peristiwa berdarah yang hampir pasti disertai peristiwa kematian. Hal ini tidak lain karena turunnya wibawa hukum negara di mata masyarakat dan bebasnya rakyat menyimpan dan menggunakan senjata tajam dalam setiap pertikaian yang terjadi. Cobalah kita amati kejadian atau peristiwa ulang di media. Kita bisa melihat dengan jelas orang-orang bebas mengayun-ayunkan senjata tajam dikerumunan manusia.

Kita juga melihat dengan jelas, aparat seperti tidak berdaya menghadapi orang-orang “bengis” di setiap pertikaian yang terjadi. Mereka terlihat seperti bingung harus berbuat apa. Mungkin juga takut terkena sabetan senjata. Akibatnya setiap orang yang membawa senjata tajam yang panjang tetap leluasa memegang dan menguasai senjatanya. Dan beberapa peristiwa serupa secara bersamaan terjadi di bulan September. Seperti sebuah perayaan peringatan sebuah peristiwa berdarah di september berpuluh-puluh tahun silam. Apakah memang benar seperti itu? Tentu saja jauh dari kebenaran. Tapi peristiwa saling serang dan saling bunuhnya memang benar-benar terjadi. Dan sepertinya akan menjadi sebuah trend di masyarakat kita.

Atau mungkin kita adalah pewaris sifat-sifat kejam dan sadis yang telah diperlihatkan oleh tokoh-tokoh pelaku kekejaman di masa lalu. Selama 30 tahun lebih hidup dalam pilar yang memang sengaja dibuat kokoh, selama itu pula kita meyimpan dan memendam golok sakti dan jurus andalan warisan tersebut. Tapi bukan berarti jurus-jurus maut tersebut telah hilang atau sirna begitu saja. Peristiwa-peristiwa tawuran masal antar kelompok masyarakat yang muncul selama ini menunjukkan bahwa kita memang masih memelihara dengan baik sifat-sifat kejam dan sadis yang telah dipertontonkan pada september berpuluh tahun silam. Dan kita bangga saat ini masih bisa mempertontonkan sebuah atraksi yang fenomenal tersebut.

Lalu siapakah yang patut disalahkan jika muncul peristiwa-peristiwa saling bunuh antar kelompok seperti beberapa peristiwa yang barusan berlalu? Tentu saja harus ditelaah lebih dalam dan lebih jauh. Hingga kesimpulan akhirnya tidak akan mengkambing hitamkan sekelompok orang yang “dianggap” paling bersalah. Padahal penyebab terjadinya kerusuhan-kerusuhan tidak bisa dilepaskan dari peran pemerintah, para pejabat pemerintah dan semua institusi pemerintah. Ambil saja contoh, jika institusi hukum sudah tidak lagi menjunjung tinggi kejujuran untuk sebuah keadilan, yang terjadi adalah hilangnya kepercayaan masyarakat pada hukum yang sedang berjalan. Dan hasilnya sudah bisa ditebak!.

Fungsi hukum akan berubah dari sebuah alat produksi keadilan berdasarkan kejujuran menjadi sebuah alat penguasa yang hanya efektif untuk “mengadili” rakyat kecil. Dimana yang kuat dan besar hampir selalu bisa mengalahkan yang kecil. Meskipun kesalahan bertumpuk pada mereka yang besar. Dan kekecewaan semakin hari semakin terakumulasi di hati rakyat kecil. Dimana semua kekecewaan tersebut terpendam jauh di kedalaman hati. Hal itu berlangsung selama berpuluh tahun. Dan ketika tiba waktu kebebasan, mereka tumpahkan semua kekecewaan terhadap institusi hukum melalui pengadilan jalanan. Dengan menggunakan senjata tajam yang kadang disertai tembakan peluru tajam.

Bagaimana rakyat tidak kecewa. Mereka yang “berjuang” di bidang hukum secara diam-diam “suka” melanggar hukum. Aparat keamanan yang bertugas “melindungi dan mengayomi” diam-diam juga “suka” menyembelih dan menguliti. Secara tidak langsung kondisi seperti ini membentuk ketidakpercayaan masyarakat terhadap person dan institusinya. Bahkan cenderung “membenci”. Hanya karena aturan dan prosedur yang harus dilalui saja rakyat kecil “bersedia” datang dan menjalani semua proses hukumnya. Sedangkan harapan mengenai pembagian “keadilan”, rakyat kecil bersikap pesimis. Selama belum ada keberpihakan para pelaku hukum terhadap “kebenaran” selama itu pula hukum akan menggencet rakyat kecil.

Kerusuhan-kerusuhan yang terjadi selama ini membutuhkan ketegasan dalam bertindak dari aparat hukum. Penyelesaian masalah dengan senjata tajam harus dilenyapkan dan harus ada tindakan tegas bagi mereka yang ketahuan menyimpan senjata tajam selain pisau dapur. Tapi ini bukanlah sebuah usaha yang mudah, karena sebagian besar masyarakat desa sangat akrab dengan senjata parang yang tajam. Dan sebagian masyarakat tertentu malah terbiasa membawa golok kemanapun mereka pergi. Alasannya adalah tradisi yang turun temurun. Ada lagi sebuah tradisi sekelompok masyarakat untuk saling bunuh dengan senjata tajam. Dan setiap orang dari mereka hampir pasti menyimpan senjata tajam khusus untuk “mencabut” nyawa.

