Membumikan Al Qur`an
Kalau lihat judulnya terasa agak aneh, kenapa ?
Al Qur`an itu kan sudah diturunkan ke bumi, di qalbu Rasulullah saw. melalui wahyu dengan perantaraan malaikat jibril. Kenapa harus di bumikan ? Marilah kita mencoba lebih sedikit mendalami maksud judul di atas. Membumikan biasanya mempunyai makna menyatukan atau mengintegrasikan sesuatu untuk diketahui dan di pahami orang banyak atau khalayak dan menjadikannya sebagai pegangan atau kebiasaan sehari-hari. Makna yang lebih mendekati adalah menjadikan Al Qur`an melekat di hati khalayak khususnya kaum muslimin yang telah mengaku diri sebagai orang Islam.
Mengapa harus di integrasikan ke dalam hati masing-masing orang Islam ? Lantas selama ini bagaimana “hubungan” orang Islam dengan Kitabnya ? Jujur saja, kita ini muslim, kita mengaku beriman dan salah satunya adalah beriman kepada kitab yang diturunkan oleh Allah yaitu Al Qur`an. Tetapi sikap dan perlakuan kita terhadap kitab itu sendiri bagaimana ? Kita lebih banyak mengabaikannya ! Kita lebih banyak menempatkan Al Qur`an pada tempatnya. Yaitu di tempat khusus di almari kaca atau di atas lemari. Jarang kita mau membacanya. Kenapa ?
Agak banyak juga alasannya. Yang pertama, mungkin kita memang nggak bisa membacanya karena kita memang tidak pernah mempelajarinya. Baik huruf-hurufnya maupun cara membacanya. Yang kedua mungkin kita hanya sekedar membaca tanpa mengetahui arti atau terjemahannya cuma menjaga agar tidak lupa terhadap huruf dan bacaannya saja. Yang ketiga mungkin kita membacanya dan membaca juga terjemahannya, tetapi waktunya hanya kadang-kadang saja. Mungkin terlalu sibuk kerja seharian. Yang ke empat mungkin kita memang sengaja hanya menempatkan Al Qur`an hanya sebagai hiasan saja.
Terlalu banyak alasan memang untuk orang yang dasarnya enggan atau malas. Dan kita memang kebanyakan malas untuk membacanya. Kalaupun kita membacanya hanya sekedarnya saja bahkan mungkin hanya secara tidak sengaja, karena sedang membaca bulletin jum`at yang di bagi-bagikan di masjid di waktu shalat jum`at. Itu masih dalam “membaca”. Apalagi menghafalnya !
Kira-kira ada benarnya nggak kalau kita ini dikatakan sebagai orang Islam yang menzhalimi Al Qur`an ? Bagaimana tidak ? membaca saja enggan, menghafal saja hanya terbatas pada surat-surat pendek. Asal sudah bisa di pakai untuk bacaan shalat setelah surat Al Faatihah ya sudah !
Saudaraku se-Iman, ….surat-surat pendek dalam Al Qur`an itu tidak untuk menjebak umat Islam ke dalam rutinitas bacaan shalat hanya di lembar-lembar akhir dari seluruh lembar yang ada. Tetapi justru kita yang terjebak dalam rutinitas ibadah shalat kita dengan hanya membaca surat-surat pendek yang sudah kita baca dan hafal. Masih mending kalau kita menghayati apa makna yang terkandung di dalam bacaan pendek itu. Kalau tidak ? Apa nggak seperti sekedar olah raga sambil bersiul saja ?
Kenapa kita hanya berkutat dengan beberapa surat pendek yang isinya beberapa ayat saja. Padahal banyak sekali ayat yang sangat perlu untuk dibaca dan dihafal karena pesan dan makna yang ada di dalamnya. Bahwa Al Qur`an itu bukan di lembar-lembar akhir saja. Dari awal surat sampai dengan akhir surat. Itulah Al Qur`an. Dari sekian ribu ayat, yang kita sering baca hanya sedikit saja. Sementara yang lainnya terabaikan. Tidak pernah dibaca, apalagi di pahami. Kenapa ?
Semuanya itu di akibatkan karena kita menganggap Kitabullah hanyalah sebuah buku yang tak beda dengan buku-buku yang lain. Kita tidak pernah tahu apa manfaat yang akan kita dapatkan dengan banyak membacanya, bahkan kita tidak tahu segala sesuatu tentang kitabullah itu ! Baik mengenai apa Al Qur`an itu, bagaimana cara turunnya, kenapa kita harus membacanya dan bagaimana cara memahaminya !
Jika kita mengaku beriman terhadap kitab Al Qur`an, niscaya kita tidak akan jauh darinya. Realitas yang ada adalah kebanyakan kita memang jauh dari kitabullah tersebut. Nah bagaimana supaya kita bisa dekat atau lebih dekat lagi dengan kitabullah itu ? Tentunya tidak ada cara lain kecuali “mengenalnya”. Dengan harapan kita akan lebih “mencintai” nya karena memang kita membutuhkannya. Marilah kita mencoba untuk sedikit mengenal “diri” dari kitabullah yang kita Imani tersebut.
Dengan harapan jika lebih mengenalnya, lambat laun kita juga akan mencintainya. Jika kita sudah jatuh cinta dengannya niscaya kita tak akan pernah berusaha jauh darinya. Ingin selalu dekat dan lebih dekat lagi. Dan kita akan menyadari kalau kita membutuhkannya. Semakin lama akan semakin terasa pula bahwa kita tak kan bisa hidup tanpanya. Dan itulah buah dari usaha yang tak akan pernah sia-sia. Baik di dunia maupun kelak di alam baqa.
Apakah Al Qur`an itu ?
Al Qur`an berasal dari kata “Qara`a” yang artinya adalah “bacaan”. Sedangkan kitab Al Qur`an adalah sebuah buku bacaan yang di dalamnya berisi sekumpulan surat-surat yang terdiri dari ayat-ayat yang di yakini sebagai firman Tuhan dan di turunkan dari langit.
Di dalamnya terbagi menjadi 7 manzil atau bagian yang di gunakan untuk mempermudah mereka yang akan menyelesaiakan bacaannya dalam 7 (tujuh) hari. Pembagian yang lain adalah sebanyak 30 Juz untuk mempermudah mereka yang akan menyelesaiakan dalam waktu 30 hari. Kemudian di dalamnya terdiri dari 114 surat dan sekitar 6666 ayat. Pembagian yang lain yaitu berdasar tempat turunnya, yaitu Mekah dan Madinah. Juga berdasarkan sebelum dan sesudah hijrahnya Rasulullah saw dari dan ke dua kota tersebut
Pembagian lain adalah diantara ayat-ayat itu ada yang disebut ayat Muhkamat dan lainnya disebut Mutasyabihat. Ayat Muhkamat adalah ayat-ayat yang arti dan maknanya sudah jelas dan tidak memerlukan penafsiran lebih lanjut, seperti ayat-ayat yang berisikan perintah-perintah shalat, zakat, berbuat baik dan lain sebagainya. Sedangkan mutasyabihat adalah ayat-ayat yang serupa yang maknanya masih memerlukan penafsiran dari para ahli-ahli tafsir.
Pembagian menurut panjang pendeknya surat terbagi menjadi 4 bagian, yaitu kelompok surat-surat panjang yang berjumlah 7 surat. Kelompok surat yang terdiri lebih dari 100 ayat. Kemudian kelompok yang terdiri dari kurang dari 100 ayat. Dan yang terakhir adalah kelompok surat-surat pendek.
Lantas Siapakah yang menurunkannya ?
Al Qur`an dengan semua surat dan ayat yang ada di dalamnya diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. oleh Allah swt melalui wahyu dengan perantaraan malaikat Jibril. Yaitu salah satu malaikat yang di yakini menjadi utusan khusus Allah untuk menyampaikan wahyu berupa kata-kata yang tergabung dalam satu atau lebih kalimat yang juga disebut sebagai ayat, yang mempunyai pengertian sebagai perintah ataupun informasi mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan ketauhidan Allah dan berbagai hal tentang hukum-hukum yang mengatur tata cara kehidupan umat Islam.
Kapan Al Qur`an diturunkan ?
Dalam suatu ayat Allah menerangkan bahwa Al Qur`an diturunkan pada malam yang di sebut “Lailatul Qadr” atau “Malam kemuliaan” . Yang nilai malam itu sendiri di informasikan lebih baik dari seribu bulan atau sekitar 83 tahun. Sedangkan secara riil sebagian dari seluruh ayat diturunkan sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah, yaitu di kota kelahiran beliau di Mekkah selama 12 tahun setelah masa kenabian beliau dan sebagian yang lain diturunkan setelah Rasulullah hijrah ke Madinah selama sekitar 10 tahun. Sehingga jika di tambahkan, waktu diturunkannya Al Qur`an adalah 22 tahun 2 bulan 22 hari.
Dimanakah Al Qur`an diturunkan ?
Sebagian di turunkan di kota Mekkah yang ayat-ayatnya di sebut ayat atau surat Makkiyah dan sebagian lagi di turunkan di Madinah yang ayat atau suratnya disebut ayat atau surat Madaniyah. Ciri-ciri dari kedua ayat atau surat itu adalah, yang di turunkan di Mekkah merupakan ayat atau surat yang tergolong pendek-pendek dan yang diturunkan di Madinah ayat atau suratnya panjang-panjang.
Kenapa Al Qur`an di turunkan ?
Jika ditelaah lebih dalam bahwa Al Qur`an adalah sebagai peringatan. Bukan saja untuk Rasulullah dan umat beliau, tetapi untuk peringatan bagi seluruh alam. Juga untuk memperingatkan umat pada saat itu yang banyak menyembah Tuhan selain Allah. Kehidupan pada saat itu yang jauh dari kebenaran dalam beragama dan banyaknya kebengkokan dalam praktik beragama diyakini menjadi salah satu penyebab di turunkannya Al Qur`an.
Kebengkokan yang terjadi saat itu adalah diantaranya mengatakan bahwa Tuhan mempunyai anak dan anggapan bahwa nabi Isa putera Maryam adalah Tuhan. Juga ada yang menganggap Malaikat Jibril sebagai musuh, anggapan bahwa “Tuhan itu tiga” serta penyembahan terhadap berhala yang dianggapnya sebagai cara pendekatan kepada Tuhan. Sehingga masing-masing orang mempunyai satu berhala sebagai perantara mereka terhadap Tuhan mereka. Hal – hal seperti inilah diantaranya yang menyebabkan diturunkannya Al Qur`an sebagai peringatan atas keingkaran-keingkaran pada ketauhidan
Bagaimana Al Qur`an diturunkan ?
Al Qur`an diturunkan secara berangsur-angsur selama kurun waktu 22 tahun 2 bulan 22 hari. Dari riwayat yang ada cara turunnya ayat-ayat pertama ke dada/qalbu Rasulullah saw itu menyebabkan Rasulullah mengalami ketakutan yang amat sangat. Badannya menggigil seperti terserang demam. Dan kejadian seperti ini terus berulang setiap wahyu turun melalui Malaikat Jibril.
Bisa di bayangkan betapa beratnya saat-saat Rasulullah saw menerima wahyu. Bahkan diriwayatkan, salah seorang sahabat yang kala itu pahanya ada di bawah paha Rasulullah dalam keadaan duduk, kemudian wahyu turun sahabat tersebut merasa pahanya seperti mau hancur karena beratnya tertindih paha Rasulullah saw. Jika kejadian itu berlangsung berulang-ulang dan berlangsung selama kurun waktu sekitar 22 tahun, kita bisa membayangkan betapa berat beban Rasulullah menerima wahyu berupa ayat-ayat Al Qur`an tersebut.
Dan kita yang saat ini tinggal membaca dan memahaminya saja begitu enggan melakukannya. Umat Rasulullah macam apa kita ini ?. Hanya tinggal makan dan menikmati sari-sarinya saja kita enggan apalagi terlibat dalam prosesnya. Cobalah kita bertanya pada diri kita sendiri. Berapa jam yang kita gunakan untuk membaca dan mencoba memahaminya ? Berapa menit yang kita gunakan untuk mencoba untuk menghafalnya dan berapa detik yang kita gunakan untuk mengingat apa makna yang yang terkandung di dalamnya ?
Allah juga menjelaskan dalam Al Qur`an bahwa jika saja Al Qur`an ini diturunkan pada sebuah gunung niscaya akan hancur berantakan gunung tersebut. Dan ayat-ayat Al Qur`an hanya bisa diterima oleh hati yang tenang, yang bersih, yang lembut. Hanya Rasulullahlah yang saat itu sanggup menerimanya. Oleh karena itu sudah sepantasnyalah kalau kita tidak menyia-nyiakan jerih payah beliau yang telah sudi menyediakan diri dan jiwanya demi untuk kebaikan seluruh umat.
Al Qur`an adalah Kebenaran. Seluruh isi Kitabullah membawa kebenaran dan tidak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, bahkan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Merupakan perkataan yang baik yang diturunkan untuk manusia oleh Allah swt. Yang membuat gemetar kulit orang-orang yang takut kepada TuhanNya, dan kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah. Yang dengannya Allah memberikan petunjuknya kepada siapa yang di kehendakinya. Tentunya kepada mereka yang mengusahakan diri dan jiwanya untuk selalu dekat dengan Tuhannya.
Al Qur`an adalah wahyu yang nyata diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Sebagai bacaan yang mulia dan sebagai petunjuk bagi orang-orang yang mengikuti keridhaannya dalam menempuh jalan keselamatan. Yang mengeluarkan orang-orang dari jalan kegelapan menuju cahaya yang terang benderang atas izinNya serta menunjuki orang-orang ke jalan yang lurus.
