
Dengan tertatih-tatih perjuangan Rasulullah saw dan para sahabat berlangsung di tanah kelahiran beliau sendiri di kota Mekah. Kesabaran dan ketabahan serta kekuatan Iman telah melangkahkan kaki Rasulullah dan para sahabat ke tanah Yatsrib atau Madinah. Sambutan yang luar biasa dilakukan oleh penduduk Yatsrib yang telah mengenal dan menyediakan diri dalam Iman dan Islam seakan memberikan pertanda akan semakin luas dan besarnya pengaruh agama ini kelak di kemudian hari.
Hari demi hari berlalu. Dengan keyakinan yang semakin bertambah kuat, bertambah besar pula semangat kaum muslimin. Keyakinan yang begitu dalam dan semangat yang begitu menggelora yang lahir dari berbagai kesulitan yang terlalui, menyebabkan Allah memberikan dukungan dengan mengirimkan malaikat untuk membantu perjuangan Rasulullah dan para sahabat serta kaum muslimin dalam mempersiapkan sebuah perang besar.
Sebuah peristiwa perang yang kelak menjadi legenda sepanjang sejarah Islam, karena hanya dengan sejumlah 300 orang pasukan telah mampu mengalahkan seribu orang lawan lebih. Sesuatu yang hampir tidak bisa diterima akal, karena pasukan lawan terdiri dari orang-orang yang sudah terbiasa berperang dengan jumlah pasukan yang jauh lebih banyak. Kalau bukan karena pertolongan Allah, mustahil pasukan muslimin akan memperoleh kemenangan dalam perang badar tersebut.
Kemenangan dalam perang tersebut telah memberikan suntikan motivasi dan bertambahnya keyakinan akan kebenaran agama baru yang mereka anut. Bahwa mereka tidak salah mengambil keputusan untuk bergabung dengan keyakinan baru dan pemimpin sekaligus seorang nabi yang telah diutus oleh Allah untuk menanamkan ketauhidan dalam hati setiap orang dan menyebarkan kebenaran serta kedamaian dalam kehidupan yang telah sampai pada titik paling mengkhawatirkan yaitu kemusyrikan.
Sebuah kemenangan sedikitnya memberikan rasa bangga. Dan keyakinan bahwa kelak dalam perang yang lain pasti akan menjumpai kemenangan yang sama. Karena Allah pasti akan memberikan bantuannya lagi kepada pasukan yang di pimpin oleh seorang nabi yang menjadi kepercayaan dan tumpuan harapan mereka. Menjadikan kaum muslimin sedikit lengah. Dan teguran Allah dalam perang di bukit uhud cukuplah membuat kau muslimin tersentak dan segera menyadari apa yang telah terjadi pada diri mereka dan kaum muslimin.
Menyadari apa yang telah terjadi dan belajar dari kesalahan yang telah mereka perbuat, kaum muslimin bertekad untuk lebih mempersiapkan diri lebih matang dalam perang yang akan terjadi kelak di kemudian hari. Mereka membangun kekuatan Iman dan kekuatan pasukan perang demi kewibawaan dan kelangsungan Agama mereka. Perang demi perang yang terjadi kemudian selalu mereka menangkan. Dan tibalah saatnya untuk sebuah pekerjaan yang sangat besar, yaitu menaklukkan kota mekah dan membebaskan masyarakatnya dari kebodohan beragama.
Dengan masuknya Khalid bin Walid ke dalam Islam semakin membuat pasukan kaum muslimin begitu kuat. Dan kota Mekkahpun dapat ditaklukkan tanpa terjadi kekerasan setelah menunggu waktu satu tahun dari sebuah perjanjian antara kaum muslimin dengan penduduk Mekkah. Lalu mulailah sebuah perjalanan yang sangat menentukan dari sebuah agama baru yang membawa kebenaran dan menawarkan kedamaian diantara manusia.
Dengan kekuaan Iman dan pesona Islam sebagai sebuah agama pembawa kebenaran. Dalam waktu yang relatif singkat Islam telah menyebar ke berbagai wilayah jazirah arab. Semakin lama semakin jauh wilayah penyebaran Islam. Karena apa ? Kesungguhan Iman telah menurunkan rahmat Allah kepada perjuangan kaum muslimin. Dengan Khalid bin Walid sebagai panglima perang tidak ada satu tempatpun yang sanggup bertahan dari kekuatan pasukan muslimin yang membawa misi kebenaran beragama. Tidak juga pasukan Rumawi, mereka takluk dibawah kewibawaan dan keperkasaan pasukan muslimin.
Namun setelah berabad-abad berlalu dan Islam telah benar-benar membawa rahmat bagi pengikutnya, kekuatan Iman bukan lagi menjadi tumpuan utama dalam sebuah perjuangan. Cahaya iman yang berkilauan yang diwariskan Rasulullah dan para sahabat semakin meredup. Karena telah tergantikan dengan kilaunya cahaya dunia. Rasa persaudaraan yang begitu kuat, saat ini seakan terputus. Semua itu lebih banyak di sebabkan berpalingnya hati dan perut pada materi keduniaan dan nikmatnya aneka makanan yang telah bercampur dengan bumbu-bumbu racikan setan.
Allah memberikan begitu besar nikmat dunia pada sebagian besar negara Islam, tapi sejalan dengan besarnya nikmat yang kita terima luntur pula kecenderungan mencontoh perilaku Rasulullah saw. kebanyakan dari kita hanya sedikit meniru perilaku Rasulullah. Penampilan sehari-hari yang sangat jauh seperti gambaran keseharian Nabi. Menumpuk harta sedemikian banyaknya, yang nabi dan sahabatnya sendiri sangat takut dengan banyaknya harta. Amalan shalat malam yang sangat minim, juga sangat jauh dari perilaku Rasulullah yang mendakwamkannya.
Harta dan kekayaan telah menutup pintu hati kita dari kuatnya Iman seperti yang dimiliki Rasulullah dan para sahabat serta para tabi`it tabi`in di masa lalu. Kekayaan telah menjauhkan diri kita dari fakir miskin dan orang-orang yang teraniaya, padahal Rasulullah dan para sahabat begitu mencintai fakir miskin dan selalu membela mereka yang teraniaya. Karena kecintaan kepada fakir miskin menunjukkan kedekatan kita kepada Allah. Semuanya itu lebih dikarenakan kita mengacuhkan ilmu agama dan ancaman-ancaman Allah yang ada di dalamnya.
Yang lebih memprihatinkan adalah ketidak pedulian kita terhadap saudara-saudara kita yang ketakutan dalam kuatnya cengkeraman orang-orang kafir. Ketidak pedulian yang disebabkan karena ketakutan akan kehilangan dunia. Yang berimbas pada berubahnya kiblat ke-tunduk-an hanya kepada Allah menjadi sebuah ketundukan pada manusia lain yang kita anggap lebih perkasa. Dengan tingginya tehnologi persenjataan yang di miliki oleh orang lain menyebabkan hilangnya “nyali” yang semula begitu kuat menempel pada diri Rasulullah dan para sahabatnya.