Tapi usaha “membatasi” senjata tajampun tidak akan bisa mengatasi permasalahan jika tidak disertai usaha untuk berbuat “jujur dan adil”. Baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Jika para penguasa banyak yang bermental “bobrok”, jangan heran kalau rakyatnya juga banyak yang tertular kebobrokannya. Dan jangan berbicara tentang kejujuran dan keadilan jika kita tidak berada di dalam “jujur dan adil” itu sendiri. Sekian lama kita hidup dalam kemakmuran yang semu. Sekian lama kita hidup dalam “kebohongan” hukum. Semua itu adalah kenangan pahit. Tapi janganlah kita menjadikan kenangan pahit tersebut sebagai dasar untuk kembali berbuat kejam dan sadis terhadap saudara-saudara kita sendiri.

Peristiwanya kejam puluhan tahun lalu jangan dijadikan contoh upaya meraih keinginan atau menyelesaikan permasalahan. Bagaimanapun juga kita dihidupkan dengan kasih sayang Allah. Dan dididik untuk selalu sabar dan saling mengingatkan dalam kesabaran. Pengalaman pahit hendaknya kita simpan dan kita ambil pelajarannya. Jangan sampai kita terlupa dan justru tenggelam dalam bayang-bayang kepahitan di masa silam. Selama puluhan tahun kita dalam “cengkeraman” pasukan telik sandi negara. Tapi ketika kita sudah bebas, janganlah berperilaku seperti harimau lapar yang keluar dari kandangnya.

Selama puluhan tahun hidup dalam keterbatasan hak bukanlah sesuatu yang “buruk”. Ada nilai kesabaran yang tinggi dalam periode jaman baru tersebut. Dan hal itu berlaku bagi mereka yang ber”jihad” untuk diri sendiri, agama dan negaranya. Kita telah melihat, berapa banyak mereka yang bersedia berkorban jiwa dan raganya justru hidup dalam kekurangan materi alias “melarat”. Dan jika sang penguasa diingatkan tentang hal tersebut, yang keluar adalah kalimat klasik yang berintikan “perjuangan tanpa pamrih” dan bersembunyi dalam kata “patriotisme”. Karena para pejuang bangsa tersebut tidak ingin menodai ketulusan “jihad” mereka, akhirnya lebih memilih untuk berprinsip “nrimo ing pandum”.

Mereka rela hidup dengan pensiun yang minim. Dan mereka menahan diri dari gejolak hati yang tidak bisa menerima “ketidakadilan” bagi diri mereka. Sementara banyak dari mereka yang hanya bersembunyi di waktu gerilya saat ini hidup dengan bergelimang harta dan bisa membeli surga-surga di dunia. Sementara para veteran hanya diberi “kebanggaan” dengan sebuah uniform yang berbau perjuangan lengkap dengan bintang-bintang jasa mereka. Walaupun tinggal sedikit, sisa-sisa pelaku sejarah perjuangan masih bisa kita jumpai di home base mereka yang ada di tiap-tiap kota. Tak lama lagi mereka akan habis dan hanya menyisakan kata-kata heroik “merdeka atau mati” yang lambat laun akan berubah menjadi “lebih baik hidup dari pada mati konyol”.

Sebuah warisan hati yang bersih, namun lambat laun terkotori dengan keinginan-keinginan atau ambisi yang tidak lagi memperdulikan jiwa saudara sendiri. Jika dahulu bisa dikiaskan dengan anjing berebut tulang, kerusuhan yang terjadi saat ini tidak jelas apa yang diperebutkan. Kebanyakan pelakunya adalah “preman” bayaran. Yang menjadikan “order” kerusuhan sebagai ladang mencari nafkah dan pelampiasan nafsu untuk melukai bahkan membunuh. Dan pemberi ordernya adalah mereka yang memang menyukai kekacauan dan tidak menyukai kestabilan politik terjadi di negeri ini. Mereka inilah pewaris-pewaris sebenarnya pemikiran September puluhan tahun yang lalu.

Mudah-mudahan masyarakat kita segera menyadari dan keluar dari permainan yang bersumber dari ke-rusuh-an hati atau kekotoran hati dari orang-orang yang haus kekuasaan dan terlena karena tingginya jabatan. Tidak mudah terbujuk oleh orang-orang yang sengaja ber”bisnis” kerusuhan untuk membuat suasana di masyarakat tetap dalam kekacauan. Sehingga para penguasanya tidak ada kesempatan berbuat kebaikan untuk rakyat dan negaranya serta tidak lagi mendapat kepercayaan masyarakat. Yang bisa berakibat terpancingnya rakyat kecil untuk menjadikan penguasa sebagai musuh bersama. Dan para provokator dan sang pemberi order “kerusuhan” senang dan puas menikmati hasil kerjanya.

Sekian.
Selengkapnya...

Jumat, 22 April 2011

Kemana Kita Berkiblat ?