Al Qur`an adalah ayat-ayat Allah yang nyata yang tidak akan pernah berubah sampai kapanpun karena terpelihara dalam dada orang-orang mukmin yang banyak menghafalnya dan memahaminya secara turun temurun. Yang merupakan pembeda antara yang hak dan yang bathil. Yang merupakan pelajaran dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang ada di dalam dada kaum muslimin dan menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Demikian sempurnanya Al Qur`an yang bukan saja menjadi peringatan bagi manusia tetapi menjadi peringatan bagi semesta alam. Betapa meruginya kita yang menyia-nyiakannya. Betapa tidak perdulinya kita terhadap sebuah kitab yang menjadi petunjuk jalan kita untuk memperoleh keridhaanNya.
Saudaraku se-Iman,..
Marilah mengubah diri kita, mengubah Iman kita yang jauh dari sempurna, dengan memalingkan mata dan hati kita pada kitabullah. Jika kita mengaku sebagai orang-orang yang beriman, tidak sepantasnya kita memandang sebelah mata padanya. Seharusnya kita menjadikan kitabullah sebagai bacaan yang selalu menghiasi hati dan lisan kita. Yang selalu akan membuat kita merindukannya disaat kita membuka mata.
Bagaimana cara memahaminya ?
Sekarang ini banyak cara untuk memahami Al Qur`an. Banyak lembaga-lembaga kajian Qur`an yang membuka kesempatan kepada kaum muslimin untuk belajar memahami kitabullah tersebut. Disamping banyak juga Masjid-masjid yang menyediakan waktu-waktu tertentu untuk kalangan muslimin yang ingin belajar memahami Al Qur`an. Para Ustadz, Kyai di pondok-pondok pesantren, bacaan-bacaan di website atau situs-situs yang bernafaskan Islam, serta buku-buku yang banyak beredar di toko buku di hampir setiap kota di indonesia.
Meskipun begitu, kita tidak boleh untuk menerima begitu saja secara mentah dari uraian-uraian yang kita terima. Kesadaran akal kita haruslah tetap berjalan untuk memilah-milah mana kiranya yang “benar-benar” bisa diterima dan mana yang harus di kesampingkan. Untuk ayat-ayat yang penafsirannya masih meragukan penerimaan akal kita, hendaknya juga di cari referensi lainnya. Dan jika masih juga kita ragu-ragu berpindahlah ke ayat yang lain. Karena tidak semua ayat penafsirannya akan bisa langsung kita terima. Bahkan ada ayat-ayat yang makna sebenarnya ada pada Allah swt.
Jika anda mempelajari sendiri, hendaknya harus hati-hati. Jangan mencoba mengungkapkan penafsiran kita kepada orang lain sebelum kita melihat dari referensi yang sudah ada. Memang, perkembangan penafsiran akan selalu aktif dan semakin lama semakin mendekati kebenaran dari Al Qur`an itu sendiri. Tetapi kita yang tidak mempunyai basic atau dasar bahasa Al Qur`an dengan segala yang berkaitan dengan bahasanya tentu akan sulit untuk memperoleh penafsiran yang benar. Bahkan hal ini cenderung tidak di perbolehkan, karena akan menjurus ke pemahaman yang salah dan menimbulkan tersesat dari makna yang sebenarnya. Bukan berarti penafsiran di zaman sekarang ini semuanya tidak benar, jika penafsiranya tidak bertentangan dengan logika dan tidak menunjukkan pertentangan dengan penafsiran-penafsiran sebelumnya, justru akan lebih membantu akan kebenaran makna suatu ayat.
Posisikan diri kita seperti orang yang sedang belajar memahami. Janganlah memposisikan diri dan pikiran kita sebagai guru yang sedang mengoreksi soal-soal ujian siswanya. Al Qur`an sudah sempurna dan penafsirannya sudah ada di Rasulullah saw yang di tularkan kepada para sahabat yang pertama-tama. Oleh karena itu jika kita menemukan suatu ayat yang kita tidak paham tafsirannya sehingga kita tidak menemukan makna di dalamnya, hendaknya kita cari referensi lain atau bertanya pada para Ustadz atau para Ulama yang lebih paham tentang penafsiran para sahabat. Dengan demikian kita tidak akan tersesat jalan dalam pemahaman. Yang dengan tersesatnya pemahaman itu akan berakibat kehilangan makna yang sebenarnya dari suatu ayat.
Jangan tergesa-gesa dalam usaha memahaminya, karena sesuatu yang dilakukan secara tergesa-gesa akan berakibat salah yang lebih besar. Perlahan saja yang penting kontiniuitasnya terjaga. Karena dengan usaha yang terus menerus kita bisa menemukan makna di dalam tiap-tiap ayat yang akan berakibat pada pencerahan batin kita akan ke-Iman-an dan ketauhidan Allah swt. dari pada tergesa-gesa untuk kemudian berhenti sama sekali dalam waktu yang lama. Hal demikian tidak akan memberikan pemahaman yang bersambung antara satu ayat dengan ayat yang lain. Yang kemungkinan besar juga akan membuat kita lupa pada apa-apa yang telah kita pelajari sebelumnya.
Lakukan secara intens, setiap hari. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak membacanya. Jika kita membutuhkan petunjuk Allah yang ada di dalamnya, tak akan ada sesuatu yang menghalangi kita dari keinginan untuk membacanya. Selingi dengan bacaan lain dari penulis-penulis yang “putih” di lain waktu. Misalnya di waktu kita sedang santai menunggu kereta atau bus. Atau disaat sat kita istirahat dalam pekerjaan.
Penulis “putih” yang saya maksudkan adalah mereka yang menulis untuk tujuan agama yang sebenarnya, yaitu kedamaian, ketenangan hati, kebenaran yang hakiki dan kata-kata yang menyejukkan hati. Yang dengan tulisan itu kita semakin menginginkan untuk terus selalu membaca dan membaca. Bukanlah suatu keputusan untuk menghentikan kegiatan membaca. Hal ini bisa terjadi kalau “orang bebas” yang sedang membaca beberapa kali tetapi yang ditemukan dan dibaca adalah sebuah buku yang isinya cenderung membawa kita untuk membenarkan yang satu dan cenderung untuk menyalahkan yang lain. Dan buku seperti ini banyak kita temui di banyak tempat yang memasarkan buku-buku agama.
“Orang Bebas” yang saya maksudkan adalah orang yang tidak terikat dengan keberagaman perbedaan-perbedaan khilafah ada saat ini. Yang keberadaan mereka itu sudah berbaur menjadi satu dengan panji masing-masing di masyarakat. Orang-orang “bebas” ini meng-amin-i kebiasaan-kebiasaan yang sudah mendarah daging di masyarakat sepanjang “akal dan hati” mereka bisa menerimanya.
Orang-orang seperti ini menganggap suatu perbedaan adalah rahmat dari Allah. Yang bisa di pahami sebagai suatu cobaan kepada masing-masing diri kita untuk bisa menerima atau tidak setiap perbedaan yang muncul. Disamping suatu kenyataan kalau perbedaanlah yang bisa membangun suatu kekuatan yang sangat besar. Tanpa sesuatu yang berbeda sesuatu tidak akan memperoleh kekuatannya.
Metode lain dalam memahami Al Qur`an adalah dengan membaca dan meneliti satu per satu ayatnya untuk kemudian mencoba mengumpulkan makna yang terkandung di dalam satu ayat. Kemudian menuliskan pokok permasalahan yang tersirat dan menulis di bawahnya ayat tersebut dengan memberikan garis tebal pada kata yang terkait dengan masalah. Dan ayat itulah yang bisa dijadikan salah satu dalil tentang penyelesaian permasalahan yang terkait.
Hal ini harus dilakukan dengan kesabaran dan ketelitian yang tinggi sehingga akan memperoleh suatu hasil yang maksimal dan kebenaran tentang relevan atau tidaknya suatu ayat untuk digunakan sebagai dasar penyelesaian permasalahan yang ada. Sebenarnya buku buku seperti ini sudah banyak yang beredar di masyarakat. Tetapi seperti kebiasaan kita, kalau hanya sekedar “makan” kita tak akan perduli tentang prosesnya dan tak perduli pula dampak dari makanan yang kita makan tersebut.
Berbeda sekali kalau kita melakukannya sendiri dengan tetap di selingi dengan bacaan-bacaan lain yang sudah ada. Proses yang kita lalui itulah yang akan memberikan kekuatan pada kita untuk menyelesaikan dan menikmati “makanan” tersebut. Tentunya dengan kepahaman tentang semua bahan yang terkandung di dalam “makanan” kita. Sehingga dengan mudah kita akan bisa memberikan “resep makanan” tersebut kepada orang lain untuk kepentingan saling mengingatkan dalam kebaikan dan saling mengingatkan dalam kesabaran. Agar nantinya kita tidak tergolong dalam orang-orang yang mengalami kerugian karena telah menyia-nyiakan waktu yang terus berlalu tanpa berhenti sedetikpun.
Jika anda melakukannya secara intensif, insya Allah anda akan menemukan ratusan bahkan ribuan permasalahan sebagai pokok bahasan dengan dalil-dalilnya. Dalil-dalil penyelesaian permasalahan tersebut ada di berbagai surat dan ayat dan di tiap surat mengandung beberapa pokok permasalahan. Sehingga jika anda berhasil “khatam” Al Qur`an anda akan mempunyai pegangan sebuah kitab untuk mendampingi anda dalam memahami isi kitabullah.
Sudah cukupkan itu ? Ternyata belum ! Anda harus melengkapi buku pendampingnya minimal buku tafsir Al Qur`an yang sudah ada dan sudah banyak beredar dan satu buku tentang Hadist Rasulullah saw. serta buku tentang riwayat turunnya ayat-ayat Al Qur`an. Dan beberapa buku lagi yang penting diantaranya kitab yang menerangkan tentang terhapus dan tergantinya satu ayat dengan ayat yang lain yang sifatnya saling melengkapi, serta satu kitab tentang perjalanan hidup Rasulullah saw. yang lengkap membahas dari zaman pra Islam dan sesudah kelahiran Nabi serta zaman sesudah Rasulullah saw wafat.
Sekian, mudah-mudahan ada manfaat yang dapat diambil dan mudah-mudahan bisa menjadi inspirasi masing-masing diri kita untuk belajar memahami essensi dari sebuah komitmen ber-agama yang harus berefek pada Iman dan berbuah ketakwaan untuk menuju keridhaan Allah swt.
Amiin.
Selengkapnya...
Minggu, 07 Maret 2010
Membumikan Al Qur`an
Kamis, 04 Maret 2010
Mengukur Kualitas Iman kita.
Mengukur Kualitas Iman kita.
Iman adalah rasa percaya dan keyakinan hati terhadap wujud dan kebenaran (haq) serta eksisitensinya suatu Dzat yaitu Alah swt. Keimanan ini tidak hanya sebatas mempercayai dan menyakini adanya dzat Allah saja, tetapi mempercayai dan meyakini tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan keberadaan Allah itu sendiri.
Misalnya tentang keberadaan Malaikat, tentang firman-firman yang diturunkan melalui wahyu kepada para Rasul, yang sudah terhimpun dalam kitab, tentang para Rasul atau orang-orang yang diutus untuk menyampaikan firman-firman yang telah turun kepada sekelompok kaum, tentang kebenaran akan datangnya hari kiamat atau hari penghisaban, yang terakhir tentang ketentuan dan ketetapan Allah yang dinamakan takdir.
Iman ini sendiri terbagi menjadi lapisan-lapisan yang relatif tipis atau tebalnya antara satu orang dengan orang yang lain, tetapi secara garis besar lapisan atau tingkatan iman itu terbagi menjadi 3 (tiga) yaitu, Ilmul Yakin, ainul yakin dan haqqul yakin.
Ilmul Yakin adalah kesadaran untuk meyakini tentang segala sesuatu khususnya tentang ketauhidan Allah dan segala yang berkaitan dengan sifat-sifatNya melalui orang lain, misalnya guru di sekolah, kyai atau para ustadz bahkan mungkin orang-orang yang dekat dengan kita yang bersedia untuk memberikan masukan tentang berbagai hal. Khususnya mengenai ilmu agama.
Ainul Yakin adalah suatu keyakinan yang tidak hanya di dapat dari seseorang, tetapi keyakinan yang terbangun karena suatu pencarian tentang bukti-bukti keberadaan Allah dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kekuasaan dan kemutlakan mengenai hukum-hukum alam yang telah di ciptakannya. Pada tahap ini seseorang akan melihat sendiri dan bahkan akan mengalaminya sendiri proses-proses dari pembuktian akan kebenaran yang awalnya hanya berupa informasi-informasi yang bersifat tekstual.
Haqqul Yakin adalah keyakinan yang mutlak dan tidak akan tergoyahkan dari seseorang yang merasa bahwa dirinya hanyalah bagian yang sangat kecil dari sesuatu yang sangat-sangat besar dan diluar kemampuan logika berpikir manusia. Disini bukan hanya mata yang bisa melihat tetapi ada keterlibatan hati yang sangat dominan dalam keyakinan akan dzat Allah. Inilah Iman dengan sebenar-benarnya Iman.