Mungkin masih bisa kita temukan beberapa pemimpin Islam yang mewarisi kuatnya Iman dari Rasulullah dan para sahabat tersebut. Tapi itu jumlahnya tidak banyak. Dan pemimpin yang seperti itu tidak hanya berjuang melawan kuatnya lawan nun di seberang lautan. Tapi juga melawan kuatnya “saudara” sendiri yang cenderung ke “lawan”. Saudara sendiri yang haus akan kekuasaan. Suatu sifat yang sebenarnya di wariskan oleh kerajaan atau kekaisaran di luar Islam.
Keadaan dunia saat ini sudah bisa dijadikan cermin, betapa lunturnya warisan “hati” Islam tersebut. Orang-orang kafir begitu leluasa memporak-porandakan sebuah wilayah Islam hanya karena keinginan menguasai “rahmat” Allah yang tercurah di sana. Dan kekalahan demi kekalahan kita terima tanpa bisa harus berbuat apa. Hanya menunggu sebuah kehancuran diri dan harta benda yang kita punya untuk kemudian tunduk dan patuh tanpa kata. Tanpa asa dan tanpa saudara seperti seseorang yang hidup sebatang kara di medan perang dan membiarkan sebuah mesiu menembus dada kita.
Iman kita telah “tidur”. Berganti menjadi sebuah “ketakutan” akan hilangnya dunia dari diri kita. Tidak perduli manusia dari sisi mana saja, kalau hati sudah berpaling pada dunia, niscaya yang tinggal hanya sebuah “ketakutan” yang amat sangat akan kehilangan nikmat-nikmat dunianya. Iman yang seharusnya menyebarkan kekuatan “hati” dalam Islam justru semakin terpendam jauh ke dalam dasar hati yang paling dalam.
Yang terjadi kemudian hanyalah timbulnya ambisi untuk memenuhi keinginan-keinginan pribadi. Membentuk diri menjadi manusia yang bergelimang harta, untuk kemudian menyembunyikan diri dari pandangan mata kaum papa atau fakir miskin. Menjadi lupa. Islam yang semula memberikan kekuatan Iman dan kepedulian pada fakir miskin berganti menjadi sebuah ketidak pedulian dan perasaan tega melihat saudara-saudara se iman kita hancur dalam gempuran musuh-musih Islam. Bahkan terhadap saudara se iman yang sangat dekat letaknya dengan bumi yang kita injak.
Kita semua lupa, kalau bukan karena Islam, niscaya sudah hancur tiap jengkal tanah, kemudian berganti dengan tirani-tirani penghisap darah yang akan menghisap habis seluruh apa yang ada di dalam buminya maupun apa yang ada di dalam dadanya. Kalau bukan karena Allah dan Rasulnya niscaya kita akan benar-benar terhina hidup sebagai manusia. Kalau bukan karena kekuatan Iman Rasulullah dan para sahabat niscaya seluruh bumi ini tidak akan pernah ber-Tuhan pada Allah. Niscaya akan semakin banyak muncul Tuhan-Tuhan lain yang bertebaran di muka bumi ini.
Islam bisa berkembang pesat karena kekuatan Iman pengikutnya. Rahmat Allah turun karena janji Allah kepada orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya Iman. Dan itu sudah dibuktikan oleh Allah ke tiap jengkal bumi yang menjadi pijakan Rasulullah dan para sahabatnya serta para salaf pada jamannya. Dan kesemuanya itu telah di wariskan kepada manusia-manusia yang hidup setelah mereka. Termasuk semua diri kita yang masih mengatakan bahwa dirinya beriman dalam Islam. Kekuatan Iman dan rahmat dari Allah telah di wariskan kepada kita oleh para pendahulu kita. Kita tinggal menjaganya dan menyebarkannya ke seluruh arah yang bisa kita jangkau.
Allah memberikan pertolongannya kepada kaum muslimin karena kebenaran Iman dan keikhlasan dalam setiap amal perbuatannya. Keberanian menantang maut dan tidak takut terhadap kematian telah pula menarik para malaikat untuk turut berperan dalam setiap langkah besar kaum muslimin dalam berperang. Semangat Iman dan Islam terbukti bisa menjadi penghancur musuh atau lawan. Tak terkecuali di negara yang kita cintai ini.
Tapi apa yang terjadi di dunia saat ini ? Warisan kuatnya Iman dari Rasulullah dan para sahabat serta para salaf telah banyak terkikis oleh gemerlapnya dunia, warisan “hati singa” hanya tertinggal pada diri orang beriman yang hidup dalam kefakiran. Sementara kita yang hidup dalam gelimang harta dan nikmatnya kehidupan semakin menuju ke kerasnya “hati”. Meninggalkan kebiasaan-kebiasaan “bergetar” karena lunak hati dan beningnya jiwa.
Akibatnya ? Kita menjadi manusia yang takut kehilangan. Takut kehilangan semua apa yang kita punya. Kita rela kehilangan Iman sedikit demi sedikit dan menggantinya dengan ambisi dan nafsu-nafsu arahan setan. Dan yang lebih parah lagi, ketakutan akan kematian. Takut aka kematian yang lebih banyak di sebabkan karena lemahnya Iman. Sehingga tidak ada lagi kepercayaan diri untuk berani melakukan sesuatu terhadap saudara-saudara kita yang hidup dalam kesengsaraan akibat perang yang berkepanjangan.
Dan apa yang telah di wariskan oleh Rasulullah dan para sahabatnya berupa kuatnya Iman telah berubah menjadi suatu warisan “hati” yang tak berarti. Karena secara pelan namun pasti kita telah membuang isinya dan menggantinya dengan lembaran-lembaran angka dan “berhala-berhala” emas. Yang senantiasa kita bangga-banggakan di hadapan manusia sebagai bukti bahwa kita telah hidup mulia di dunia yang sebenarnya fana.
Ketakutan yang juga lebih banyak dipengaruhi oleh keyakinan. Bahwa Allah tidak akan menurunkan pertolongannya pada orang-orang yang sekedar hanya beriman di pinggiran agama. Sehingga bayangan kematian selalu nampak di depan mata jika kita membayangkan sebuah pertempuran. Inilah yang membedakan “nyali” antara orang yang beriman dengan sebenar-benarnya Iman dan orang-orang yang asal beriman. Dan Allah lebih tahu tentang kualitas Iman masing-masing orang.
Itulah kenapa kita lebih banyak bersikap membiarkan saudara-saudara kita yang menderita akibat terkaman lawan dan tikaman senjata dari depan dan belakang. Hanya lisan kita yang bereaksi. Mengumpat, mengutuk dan mencaci maki. Lalu setelah puas, kita membeli kesengsaraan saudara-saudara kita itu dengan lembar-lembar bergambar yang belum tentu berarti. Tak ada kekuasaan dan kekuatan untuk ikut melepaskan mereka dari penderitan akibat perang yang berkepanjangan.