Kiblat dalam Islam identik dengan arah Shalat. Makna kiblat dalam shalat adalah arah untuk menghadapkan diri, hati dan pikiran kepada Allah swt. Sedangkan shalat adalah sebuah ibadah yang sudah ditentukan waktu dan tata caranya. Arahnya? Sampai saat ini arah shalat atau kiblat shalat adalah Ka`bah yang berada di Masjidil Haram. Dan arah ini adalah perintah dari Allah swt. Pusat atau titik pusat sebuah pusaran manusia yang saling bersambung dalam melaksanakan perintah Allah yaitu shalat. Kiblat ibadah sudah ditentukan oleh Allah dan hidup manusia adalah untuk kepentingan ibadah. Tapi dalam hidup yang berorientasi ibadah ini ternyata kita telah banyak mengalihkan kiblat ke arah lain. Ke arah yang tidak seharusnya.

Kiblat shalat umat Islam adalah Ka`bah di masjidil Haram. Kiblat hidup tak ada lain kecuali ridha Allah swt. dan ajaran Rasulullah saw. Rasulullah Muhammad adalah pemimpin umat sekaligus pemimpin negara. Pada beliau ada contoh atau teladan kepemimpinan dan perilaku yang baik. Tapi karena kecenderungan manusia lebih banyak ke arah keberhasilan dunia, maka belasan abad kemudian kiblat hidup manusia tidak lagi menuju ke ridha Allah swt dan perilaku Rasulullah saw. Islam memang berkembang pesat sekali. Tapi perkembangan secara kuantitas belum tentu berkorelasi dengan Kualitas beragama. Keislaman kita lebih banyak kita miliki karena “warisan” dari orang tua kita. Kita terlahir sudah dalam keadaan ber”agama” Islam. Yang demikian sepertinya telah membuat kita cukup “puas”.
Umumnya sebuah warisan, ada yang semakin meningkat, ada yang tetap, ada pula yang semakin habis. Seperti juga kita yang mewarisi Iman. Bisa tetap beriman saja sudah lumayan bagusnya. Meski kadang banyak yang hanya asal beriman. Sangat Sedikit dari banyaknya pewaris Iman yang semakin bertambah Imannya. Mereka mengisi Iman mereka dengan Ilmu. Sebagian ada yang berhasil ke derajat yang lebih tinggi dengan menempatkan dirinya menjadi seorang ustadz atau Kyai. Dan sebagian besar yang lain justru mengalami kebangkrutan Iman. Karena kesalahan menentukan kiblat kehidupan dan melupakan kiblat shalat. Terlalu sering melakukan “barter” Iman dengan makanan, pakaian, gemerlapnya malam dan “gengsi” dalam kasta di masyarakat.

Semenjak manusia berpikir gengsi atau prestise dalam hidupnya, sejak ltulah dia mempreteli iman warisannya. Tidak akan berani keluar rumah tanpa membawa merek tertentu. Gaya hidup atau life style yang diikuti berkiblat pada bangsa-bangsa yang sudah begitu maju atau modern dunianya. Padahal Rasulullah saw tidak meniru atau bahkan tidak tertarik pada gemerlapnya dunia yang ditawarkan oleh bangsa Rumawi. Bahkan sejak awal-awal kenabian beliau tidak pernah tertarik dengan tawaran “dunia” dari kaum jahil Quraisy. Tapi kita yang hidup saat ini justru memalingkan diri dari keteladanan yang dibawa beliau serta para sahabatnya. Kebanyakan dari kita juga menganggap bahwa hidup dalam kesederhanaan adalah sesuatu sudah usang. Kita lalu menciptakan motto “orang Islam harus kaya”

QS. At Takaatsur 1- 2.

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ﴿١﴾حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ﴿٢﴾

“Alhaakumut takaatsur, hattaa zurtumul maqaabira.

(1)Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, (2)sampai kamu masuk ke dalam kubur.

Di ayat selanjutnya Allah melarang berkali-kali dan meyakinkan kepada kita tentang akibat yang akan benar-benar kita lihat dan kita saksikan sendiri. Dan Allah juga meyakinkan pada kita akan kepastian melihat bahkan masuk kedalam neraka jahim. Juga tentang kepastian pertanggung jawaban limpahan harta yang kita kumpulkan selama hidup. Jujur atau tidak, kita telah mengingkari sebuah peringatan yang diwujudkan dalam sebuah surat. QS. At Takaatsur ayat 1 sampai dengan akhir ayat. Kemegahan dalam hidup, dan selalu dalam keadaan bermegah-megahan sampai di akhir hidup telah banyak melalaikan manusia dari kewajiban untuk taat beribadah kepada Allah.

Marilah kita mencoba untuk melihat kenyataan yang saat ini sedang berjalan. Dari mulai pemberian nama bayi yang lahir, kita sudah meng”impor” dari Eropa dan Amerika. Kita bangga anak kita mempunyai nama yang “keren” seperti bintang-bintang film dan penyanyi “west”. Kita buang nama-nama pilihan yang mengandung bahan “lokal”. Ada perasaan “malu” untuk dan terbelakang jika harus menggunakan nama-nama lokal. Sebuah bukti kalau kita sudah dikuasai oleh setan bejuluk “gengsi”. Memang pemberian nama anak adalah hak prerogatif orang tua. Tapi sekali lagi bahwa dari pemilihan nama saja kita sudah tahu kemana seseorang berkiblat. Berlomba-lomba menggunakan nama orang yang banyak memusuhi Islam dan “mencibir” nama-nama lokal.