Pada tingkatan ini seorang hamba akan secara otomatis melakukan perintah-perintah dari Tuhannya tanpa ada rasa keterpaksaan. Pada tingkatan ini pula akan timbul rasa kebutuhan yang sangat besat dari seseorang pada Tuhannya dan ada rasa ketergantungan yang sangat kepadaNya. Sehingga menimbulkan efek untuk selalu bisa berinteraksi kapan saja dan dimana saja dia berada.
Ujung dari perilaku seseorang yang sampai pada tingkatan ini adalah rasa ikhlas akan tindakan dan tingkah lakunya. Semua yang di lakukan hanya karena Allah semata. Bukan karena yang lain yang hanya merupakan sesuatu yang di ciptakan. Yang tidak akan bisa mempunyai kekuatan yang paling lemah sekalipun tanpa adanya keterlibatan Tuhannya yaitu Allah swt.
Dari adanya tingkatan-tingkatan inilah seseorang yang mengatakan dirinya beriman masih belum bisa dikatakan sebagai seorang yang beriman dengan sebenar-benarnya Iman. Sehingga Allah perlu memperjelas memberikan informasi kepada kita,
QS. Al Anfaal : 2 – 3.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ﴿٢﴾
”“Innamal mu`minuunal ladziina idza dzukirallahu wa jilat quluubuhum wa idza tuliiyat alaihim ayaatuhu zadathum iimaanan wa alaa rabbihim yatawakkaluuna”
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.
الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ﴿٣﴾
“Alladziina yuqiimuunash shalaata wa mimmaa razaqnaahum yunfiquuna”
(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.
QS. An Naml : 3.
الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ﴿٣﴾
“Alladziina yuqiimuunash shalata wa yu`tuunaz zakaata wa hum bil aakhiratihum yuuqinuuna”
(yaitu) orang-orang yang mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.
QS. Al Ankabuut : 59.
الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ﴿٥٩﴾
”Alladziinash shabaruu wa `alaa rabbihim yatawakkaluuna”
(yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya.
QS. Al Hujuraat : 15.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ﴿١٥﴾
“ Innamal mu`minuual ladziina amanuu billahi wa rasuulihi tsumma lam yartaabuu wa jaaahaduu bi `amwalihim wa `anfusihim fii sabiilillahi, ulaa`ika humush shaadiquuna”
”Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”
Iman yang sebenarnya adalah iman dengan amal shalih, yaitu Iman yang disertai dengan amal perbuatan seperti yang disebutkan di beberapa ayat dalam Al Qur`an. Amal perbuatan itu diantaranya adalah : yang mengerjakan shalat dengan ikhlas, yang menafkahkan hartanya yang telah di limpahkan kepadanya di jalan Allah yaitu memberikan kepada mereka yang berhak dan yang membutuhkan, yang bertawakal hanya kepada Allah, yang mampu bersabar meski dalam keadaan tertekan, yang begitu yakin akan kebenaran tentang kehidupan akhirat, yang jika di sebut nama Allah bergetar hatinya karena takut akan adzabnya, yang apabila di bacakan ayat-ayatnya imannya akan bertambah. Itulah orang yang beriman dengan sebenar-benarnya Iman, dan Allah menambahkan dalam satu Ayat,
QS. Al Anfaal : 4.
أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ﴿٤﴾
“Ulaa`ika humul mu`minuuna haqqan, lahum darajaatun inda rabbihim wa maghfiratun wa rizkun kariimun”
”Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.”
Banyak dari diri kita yang menyatakan beriman tapi sedikit dari kita yang selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas keimanannya. Sebagian besar dari kita adalah beriman di level yang pertama, karena sesungguhnyalah keimanan yang kita akui itu tak lebih dari sekedar hanya pengakuan atas wujudnya Allah dan kebenaran agama saja. Bahwa Allah itu wujud memang benar adanya. Bahwa beragama itu suatu kewajiban yang harus menempel pada identitas kita, yang jika kita melalaikannya akan berakibat fatal, kita akan dituding sebagai pengikut aliran terlarang, akan dituding sebagai pengikut kepercayaan tertentu yang bukan merupakan suatu agama yang “resmi” dan diakui oleh penguasa atau pemerintah. Sehingga banyak pula dari kita yang beragama tanpa mengetahui apa makna dari beragama itu sendiri.
Dalam “diri” agama itu sendiri tersusun dari beberapa tingkatan. Dalam Agama Islam sebenarnya tingkatan itu tersusun menjadi 3 (tiga) level. Tingkatan yang pertama adalah Iman, yang kedua Taqwa dan yang ke tiga Islam.
Mungkin bagi sebagian orang susunan itu rancu atau kacau karena sebagian orang menempatkan taqwa sebagai tujuan terakhir dari tujuan beragama. Muttaqin menjadi tolok ukur diterima atau tidaknya diri kita oleh Allah untuk kembali kepadaNya. Hal ini memang benar adanya dan jangan pernah pula untuk dipungkiri. Tapi kalau di cermati susunan tingkatan diatas juga bisa diterima sepenuhnya oleh akal atau nalar kita.
Kata “Islam” jika di cermati dari arti kata-nya bisa berarti “Tunduk” atau“berserah diri” . Berserah diri disini tentunya hanya berserah diri kepada Allah. Itulah agama tauhid yang di bawa oleh Rasulullah saw. Muttaqiin yang sebenarnya bisa pula di identikkan dengan orang-orang yang “aslam” yang berarti tunduk, menyerahkan diri sepenuhnya hanya kepada Allah semata.
QS. Ali Imraan 83.
أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ﴿٨٣﴾
“Afaghaira diinillahi yabghuuna wa lahu aslama man fiissamaawaati wal ardhi thau`an wa karhaan wa ilaihi yurja`uuna”
”Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan”.
Jika Islam di maknai sebagai penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah swt, memang harusnya berada di tingkatan akhir dari suatu proses beragama, tetapi jika “Islam” dimaknai sebagai suatu nama dari sebuah agama, maka makna Islam yang sebenarnya akan berada di balik bayang-bayang kebesaran agama Islam.
Kita semua mengetahui dan menyadari bahwa berapa banyak orang yang mengaku beragama Islam tetapi pengetahuan tentang Islamnya begitu minim sekali. Mending kalau masih disertai dengan kemauan belajar, kalau tidak ? Betapa menyedihkan sekali ! Kita hanya akan berada dipinggiran inti dari sebuah agama yang lurus yang terbungkus oleh tebalnya “ilmu”.
Inti agama tauhid yang terbungkus oleh dalam dan tebalnya ilmu bagaikan biji dalam buah semangka tanpa biji. “Biji” yang sepertinya tidak ada tetapi sebenarnya ada, dalam arti, inti dari sebuah proses ber-agama itu sebenarnya ada dan nyata, yaitu “Iman”. Tetapi tidak akan pernah kita temukan jika kita tidak pernah mengusahakannya.
“Iman” itu bisa diminta kepada Allah. Asal kita mau sedikit bersusah payah, niscaya Allah akan menurunkan sebuah “petunjuk” Nya. Nah “petunjuk” itulah yang akan kita gunakan untuk menelusuri “peta” inti dari sebuah pentingnya agama bagi kita.
Sebenarnya petunjuk itu sudah ada, yaitu Al Qur`an dan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah yang ada di alam semesta. Tetapi jika seseorang bersikat apatis terhadap Iman dan tauhid dia tidak akan pernah menghiraukan keduanya. Bahkan bersikap menjauhi keduanya. Sampai datangnya kesadaran spritual dalam qalbu atau hatinya. Pada saat datang kesadaran akan kebutuhan dan ketergantungan kepada Allah itulah seseorang akan mulai berpaling kepada “petunjuk” Allah tersebut.
Jika komitmennya kuat dan konsisten dalam memahaminya orang tersebut akan mendapat suatu pencerahan batin. Dimana akan timbul sikap untuk taat dalam menjalankan perintah-perintah agamanya.
QS. Al Israa` : 36.
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا﴿٣٦﴾
“Wa laa taqfu maa laisa laka bihi ilmun, innas sam`a wal abshara wal fu`aada kullu ulaa`ika kaana `anhu mas`uulan”
”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”
Allah memberikan kan kita pendengaran, penglihatan dan hati tak lain karena Allah menginginkan manusia memahami keberadaan Allah dengan segala sifat-sifatnya melalui ketiganya. Jika tidak, Allah sudah mempersiapkan diri dan jiwa kita untuk berhadapan dengan hukum Allah di akhirat yang pedihnya jauh melebihi siksa di dunia.
Uraian di atas untuk mengulas sedikit dari tingkatan iman. Sekarang kita coba untuk mengetahui sedikit tentang tingkatan dalam “ber-agama”. Yang pertama adalah komitmen ber-agama, yang kedua adalah buah dari komitmen beragama yaitu Iman, yang ketiga adalah taqwa, hasil dari masuknya Iman ke dalam hati yang disertai dengan amalan atau perbuatan-perbuatan yang baik, yang merupakan perwujudan dari iman itu sendiri.
Jika kita bisa melalui ketiga fase atau tingkatan tersebut, maka kita akan sampai pada esensi beragama yaitu “Islam” atau “penyerahan diri” sepenuhnya hanya kepada Allah. Dan itu semua adalah buah dari jerih payah atau usaha pencarian makna hidup dari keber-agama-an kita.
Komitmen beragama tidak boleh berhenti hanya sebatas persaksian melalui ucapan dua kalimat syahadat. Komitmen ber-agama harus berefek pada ketebalan Iman. Dengan apa ? Tentunya dengan “Ilmu” . Ilmu itulah nanti yang akan memberikan kita pemahaman akan arti pentingnya seseorang harus berkomitmen untuk ber-agama. Hanya dengan pemahaman tentang ayat-ayat Allah saja seseorang bisa menemukan sebuah contoh kebenaran. Baik itu ayat-ayat yang ada dalam Al Qur`an yang disebut ayat qauliyah maupun ayat-ayat yang ada di alam yang biasa disebut ayat kauniyah.
Kedua ayat tersebut hendaknya dipahami secara bersamaan, karena salah satunya merupakan penjelasan atau bukti dari yang lain, yaitu ayat-ayat Al Qur`an. khususnya untuk ayat-ayat yang berkaitan dengan peristiwa alam. Misalnya bergantinya siang dan malam, tentang turunnya hujan, tentang tanaman yang berbuah, semua itu adalah bukti-bukti keberadaan dan kekuasaan Allah swt.
Iman yang semakin “menebal” dikarenakan pemahaman akan lebih kuat melekatnya dari pada iman yang hanya sekedar “katanya”. Karena iman yang di dapat dari pemahaman ini akan berefek pada pembentukan karakter diri dengan keinginan yang datangnya dari hati untuk segera merealisasi perwujudan dari pada iman itu sendiri. Yaitu berupa amalan atau pembiasaan diri dalam tingkah laku yang sesuai dengan tingkah laku Rasulullah yang telah memberi contoh atau teladan yang baik.
Pembiasaan diri dalam bertingkah laku yang baik berdasarkan iman ini akan berefek pada taqwa. Dimana kata “taat” akan secara perlahan namun pasti akan melekat pada dirinya. Pada kondisi ini seseorang tidak boleh berhenti untuk selalu melakukan eksplorasi terhadap ayat-ayat Allah untuk mengasah kemampuan dalam memahaminya. Ayat-ayat Allah tersebar di seantero jagat raya, yang jika kita gunakan seluruh umur kita untuk mencoba memahaminya tidak akan habis kalimat-kalimat Allah.
Pemahaman harus selalu bertambah, kehidupan beragama kita harus dinamis. Hari ini haruslah lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Iman haruslah selalu bertambah selaras dengan pemahaman. Jika tidak berarti kita termasuk dalam kelompok orang yang merugi karena menyia-nyiakan waktu. Dan kita semua tahu bahwa waktu tidak akan berjalan mundur. Waktu akan terus berlalu seiring dengan bergesernya bumi yang kita tempati. Dan umur manusia akan selalu berkurang dari waktu ke waktu, sampai tiba waktu ajal yang telah di tentukan.
Lantas bagaimanakah dengan orang yang beriman tetapi tidak beramal shalih ? Allah berfirman :
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ﴿٢٥٦﴾
“Laa ikraaha fiiddiini, qad tabaiyanar rusydu minal ghaiyi, faman yakfur bith thaghuuti wa yu`min billahi faqadistamsaka bil`urwatil wusyqaa lan fishaama lahaa. Wallahu samii`un `aliimun”
”Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
dijelaskan di ayat tersebut bahwa mereka yang “ber-iman” mereka itu sudah berpegangan kepada buhul tali Allah yang sangat kuat dan tidak akan pernah putus. Buhul tali atau simpul tali atau ikatan tali yang kuat, lebih memberikan penjelasan tentang “tali” yang merupakan kabel atau penghubung atau jalan yang menghubungkan seorang hamba kepada Tuhannya. Iman yang diumpamakan tali tersebut tidak lain karena Iman adalah modal atau merupakan modal dalam menjalani amal perbuatan selanjutnya.
Ibarat sebuah bangunan “Iman” adalah pondasi. Tanpa pondasi akan sia-sia keberadaan sebuah bangunan, bahkan kemungkinan besar akan mencelakan bagian-bagian lain dari bangunan itu sendiri. Tetapi pondasi yang kuat akan mempertahankan sebuah bangunan sampai semua bagian dari bangunan itu perlahan lapuk atau dimakan usia. Dan pondasi saja masih belum cukup untuk menjadikan diri kita bagai sebuah bangunan yang sempurna. Kesempurnaan diri dan jiwa kita bisa terbangun apabila kita bisa membangun Amalan yang baik di atas pondasi iman kita.