Saudara-saudaraku dalam Iman dan Islam yang sedang berada di medan perang, kuatkanlah hati kalian. Karena andalah pewaris “hati” Iman dan Islam yang sebenarnya. Bukan kami yang selalu dalam ketakutan akan datangnya kematian. Jemputlah kematianmu dalam kesyahidan, pertahankan tiap jengkal tanahmu demi ketauhidan. Niscaya Rasulullah akan menyambut kalian di pintu-pintu langit di suatu tempat di sebuah ketinggian.
Kami disini tidak mempunyai kemampuan untuk bisa memberikan dukungan di belakangmu. Karena kami yakin akan terkena peluru lebih dulu dari pada kalian yang ada di depan kami. Kami adalah sekumpulan orang-orang yang “takut” akan kematian. Kami hanya bisa bersama-sama berdo`a, mudah-mudahan pertolongan Allah akan segera datang, mudah-mudahan para malaikat akan selalu berada di samping kalian untuk membentengi kaki dan dada kalian. Agar kalian tetap dapat menegakkan kepala dalam menghadapi lawan yang dibantu pasukan setan.
Agar kalian tetap mempunyai kekuatan untuk melangkahkan kaki ke garis depan. Agar hati kalian menjadi pengobar semangat dalam menghadapi ganasnya lawan. Agar mata dan kepala siap menghadapi kematian dalam kesyahidan untuk mempertahankan tanah yang luhur yang telah di wariskan kepada diri kalian. Kami disini hanya bisa menitikkan air mata. Karena ketidak berdayaan akibat beratnya beban dunia yang kami letakkan di atas punggung kami. Yang sebenarnya telah kami sadari bahwa semuanya itu justru akan membawa diri kami ke dalam dalamnya jurang yang akan menelan diri dan jiwa kami.
Yakinlah bahwa Allah pasti akan menolong orang-orang yang menolong agamaNya. Selamat berjuang saudaraku, Insya Allah Rasulullah menunggu kalian, karena kalian telah berhadapan dengan lawan yang juga menjadi musuh Rasulullah, para sahabat dan seluruh umat Islam.
Sekian.
Wrote by : Agushar.
Selengkapnya...
Selasa, 15 Juni 2010
Warisan yang tak Berarti.
Minggu, 13 Juni 2010
Alergi Bid`ah.

Bid`ah mempunyai arti “sesuatu” atau masalah yang baru. Hasil dari pada pemikiran manusia. Ada yang bermuara pada kebenaran terhadap suatu jalan (thariqah), ada yang bermuara pada sesuatu yang jelek atau buruk. Karena memang hanya ada dua muara yang berlawanan. Baik atau buruk. Dan tidak semua masalah baru itu jelek, buruk atau sesat. Banyak sekali sesuatu yang baru justru mendatangkan manfaat bagi yang mengikutinya. Dan hal ini berlaku tidak hanya berkaitan dengan sesuatu yang zhahir saja, sesuatu yang bersifat bathin juga akan bisa berdampak baik bagi pengamalnya, sepanjang sesuatu yang baru tersebut tidak bisa di tolak oleh mayoritas hati manusia dan di dukung oleh Firman Allah dan sabda Rasulullah saw.
jika kita mengatakan bahwa sesuatu yang baru semuanya adalah sesat, berarti kita yang harus berintrospeksi terhadap tingkah laku kita selama ini. Dalam banyak hal yang tidak berhubungan langsung dengan masalah agama, sesuatu yang baru tidak sedikit mendatangkan manfaat untuk kehidupan manusia. Dan ini sudah menjadi ketentuan Allah, jika “budaya” manusia semakin hari juga semakin berkembang sejalan dengan kinerja akal yang teraplikasi pada otak manusia.
Penyebab lahirnya sesuatu yang baru adalah akal yang dipergunakan oleh manusia. Dan Allah sangat membenci orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. Perkembangan tehnologi adalah buah kinerja akal. Yang bisa menguak banyaknya rahasia alam semesta ini hanyalah akal yang dipergunakan sebagaimana mestinya. Bukan malah membatasi penggunaan akal untuk terus berkutat dengan prinsip “opo anane” dan “nrima ing pandum” dalam hal pemahaman. Pemikiran-pemikiran seperti ini secara tidak langsung “mengebiri” kemampuan akal yang telah diaplikasikan oleh Allah pada otak manusia.
Agama Islam muncul karena kehendak Allah, yang di sampaikan kepada manusia yang mempunyai “akal” dan mau menggunakan akalnya. Agama Nasrani lahir sesudah agama Yahudi. Lahirnya agama Nasrani adalah sesuatu yang baru saat itu, bisa juga disebut “bid`ah”. Tapi sebuah bid`ah yang mempunyai fungsi yang lebih baik, yaitu meluruskan sebuah kesalahan yang disebabkan tidak bekerjanya akal secara maksimal.
Demikian juga dengan lahirnya agama Islam. Agama Islam lahir sebagai sesuatu yang baru pada jamannya. Yang lama adalah agama Nasrani, dan yang lebih lama lagi agama Yahudi. Tapi apakah Islam sebagai agama yang baru pada saat itu membawa kesesatan ? Tidak ! Justru Agama baru ini membawa sebuah kebenaran yang tak bisa terbantahkan. Membawa pesan kebenaran dan meluruskan kebengkokan yang telah terjadi saat itu.
Juga pada waktu Rasulullah saw. hijrah ke Yatsrib, agama baru yang di bawa oleh Nabi baru dan terakhir ini telah banyak mengubah kebiasaan penduduk Yatsrib yang sebelumnya akrab dengan kebiasaan-kebiasaan lamanya. Permusuhan yang begitu sengit antara satu suku dengan suku yang lain telah dapat dipersatukan dengan datangnya Rasulullah dan ajaran barunya. Dengan demikian telah terbukti dengan bekerjanya akal untuk bisa menerima sebuah kebenaran yang baru terungkap menyebabkan sebuah kehidupan agama bisa menjadi lebih baik.
Jadi, sesuatu yang baru belum tentu sesat, jelek atau buruk. Jika berkaitan dengan agama, selama tidak bertentangan dengan Al Qur`an, bukanlah merupakan sesuatu yang sesat. Tidak semua niat atau kemauan yang baik bisa terakomondasi pada zamannya. Marilah kita perhatikan beberapa amalan dibawah ini :
Pengumpulan ayat ayat yang terserak dan penulisannya serta pembukuannya sebagai mushhaf (kitab) oleh sahabat pada zamannya, adalah sesuatu yang baru. Karena kekhawatiran kemungkinan akan hilangnya ayat-ayat dan meninggalnya penghafal Qur`an. Ini bid`ah bermanfaat bagi umat.