Lalu cara berpakaian. Bahan dan model lebih suka yang berbau “asing”. Alergi dengan bahan lokal dan beranggapan bahwa bahan lokal “hanya” untuk mereka yang berada di level ekonomi bawah. Suka menggunakan pakaian “minim” bahkan setengah telanjang. Seperti orang-orang “barat” yang dalam hatinya selalu memusuhi Islam. Memang ada sebagian dari kita yang “taat” pada anjuran agama. Dengan menutup “aurat” seperti yang dianjurkan. Tapi banyak pula yang tidak tahu cara “menutup” aurat yang benar. Hingga pakaian yang harusnya “menutup” berubah peran laksana daun untuk “mbrengkes” pindang. Aurat yang mestinya tertutup jadi ter”buntel”. Ketat sekali, seperti tak ada bedanya antara pakaian dan alat kontrasepsi “plembungan”. Padahal telanjang itu menampakkan bentuk, lekuk dan kepolosan. Memang tidak polos, tapi tetap saja mereka telanjang ! Itu untuk kaum perempuan Dan inilah kiblat pakaian kita.

Pendidikan juga demikian. Mereka yang “kaya raya” gengsi menyekolahkan anaknya di sekolah negeri. Apalagi hanya SD Inpres. Beruntung saat ini sudah tidak ada lagi yang namanya SD Inpres. Semua SD inpres sudah dinegerikan. Mereka bersekolah di sekolah favorit khusus untuk anak-anak orang kaya. Sebagian besar lagi bersekolah di manca negara. Terutama di negara yang sudah “maju” pendidikan formalnya. Setelah lulus dari luar negeri, pemikirannyapun juga sudah berubah. Berubah seperti pemikiran orang-orang “bebas” dan menganggap pemikir-pemikir lokal masih berada beberapa level dibawahnya. Hingga mereka yang lulusan luar negeri hampir selalu memaksakan pemikirannya yang berkiblat di negara penganut kebebasan. Masuk diakal memang. Kalau yang dipakai pemikiran lokal, ya untuk apa mereka belajar keluar negeri ? Barat, itulah kiblat hati kita, bukan Islam dan ajarannya.

Memilih design rumah juga demikian. Mayoritas design rumah yang ditawarkan di masyarakat berciri Eropa atau western. Dan merupakan sebuah kebanggaan untuk bisa memilikinya. Design lokal yang berciri khas dianggap ketinggalan jaman. Mereka berlomba-lomba untuk mengcopy paste model bangunan ala Eropa atau Amerika. Demikian juga dengan “isi” atau perabot yang ada di dalam rumah. Kalau bisa semua terisi dengan perabot buatan luar negeri. Dan itu sangat membanggakan bagi mereka yang berduit. Ya, memang kesanalah kita ini berkiblat. Boleh ? Kenapa tidak boleh ? Cuma ada sayangnya. Banyak dari saudara kita yang tinggal di rumah-rumah reyot. Banyak karyawan atau buruh tinggal di kos-kosan yang sempit, pengap dan campur baur antara mandi, makan dan tidur. Kenapa tidak kita alihkan kelebihan harta untuk belanja di jalan Allah ?

Kepemimpinan? Berbagai buku biografi kita baca. Dari mulai Adolf Hitler sampai Barrack Obama. Begitu banyaknya hingga kita kebingungan harus meneladani siapa? Padahal sejarah kehidupan Rasulullah saw memberikan tuntunan hidup dan teladan bagaimana harus menjalani kehidupan. Tapi siapa diantara kita yang “mau” mengambil contoh kepemimpinan Rasulullah saw.? Sebuah kepemimpinan yang berorientasi pada Allah untuk kepentingan umat. Seorang pemimpin yang tidak bertambah “kaya”, meski memimpin sampai di akhir hayatnya. Rasulullah dan sahabatnya telah memberikan sebuah teladan yang sangat-sangat berat untuk diikuti pemmpin Islam saat ini. Pemimpin- pemimpin yang hidup di abad ini “malu” menjalani hidup sederhana. Apalagi serba pas-pasan. Hampir semua cenderung memperkaya diri.

Kita bisa melihat di sekitar kita. Para pemimpin yang sebelumnya hidup pas-pasan, beberapa tahun kemudian setelah jadi pemimpin hidupnya berbalik 180 derajat. Kaya dan eksklusif. Jauh meninggalkan rakyatnya. Berperan besar menciptakan jurang pemisah antara kaum the have dan kaum the mlarat. Sejak bergulirnya revormasi politik banyak sekali “akar” yang berubah jadi rotan “abal-abal”. Pemimpin dan wakil rakyat banyak dihuni pak “Ogah” dan pak “Ableh”. Kerjanya ogah-ogahan kalau urusan uang selalu bilang “pokoknya beres Bleh !”. Seperti tong kosong, hanya bunyinya yang nyaring. Isinya ? Gemblondang ! Kosong ! Seperti brengkesan isi gas buang ! Memang inilah kenyataan yang harus diterima umat.

Padahal sebagai umat Islam yang telah mengantongi “jurus-jurus” putih warisan Rasulullah saw, kita tinggal mengcopy dan menjalankan saja. Dan pasti tidak akan ada “bisik-bisik” yang merencanakan kedeta atau penggulingan kekuasaan secara paksa. Kenapa harus digulingkan ? Adakah pemimpin sekualitas yang akan “sangggup” menggantikannya ? Tidak akan pernah ada manusia yang sekualitas Rasulullah di jaman beliau. Demikian juga dengan kedua sahabatnya di kemudian hari. Tak menumpuk harta dan tak berlomba untuk masuk dalam daftar manusia terkaya di bumi. Kita yang saat ini jadi pemimpin lebih suka menggunakan jurus-jurus “kelabu”. Yaitu jurus hitam yang dipadu dengan janji-janji putih. Jurus kelabu yang segera menghitam ketika janji hanya tinggal janji.