Di ayat lain Allah juga menegaskan kalau amal perbuatan yang tidak dilandasi oleh iman adalah sesuatu yang sia-sia. Iman menjadi sesuatu yang paling utama dalam hidup. Tanpa Iman otomatis kita termasuk dalam golongan orang-orang yang ingkar kepada Allah. Padahal segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit dan di antara keduanya ini hanyalah milik Allah. Maka menjadi masuk akal jika seseorang yang melakukan segala aktifitas perbuatan yang menurut dirinya paling baik sekalipun akan sia-sia karena tertolak dikarenakan ke-kafiran-an yang melekat pada dirinya.
QS. An Nuur : 39.
وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ ۗ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ﴿٣٩﴾
“Walladziina kafaruu a`maaluhum kasaraabin biqii`atin yahsabuhuzh zhamnu maa`an hattaa `idzaa jaa`ahu lam yajidhu syaian wa wajadallaha `indahu fawaffaahu hisaabahu, wallahu sarii`ul hisaabi”
”Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.”
QS. An Nuur : 40.
أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ﴿٤٠﴾
“Au kazhulumaatin fii bahrin lujiiyin yaghsyaahu maujun min fauqihi maujun min fauqihi sahaabun, zhulumaatun ba`dhuhaa fauqa ba`dhin `idzaa akhraja yadahu lam yakad yaraahaa, wa man lam yaj`alillahu lahu nuuran famaa lahu min nuurin”
”Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.”
Untuk itulah kita harus “Istiqomah” dalam pemahaman tanda-tanda atau ayat-ayat Allah ini. Hingga semakin hari semakin bertambah Iman kita. Sejalan dengan berlalunya waktu semakin dekat pula ajal kita. Semakin dekat saatnya semakin kita kedinginan, tapi jika kita berjalan dengan berselimut “Iman”, jangan pernah khawatir dan merasa ketakutan. Sehingga nantinya kita bisa berharap untuk ditetapkannya mati dalam keadaan iman dan Islam.
Jika Iman sudah melekat pada diri dan hati kita secara alami kita akan berusaha untuk memenuhi segala efek dari Iman itu sendiri. Efek dari Iman adalah memenuhi segala yang di perintahkan oleh Allah swt. berupa amalan-amalan yang baik. Amalan-amalan yang baik inilah yang nantinya akan menjadi saksi perbuatan kita selama hidup dalam ke-Iman-an. Dan Iman dan amalan yang baik inilah yang nantinya akan memasukkan diri kita ke dalam golongan orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang di kehendaki oleh surganya Allah swt.
Dan mudah-mudahan pula Allah akan memasukkan mereka yang “istiqamah” dalam pemahaman ketauhidan kedalam golongan orang-orang yang bertaqwa yang berbalut kain “keikhlasan”. Dan akan berakhir dengan keridhaan Allah dalam menerima kembalinya diri dan jiwa kita kepadaNya.
Sekian..
Selengkapnya...
Senin, 01 Maret 2010
Pembangkangan Iblis
Pembangkangan Iblis.
Pada awal-awal penciptaaan manusia, Allah berfirman kepada para malaikat :
إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ
“,..Innii jaa`ilun fiil ardhi khalifatan,....sesungguhnya aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.”
Khalifah disini ditafsirkan seorang pemimpin. Seorang pemimpin di muka bumi yang mewakili Allah dalam melaksanakan hukum-hukum atau peraturan-peraturan Allah. Yang dimaksud disini adalah Adam as.
Kemudian para malaikat mengajukan pertanyaan kepada Allah :
أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ
“,...`ataj`alu fiihaa man yufsidu fiihaa wayasfikud dimaa`a wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqaddisu laka,....mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ?
Orang yang membuat kerusakan dan menumpahkan darah yang ada pada saat itu adalah bangsa jin, yang selalu membuat kerusakan dan pembunuhan. Yang sama-sama menempati atau mendiami bumi (?) atau mungkin juga sudah ada makhluk lain selain manusia tetapi bentuk fisiknya mirip manusia yang kegemarannya hanya melakukan perusakan terhadap alam dan saling membunuh (?).
Dan pertanyaan para malaikat ini di jawab oleh Allah dengan firmannya kepada malaikat :
إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ﴿٣٠﴾
“,.....`Innii a`lamu maa laa ta`lamuuna”. “sesungguhnya Aku mengetahi apa yang tidak kamu ketahui” QS. Al Baqarah 30.
Allah lebih mengetahui, tentang anak cucu Adam yang nantinya ada yang taat dan ada yang ingkar kepadaNya, hingga akan terbukti dan nampaklah keadilan diantara mereka dengan hukum-hukum Allah yang menyertainya. Diantara malaikat dan iblis itu ada yang berkata : Tuhan tidak pernah menciptakan makhluk yang lebih mulia dan lebih tahu dari kami, karena kami lebih dulu dan melihat apa yang tidak dilihatnya. Maka kemudian Allah menciptakan Adam dari bermacam unsur tanah dan bermacam jenis air yang lalu dibentuk dan diupkan ruhNya, hingga berbentuk makhluk yang hidup dan dapat merasakan sesuatu yang ada di sekitarnya.
Kemudian Allah memerintahkan kepada malaikat dengan firmannya :
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ﴿٢٩﴾
”Fa`idzaa sawwaituhu wa nafakhtu fiihi min ruuhii faqa`uu lahu saajidiina”,.....Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” QS. Al Hijr 29.
di ayat lain juga di sebutkan :
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ﴿٧٢﴾
“ Fa`idzaa sawwaituhu wa nafakhtu fiihi min ruuhii faqa`uu lahu saajidiina”,.....Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya". QS shaad 72.
disebutkan juga di ayat lain, bahwa Allah telah menciptakan nabi Adam dan memerintahkan kepada malaikat :
وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ﴿١١﴾
“Wa laqad khalqnaakum tsumma shawwarnaakum tsumma qulnaa lil mala`ikatisjuduu li aadama fasajaduu illa `ibliisa lam yakun minas saajidiina”.,....”Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam", maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.” QS. Al A`raaf 11.
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ﴿١١٦﴾
“Wa `idz qulnaa lil mala`ikatisjuduu li aadama fasajaduu illa `ibliisa `abaa”,....”Dan (ingatlah) ketika Kami berkata kepada malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", maka mereka sujud kecuali iblis. Ia membangkang.” QS Thahaa 116.
Kemudian Allah mengajarkan kepada nabi Adam nama-nama benda di sekitarnya seluruhnya dan kemudian mengemukakanya kepada malaikat lalu berfirman :
أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ﴿٣١﴾
”,....`ambi`uunii bi`asmaa`i haa`ulaa`i in kuntum shadiqiina”,....",.....Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" QS. Al Baqarah 31.
dan menjawab para malaikat :
قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ﴿٣٢﴾
”Qaaluu subhaanaka laa ilma lanaa illa maa `allamtana, innaka `antal `aliimul hakiimu”.,.....”Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". QS. Al Baqarah 32.
Kemudian Allah memerintahkan kepada nabi Adam :
قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ ۖ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ﴿٣٣﴾
“Qaalaa yaa aadamu ambi`hum bi`asmaa`ihim, falamma `amba`ahum bi`asmaa`ihim. Qaalaa alam aqul lakum `innii a`lamu ghaibas samaawaati wal ardhi wa`lamu maa tubduuna wa maa kuntum taktumuuna”,.......”Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini". Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku-katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" QS. Al Baqarah 33.
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ﴿٣٤﴾
“Wa `idz qulnaa lil mala`ikatisjuduu li aadama fasajaduu illa `ibliisa `abaa wastakbaraa wa kaana minal kaafiriina”,......”Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” QS. Al Baqarah 34.
Lantas semua malaikat bersujud kepada nabi Adam. Bersujud disini bukan berarti menghambakan diri tetapi berarti menghormati dan memuliakan nabi Adam. Kecuali iblis, mereka enggan dan membangkang serta takabur.
Di ayat lain juga di sebutkan :
فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ﴿٣٠﴾ إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ أَنْ يَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ﴿٣١﴾
“Fasajadal mala`ikatu kulluhum `ajma`uuna” ; “illa `ibliisa `abaa `an yakuuna ma`as saajidiina:,......maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama ; kecuali iblis, ia enggan ikut bersama-sama (malaikat) yang sujud itu.” QS. Al Hijr 30-31.
فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ﴿٧٣﴾ إِلَّا إِبْلِيسَ اسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ﴿٧٤﴾
“Fasajadal mala`ikatu kulluhum `ajma`uuna” ; “illa `ibliisas takbara wa kaana minal kaafiriina”,......Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya, ; kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir.” QS Shaad 73-74.
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ قَالَ أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِينًا﴿٦١﴾
“ Wa `idz qulnaa lil mala`ikatisjuduu li aadama fasajaduu illa `ibliisa, qaalaa `a`asjudu liman khalaqta thiinan”.,.....”Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: "Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?" QS. Al Israa` 61
Pembangkangan iblis untuk bersujud kepada nabi Adam dan perasaan yang merasa lebih tinggi derajatnya karena mereka di ciptakan dari api sementara Adam di ciptakan dari tanah liat ini menyebabkan Allah bertanya dan menegur mereka,
قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا لَكَ أَلَّا تَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ﴿٣٢﴾
“Qaalaa, yaa `ibliisu maa laka `alla takuuna ma`as saajidiina”,......”Allah berfirman: "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?" QS. Al Hijr 32.
Disebutkan di ayat lain,
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ
“Qaalaa maa mana`aka allaa tasjuda `idz `amartuka,......“Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?,....." QS Al A`raaf 12.
قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۖ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ﴿٧٥﴾
“Qaalaa, yaa ibliisu maa mana`aka an tasjuda limaa khalaqtu biyadaiyya,`astakbarta am kunta minal `aliina”,.......”Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?". QS Shaad 75.
Kemudian iblis menjawab pertanyaan Allah,
قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ﴿١٢﴾
“Qaala, anaa khairun minhu khalaqtanii min naarin wa khalaqtahu min thiinin”,......“,...Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". QS Al A`raaf 12.
قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ ۖ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ﴿٧٦﴾
“Qaala, anaa khairun minhu, khalaqtanii min naarin wa khalaqtahu min thiinin”,.......“Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah". QS. Shaad 76.
قَالَ لَمْ أَكُنْ لِأَسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ﴿٣٣﴾
”Qaalaa lam `akun li`asjuda libasyarin khalaqtahu min shalshaalin min hamaa`in masnuunin”,......
“Berkata Iblis: "Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk" . QS Al hijr 33.
Pembangkangan iblis secara terang-terangan dihadapan Allah dan merendahkan sesuatu yang akan di ciptakan oleh Allah dengan tanganNya sendiri ini menyebabkan Allah murka, yang kemudian menyebabkan di usirnya iblis dari surga.
قَالَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَنْ تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ﴿١٣﴾
“Qaalaa, fahbith minhaa famaa yakuunu laka `antatakabbara fiihaa fakhruj `innaka minash shaghiriina”.,........”Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina". QS Al A`raaf 13.
قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ﴿٣٤﴾ وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ﴿٣٥﴾
“Qaalaa fakhruj minhaa fa`innkaa rojimun” ; wa inna `alaikal la`nata ilaa yaumid diini”.,.....“Allah berfirman: "Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk ; dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat". QS. Al Hijr 34-35.
قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ﴿٧٧﴾ وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ﴿٧٨﴾
“Qaalaa fakhruj minhaa fa`innkaa rojimun” ; wa inna `alaika la`natii ilaa yaumid diini”,.....”Allah berfirman: "Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, ; ”Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan". QS. Shaad 77-78.
Itulah kebesaran Allah, itulah kekuasaan Allah, tidak ada satu makhlukpun di alam semesta ini yang yang boleh mengingkari apa yang telah di perintahkan, tidak juga iblis. Walaupun awalnya di tempatkan di surga, iblis harus rela keluar dari surga di sebabkan karena pembangkangannya terhadap perintah Allah.
Tak berbeda pula diri kita, jadikanlah pelajaran dari peristiwa tersebut, bahwa tidak ada seorangpun dari diri kita yang akan luput dari laknat Allah disebabkan karena keingkaran kita. Keingkaran terhadap nikmat-nikmat yang kita peroleh, keingkaran terhadap perintah-perintah yang ada dalam kitabullah dan perintah-perintah Allah yang dibawa oleh Rasulullah dan para nabi-nabi.
Kitapun akan mendapatkan balasan yang serupa dengan iblis, yaitu dijauhkannya surga dari diri kita dan didekatkanya kita di neraka Allah akibat dari keingkaran-keingkaran kita. Yang akhirnya akan benar-benar jatuh kedalam neraka dalam keadaan hina dan sengsara.
Setelah laknat Allah yang ditujukan kepada iblis ini, kemudian Iblis memohon kepada Allah untuk diberi tangguh sampai batas waktu hari kiamat.
قَالَ أَرَأَيْتَكَ هَٰذَا الَّذِي كَرَّمْتَ عَلَيَّ لَئِنْ أَخَّرْتَنِ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَأَحْتَنِكَنَّ ذُرِّيَّتَهُ إِلَّا قَلِيلًا﴿٦٢﴾
“Qaalaa `ara`aitaka haadzal ladzii karamta `alaiyya la`in akhkhartani `ilaa yaumil qiyaamati laa`ahtanikanna dzurriyyatahu illa qaliilan”,......”Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil". QS. Al Israa` 62.