Perbuatan yang dilakukan sahabat Umar bin Khattab mengumpulkan kaum muslimin untuk shalat tarawih adalah hal baru, dan sahabat Umar mengatakan “Bid`ah ini sungguh nikmat”.
Pemberian gelar sarjana pada Universitas Islam, adalah hal baru. Padahal para sahabat dan tabi`it adalah orang-orang pandai dalam hal agama, mereka tidak pernah memakai gelar.
Adzan dengan pengeras suara, ceramah dengan pengeras suara, pembangunan masjidil haram yang begitu megah, adalah sesuatu yang benar-benar berbeda dengan zaman Rasulullah saw. dan semua itu adalah hal baru yang justru menjadi kebanggaan umat Islam.
Rumah-rumah yang kita huni saat ini, terutama orang-orang Islam yang kaya begitu banyak yang megah dan indah baik kualitas bangunan dan model bangunannya. Sangat berbeda dengan rumah yang di huni Rasulullah saw. yang penuh kesederhanaan. Dan hal ini adalah bid`ah pula karena rumah kita juga kita gunakan untuk shalat sebagaimana Rasulullah menggunakan rumahnya untuk shalat, terutama untuk shalat-shalat sunnah.
Sebenarnya banyak sekali hal-hal baru yang sebenarnya kita suka, tapi kita selalu berkelit untuk “menghalalkannya”. Padahal kalau kita mau mencontoh pribadi Rasulullah saw. dan para sahabat terutama sahabat Abu Bakr dan Umar ra. juga sudah jelas pula contohnya. Hidup sederhana, tidak banyak menyimpan harta, tampilan yang sederhana, banyak menolong orang miskin di sekitarnya.
Sedangkan kita ? Mengejar materi. Lalu bermegah-megahan rumah dan perabotnya. Membangga-banggakan kekayaan dan titel sarjananya. Memalingkan muka jika bertemu orang miskin. Berpenampilan eksklusif dengan pakaian yang serba mahal diantara banyaknya fakir miskin. Tidak malu berkendara dengan mobil mewah di antara motor kreditan yang sangat banyak di jalan. Bukankah ini cermin orang hipokrit ! Tapi jika dikatakan hipokrit atau munafik kita selalu berkelit mencari-cari alasan dan pembenaran perilaku kita.
Banyak dari umat Islam yang mengatakan mengikuti perilaku nabi saw. Tapi ketika dihadapkan pada kekayaan dan gaya hidupnya, dari mulai penampilan, rumah tinggal, gaya hidup yang cenderung berlebih-lebihan, menyimpan harta yang “unlimited”, mereka cenderung mengingkarinya. Jujur saja, kita tidak mau hidup seperti Rasulullah dan para sahabat, yang sangat sederhana, tidak menyimpan harta kecuali sedikit sekali, senang mengunjungi orang-orang miskin dan memberikan bantuan.
Dimana ? Dimana sebenarnya kita bisa menemukan orang-orang islam yang mempunyai hati sekualitas Rasulullah dan para sahabatnya ? Mungkin ada ! Di desa-desa terpencil yang jauh dari “dunia” atau di atas gunung-gunung seperti hidupnya para penyebar agama Islam di Indonesia. Dengan jujur saya katakan, tidak ada dari kita yang mau hidup jauh di desa terpencil dengan segala keterbatasannya. Apalagi mengajarkan ilmu agama di atas gunung yang demikian tinggi.
Diantara kita ada yang menuhankan sebuah kalimat, “orang Islam harus kaya”. Dengan alasan untuk membantu yang miskin dan banyak berbuat sesuatu dengan mereka yang fakir. Tapi sesungguhnya kekayaan yang telah di dapat tak lebih dari pada untuk mencukupi kebutuhan diri pribadi dan keluarganya saja. Jauh dari amalan yang di contohkan Rasulullah dan para sahabatnya. Kita hanya bersembunyi di balik sebuah pernyataan yang baik, indah, suci dan agung seperti yang di perintahkan oleh Allah dalam kitab.
Banyak orang berkoar setiap hari agar mencontoh kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya, tapi tidak pernah menyadari kalau keluarganya sendiri jauh dari gaya hidup Rasulullah dan sahabatnya. Mengejar materi tanpa batasan waktu, memborong keperluan diri dan perut di tempat perbelanjaan modern yang notabene milik orang yang tidak se-iman dengan kita. Dengan bangganya menghambur-hamburkan uang hanya untuk membeli “prestise”. Yang Rasulullah dan sahabatnya tidak pernah memperdulikan “prestise” tersebut.
Jujur pula saya katakan, kalau kita lebih berkiblat pada “gengsi”. Kita lebih yakin dengan pepatah jawa “Ajining raga saka busana”. Sehingga kita berusaha untuk membentuk diri kita agar lebih “diajeni” di tengah-tengah masyarakat. Tapi dilain waktu kita menyuruh orang lain untuk hidup sederhana dengan mencontoh perilaku nabi saw. Sangat berlawanan sekali dengan perilaku kita sendiri.
Kita mengatakan sesuatu yang baru adalah bid`ah yang menyesatkan. Tapi kenyataannya kita lebih cenderng dengan sesuatu yang baru, bahkan paling baru. Pakaian model terbaru, rumah model terbaru, motor model terbaru, mobil model terbaru. Yang kesemuanya itu tidak dilakukan oleh Rasulullah saw. walaupun beliau sangat mampu untuk melakukannya. Seperti raja-raja di benua eropa saat itu. Karena apa ? Tidak lain karena harta bukanlah “jembatan” utama menuju keridhaan Allah. Banyaknya harta justru membuat kita lebih banyak mengingkari tingkah laku dan gaya hidup yang di contohkan Rasulullah dan para sahabat.
Pernah dalam suatu sidang Jum`ah seorang khatib berkhatbah dengan sangat berapi-api. Padahal kaum yang ada di depannya lebih banyak yang tidak se“mazhab” dengannya. Sang khatib berkhotbah dengan tema bahwa semua bid`ah adalah dholalah atau sesat. Dengan mengambil beberapa hadist yang sengaja di lemahkan kesahihannya dan perawi dari hadist-hadist tersebut dikatakan sebagai orang-orang yang suka “nggedabrus” alias banyak omong yang nggak ada buktinya.
Dia menyoroti kaum muslimin yang mengamalkan puasa di bulan rajab serta shalat-shalatnya. Dikatakannya bahwa shalat di bulan rajab sebagai sesuatu kegiatan “jungkal-jungkel” yang tidak ada pahalanya, bahkan cenderung sirik. Lalu puasa di bulan rajab di katakan sebagai amalan yang “tiwas luwe” gak onok ganjarane. Saya jadi sangat heran mendengarnya. Kok ada seorang ustadz yang mempunyai bahasa yang demikian “kasar” dan tidak mencerminkan hormatnya kepada para salafus shalih.