Rasulullah tidak berjanji kepada umatnya. Rasulullah hanya memberitakan janji Allah untuk mereka yang beriman. Rasulullah yang akan menjadi saksi kepasrahan diri orang-orang beriman nanti di pengadilan Allah. Dan Rasulullah berlepas diri dari mereka yang haus kekuasaan. Karena kehausan berkuasa lebih banyak menimbulkan sifat arogan. Pemimpin-pemimpin dunia barat adalah contoh pemimpin yang arogan. Tanpa meneliti kebenaran tindakan yang akan dilakukan mereka langsung turut menyebar peluru-peluru maut membumihanguskan beberapa negara yangmayoritas penduduknya umat muslim. Dan lucunya, hal seperti ini disponsori oleh negara yang mengaku paling mengagungkan hak asazi manusia, Amerika.

Kiblat kita telah berpindah tapi kita semua tidak menyadarinya. Hanya di waktu shalat kita mengarahkan diri ke ka`bah. Baitullah. Itupun jika shalat kita tulus. Padahal keikhlasan kita dalam menjalankan shalat masih menjadi sebuah pertanyaan besar. Diluar shalat pikiran dan hati kita lebih banyak berkiblat pada keberhasilan materi. Keberhasilan kepemimpinan adalah sebuah proses panjang yang melibatkan banyak pihak. Sehingga bisa dikatakan bahwa keberhasilan kepemimpinan adalah hasil kerja kolektif. Dan itu sudah ditunjukkan oleh Islam di awal-awal perkembangannya. Tapi saat ini kepemimpinan Rasulullah sudah dianggap usang. Tidak ada yang mau melirik lagi. Memang benar kalau Rasulullah adalah penutup para nabi, karena memang tidak mungkin lagi ada manusia sekualitas dengan Rasulullah saw. Meski sudah lewat 14 abad.

Yang membuat cemas adalah banyaknya pemimpin Islam yang berkhianat setelah keberhasilan hidup dunianya diangkat tinggi-tinggi oleh Islam. Lebih senang berkawan dengan keturunan jahudi dari pada bergaul dengan saudara sendiri. Bermewah-mewahan dan tidak mau tahu penderitaan orang-orang muslim di bagian bumi yang lain. Cuek dan sok “aman dan damai”, padahal kenyataannya mereka adalah orang-orang yang takhluk pada kaki jahudi dan keturunannya. Kehilangan keyakinan tentang benar dan nyatanya bantuan Allah berupa “burung” ababil. Hingga tidak ada lagi keberanian untuk me”melotot”kan mata atas kezhaliman yang menimpa saudara-saudara seiman dalam tauhid. Habis sudah warisan hati “baja” Rasulullah dan para sahabatnya. Yang tertinggal hanya kemampuan diplomasi “omong kosong” layaknya penjual jamu keliling.

Kiblat, memberikan gambaran kemana arah tujuan seseorang. Kiblat dalam shalat yang telah ditentukan saja masih belum bisa menjamin keselarasan antara gerak, pikiran dan hati. Apalagi kiblat hidup yang dijamin kebebasannya. Meskipun membawa bekal segudang Ilmu Iman dan Islam jika tidak ada perwujudannya, perlahan tapi pasti akan tertutup oleh gelimang dan gemerlapnya dunia. Suatu hal yang bukan merupakan pilihan Rasulullah saw disaat beliau mempunyai kemampuan untuk melakukannya. Sekaligus merupakan suatu hal yang sangat sulit dilakukan oleh para pemimpin yang hidup di abad 20 saat ini. Dimana hidup dan gemerlap dunia telah menghalangi pandangan mata. Hingga kita sulit mengenali warna kebenaran yang nampak di depan mata.

Sekian.
Selengkapnya...

Selasa, 19 April 2011

Libya Dikepung Iblis


Kekuatan rakyat parsial tidak akan banyak memberikan harapan untuk sebuah revolusi. Apalagi hanya mengandalkan material yang serba terbatas. Kekuatan immaterial kadang justru lebih banyak dan lebih cepat membuahkan hasil. Seperti yang telah ditunjukkan oleh negara tetangga Filipina. Kekuatan menarik simpati tidak hanya dari golongan masyarakat sipil tapi dari kelompok militerpun juga terbius untuk bergabung dengan kekuatan rakyat. Hasilnya sudah bisa ditebak, presiden terguling tanpa harus banyak jatuh korban. Demikian juga yang terjadi di mesir. Meski kita juga bisa mengatakan bahwa lepasnya kendali militer dari tangan penguasa diakibatkan karena kejenuhan politik. Kejenuhan terhadap profil kepemimpinan yang statis.