Jika di telaah lebih dalam lagi, permintaan penangguhan kematian Iblis sampai hari kiamat ini adalah ungkapan rasa kecemburuan terhadap makhluk baru yang akan di ciptakan oleh Allah dan akan dijadikan khalifah atau pemimpin yang mewakili Allah di muka bumi, dan rasa kesombongan atau kecongkaan Iblis karena merasa bahwa dirinyalah ciptaan Allah yang paling baik, yang tidak akan terkalahkan oleh makhluk baru sekalipun. Permintaan Iblis kepada Allah ini ditegaskan pula di beberapa ayat,
قَالَ أَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ﴿١٤﴾
”Qaalaa `anzhirnii ilaa yaumi yub`atsuuna”,......”Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". QS. Al A`raaf 14.
قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ﴿٣٦﴾
”Qaalaa rabbi fa`anzhirnii ilaa yaumi yub`atsuuna”,.....”Berkata iblis: "Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan,” QS. Al Hijr 36.
قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ﴿٧٩﴾
”Qaalaa rabbi fa`anzhirnii ilaa yaumi yub`atsuuna”,.......”Iblis berkata: "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan". QS. Shaad 79.
Atas permohonan iblis ini Allah kemudian mengabulkan permintaan iblis untuk tidak mematikan iblis dan anak cucunya sampai hari kiamat, dan inilah yang akan menjadikan fase kehidupan anak keturunan Adam di muka bumi menjadi sangat berat, disamping harus mempertahankan hidupnya manusia juga harus menahan gempuran dari syetan dan Iblis berupa godaan-godaan yang lebih banyak bersifat keduniawian yang hanya sementara. Penangguhan kematian Iblis ini juga di tegaskan di beberapa ayat di bawah ini.
قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ﴿٣٧﴾ إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ﴿٣٨﴾
“Qaala fa`innaka minal munzhariina ; ilaa yaumil waqtil ma`luumi”,.......Allah berfirman : “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh ; sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan.” QS. Al Hijr 37-38.
قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ﴿٨٠﴾ إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ﴿٨١﴾
“Qaala fa`innaka minal munzhariina ; ilaa yaumil waqtil ma`luumi”,.....“Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, ; sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat)". QS. Shaad 80-81.
قَالَ إِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ﴿١٥﴾
Qaala `innaka minal munzhariina” ,......“Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh". QS. Al A`raaf 15.
Maha suci Allah, sesungguhnya tidak ada yang tidak di ketahui oleh Allah baik itu di langit maupun di bumi, baik itu dinyatakan dengan lisan ataupun tersirat di dalam hati, termasuk Iblis dan rencananya terhadap makhluk ciptaan Allah yang segera akan di ciptakan. Iblis telah menyimpan dendam yang mendalam atas Adam dan anak keturunannya hanya karena merasa tersisihkan posisinya di sisi Allah.
Dengan konsekwensi akan tersingkir dan dijauhkan dari sisi Allah, Iblis memilih untuk ingkar dan memposisikan dirinya sebagai lawan dengan pernyataannya yang akan menyesatkan kebanyakan anak keturunan Adam dari ketauhidan dan akan menjadikan kebanyakan mereka termasuk orang-orang musyrik atau orang-orang yang menyekutukan Allah. Kecuali hamba-hamba Allah yang mukhlis, yaitu hamba-hamba yang ikhlas menerima Allah swt. sebagai satu-satunya Rab atau Tuhan yang menguasai kerajaan langit dan bumi. Dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya pemimpin dan pelindung, yang akan menuntun mereka dari kegelapan menuju ke cahaya yang terang benderang.
Setelah mendapatkan janji Allah berupa ditangguhkannya hidup iblis sampai hari kiamat, berkatalah iblis dengan ancamanya kepada anak cucu Adam,
قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ﴿١٦﴾
”Qaalaa fabimaa `aghwaitanii la `aq`udanna lahum shiraathakal mustaqiima”,......“Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,” QS. Al A`raaf 16.
ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ﴿١٧﴾
“Tsumma laa tiyannahum min baini `aidiihim wa min khalfihim wa `an `aimaanihim wa `an syamaa`ilihim, wa laa tajidu `aktsarahum syaakiriina”,.......”kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” QS. Al A`raaf 17.
di ayat lain juga dijelaskan,
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ﴿٨٢﴾
“Qaalaa fabi`izzatika la`ughwiyannahum `ajma`iiina”,......”Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya,” QS Shaad 82.
إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ﴿٨٣﴾
”Illa `ibaadaka minhumul mukhlashiina”,.....”kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” QS Shaad 83.
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ﴿٣٩﴾
”Qaalaa rabbi bimaa `aghwaitanii la`uzaiyinanna lahum fiil ardhi wa la`ughwiyannahum `ajma`iina”,.....”Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, QS. Al Hijr 39.
إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ﴿٤٠﴾
“Illa `ibaadaka minhumul mukhlashiina”,......”kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka". QS. Al Hijr 40.
Kemudian Allah menyuruh kepada iblis untuk segera pergi dengan disertai ancaman kepada anak cucu Adam yang mengikuti ajakan syetan dan Iblis dengan balasan neraka jahanam. Jelaslah disini, barang siapa yang akan mengikuti ajakan syetan dan iblis dengan mengingkari ketauhidan Allah, maka tiada balasan yang lebih pantas untuk mereka kecuali panasnya api neraka. Dan Allah menjadikan manusia yang ingkar kepadaNya sejajar dengan batu yang akan menjadi bahan bakar neraka dengan apinya yang membara.
Allah swt. bahkan memerintahkan kepada Iblis untuk mengerahkan segala kekuatan dan segala cara dalam mempengaruhi manusia dari jalan Allah. Dan telah sempurnalah kalimat (keputusan) Allah, sesungguhnya allah akan memenuhi neraka Jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) seluruhnya. Perhatikan pula beberapa ayat di bawah ini,
قَالَ اذْهَبْ فَمَنْ تَبِعَكَ مِنْهُمْ فَإِنَّ جَهَنَّمَ جَزَاؤُكُمْ جَزَاءً مَوْفُورًا﴿٦٣﴾
”Qaalaa idzhab faman tabi`aka minhum fa`inna jahannama jazaa`ukum jazaa`an maufuura”,...... ”Tuhan berfirman: "Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup.” QS. Al Israa` 63.
وَاسْتَفْزِزْ مَنِ اسْتَطَعْتَ مِنْهُمْ بِصَوْتِكَ وَأَجْلِبْ عَلَيْهِمْ بِخَيْلِكَ وَرَجِلِكَ وَشَارِكْهُمْ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ وَعِدْهُمْ ۚ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا﴿٦٤﴾
“Wastafziz manistatha`ta minhum bishautika wa`ajlib `alaihim bikhailika wa rajilika wa syaarikhum fiil `amwaali wal auladi wa `idhum, wa maa ya`iduhumusy syaithaanu illa ghuruuran”,..... ”Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka.” QS. Al Israa` 64.
إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ ۚ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ وَكِيلًا﴿٦٥﴾
“Inna `ibaadii laisa laka `alaihim sulthaanun, wa kafaa birabbika wakiilan”,.....“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga". QS. Al Israa` 65.
Marilah kita mencoba untuk menarik kesimpulan dari seluruh ayat di atas yang menggambarakan pembangkangan Iblis terhadap perintah Allah untuk menerima manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Keberadaan Allah sebagai pencipta dan penguasa alam semesta adalah sekaligus sebagai Pemilik dari sebuah kerajaan yang mencakup langit dan bumi dan segala yang ada di antaranya. Kekuasaan yang mutlak adalah jaminan akan diberlakukannya hukum-hukum atau aturan-aturan dengan segala konsekwensinya.
Untuk itulah Allah telah menyediakan aturan-aturan dan segala sarana dan prasarana yang sudah melekat dalam hukum itu. Allah tidak memerlukan perangkat hukum atas aturan-aturan yang telah di tetapkan. Hanya Allah menegaskan bahwa setiap manusia ada dua malaikat yang mengikutinya. Hal ini untuk menegaskan kepada manusia bahwa segala sesuatu perbuatan atau tingkah lakunya tercatat atau terekam dalam sebuah buku memori atau semacam “Blackbox” dalam sebuah pesawat yang sedang melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Yang suatu saat dapat di “play” atau di putar ulang untuk menunjukkan bukti-bukti sebuah tindakan masuk dalam kategori normal (baik) atau error (salah).
Mereka yang masuk dalam kategori baik dalam mengarungi sebuah rute atau perjalanan hidupnya, konsekwensinya adalah masuk sebuah tempat yang lain yang indah, yang belum pernah di lihatnya bahkan belum pernah di bayangkannya sekalipun keindahannya. Bahkan Rasulullah saw. pun merasa takjub ketika melihatnya di suatu tempat yang dinamakan sidratul muntaha yaitu tempat yang paling tinggi yang terletak di langit ke tujuh.
Catatan yang baik ini terwakili oleh sikap malaikat yang menunjukkan kepatuhan dan ketundukkannya kepada perintah Allah, sehingga para malaikat tetap berada di sisi Allah dengan segala fasilitas yang ada dan sudah di perolehnya.
Kita bisa mengambil contoh kecil seseorang yang tunduk dan patuh pada perintah Pemimpin atau penguasa dan melakukan tugasnya dengan baik tanpa kesalahan-kesalahan yang berarti, dia pasti akan mendapatkan tempatnya dan semua fasilitas yang di sediakan oleh penguasa tersebut. Dengan catatan sang pemimpin mempunyai hati dan jiwa yang bersih, yang bisa melakukan penilaian dan penempatan yang benar-benar obyektif. Sifat-sifat itu bisa teraplikasi pada diri seorang pemimpin kalau sang penguasa tersebut selalu menggunakan rujukan-rujukan sifat-sifat Allah dalam “Asmaul Husna”
Sedangkan mereka yang melakukan kesalahan (error) akan pula mendapatkan hukuman yang setimpal karena kesalahan yang di lakukan. Cuma ada perbedaan antara manusia dan Iblis. Iblis sudah dilaknat sampai hari kiamat tetap dalam keingkaran. Sedangkan manusia masih di bukakan pintu tobat untuk kemudian menyadari dan mengubah diri untuk menjadi manusia yang taat beribadah hanya kepada Allah, untuk kemudian memperoleh pembalasan semua amalnya setelah melalui perhitungan yang dilakukan oleh Allah. Dan Allah Maha pengampun atas semua kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh hambanya.
Peristiwa pembangkangan Iblis yang ada dalam Al Qur`an ini menggambarkan akan realitas kehidupan manusia sesungguhnya di alam dunia. Dimana ketaatan pada sang khalik akan membuahkan hasil yang benar-benar di luar dugaan manusia. Dan keingkaran kepada Sang khalik akan pula membuahkan hasil yang akan merugikan jiwa manusia, baik di waktu saat menjalani kehidupan itu sendiri maupun kelak pada fase kehidupan yang lain yaitu kehidupan akhirat.
Mudah-mudahan kita bisa mengambil hikmah dari pelajaran atas pembangkangan Iblis ini untuk kemudian menjadikan diri kita manusia-manusia yang akan mewarisi sifat taat dan patuh dari para malaikat yang telah di warisi pula oleh para Rasul dan para nabi serta para syuhada dan para salafus shalih. Dan menjauhkan diri kita dari sifat-sifat Iblis yang ingkar kepada Allah. Dan menjauhkan diri kita dari sifat menyombongkan diri serta merasa diri paling baik dan paling sempurna, yang pada kenyataanya justru akan menenggelamkan kita kedalam siksa Allah swt.
Amin Allahumma Amiin.
Sekian.
Selengkapnya...
Sudah shalatkah kita ?
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ﴿١﴾
QS. An Nuur : 41.
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ ۖ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ﴿٤١﴾
“ Alam tara `annallaha yusabbihu lahu man fiis samaawaati wal ardhi wath thairu shaaffat, kullun qad `alima shalaatahu wa tasbiihahu, wallahu `alimun bimaa yaf`aluuna”
”Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan”.
Sudah shalatkah kita ?
Jika seseorang di tanya demikian apa kira-kira jawabnya? Ada yang menjawab belum, ada yang menjawab sudah. Kalau seseorang menjawab belum berarti dia harus mulai belajar tenang ilmu-ilmu shalat, dan bersegera untuk mendirikan shalat jika sudah mendapatkan ilmunya shalat.
Apakah shalat itu ? Secara lahiriah shalat bisa memberikan artian kepada kita sebagai suatu rangkaian gerak disertai bacaan tertentu, yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Secara bathiniah shalat memberikan arti kepada kita sebagai sarana untuk berinteraksi (pertemuan) dengan Allah swt, sang pencipta dan penguasa alam semesta dan segala sesuatu yang ada di dalamnya.
Mengapa kita harus shalat ?
QS. Thahaa : 14.
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي﴿١٤﴾
“Innanii `anallahu laa illaaha illa `anaa faa`budnii wa `aqimish shalata lidzikrii”
”Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”
QS. Al Kautsar 1 – 2.
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ﴿١﴾
“Inna a`thainaa kal kautsar “
”Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.”
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ﴿٢﴾
“fashalli lirabbikaa wan har”
”Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”
QS. Al Ankabuut 45.
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ﴿٤٥﴾
“utlu maa `uuhiya `ilaika minal kitaabi wa aqimish shalata, innash shalata tanhaa `anil fahsyaa`i wal munkara, wa la dzikrullahi akbaru, wallahu ya`lamu maa tashna`uuna”
”Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Shalat adalah perintah Allah, ayat di atas hanyalah sebagian kecil saja dari ayat-ayat dalam Al qur`an yang berisi perintah untuk melaksanakan shalat. Anda semua bisa meneliti di ayat-ayat berikut : Al Baqarah 43 ; 110 ; 238 ; Huud 114 ; Ibrahiim 31 ; Bani israa`il 78 ; Thahaa 132 ; Al hajj 77 ; An nuur 56 ; Luqman 17 ; Ruum 17.