Sang khatib mengatakan bahwa, dia juga pernah terlena dalam “kesesatan” seperti yang banyak dilakukan oleh sebagian besar kaum muslimin saat ini. Lalu dia belajar memperdalam ilmu dan merasakan bahwa yang dilakukan selama ini ternyata banyak yang “sesat” atau tidak ada tuntunannya. Sehingga dia harus mengubah seluruh tatacara beribadahnya menurut “gurunya” tersebut. Lalu dengan semangat yang tinggi berusaha memerangi amalan-amalan “saudaranya” yang dianggapnya salah dan sesat tersebut.
Saya lalu berpikir, bahwa siapa saja dari kita apabila membaca buku agama haruslah selektif, tidak sedikit buku agama yang di jadikan rujukan banyak orang, sebenarnya justru menjadi penyebab permusuhan diantara umat Islam. Karena isi dari buku tersebut justru lebih banyak menghujat kelompok lain dengan menjelekkan amalan-amalan yang dilakukannya. Dan menganggap amalannya sendiri sebagai suatu amalan yang paling benar dan paling di terima oleh Allah.
Banyak sekali buku yang seperti tersebut. Dan isinya yang cenderung memecah belah umat mengingatkan kita akan usaha-usaha orang di luar Islam yang menginginkan kehancuran Islam. Dengan segala cara, mereka masuk ke dalam agama Islam dan berusaha memporak-porandakan persatuan dan persaudaraan kaum muslimin yang sudah terjalin demikian kuat. Melalui buku atau tulisan-tulisan mereka berusaha untuk meracuni keteguhan Iman kaum muslimin yang sudah terbangun kuat dan demikian lama.
Bagaimana mungkin seorang berilmu bisa mengatakan, kalau Shalat yang didalamnya banyak di sebut nama Allah adalah suatu amalan yang tidak “bermanfaat”. Dan puasa yang didasarkan karena Allah adalah sesuatu yang sia-sia. Padahal para salaf yang mengajarkannya tidak mempunyai maksud lain kecuali untuk mendapatlkan ampunan serta ridhanya Allah semata. Kita yang mempunyai kualitas jauh di bawah kuatnya iman para salafus shalih lalu dengan mudah menghakimi sebagai sesuatu yang “sesat”. Betapa “sembrono” lisan kita. Dan betapa jauh dari ajaran agama yang menebarkan kedamaian dan persaudaraan dalam Iman dan Islam.
Terdorong dari rasa hati yang sedikit “terusik” beberapa jama`ah shalat jum`at berusaha untuk sedikit meng”klarifikasi” penggunaan kata-kata yang dirasa kurang sopan dan kurang mendidik tersebut. Kepada sang ustadz mereka meminta secara arif untuk tidak lagi menggunakan kata-kata yang cenderung kasar dalam mengungkapkan segala sesuatu, terutama dalam khtbah Jum`at. Dan Alhamdulillah sang ustadz bisa menerima “saran” dari beberapa jama`ah tersebut.
Sebenarnya dalam Al Qur`an sudah jelas diperintahkan, seperti di surat Al Hujurat yang sering kita dengar dari “corong” masjid. Janganlah satu kaum menjelekkan kaum yang lain, jangan-jangan kaum yang dianggapnya jelek itu bahkan lebih baik dari mereka yang menjelekkannya. Dan di ayat lain yaitu surat Al Israa` Rasulullah diperintahkan untuk mengatakan, biarlah tiap-tiap diri berbuat menurut keadaanya, dan hanya Allah lah yang mengetahui, siapa diantara kita yang paling benar jalannya.
Kita ini orang Islam. Yang bersaksi dengan kesaksian yang sama. Ber-Tuhan pada Tuhan yang sama yaitu Allah yang ahad dan Maha Besar. Dengan ruku` dan sujud yang sama. Dengan jumlah raka`at yang sama. Dengan bacaan yang sama-sama di contohkan Rasulullah saw. Dengan berpuasa di bulan yang sama. Berhaji di tempat yang sama pula. Maka sudah sepatutnya kalau kita saling menghargai antara satu dengan lainnya. Berinteraksi, baik di dalam masjid maupun di luar masjid. Saling kasih dan sayang karena sesungguhnya kita adalah saudara.
Banyak yang tidak menyadari kalau secara tidak sengaja kita justru mengingkari ayat-ayat Al Qur`an dengan perbuatan dan tingkah laku yang ditujukan pada orang lain, terutama saudara-saudara kita se-Iman. Dengan cara mengkafirkan dan memberikan cap “musyrik” pada kaum muslim yang lain hanya karena tidak sepaham dengan pemikiran kita.
Untuk itulah hendaklah kita segera berhenti dari sikap-sikap seperti tersebut diatas, karena kebenaran yang kita klaim belumlah sepenuhnya benar. Karena hanya Allah yang paling tahu siapa di antara kita yang paling benar dan paling takwa. Dan sesungguhnya pula setan selalu membisikkan kepada kita agar kita selalu dalam perselisihan. Tapi kita tidak menyadari hal tersebut dan cenderung menurutinya. Sehingga kita tidak menyadari pula kalau setan selalu menari-nari di belakang kita dengan ucapan-ucapan kita yang menyakitkan hati saudara-saudara kita yang lain.
Mudah-mudahan sedikit tulisan ini bisa di jadikan pengingat masing-masing diri umat Islam agar menyadari bahwa musuh kita yang paling utama adalah setan. Bukan amalan-amalan dari saudara-saudara kita sesama muslim. Sadarlah, di belakang kita banyak setan yang selalu berusaha mempengaruhi lisan kita untuk berbicara pahit dan menyakitkan. Jika tidak waspada akan semakin dalamlah jurang kebencian yang kita ciptakan diantara sesama muslim.
Sekian
Wrote by : Agushar.
Selengkapnya...
Kamis, 10 Juni 2010
Menikmati Neraka.

Percaya atau tidak ? Hampir setiap manusia di dunia ini menginginkan tinggal di surga jika memang benar kelak akan dibangkitkan setelah kematiannya. Bahkan sudah banyak sekali manusia yang meng-kavling tempat di surga. Tiap kelompok atau sekte dalam agama yang ada bahkan begitu sangat yakin bahwa pemimpin dan pengikutnya akan masuk surga semua. Bayangkan, betapa ramainya keadaan di surga nanti. Betapa macet lalu lintasnya, karena sampai saat ini dan yang akan datang masih begitu banyak manusia yang akan terlahir.
Kalau mayoritas agama yang ada begitu berani menjamin pengikutnya akan masuk surga. Lalu siapa yang akan tinggal di neraka ? Apakah neraka harus “kosong” atau tidak berpenghuni. Rasanya tidak mungkin, neraka harus ada penghuninya. Karena neraka membutuhkan manusia, seperti juga surga yang selalu merindukan manusia dengan kriteria-kriteria tertentu. Karena neraka membutuhkan bahan bakar untuk membuat apinya selalu menyala. Dan bahan bakar neraka adalah manusia dan batu, seperti yang diinformasikan dalam Al Qur`an.