Apa yang terjadi di Libya saat ini adalah sebuah contoh kekuatan yang terlahir prematur. Pemicunya adalah lahirnya kekuatan-kekuatan baru di sekelilingnya. Tapi apa mau dikata, maju kena mundurpun kena peluru juga. Kata orang jawa, “Cincing-cincing gak urung yo teles”, maka dengan kekuatan seadanya, bayi revolusi Libya tetap maju berperang meski harus berjalan tertatih-tatih. Hasilnya sudah bisa ditebak, para revolusioner Libya menabrak “gunung” Khadafi. Karena meski tua, cengkeraman presiden yang satu ini masih kuat untuk menuntun militernya. Perlahan namun pasti kekuatan prematur bergerak mundur untuk menyusun kembali kekuatan. Tentu saja sambil berharap bantuan dari “dunia” lain akan segera tiba.
Semula, kita semua mungkin bisa berharap bahwa presiden Kadhafi akan mundur dan memberikan kekuasaan kepada “rakyat”. Dan tentu semula kita semua juga berharap bahwa Libya tetap akan berpendirian kuat untuk menjadi pemimpin perlawanan terhadap dunia barat yang mempunyai hobby campur tangan urusan orang dan agresi untuk sebuah penghancuran. Tapi semua mungkin hanya angan-angan saja. Kadhafi ternyata memilih untuk bertahan sampai titik darah penghabisan. Padahal implikasinya bisa berpengaruh sampai tujuh turunan. Lihat saja apa yang terjadi di Irak. Dan perhatikan pula apa yang akan terjadi di Irak kelak. Hancur lebur oleh pasukan koalisi. Lalu mereka menawarkan jasa memperbaikinya untuk kemudian bercokol sampai tidak ada lagi “oksigen” di Irak yang bisa mereka hirup.

Irak adalah sebuah contoh nyata. Sebuah negara yang di embargo selama bertahun-tahun ternyata telah merontokkan taring-taring kewibawaanya. Maka jika perang dipaksakan, yang terjadi adalah Show of Force. Sebuah pamer kekuatan sekaligus kawasan uji rudal nuklir dan senjata kimia mungkin akan menjadi kenyataan. Dan saat itu Presiden Saddam tidak punya pilihan selain bertahan sambil sekali-sekali melemparkan “scud” nya. Tapi sekali lagi, sekuat apapun militer Irak saat itu tak akan pernah bisa “bernafas” menghadapi serbuan pasukan koalisi yang telah terinjeksi cairan Iblis. Yang terjadi kemudian sudah pula bisa ditebak bahwa pemerintahan yang terbentuk kemudian tidak lagi merepresentasikan pemikiran orang Irak yang mayoritas muslim. Kemungkinan yang paling besar hanyalah menterjemahkan kemauan penanam saham kehancuran Irak.

Libya saat ini pada posisi yang hampir sama dengan Irak. Sama-sama dibenci dan dicari kesalahannya untuk kemudian dikeroyok beramai-ramai atas nama PBB. Kejenuhan sebagian masyarakat Libya terhadap kepemimpinan Presiden Kadhafi telah menimbulkan perlawanan rakyat secara parsial. Ketika para pemberontak dalam posisi terjepit dan tidak lagi bisa bernafas, ketika itu juga akan menggundang semut-semut berambut merah untuk membantu mengangkat senjata. Setelah umpan-umpan warga pribumi dimakan oleh pasukan pemerintah maka, show of force seperti di Irakpun akan segera dimulai. Dan serangga-serangga darat maupun udara akan silih berganti membombardir seluruh bagian bumi Libya.

“Tego Larane gak tego patine”.

Sebuah perumpamaan jawa yang sampai saat ini masih “berlaku”. Meskipun sebagian diri kita semula tidak tertarik dengan “lamanya” kepemimpinan presiden Moammar Kadhafi dan berharap agar segera mundur, tapi kenyataanya berbeda. Apa mau dikata ? Toh pergantian pemimpin dan ideologi baru juga belum tentu menjanjikan kehidupan yang penuh Iman. Kebebasan yang di idamkan rakyat selama ini justru banyak menimbulkan kemudharatan. Manusia lebih banyak yang menjauh dari Iman dan beralih pada kemaksiatan. Tawaran demokrasi tentang kebebasan adalah pondasi terhamparnya kemaksiatan secara global. Bukti-bukti yang telah ada di depan mata adalah saksi-saksi yang tak bisa bicara. Tapi bukan berarti negara monarchi tidak bebas kemaksiatan. Rata-rata negara monarchi yang masih eksis di benua eropa adalah penganut kebebasan bermaksiat. Sangat-sangat bergantung “siapa' yang memimpinnya.

Saat Kadhafi memutuskan untuk menyapu bersih para pengunjuk rasa yang cenderung memberontak, kita semua berpikir pasti akan ada pembantaian manusia. Kadhafi mungkin tidak akan memaafkan rakyatnya yang berusaha untuk menggulingkan kekuasaan yang telah di pegang selama 40 tahun lebih. Lalu tiba-tiba pasukan srigala datang dan menyerang dengan membabi buta. Bom-bom mutakhir di muntahkan di seantero wilayah Libya. Hasilnya ? Sudah bisa dipastikan bahwa Irak ke dua pasti terjadi di negara Kadhafi. Kekhawatiran tentang adanya pembunuhan masal para pemberontak belum terbukti tapi pemusnahan manusia bahkan sudah dimulai. Kembali dunia Islam dijadikan sasaran uji coba senjata mutakhir dari pasukan Iblis negara-negara teroris. Bisakah kita menerka mengapa ini semua bisa terjadi ?

Siapakah yang mengundang Koalisi iblis ?