Disamping amalan yang di perintahkan shalat merupakan salah satu dari rukun Islam yang wajib dilaksanakan dan banyak sekali mengandung keutamaan. Bahkan Rasulullah sendiri mengatakan kalau shalat itu “mi`raj” nya orang mu`min. Shalat adalah tiang agama, barang siapa mendirikan shalat berarti dia menegakkan agama dan barang siapa meninggalkan shalat berarti dia merobohkan agama. Bahasan tentang keutamaan shalat ini insya Allah akan saya tulis di lain waktu.
Kapan dan dimana harus shalat ?
QS. An Nisaa` 103.
ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا﴿١٠٣﴾
“,...Innash shalata kaanat alal mu`miniina kitaaban mauquutan”
”,...Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
Waktu-waktu shalat sudah ditentukan, diantaranya adalah di kedua tepi siang, yaitu shalat Subuh dan Maghrib, di permulaan malam yaitu shalat isya` sesudah matahari tergelincir yaitu shalat zhuhur, dan shalat wustha yang ditafsirkan sebagai shalat ashar, disamping masih ada shalat yang di perintahkan yaitu shalat malam yang banyak sekali keutamaannya, tetapi hukum “shalat malam” ini di sunnahkan.
Dimana harus shalat, dimana saja kira berada asal sudah tiba waktu shalat kita bisa shalat asal tempatnya bersih, dan tidak termasuk tempat-tempat yang dilarang untuk melaksanakan shalat, yang diantaranya ada tujuh tempat. Diantara tempat-tempat tersebut, yaitu tempat pembuangan kotoran, tempat pemotongan hewan, kuburan, di tengah jalan, kamar mandi, tempat-tempat menderum unta ( di sekitar air), dan diatas atap Baitullah.
Bagaimana kita harus shalat ?
Inilah bagian terpenting dari tulisan ini yang menyangkut kualitas shalat. Banyak dari kita ini merasa “sudah” shalat tapi jika ditanya bagaimana shalatmu ? Jarang yang ada bisa menggambarkan bagaimana rasanya dia melakukan shalat, kebanyakan juga menjawab biasa-biasa saja, shalat ya kayak gitu , berdiri, ruku` sujud, mau bagaimana lagi ?
Shalat yang sebenarnya akan berbeda sekali dengan “pokoknya” shalat. Prinsip pokoknya itu hanyalah di gunakan hanya untuk mengugurkan kewajiban sebagai seorang muslim. Sehingga yang bersangkutan sudah terbebas dari suatu keharusan yang mengikat. Beberapa ciri shalat yang seperti ini adalah, awal waktu mau mengerjakannya malas-malasan, cepat-cepat ingin selesai, bacaan-bacaannya sekedar membaca, tidak tahu apa arti dan makna yang di ucapkannya. Tak beda seperti orang berolah raga senam.
Shalat seperti ini biasanya tidak disertai kehadiran hati secara sungguh-sungguh. Dan ini akan merugikan diri kita sendiri kelak. Maka dari itu, marilah kita berusaha untuk memahami yang sedikit saja yaitu masalah shalat. Pelajari dan pahami tiap-tiap gerakan dan bacaan yang kita ucapkan. Secara logika kita harus tahu dan mengerti apa yang kita ucapkan dengan lisan kita. Apalagi ini nenyangkut shalat. Sesuatu yang sangat penting sekali untuk seseorang yang merasa bahwa shalat adalah bentuk interaksi antara manusia dengan TuhanNya, atau sarana untuk berinteraksi antara makhluk dan penciptanya.
Jika kita tetap tidak mau merubah shalat kita yang menggunakan prinsip pokoknya shalat, niscaya kelak kita berada dalam kerugian yang sangat besar. Seseorang yang berucap tapi tidak mengerti apa yang di ucapkan adalah tidak ada bedanya dengan orang yang mabuk karena dipengaruhi alkohol atau obat-obat lain yang cenderung menimbulkan terganggunya fungsi otak. Dan kita tahu bahwa orang yang mabuk tidak di perbolehkan melakukan shalat sampai dia mendapatkan kembali kesadarannya.
QS. Al Maa`uun : 4 – 5.
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ﴿٤﴾
”Fawailul lilmushalliina”
”Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ﴿٥﴾
”Alladziinahum `an shalaatihin saahuuna”
”(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,”
Untuk itu marilah kita perbaiki shalat kita dengan sedikitnya memahami seluruh bacaan yang ada dalam shalat, dengan menghadapkan diri dan hati kita ke kiblat di hadapan Allah swt.
Dengan berdiri tegak setelah mensucikan diri dengan air wudlu, sadarilah anda sedang menghadap kepada Allah swt, sang Khalik, sang Penguasa alam semesta, yang di tanganNyalah segala sesuatu bergantung. Allah Azza wa Jalla, yang ahad, tidak mempunyai anak dan tidak pula diperanakkan atau dilahirkan. Dia ada sebelum semuanya ada, dan Dia menciptakan segala sesuatu di alam semesta untuk kepentingan manusia agar bertauhid kepadaNya sampai segala sesuatunya berakhir.
Takbiratul ikram.
Berniatlah untuk shalat, untuk menghadap Allah swt. karena segala sesuatu bergantung pada niatan awalnya, dan ucapkanlah takbiratul ikram sambil mengangkat kedua telapak tangan dan meletakkannya di antara dada dan pusar. Sadarilah anda sedang menghadap kepada Allah Yang Maha Besar, tidak ada sesuatu yang lebih besar dariNya, semua yang ada di alam semesta ini adalah sesuatu yang sangat kecil, termasuk diri kita yang bagaikan setitik debu yang berada di luasnya alam semesta.
Bacalah do`a iftitah lebih dulu karena akan semakin menambah kesempurnaan shalat kita.
Salah satu do’a iftitah adalah :
“Allaahu akbar kabiiraa walhamdu lillaahi katsiiraa wasubhaanallaahi bukrataw wa ashiilaa. Innii wajjahtu wajhiya lilladzii fatharassamaawaati wal ardha haniifam muslimaw wa maa ana minal musyrikiin. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil’aalamiin. Laa syariikalahu wa bi dzaalika umirtu wa ana minal muslimiin.”
Artinya :
“Allah Maha Besar lagi Sempurna Kebesaran-Nya, segala puji bagi-Nya dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan sore. Kuhadapkan muka hatiku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan memberi keselamatan dan aku bukanlah dari golongan kaum musyrikin. Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku semata hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan dengan itu aku diperintahkan untuk tidak menyekutukan-Nya. Dan aku dari golongan orang muslimin.”
Hati-hati, pahami kata demi kata yang kita ucapkan dan hadirkan selalu hati kita untuk ikut serta dalam shalat. Lisan dan hati harus seirama, lisan mengucapkan hati yang menterjemahkan. Bacaan di atas bukanlah sekedar bacaan, tetapi lebih menyerupai sebuah pernyataan/persaksian, tidak ada sesuatu yang lebih besar dari pada Allah dan pujian untukNya.
Tidak ada yang terlintas sesuatu apapun yang masih bersifat keduniaan kecuali yang di hadapannya hanyalah Allah swt. dan pernyataan bahwa kita bukanlah orang-orang yang musyrik, dan sesungguhnya semua yang kita lakukan pada waktu lampau, pada saat ini dan pada saat yang akan datang hanyalah semata-mata karena Allah, tak ada sekutu bagiNya dan kita termasuk golongan orang-orang yang berserah diri.
Jika kita lalai akan makna semua bacaan tersebut, sadarilah mungkin kita sedang “berdusta” di hadapan Allah swt. karena kita sekedar mengucapkan tanpa tahu maknanya dan tanpa suatu bukti apapun atas semua yang kita nyatakan.
Membaca surah Al Faatihah yang di dahului, bacaan Ta`awudz secara perlahan.
QS. An Nahl 98.
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ﴿٩٨﴾
'Fa `idzaa qara`tal qur`ana fasta`idz billahi minasy syaitaanir rajiimi”
”Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.”
Kemudian membaca surah Al faatihah,
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ﴿١﴾
Ucapkan dengan benar dan jangan terburu-buru, “Bismillahir rahmaanir rahiim” Dengan nama Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang. sadarilah anda akan membaca kalimat-kalimat Allah, dan hanya karena Allah lah anda melakukan ibadah ini.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ﴿٢﴾
“ Alhamdulillahi rabbil’aalamiin “, Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yakinlah bahwa kita telah mendapatkan kenikmatan yang banyak sekali dari Allah, yang kita rasakan sekarang ini dan yang akan kita rasakan di masa yang akan datang, dalam bentuk wujud jasmani yang sempurna dan kesehatan ruhani serta kenikmatan-kenikmatan dunia yang lain yang telah kita terima dan yang akan kita terima.
الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ﴿٣﴾
“Ar rahmaanir rahiim”. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Allah yang telah memberikan kepada semua hambanya baik yang meminta maupun yang tidak meminta berupa segala kebutuhannya. Begitu pemurahnya Allah dan begitu lembut dan sayangnya kepada makhluknya.
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ﴿٤﴾
”Maaliki yaumid diin”. Yang menguasai di Hari Pembalasan. Yakinlah bahwa Allah lah yang akan menguasai hari pembalasan atas segala amal perbuatan manusia kelak di hari kiamat yang pasti akan terjadi.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴿٥﴾
“`Iyyaka na`budu wa `iyyaka nasta`iinu”. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Pastikan hanya kepada Allah lah kita menyembah dan bertauhid dan hanya kepada Allah lah kita memohon segala sesuatu yang kita hajatkan. Tidak kepada yang lain. Yang justru akan menyebabkan kita masuk ke dalam golongan orang-orang yang menyekutukan Allah.
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ﴿٦﴾
”Ihdinash shiraathal mustaqiima”. Tunjukilah kami jalan yang lurus, yaitu jalan kebenaran, jalan menuju keridhaan Allah swt.
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ﴿٧﴾
”Shiraathal ladziina `an`amta `alaihim ghairul maghdhuu bi `alaihim walaadh dhalliina”. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. Yaitu jalan orang-orang yang telah mendapatkan nikmat, seperti para Nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin.
Kemudian membaca beberapa ayat Al Qur`an,
: "Rasulullah Shallallaahu‘alaihi Wasallam ketika dzuhur membaca Ummul Kitab (Al-Fatihah) dan dua surat pada dua rakaat pertama, dan beliau membaca Ummul Kitab saja pada dua rakaat berikutnya dan terkadang beliau perdengar-kan ayat (yang dibacanya) kepada para sahabat.
Biasanya, kita membaca surat-surat pendek di juz akhir dari Al Qur`an. Bacalah apa yang bisa anda baca dan hafal. Tetapi jangan mengesampingkan arti dan makna dari ayat yang anda baca. Jika kita mengesampingkannya maka kita termasuk dalam golongan orang-orang yang berucap tapi tidak paham apa yang di ucapkannya. Janganlah menganggap arti dan makna sebagai sesuatu yang remeh. Sekali lagi pahami dengan benar sehingga anda akan dapat memperoleh manfaat dari shaalat yang anda lakukan.
Sepatutnyalah kita untuk selalu berusaha menambah perbendaharaan hafalan ayat-ayat di surat yang lain, karena banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari banyaknya ayat yang kita hapal dan pahami arti dan maknanya. Al Qur`an adalah peringatan bagi seluruh alam dan pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Jika kita tidak menambah pengetahuan kita tentang ayat-ayat yang jumlahnya ribuan tersebut, dikhawatirkan kita justru akan terjebak dalam rutinitas belaka.
Belajarlah dan bacalah kitabullah, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Jika kita mempunyai kemauan pasti Allah akan memberikan jalan kepada kita untuk lebih mudah dalam memahami Al Qur`an.
Contoh surat pendek,
QS. Al Ikhlas 1-4.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ﴿١﴾
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ﴿١﴾
اللَّهُ الصَّمَدُ﴿٢﴾
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ﴿٣﴾
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ﴿٤﴾
1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."
Saat lisan membaca ayat tersebut, sudah seharusnya hati kita memahami dan selalu mengarahkan hati kepada Allah. Hayati maknanya, resapi kandungannya, dan selalu yakin dan sadar bahwa yang sedang kita baca/ucapkan adalah kalam Allah.
Ruku`,
Setelah selesai membaca beberapa ayat dalam Al Qur`an, ruku`lah. Dengan mengangkat kedua belah tangan setinggi pundak atau telinga, Ucapkan takbir kemudian membungkuklah dengan kedua tangan di atas lutut dan luruskanlah punggung sehingga membentuk sudut 90 derajat.
Petikan ungkapan Imam Ja’far Ash Shadiq as., ”Ruku’ adalah yang pertama dan sujud adalah yang kedua. Barangsiapa memenuhi makna pertama, maka yang kedua menjadi benar. Di dalam ruku’ terdapat adab dan di dalam sujud terdapat kedekatan. Barangsiapa tidak membaguskan adab, ia tidak layak untuk dekat. Maka, ruku’lah dengan ruku’ orang yang tunduk kepada Allah, dengan hati yang merasa hina dan malu dibawah kuasa-Nya, dan merendah kepada-Nya, dengan seluruh anggota tubuhnya, sebagaimana orang yang takut dan berduka karena luput mendapat faedah orang-orang yang ruku’” (Shalat Ahli Makrifat).