Dan saya yakin juga, bahwa kita yang begitu yakin akan masuk surga yang justru akan menghuni neraka kelak. Karena yang menentukan dan memutuskan manusia menghuni surga atau neraka hanyalah pengadilan Allah. Dan karena jalan ke surga bukanlah seperti yang mereka angan-angankan. Jalan ke surga telah di tentukan oleh Allah. Dan hanya mereka yang memenuhi perintah Allah saja yang akan bisa mencicipi surga dan bahkan akan tinggal selama-lamanya di sana.
Setiap hari kita bisa membaca di media, bahwa “orang” yang namanya ini sudah mati dan akan bertempat tinggal di surga. Hampir setiap hari ada yang mati dan mengumumkan dirinya bertempat tinggal di surga. Kita yang membaca jadi bertanya-tanya dalam hati. Apakah ini janji yang “benar” ? Ataukah hanya sebuah janji kosong yang justru akan menjerumuskan kita ke dalam jurang neraka ? Karena kita telah terlena dan terbuai dengan janji surga dengan kemudahan-kemudahan jalan untuk menempuh dan menggapainya.
Dalam keyakinan saya, surga adalah tempat yang sangat tersembunyi dan berada di ujung sulitnya medan perjalanan. Berada di tempat yang paling tinggi. Jauh lebih tinggi dari tempat yang paling tinggi yang pernah kita bayangkan. Banyak dari kita yang berhasil dan sampai di ketinggian tersebut. Tapi jauh lebih banyak dari kita yang akan tergelincir kedalam banyaknya jurang yang mengelilinginya. Dari logika seperti ini rasanya mustahil manusia banyak yang mencapai surga. Apalagi dengan kemudahan-kemudahan perjalanannya.
Islam termasuk dalam agama samawi, seperti juga Yahudi dan Nasrani. Islam juga mempunyai sebuah kitab suci, bahkan terjaga orisinalitasnya. Dan dalam kitabullah tersebut segala sesuatunya sudah jelas. Siapa yang akan menghuni neraka siapa pula yang akan menghuni surga. Dalam Islam hanya orang bertakwa saja yang akan menghuni surga. Tentunya dengan takwa yang sebenar-benarnya takwa. Mengapa ? Sebab kesungguhan manusia dalam mengekspresikan ketaatan dalam beribadah masih bercampur dengan keinginan-keinginan yang lain.
Sedangkan takwa bisa diterjemahkan dengan Iman dan amal shalih. Jadi sudah jelas. Barang siapa ber- Iman dan beramal shalih, maka Allah menjamin surga di akhirat kelak. Iman dan Amal Shalih. Sebuah kalimat yang ringan, tapi mempunyai kandungan yang sangat “tidak ringan”. Ada banyak aturan-aturan yang sangat mengikat demi ketulusan dan keikhlasan yang harus melekat dalam setiap amalan yang dilakukan.
Keimanan yang murni hanya pada Allah adalah sesuatu hal yang banyak dilanggar, baik sengaja atau tidak di sengaja. Dan amal kebaikan yang tidak didasarkan pada Iman hanyalah sebuah usaha membangun fatamorgana. Kelihatan seperti sudah di depan mata tapi sesungguhnya hanyalah sesuatu yang menipu mata. Seperti sebuah angan-angan yang tidak pernah menjadi sebuah kenyataan. Sia-sia, seperti membangun rumah laba-laba di tengah gurun yang sarat dengan badai. Tidak akan pernah terlihat rupa dan bentuknya.
Jika tidak memperhatikan semua petunjuk yang ada dalam Kitabullah dan hadits Rasulullah saw, hampir bisa dipastikan semua amalan-amalan kita tidak ada kesesuaian dengan apa yang diajarkan dalam agama Islam. Dan semua amalan yang tidak sesuai dengan tuntunan hampir pasti mempunyai nilai yang sangat minim, bahkan bisa-bisa tidak bernilai sama sekali. Dan jika amalan tidak bernilai, berarti kita akan lebih dekat dengan neraka.
Dalam Al Qur`an sudah jelas pula, siapa yang akan masuk “neraka”. Beberapa sikap dibawah ini mungkin bisa dijadikan contoh kecil penyebab manusia masuk neraka.
Dalam banyak ayat di Al Qur`an seperti An Nisaa ayat 151, Al Hajj ayat 19 & 72 memberikan penegasan bahwa orang kafir, yaitu mereka yang mengingkari ketauhidan Allah mutlak menghuni neraka dan akan menerima banyak siksaan. Misalnya mereka akan dibuatkan pakaian dari api neraka dan disiramkan air mendidih dari atas kepala mereka. Dan dengan air itu dihancur luluhkan semua yang ada di perut mereka dan juga kulit mereka. Kekafiran adalah sebuah kesalahan yang tidak ter-ampunkan. Sebuah dosa yang tidak mungkin mendapatkan ampunan, meskipun ditukar dengan seluruh hartanya sewaktu masih hidup di dunia.
Dalam QS. Al A`raaf 40, memberikan pula penegasan bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka tidak akan dibukakan pintu langit, dan mereka tidak akan pernah masuk surga hingga onta masuk lubang jarum. Kita semua tahu bahwa unta yang sebesar itu tidak akan pernah bisa masuk ke lubang jarum. Kiasan ini hanya untuk memberikan kepastian bagi mereka yang dusta terhadap ayat Allah, bahwa mereka akan kekal dalam neraka.
Dalam QS. Al An`aam 70, mereka yang menjadikan agama sebagai mainan, yaitu orang yang tidak bersungguh-sungguh dalam menjalankan perintah-perintah yang ada di dalamnya serta mengolok-olok agama yang dianutnya. Tempat mereka adalah di neraka. Dan mereka tidak mungkin dapat menebus hukuman neraka itu dengan segala macam tebusan. Bahkan mereka akan diberi minum berupa air yang mendidih.
Dalam QS. Al Jin 15, mereka yang menyimpang dari kebenaran atau mereka yang tidak taat pada apa yang telah di perintahkan oleh Allah dan Rasulullah, akan ditempatkan di neraka dan akan menjadi kayu atau bahan bakar api neraka.
Dalam QS. Al Mudatsir 43 – 46, mereka yang tidak mengerjakan shalat, tidak memberi makan orang miskin, membicarakan yang bathil bersama-sama dengan orang yang membicarakannya, mendustakan hari pembalasan sampai datang kematiannya. Mereka ini akan di tempatkan di neraka saqar, yaitu neraka yang membakar kulit manusia.