Liga Arab ! Ya liga Arab ternyata yang menjadi pemicu kehancuran dunia Islam sendiri. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Karena mayoritas dari kita adalah orang-orang “munafik”. Kelihatan berorientasi akhirat tapi sebenarnya tak mau kehilangan dunia. Demikian juga dengan sekumpulan negara-negara yang tergabung dalam liga Arab. Mereka banyak berhubungan dengan negara-negara kafir dan takut kehilangan “dunia” kekafiran yang dibawanya. Mereka saling iri dan dengki dengan negara-negara sesama muslim. Sama-sama berlomba untuk “nggolek bolo” orang-orang yang dalam hatinya tak pernah bersih dari permusuhan terhadap orang Islam. Hingga sampai pada kesempatan untuk memutuskan sebuah “kebenaran” bertindak, tindakan yang diambilnyapun justru malah mencelakakan.

Keterlibatan United Nation ternyata murni atas permintaan Liga Arab. Karena kekhawatiran yang sangat akan terjadinya pelanggaran kemanusiaan oleh pasukan loyalis Kadhafi terhadap sebagian rakyat Libya. Kok bisa hal seperti ini terjadi. Bangsa satu rumpun yang secara sengaja atau tidak telah menanam saham yang sangat besar atas hancurnya negara tetangga yang notebene adalah saudaranya sendiri. Hal ini tidak akan pernah terjadi kalau diantara negara-negara yang bertetangga tersebut tidak menyimpan rasa “kebencian”. Lantas apa yang menyebabkan mereka saling membenci hingga tidak ada kepedulian untuk menyelesaikan secara kekeluargaan “arab”. Kenapa harus pasukan Iblis yang “diundang”. Kemungkinan besar penyebab utamanya hanya tidak adanya perasaan “sehati” dalam kata dan perbuatan. Terutama dalam bersikap terhadap kekafiran dunia barat.

Kembali ke pertanyaan mengapa hal ini bisa terjadi ? Besar kemungkinan Liga Arab telah dihuni pemimpin-pemimpin yang anti Arab. Pemimpin-pemimpin vampire yang tega minum darah saudaranya sendiri. Pemimpin-pemimpin “susupan” Yahudi Israel. Mungkin bisa juga demikian, karena menyatukan sikap untuk konflik yang terjadi di Palestina saja begitu sulit. Dan hanya menjadi penonton atas tindakan sewenang-wenang Israil terhadap warga Palestina. Maka tidak mengherankan kalau liga Arab juga menghendaki Libya untuk ikut mereka meng”hamba” pada sekumpulan “setan” dari “maghribi”. Agar “sama-sama” menerapkan “kebebasan berekspresi” seperti “piaraan” Charles Darwin.

Bagaimana sikap Dunia ?

Rusia meminta Koalisi untuk tidak menyerang tempat-tempat yang dihuni masyarakat sipil. Sebuah permintaan yang “hanya” tinggal permintaan. Karena pasukan yang sudah kerasukan Iblis tidak akan pernah mengindahkan seruan. Bahkan seruan yang bagaimanapun baiknya. Kenyataanya, pasukan koalisi tetap dan terus saja membombardir pemukiman sipil serta menjatuhkan banyak korban. Mengapa ? Bukankah Rusia juga super power ? Tak lain, karena Rusia bukanlah Uni Sovyet di era sebelum Gorbachev. Rusia bukanlah seteru abadi NATO. Hingga Amerika yang meminjam Perancis untuk memimpin penghancuran tidak perlu repot-repot menanggapi seruan Rusia yang mungkin hanya “Lips service” seperti kebanyakan negara “boneka” Amerika.

China meminta resolusi untuk menyerang Libya dibatalkan. Tapi apa yang kita lihat ? Penghancuran justru dimulai dan terus berlangsung. Bukankah China juga anggota tetap United Nation ? Sekali lagi, bahwa pasukan yang sudah kerasukan Iblis tidak akan pernah menggubris. Jangankan hanya lisan dan tulisan, bantuan pengiriman pasukan Musliminpun tidak akan menghentikan aksi teroris sekelas Amerika, Perancis, Inggris dan sekutunya. Bahkan justru akan menambah semangat berlipat bagi pasukan Iblis, karena peluru dan bom-bom mereka akan semakin banyak mengalirkan darah orang-orang Islam yang mereka benci. Memang itulah yang mereka mau. Mereka hanya menunggu waktu atau kesempatan yang paling aman menyerang sekaligus “cuci tangan”. Karena penghancuran dan pembantaian sudah “direstui” oleh United Nation.

Bagaimana dengan dunia Islam ? Di sekitar Libya bahkan justru banyak yang menikmati “pesta” kembang api yang dilakukan oleh pasukan koalisi. Tak ada yang berani mengacungkan diri untuk membantu Kadhafi menghadapi serangan pasukan Iblis. Kebanyakan negara “penakut” justru akan lebih takut lagi kalau Bom Iblis sudah mulai dijatuhkan. Kita diam dan “hanya” menyebut asma Allah. Tak ada usaha nyata dari para pemimpin yang mengaku dirinya Islam. Diam dan membiarkan Kadhafi “gulung koming” sendirian menahan gempuran bom-bom pemusnah manusia. Sejengkal demi sejengkal “tanah” yang sudah ratusan tahun berserah diri kepada Allah luluh lantak. Jeritan dan raungan silih berganti. Cucuran air mata dan darah membanjiri tanah kelahiran mereka sendiri.