Dengan merendahkan diri dan dengan segala keterbatasan yang kita miliki serta keagungan `Arsy Allah tunduklah, kemudian bacalah,
“Subhaana rabbiyal ‘adhiimii wa bi hamdih” sebanyak tiga kali.
(Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Agung dan dengan puji-Nya), ruku` adalah sebuah kepasrahan diri kepada Allah, dengan membersihkan hati dari segala nafsu yang besifat duniawi, kita pasrahkan diri kita dan yakinkan bahwa tiada daya dan kekuatan kecuali datangnya dari Allah semata.
Sempurnakan ruku` dengan tidak tergesa-gesa untuk mengangkat badan kembali sampai kita merasakan bahwa kita telah menyelesaiakan ruku` sebagai bukti kepasrahan diri kita dan kita telah mengucapkan pujian kita kepada Allah yang Maha Agung dengan sempurna.
I`tidal, berdiri tegak setelah ruku`.
Setelah melakukan ruku`, bacalah, “Sami’allahu liman hamidah” (Allah sungguh mendengar para pemuji-Nya). Angkatlah kembali punggung dan kepala kita untuk berdiri tegak seperti semula dan jangan tergesa-gesa untuk sujud sebelum membaca, “Rabbanaa lakal hamdu mil ‘us samaawaati wa mil ul ardhi wa mil ‘u maa syi’ta min syai’in ba’du” (Ya Allah Tuhan kami ! Bagi-Mu segala puji, sepenuh langit dan bumi dan sepenuh barang yang Kau kehendaki sesudah itu)
Sempurnakan pujian tersebut, lakukan dengan tuma`ninah kemudian bersiaplah untuk melakukan sujud.
Sujud.
Setelah berdiri I`tidal lakukanlah sujud, sertailah dengan ucapkan takbir, dengan meletakkan dahi dan hidung ke lantai tempat shalat kita setelah kedua belah tangan, kedua lutut dan jemari kaki kita. Dengan posisi pinggul lebih tinggi dari kepala, sampai kira-kira membentuk sudut 270 derajat.
Dalam sebuah hadis diceritakan, Dari Abu Wail bin Hujr, ia menceritakan, “Aku pernah menyaksikan Rasulullah, apabila bersujud beliau meletakkan kedua lututnya terlebih dahulu sebelum kedua tangannya, sedang apabila bangkit dari sujud beliau mengangkat kedua tangan sebelum kedua lututnya” (HR. Khamsah, kecuali Ahmad).
Sujud adalah peristiwa terdekat dengan Allah swt, maka dari itu lakukan dengan sungguh-sungguh dan janganlah tergesa-gesa untuk mengangkat kepala kembali sebelum sempurna sujudnya dan sebelum menyelesaikan bacaan, “Subhana rabbiyal a’la wa bihamdih (Maha Suci Rabb-ku Yang Maha Luhur dan dengan puji-Nya)”. Sebanyak tiga kali. Dengan sepenuh hati dan kepasrahan total seorang yang menghamba hanya kepadaNya. Ucapkan pujian dengan lisan dan hati, karena di situlah letak kesungguhan kita dalam bersujud dan kepasrahan diri kita kepadaNya.
Yakinkan dalam sujud kita bahwa tidak ada dzat yang kesucian dan keluhuran yang melebihi dzat Allah yang Maha Agung, dengan segala pujian yang menyertainya, yang dilakukan oleh seluruh makhluk yang taat dan patuh beribadah kepadaNya di seluruh alam semesta.
Duduk diantara dua sujud.
Ucapkan takbir untuk kemudian duduk untuk berdo`a. Lakukan dengan tuma`ninah, jangan tergesa untuk sujud kembali sebelum anda benar-benar menghayati arti dan makna dari yang anda mintakan kepada Allah swt.
Ummul Mu`minin 'A-isyah berkata: "Dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menghamparkan kaki beliau yang kiri dan menegakkan kaki yang kanan, baliau melarang dari duduknya syaithan." (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim)
Menurut Syaikh Al-Albani, “duduknya syaithan adalah dua telapak kaki ditegakkan kemudian duduk dilantai antara dua kaki tersebut dengan dua tangan menekan dilantai”.
”Dari Rifa'ah bin Rafi' - dalam haditsnya - dan berkata Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam : "Apabila engkau sujud maka tekankanlah dalam sujudmu lalu kalau bangun duduklah di atas pahamu yang kiri." (Hadits dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dengan lafadz Abu Dawud).
Posisi duduk ini memberikan kepada kita kesempatan untuk meminta kepada Allah, berdo`alah dengan sungguh-sungguh, lakukan dengan segenap perasaan takut dan harap melalui sebuah permintaan,
“Rabbighfirlii,..........ya Allah ampunkanlah aku,..............
“Warhamnii,.............belas kasihanilah aku,..............
“Wajburnii,...............cukupkanlah segala kekuranganku,...............
“Warfa`nii.............angkatlah derajatku,............
“Warzuqnii,...........berilah rezeki kepadaku,............
“Wahdinii,.............berilah petunjuk kepadaku,..........
“Wa`aafinii,...........berikanlah kesehatan kepadaku,..........
“Wa`fu`annii,....... dan ma`afkanlah aku.
Tasyahud awal dan akhir.
Posisi tasyahud ini menegaskan dimana posisi seorang hamba di hadapan Tuhannya, tidak ada kekuatan apapun dari kita kecuali hanya bergantung kepadaNya, bahkan seluruh makhluk di jagad raya ini bergantung kepadaNya. Hanya kesadaran diri dari seorang yang menghamba kepadaNya saja yang bisa tergugah hatinya untuk berucap lisan dan hati dengan mengucap,
“At tahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thayyibaatulillaah” ( Segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan, dan kebaikan bagi Allah )
Kemudian timbul lagi kesadaran, jika bukan lantaran tersingkapnya ketauhidan dan jalan menuju ridhanya Allah oleh Rasulullah Saiyidiina Muhammad saw. Maka tak seorangpun bisa sampai menuju penghambaan yang sempurna kepada Al Haq, Allah Azza wa Jalla. Kesadaran itulah yang menyebabkan kita menghadirkan pribadi Rasulullah saw, dengan memberi salam,
“Assalamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullaahi wa barakaatuh” (Salam, rahmat dan berkah-Nya kupanjatkan kepadamu wahai nabi (Muhammad), ucapkan salam itu dengan sungguh-sungguh dan harapkan dengan keyakinan akan sampai kepadaNya, sehingga Allah akan membalas salam kita dengan balasan yang lebih baik
kemudian berikan salam pula kepada diri kita bersama dengan hamba-hamba Allah yang shaleh dengan ucapan,
“As salaamu ‘alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shaalihiin”. (Salam (keselamatan) semoga tetap untuk kami seluruh hamba yang shaleh-shaleh. Ucapkanlah dengan sungguh-sungguh dan berharaplah kepada Allah agar Allah membalas salam kita dengan sepenuh jumlah hambaNya yang shaleh-shaleh.
Kemudian perbaruhi kesaksian kita atas ke-tauhid-an Allah dan atas kerasulan Saiyidiina Muhammad saw, dengan membaca dua kalimah syahadat.
“ Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullaah” ( Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah).
Kemudian bershalawatlah kepada Nabi,
“Allaahumma shalli ‘alaa sayyidinaa Muhammad” (Ya Allah, Limpahilah rahmat kepada Nabi Muhammad).
Dan di Tasyahud akhir kita lanjutkan dengan do`a,
“Wa ‘alaa aali sayyidinaa Muhammad” ( Ya Allah, Limpahilah rahmat atas keluarga Nabi Muhammad),
kemudian,
“Kamaa shallaita ‘alaa sayyidinaa Ibraahiim wa ‘alaa aali sayyidinaa Ibraahim” (Sebagaimana pernah Engkau beri rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya),
“Wa baarik ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa’alaa aali sayyidinaa Muhammad” ( Dan limpahilah berkah atas Nabi Muhammad beserta para keluarganya),
“Kamaa baarakta ‘alaa sayyidinaa Ibraahiim wa ‘alaa aali sayyidinaa Ibraahiim” (Sebagaimana Engkau memberi berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya), kemudian,
“Fil ‘aalamiina innaka hamiidum majiid” (Di seluruh alam semesta Engkaulah yang terpuji dan Maha Mulia ).
Salam.
Rasulullah SAW bersabda, “"Pembuka shalat itu adalah bersuci, pembatas antara perbuatan yang boleh dan tidaknya dilakukan waktu shalat adalah takbir, dan pembebas dari keterikatan shalat adalah salam." (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits shahih )
Posisi salam, merupakan penutup dari seluruh rangkaian perjalanan dalam shalat kita. Lakukan salam dengan menengok ke kanan dengan tujuan memberi salam kepada para malaikat yang menyertai kita dan hamba –hamba yang shaleh, seraya berkata, “Assalam ‘alaikum warahmatullah wa barakatuh” (salam sejahtera serta rahmat dan keberkahan Allah atas kalian), kemudian menengok ke kiri dengan memberi salam dengan ucapan, “ Assalam ‘alaikum warahmatullah” (salam sejahtera serta rahmat atas kalian)
Salam memberikan makna “aman” dari segala “hijab” terhadap kesaksian Allah yang sangat di inginkan atau di dambakan oleh seorang yang hanya menghamba kepada Allah.
Dalam Sirr As Sholah, mengutip perkataan Imam Ja’far Ash Shadiq as. dalam Mishbah asy Syari’ah, dikatakan, “ Makna salam di akhir setiap shalat adalah aman. Artinya barangsiapa melaksanakan perintah Allah dan sunnah Nabi-Nya saw. dengan hati yang khusyuk, ia akan memperoleh aman dari bencana dunia dan bebas dari siksa akhirat. As Salam adalah salah satu nama Allah ta’ala yang dititipkan kepada makhluk-Nya agar mereka menggunakan maknanya dalam berbagai muamalah, amanat, hubungan, dan menegaskan persahabatan diantara mereka serta mengesahkan pergaulan mereka. Apabila engkau ingin meletakkan salam pada tempatnya dan menunaikan maknanya, maka takutlah kepada Allah agar Dia menyelamatkan agama, hati, dan akalmu. Jangan mengotorinya dengan gelap maksiat. Hendaklah engkau memberi salam kepada para penjagamu. Jangan membuat mereka bosan dan jemu, dan jangan menjadikan mereka berlepas diri darimu dengan perlakuanmu yang buruk terhadap mereka, lalu terhadap temanmu, lalu musuhmu.
Bagi seseorang yang menghayati shalat secara utuh dan menjadikan shalat sebuah kebutuhan, maka tempat shalat yang sesungguhnya tidak hanya di dalam “masjid”, namun di seluruh hamparan bumi ini. Ketika kita bekerja, berhubungan dengan orang lain, ketika kita melakukan aktivitas keduniaan, dipandang sebagai aktivitas berjalan memenuhi undangan Allah dan senantiasa menegakkan jalan yang lurus. Semua makhluk, kejadian yang ada di muka bumi adalah hamparan bukti – bukti terhadap kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Adanya segala makhluk justru menjadi wasilah untuk lebih mengenal Allah.
Sekian.
Selengkapnya...
Syukur dan manifestasinya
Syukur dan manifestasinya.
Apa sih syukur itu ? Sebagian besar dari kita jika terlintas kata “syukur” biasanya langsung juga teringat kata Alhamdulillah ! Karena sudah kebiasaan yang mendarah daging kalau seseorang mendapatkan sesuatu yang bisa memberikan rasa senang, gembira dan puas, hampir pasti dia akan mengatakan, Syukur Alhamdulillah ! Gabungan dua kata itu bukanlah kata yang tidak bermakna, sejujurnyalah banyak dari kita yang mengingat Allah hanya pada saat-saat kita menerima rasa nikmat, baik itu nikmat lahir maupun batin. Dan itupun masih masih sebatas pada lisan saja. Jauh dari manifestasi syukur yang sebenarnya.
Seandainya kata itu tidak menjadi kebiasaan atau kalau menurut orang jawa “sego jangan”. Maksudnya “nasi sama sayur” yang bisa diartikan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, mungkin banyak juga dari kita yang tidak “terlintasi” Tuhan. Juga pada saat kita dalam keadaan kesusahan yang sudah sedemikian rupa barulah kita mau mendekat kepada Tuhan, untuk kemudian melupakannya lagi seiring dengan bertambahnya nikmat hidup.
Karena apa ? Karena kita hanya mau mengakui “Tuhan” hanya pada saat saat tertentu saja, terutama pada saat-saat 'Tuhan” memberikan kepada kita nikmatNya. Tetapi kebanyakan dari kita melupakan “Tuhan” seiring dengan semakin bertambah atau menipisnya nikmat-nikmat tersebut. Dan pada saat-saat kita “kehabisan” nikmat materi barulah kita berpikir tentang “Tuhan” yang sebenarnya. Barulah kita menyadari kalau ada dan tiadanya materi kehidupan tidak terlepas dari “Penguasa “ yang sebenarnya. Yaitu Allah swt.
Lantas, apa sih arti dan makna syukur yang sebenarnya ?
Syukur adalah ungkapan terima kasih atas segala “rasa” yang bisa memberikan kepada kita perasaan senang, gembira atau rasa puas secara lahiriah. Yang bisa dinikmati, baik disaat ini maupun disaat-saat yang akan datang. Ada juga yang mengartikan, ungkapan rasa terima kasih atas segala anugerah atau rahmat yang telah di limpahkan kepada kita oleh Allah swt. baik berupa nikmat material ataupun nikmat non material atau yang biasa kita sebut nikmat jasmani dan nikmat ruhani.