Dalam QS. Al Qashash 61, yaitu orang yang diberikan oleh Allah kenikmatan hidup tetapi tidak dipergunakan untuk kepentingan akhirat. Mereka inilah orang yang mengingkari nikmat Allah. Orang yang seperti ini terbukti banyak sekali di dunia. Dan mayoritas manusia mengingkari kenikmatan hidup dari Allah. Kenikmatan lebih banyak membuat manusia lupa pada Allah. Dan hanya sibuk dengan urusan dunia saja. Dan tempat mereka hanyalah neraka dengan apinya yang menyala-nyala.
Sebenarnya masih banyak penyebab-penyebab manusia masuk neraka. Sangat banyak. Termasuk mereka yang membelakangi dan berpaling dari agama, mereka yang mengumpulkan harta dan menyimpannya, yang curang dalam menimbang takaran yang menghardik anak yatim, durhaka kepada kedua orang tua dan lain sebagainya.
Pada surat Huud ayat 119, surat Shaad ayat 85 dan surat Al A`raaf ayat 179 Allah memberikan penegasan bahwa, Allah akan memenuhi neraka jahannam dengan jenis jin dan manusia dikarenakan sebab-sebab tertentu. Dikarenakan kesalahan manusia dalam memfungsikan kelengkapan peralatan yang di aplikasikan pada diri manusia seperti, mata, telinga dan hati. Seharusnya ketiganya berguna untuk meningkatkan keimanan kepada Allah swt. Tapi kebanyakan manusia telah salah dalam mempergunakan ketiganya. Yaitu hanya tertuju semata-mata kepada kenikmatan duniawi, yang menjadi penyebab manusia berbondong-bondong masuk neraka jahannam.
Bagaimana keadaan kita di neraka ?
Neraka adalah seburuk-buruknya tempat kembali. Sejelek-jeleknya tempat tinggal. Dimana orang-orang yang ingkar akan ketauhidan Allah akan memasuki secara berombongan. Tak terkecuali kita, kemungkinan masuk neraka sangat besarnya. Dengan suka atau tidak suka kita akan memasukinya. Tidak ada ucapan salam, seperti layaknya ahli surga, karena kita akan memasuki neraka sebagai makhluk yang hina. Tapi jangan khawatir, kita akan mempunyai banyak teman, karena dibelakang kita antriannya begitu panjang. Yaitu orang-orang yang menyediakan diri untuk bahan bakar api neraka.
QS. Maryam 71.
وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا﴿٧١﴾
“Wa in minkum illa wariduhaa, kaana `alaa rabbika hatman maqdhiiyaa”
”Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan”.
Kita akan memasuki neraka, dan akan mendapatkan siksa yang berlipat ganda karena keingkaran kita pada ayat-ayat Allah dan menyombongkan diri terhadapnya. Hanya menyimpan tapi tidak pernah berusaha untuk memahaminya. Tidak menghiraukanya. Tidak memenuhi apa yang diperintahkannya. Dan kita akan tinggal berabad-abad lamanya karena kita telah melampaui batas-batas perintahNya. Tak ada kesejukan, tak ada minuman seperti yang kita temukan di dunia.
Kita akan memasukinya dalam keadaan cacat, karena muka atau wajah kita yang terbakar panasnya api neraka. Dan di dalamnya sudah menunggu cambuk-cambuk dari besi dan belenggu-belenggu yang sangat berat. Tikar-tikar dan selimut yang terbuat dari api telah menunggu pula, dikarenakan kezhaliman yang kita lakukan. Dan apinya yang selalu bergolak akan menghempaskan kulit kepala kita.
Kita juga akan menemui penjaga-penjaga berupa malaikat yang kasar lagi keras perangainya. Kita tidak mati dan tidak pula hidup. Dengan leher terbelenggu kita akan dimasukkan ke dalam api neraka yang menyala. Kemudian di belit dengan rantai yang panjangnya 70 hasta. Karena keingkaran kita, karena ketidak pedulian kita terhadap orang miskin yang lapar. Tak ada makanan yang lain kecuali darah dan nanah. Dan suka atau tidak suka kita akan memakannya, juga akan meminumnya.
Di dalam neraka pula kita akan menemui makanan berupa pohon zaqqum. Yaitu sebatang pohon yang keluar dari dasar neraka yang menyala. Mayangnya seperti kepala-kepala syetan. Dan pasti kita akan memakan buahnya sampai memenuhi perut kita. Kemudian kita akan minum minuman bercampur air yang sangat panas. Karena kita telah mengikuti jejak-jejak orang tua kita yang berjalan di kesesatan. Tanpa menggunakan akal kita untuk memahami sebuah kebenaran ber agama.
Gambaran siksa neraka diatas hanyalah sebagian dari yang ada dalam kitabullah, masih banyak siksa-siksa yang lain seperti yang banyak di riwayatkan dalam banyak hadist Rasulullah saw. Bukalah dan bacalah kitabullah dan kitab-kitab hadist Rasulullah tersebut. Lalu renungkanlah. Apakah masih kurang gambaran siksa-siksa neraka. Apakah masih “ringan” menurut penilaian kita ? Apakah kita masih ingin sebuah siksa yang jauh lebih hebat lagi dari yang telah tergambar di atas ? Jangan khawatir. Neraka tidak akan kehabisan siksa-siksanya.
Jika kita memang menyediakan diri untuk neraka, ya tidak akan pernah ada gunanya sebuah peringatan atau bahkan petunjuk-petunjuk yang ada di alam Al Qur`an dan hadist Rasulullah saw. dan kita mungkin dengan rela dan senang hati akan menikmati siksan-siksaan tersebut. Tapi benarkah ? Benarkah kita akan rela merasakan siksa yang demikian dahsyatnya. Jika kita menjawab rela dan ikhlas berarti secara tidak langsung kita telah mengajukan sebuah tantangan terbuka dengan Allah swt. dan kita tinggal menunggu waktu peristiwanya yang pasti akan segera terjadi.
Tetapi jika kita mulai ragu dan ingin hukuman yang jauh lebih ringan, insya Allah pasti ada jalan. Dan Islam memberikan jalan itu seluas-luasnya untuk memulai dengan sebuah pertaubatan yang benar. Untuk memulai ketaatan kepada perintah dan untuk menebus banyaknya dosa-dosa yang sudah begitu memberati pundak kita. Yang selama ini kita bungkus dengan kebodohan kita dalam beragama.
Dan jika memang harus masuk neraka dan mendapat banyak siksa, mau tidak mau kita harus menjalaninya sebagai sebuah ketetapan. Suka atau tidak suka kita akan menjalaninya. Menikmati siksa seperti kita menikmati nikmatnya dunia. Menikmatinya seperti kita menikmati lezatnya kemaksiatan di dunia. Merasakan pahitnya seperti kita merasakan manisnya dunia.