Kita yang mengaku Moslem Diam. Tak bereaksi apa-apa. Takut. Takut menghadap kematian yang sudah pasti. Padahal diseberang lautan ada kesempatan untuk membuktikan diri atas kebenaran kesaksian yang kita ucapkan belasan kali dalam sehari semalam. Lebih ironis lagi kalau kita melihat dan yakin bahwa ada pasukan moslem yang justru turut serta mengambil bagian dalam usaha pemusnahan umat Islam. Itulah pengkhianat Allah sesungguhnya. Dan masih ada lagi sebuah Ironi lain. Jika ada sekelompok muslim yang bersedia menjemput kematian syahidnya di medan perang melawan iblis, mereka menghalanginya. Mereka memberikan argumen “mati konyol” untuk sebuah usaha menolong “agama” Allah.

Saya tidak tahu apakah mereka yang melarang “jihad” menegakkan agama Allah di medan perang masih memendam Iman dalam Islam. Apakah mereka tidak menyadari kalau “mati konyol” itu lebih banyak disebabkan oleh “ketakutan” mereka terhadap kematian. Ketakutan seorang pemimpin terhadap kematiannya sendiri. Dan ketakutan seorang pemimpin yang sudah takhluk sebelum berperang. Kemenangan di perang Badr adalah karena Allah. Juga karena pemimpin yang turut andil didalamnya. Yakni turut sertanya Rasulullah saw. Kekalahan di perang Uhud karena pasukan yang mengabaikan komando dan terpesona dengan dunia yang tertinggal musuh. Tapi kemenangan di akhir perang adalah karena motivasi terlibatnya Rasulullah saw sebagai pemimpin.

Yah, beginilah kalau dunia Islam dipimpin oleh makhluk-makhluk padang rumput. Bukan dipimpin oleh seorang yang terbiasa hidup di kerasnya batu dan tebing. Terbiasa menikmati manisnya dunia selama 24 jam penuh. Sampai nyali yang diwariskan oleh panglima-panglima Islam luntur terbawa keringat. Tak kuasa menghadapi kematian. Tak yakin dengan pertolongan Allah. Tak percaya dengan janji surganya Allah melalui peperangan di jalan Allah. Lebih suka jadi penonton dan mengomentari jalannya “jihad”. Lebih suka mengumpat musuh hanya ketika berada dalam kamar pribadi. Dan suka bersembunyi dikolong-kolong dipan ketika langit bergemuruh.

Saat ini kadhafi adalah pembela Islam yang sesungguhnya. Dan pemimpin dunia saat ini yang mengklaim dirinya Islam hendaknya segera introspeksi mengenai keislamannya. Jauh sebelum ada Pakta Warsawa dan NATO, Islam sudah membentuk pakta “Al Muslimun Ikhwanun”. Dan ingat orang Islam yang tidak perduli pada saudaranya dan membiarkan saudaranya terinjak-injak oleh pakta Kafiruun, kelak akan mempertanggung jawabkan di hadapann Allah swt. Dosa-dosa kita dalam membiarkan hancurnya peradaban Islam di Irak mungkin akan bertambah lagi dengan dosa-dosa ketidak pedulian kita mengenai apa yang telah terjadi di Libya. Jika kita memang memaksakan diri untuk “diam” maka tinggal menghitung berapa korban amukan pasukan Iblis yang akan menjadi saksi “diam” kita saat mereka membutuhkan pertolongan.

Hidup awalnya bukan sebuah kemauan. Tetapi mereka yang terlanjur hidup dalam Iman dan Islam ada dua pilihan. Hidup untuk mati atau mati untuk kehidupan kelak. Karena pada dasarnya, mati di akhir hidup hanyalah sebuah jalan untuk kehidupan yang sebenarnya. Dan kematian di akhirat adalah sebuah siksaan yang tidak pernah kita temukan selama kita hidup di dunia. Mati ketika membela agama Allah dan membantu sesama muslim adalah kematian yang “disaksikan” kebenaran Imannya. Sedangkan mati setelah menyaksikan dan membiarkan penyiksaan saudara-saudara se Iman adalah mati dalam kehinaan. Matinya seorang pengkhianat Rasulullah saw. Karena telah beraksi “diam” ketika mampu berbuat sesuatu.

Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan bagi mereka yang saat ini berada dalam cengkeraman pasukan Iblis. Dan memberikan petunjuk kepada para pemimpin di dunia Islam yang saat ini “lumpuh”. Semoga Allah menghukum mereka para pemimpin koalisi dengan hukuman yang “setimpal” atas kebiadaban yang mereka lakukan selama di dunia. Dan mudah-mudahan pula malaikat-malaikat Allah segera turun memberikan bantuan seperti saat pasukan Rasulullah saw. membutuhkan. Dan marilah kita katakan bersama, bahwa yang benar adalah benar, yang bathil adalah bathil. Bahwa yang benar kelak pasti akan mengalahkan yang bathil. Dan jangan pernah lupa bahwa membiarkan saudara lumpuh dalam siksaan musuh Allah adalah sebuah kebathilan.Wahaii pemimpin-pemimpin dunia Islam !!! Katakan sesuatu dan rakyat akan mendukungmu.

sekian.



Selengkapnya...