Kenapa kita harus bersyukur ?
Mari kita coba menelaah. Dunia ini adalah sesuatu yang nyata. Nyata bagi kita, nyata bagi mata kita, nyata bagi telinga kita, nyata bagi hidung kita, nyata bagi lidah kita, dan nyata juga bagi kulit kita. Untuk dunia, kelahiran manusia disertai “rasa” oleh Allah, yang setiap harinya kita biasa menyebut dengan indera. Secara lahiriah indera yang selalu kita gunakan ada lima seperti yang tersebut diatas, yiatu : Mata. Telinga, Kulit, Hidung (bau) dan Lidah.
Bisakah kita membayangkan, seandainya kita hidup tanpa bisa merasakan apa yang ada pada kehidupan itu sendiri. Hambar, bahkan kita bisa menganggap diri kita ini sudah mati sebelum ajal datang menjemput. Bisa juga dianggap sebagai mayat yang masih “hidup”. Bahkan saya yakin kalau ada manusia yang mati “rasa” kemungkinan besar dia ingin sampai pada “mati”yang sebenarnya.
Kelima indera itupun haruslah bisa berfungsi secara normal, kalau tidak berarti ada yang pincang “rasa” kita. Berarti kita bukan termasuk orang yang sehat, bahkan bisa dikatakan termasuk orang yang menderita. Tetapi tidak bisa di katakan sebagai orang yang tidak mendapatkan nikmat dari Allah. Tidak ada manusia yang merasa dirinya masih hidup tidak mendapatkan karunia nikmat dari Allah. Setiap manusia yang hidup itu bergelimang nikmat dari Allah. Hanya sebagian besar manusia itu tidak mengetahui atau lebih tepatnya tidak mau tahu !
QS. An Nahl : 78.
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ﴿٧٨﴾
”Wallahu akhrajakum min buthuuni `ummahaatikum laa ta`lamuuna syai`an wa ja`ala lakumu sam`a wal abshaara wal af`idata, la`allakum tasykuruuna”
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
QS. An Naml : 73.
وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَشْكُرُونَ﴿٧٣﴾
”Wa inna rabbaka ladzuu fadhlin `alaannasi wa lakinna `aktsarahum laa yasykuruuna”
“Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai kurnia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).”
Mari teliti beberapa contoh berikut :
Jika kita kehilangan salah satu indera kita pastilah kita sangat menderita, itu masih salah satu, kalau lebih dari satu ? Apalagi ! Akan semakin menderita ! sepertinya hidup segan mati tak mau. Itu baru yang berkaitan dengan “rasa”. Bagaimana seandainya kita kehilangan salah satu anggota tubuh kita ? Misal, tangan atau kaki kita ? Atau kita terlahir dalam keadaan cacat ? Bagaimanakah “rasa” hidup kita ?
Juga mengenai ada atau tidaknya penunjang hidup kita, misal kalau tidak ada pekerjaan atau penghasilan ? kalau tidak ada yang kita makan ? Nggak ada tempat tinggal ? Nggak ada sanak saudara atau kerabat ? Nggak ada sarana untuk kehidupan ? Pasti kita akan merasa tidak bahagia, sedih yang berkepanjangan, putus asa bahkan mungkin akan ada penyesalan mengapa kita dilahirkan ke dunia !
Itu hanya sebagian contoh saja. Yang jelas, kenikmatan hidup ini banyak yang melekat pada diri kita, tergantung kita sendiri bisa memahami tentang kenikmatan itu atau tidak ? Jika kita merasa selalu dalam kekurangan dalam kehidupan ini berarti kita termasuk dalam manusia yang tidak bisa menggunakan anugerah yang sangat besar sekali yang di berikan oleh Allah kepada kita berupa “akal”.
Akal merupakan anugerah nikmat yang sangat besar dan tinggi sekali nilainya yang di berikan oleh Allah kepada kita. Akal bisa membuat suatu kenikmatan menjadi lebih nikmat lagi atau berlipat ganda. Dan akal juga bisa untuk di gunakan memahami apa saja yang ada di alam ini untuk lebih mengetahui rahasia tentang kehidupan. Dan dari akal juga manusia bisa memahami tentang sesuatu dan untuk apa sesuatu itu akan berguna untuk dirinya.
Akal juga yang membuat perbedaan yang hakiki antara manusia dengan makhluk yang lain. Yang menyebabkan manusia di katakan sebagai makhluk atau ciptaan yang sempurna. Sehingga manusia pantas untuk memiliki predikat sebagai khalifatul ardh atau pemimpin di muka bumi.
Lantas kapan kita mesti bersyukur ? Kepada siapa kita mesti bersyukur, dan dimana kita harus bersyukur ? Jawabnya adalah kapan saja, dimana saja kita harus bersyukur. Kepada siapa ? Tidak ada lain lagi kecuali kepada Allah swt, sang pencipta Alam semesta beserta segala apa yang ada di dalamnya termasuk manusia dan makhluk lain yang bisa kita lihat dengan mata kita dan yang tidak bisa kita lihat dengan mata kita, sang penguasa alam semesta, yang mempunyai asma`ul husna.
Bagaimanakah kita harus bersyukur ?
Perwujudan rasa syukur manusia kepada Allah swt. adalah penyerahan diri sepenuhnya kehadapan Allah swt. dalam arti tunduk dan patuh terhadap semua yang diperintahkan dan di larang, atau ketaatan secara total dalam memahami dan menjalankan semua apa yang di perintahkan dan berusaha dengan sekuat tenaga untuk meninggalkan semua apa yang di larangNya.
Perintah Allah itu meliputi Iman dan Islam. Iman meliputi kepercayaan dan keyakinan kepada Allah, Malaikat Allah, Kitab-kitab Allah, Rasul-rasul Allah, Hari akhir/berbangkit dan Takdir Allah. Sedangkan Islam adalah membaca dua kalimat syahadat, menjalankan perintah shalat, puasa di bulan Ramadhan, membayar zakat sesuai ketentuan dan pergi haji jika mempunyai kemampuan.
Jika di uraikan lagi adalah, selalu mengingat Allah dalam situasi dan kondisi apapun, selalu meneliti dan memahami ayat-ayat Allah baik ayat-ayat qauliyah yang ada di dalam Al qur`an maupun ayat-ayat kauniyah yang ada alam sekitar kita. Untuk lebih mempertebal keyakinan atau Iman kita. Menjalankan perintah shalat lima waktu beserta shalat-shalat sunnah yang mengikutinya. Menafkahkan harta yang telah dianugerahkan Allah kepada kita kepada yang berhak atau sesuai dengan yang di tuntunkan di beberapa ayat, misal di ayat 177 surah Al Baqarah. Dan selalu berbuat kebaikan dan tidak berbuat kerusakan terhadap alam sekitar kita.
Jika di ringkas lagi, berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa dengan berlandasan Iman dan tauhid untuk menjadikan diri kita manusia yang bertakwa.
Sudahkah kita bersyukur ?
Kalau sudah, seberapa banyak kesyukuran kita ? Kita coba simak beberapa ayat di bawah ini.
QS. Ibrahim : 34.
وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ﴿٣٤﴾
“Wa ataakum min kulli maa sa`altumuuhu, wa in ta`udduu ni`matallahi laa tuhshuuhaa, innal insaana lazhaluumun kaffaaruun”
”Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
QS. An Nahl : 83.
يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ﴿٨٣﴾
“Ya`rifuuna ni`matallahi tsumma yunkiruunahaa. Wa aktsaru humul kaafiruuna”
”Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.”
QS. An Naml : 73.
وَإِنَّ رَبَّكَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَشْكُرُونَ﴿٧٣﴾
“Wa inna rabbaka ladzuu fadhlin alaannasi wa lakinna aktsarahum laa yasykuruuna”
”Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai kurnia yang besar (yang diberikan-Nya) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).”
QS. Al Hajj : 66.
وَهُوَ الَّذِي أَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَكَفُورٌ﴿٦٦﴾
“Wa huwaladzii `ahyaakum tsumma yumiitukum tsumma yuhyiikum, innal insaana lakafuurun”
”Dan Dialah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi), sesungguhnya manusia itu, benar-benar sangat mengingkari nikmat.”
Dari beberapa ayat itu Allah swt mengatakan bahwa manusia itu kebanyakan mengingkari nikmat, tidak mensyukuri, begitu banyak nikmat yang telah di berikan kepadanya, lupa, lalai terhadap Allah yang telah memberikan semua yang telah diambil dan di gunakan untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kalaupun kita mengatakan saya sudah bersyukur mari kita perhatikan beberapa ayat di bawah ini.
QS. As Sajdah : 9.
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ ۖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ﴿٩﴾
“Tsumma sawwaahu wa nafakha fiihi min ruuhihi, waja`ala lakumus sam`a wal abshaara wal `af`idata, qaliilan maa tasykuruuna”
”Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”
QS. Al Mu`minuun : 78.
وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ﴿٧٨﴾
“Wa huwalladzii `ansya`a lakumus sam`a wal abshaara wal af`idata, qalilan maa tasykuruuna”
”Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.”
QS. Al A`raaf : 10.
وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ ۗ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ﴿١٠﴾
“Wa laqad makkannaakum fiil ardhi wa ja`alnaa lakum fiihaa ma`aayisya, qalilan maa tasykuruuna”
”Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.”
Di tiga ayat itu Allah mengatakan bahwa manusia itu sedikit sekali syukurnya, walaupun sudah begitu banyak yang telah di terima dari Allah berupa ruh yang menyebabkan hidup, pendengaran, penglihatan, dan hati untuk mempertimbangkan dan memahami serta untuk merasakan senang atau rasa gembira. Dan segala fasilitas kehidupan berupa sumber makanan dan tempat tinggal serta jalan-jalan untuk menuju ke suatu tempat. Tapi tetap saja ungkapan rasa syukurnya cuma sedikit. Hanya sebatas lisan dan sekedar beribadah saja.
Ini penggambaran terhadap diri kita yang dalam menjalankan perintah-perintah Allah suka bermalas-malasan kadang shalat kadang tidak, bahkan banyak tidaknya, kalaupun shalat hanya untuk mengugurkan kewajiban saja, “poko`e shalat”, puasa ya di awal dan di akhir saja, shalat tarawih maksimal sampai hari ke sepuluh saja, merasa berat kalau mendermakan hartanya di jalan Allah. Ya kalau diringkas, seluruh ibadahnya menganut prinsip “poko`e”. Dan kita semua tahu kalau prinsip “poko`e” itu merupakan amalan yang tidak disertai “ilmu” pokoknya shalat walaupun jarang-jarang dan nggak bener, pokoknya puasa, walaupun cuma awal dan akhir. Semua serba pokoknya.
Begitulah manusia ! Lantas apa yang dibutuhkan ? Yang dibutuhkan adalah “petunjuk”. Dan petunjuk Allah itu sudah ada yaitu Al Qur`an. Kitabullah itu merupakan petunjuk dan pelajaran dan pembeda antara yang haq dan yang bathil. Jika kita tidak pernah membacanya apalagi tidak pernah membukanya sama sekali, ya kita tidak akan mendapatkan apa-apa darinya.
Oleh karena itu marilah,...marilah kita berusaha untuk menjadi manusia yang bersyukur kepada Allah yang telah menciptakan kita, dan telah memberikan kepada kita kenikmatan yang begitu banyak. Bahkan begitu banyaknya sampai-sampai kita tidak akan pernah dapat menghitungnya berapa banyak kenikmatan yang telah kita terima.
Sebabnya, kesyukuran yang kita ungkapkan dan wujudkan itu sebenarnya bukan untuk Allah, tetapi kesyukuran itu sebenarnya untuk diri kita sendiri. Allah tidak berkehendak kepada kita, tetapi kitalah yang berkehendak kepada Allah, bahkan jika semua yang ada di muka bumi ini ingkar kepada Allah, tidak akan berkurang sedikitpun kekuasaan Allah.
Perhatikan beberapa ayat di bawah ini :
QS. Faathir : 15.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ﴿١٥﴾
“Yaa ayyuhaan nasu antumul fuqaraa`u ilallah, wallahu huwal ghaniyyul hamidu”
”Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.”
QS. Ibrahim : 7.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ﴿٧﴾
“Waidz ta`adzdzana rabbukum la`in syakartum la`aziidanakum, wa la`in kafartum inna `adzaabii lasyadiidun”
”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
QS. Ibrahim : 8.
وَقَالَ مُوسَىٰ إِنْ تَكْفُرُوا أَنْتُمْ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا فَإِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ﴿٨﴾
“Wa qaalaa Musa in takfuruu antum wa man fiil ardhi jami`an fa innallaha laghaniyun hamiidun”
“Dan Musa berkata: "Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
QS. Luqman : 12.
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ﴿١٢﴾
“Wa laqad atainaa luqmaanal hikmata `anisykur lillahi, wa man yasykuru fa`innamaa yasykuru linafsihi, wa man kafara fa`innallaha ghaniyun hamiidun”
”Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
Allah akan menambah nikmatNya kepada kita apabila kita bersyukur dan apabila kita ingkar sesungguhnya Allah maha kaya, Allah tidak berkehendak kepada kita, kitalah yang berkehendak kepadaNya.
Mudah-mudahan kita bisa memahami bagaimana perwujudan syukur yang sebenarnya, agar kita bisa mencapai keinginan kita untuk dapat mencapai derajat seperti orang-orang yang bertakwa.
Amin Allahumma Amiin.
Selengkapnya...