Mudah-mudahan Allah meringankan hukuman atau siksa nerakanya dengan taubat dan kesungguhan kita dalam Iman dan amalan-amalan yang baik. Dengan bersungguh-sungguh belajar agama kita akan mendapatkan pemahaman tentang sebuah kebenaran. Yaitu kebenaran semua firman Allah dalam Kitab. Baik berupa balasan atau pahala maupun ancaman-ancamannya. Dan yang lebih penting dan paling mendasari semua itu adalah kebenaran tentang Allah dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kuasaNya.
Hanya sebenar-benarnya Iman sajalah yang bisa berimbas pada amalan yang baik. Untuk itu marilah kita senantiasa berusaha untuk mempertebal atau memperkuat Iman kita agar kita selalu tetap dalam perilaku yang sesuai dengan semua yang di perintahkan olehNya. Dan agar kita selalu jauh dari semua amalan-amalan yang telah dilarangnya. Agar kita selalu akrab dengan asmanya dan selalu menyebut-nyebut dalam ingatan kita.
Karena hanya dengan mengingatNya sajalah hati kita bisa menjadi tenang. Dan tidak ada yang lebih menenangkan hati manusia kecuali sebuah kebersamaan antara seorang hamba dengan TuhanNya. Dan ingatan kepada Allah adalah sesuatu yang sangat besar pengaruh dan manfaatnya bagi manusia. Ibadah tanpa ingat kepada Allah adalah sesuatu yang sia-sia. Tidak berdampak pada pahala dan hanya menambah panjang rentetan dosa-dosa.
Tentang siksaan yang akan kita terima, kita serahkan semuanya pada Allah yang mempunyai ampunan. Hanya Allah yang berkenan memberi ampunan atas semua dosa-dosa kita. Atas dosa-dosa semua manusia. Dan hanya kepadaNya-lah semua akan kembali. Kita taati perintahnya, kita minta perkenanNya atas semua do`a kita dan kita serahkan semua hasilnya kepadaNya. Dengan demikian kita bisa berharap akan dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang beriman, beramal, meminta dan bertawakal hanya kepada Allah swt.
Tak ada rahmat yang lebih besar dari pada sebuah ampunan yang akan menghapuskan sebagian dosa-dosa kita. Sehingga nantinya neraca amalan akan bergerak memberati amalan yang baik, kemudian kalaupun ada hukuman untuk diri kita, tidak seberat yang akan kita terima sebelum Iman membungkus hati kita dan amalan yang baik menghiasi tingkah laku kita.
Untuk itu segera palingkan hati dan diri kita kepada Allah. Kita manfaatkan sisa umur kita untuk berjalan di titian tali Allah. Dengan tetap menjalani ruku` dan sujud, kita langkahkan kaki kita menuju rumah Allah dan kita ulurkan tangan kita untuk membantu sesama. Dengan tujuan untuk mati dalam “Islam” kita wujudkan sebuah impian untuk menjadi seorang umat yang pasrah dan berserah diri hanya kepada Allah swt.
sekian.
Wrote by : Agushar.
Selengkapnya...
Senin, 07 Juni 2010
Memancing Berkah.

Memancing memang memberikan keasyikan sendiri bagi mereka yang menyukainya. Bahkan sebagian orang menjadikan “memancing” sebagai sebuah hobby atau kesenangan. Tentu saja mereka yang mempunyai hobby ini harus melengkapi dengan peralatan-peralatan umumnya seorang pemancing. Seperti stick lengkap dengan rol senar dan mata pancingnya. Kalau saya menyebutnya dengan nama “walesan” lengkap. Artinya sudah termasuk senar secukupnya plus mata pancing minimal 1 mata.
Siapa saja boleh melakukannya. Dari anak kecil sampai orang dewasa bisa melakukannya. Cuma yang perlu diketahui adalah perubahan budaya memancing dan tehnologinya yang sangat mencolok antara saya di waktu kecil dengan budaya memancing saat ini. Kalau dulu, orang memancing hanya pakai “walesan” sederhana. Tempat memancing juga alami, seperti di sungai, danau atau bisa juga di laut. Belum banyak, bahkan mungkin belum ada sarana kolam pancing seperti saat ini. Dimana kolam untuk “memancing” sudah dimodifikasi menjadi sebuah ladang bisnis yang bisa menghasilkan pundi-pundi uang bagi yang mengelolanya.
Saat ini memancing sudah menjadi sebuah kegiatan yang eksklusif. Dimana harga peralatan pancingnya satu set bisa mencapai jutaan rupiah. Biaya pembuatan “umpan” juga tidak murah. Tergantung bahan yang akan dipakai untuk membuatnya. Belum lagi biaya “ticket” memancing yang dihitung per jam, dan setiap orang bisa menghabiskan waktu berjam-jam di kolam pancing. Bahkan sering ada yang menghabiskan hampir tiap malam berada di kolam pancing hanya untuk memanjakan diri dalam kesenangan.
Ada lagi yang lebih mahal biayanya, seperti memancing di tengah lautan. Memancing di tengah lautan memang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang mempunyai kelebihan materi yang berlimpah. Disamping peralatan pancing yang serba modern, masih ditambah dengan biaya sewa perahu atau bahkan kapal khusus untuk memancing yang sulit di jangkau untuk orang kebanyakan. Bagi kita yang hidup pas-pas-an mungkin hanya sebuah keinginan. Yang mungkin hanya bisa dilakukan dalam sebuah mimpi dan tidak membutuhkan biaya sedikitpun.
Tentu saja budaya memancing modern tidak bisa dijadikan analogi untuk memancing “berkah”. Hasil yang diperoleh dari memancing di kolam pancing kadang tidak sesuai dengan pengorbanan yang dilakukan. Mereka hanya menyalurkan hobby atau kesenangan. Sehingga mereka tidak perduli dengan hasil yang akan di dapat, apakah sesuai dengan biaya yang dikeluarkan atau tidak. Bagi mereka memancing adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Yang tidak bisa di ukur dengan berapa biaya yang akan dikeluarkan. Bahkan mereka tidak perduli dengan biaya, karena secara umum mereka adalah orang-orang yang mampu secara materi.
Berbeda dengan pemancing tradisional, yang kadang menjadikan memancing sebagai mata pencaharian. Umpan yang digunakan kadang hanya “cacing” yang bisa dicari di “galengan” sawah. Dan jika mendapatkan ikan, sudah pasti nilai ikan itu tidak bisa di ukur dengan “cacing”. Tapi jika lagi “sepi”, hasil yang di dapat juga tidak sesuai dengan pengorbanan berupa waktu dan fisik.
Persamaan dari keduanya adalah sama-sama membutuhkan kesabaran dalam melakukannya. Dan inilah yang menjadi kunci dari aktifitas “memancing”. Disamping kesiapan fisik dan mental, kesabaran menjadikan salah satu “ujian” sebelum mereka bisa mendapatkan sesuatu seperti yang di harapkan. Perbedaan yang nyata adalah pengorbanan berupa “umpan” dan biaya “ticket” yang sangat mencolok. Yang modern biayanya relatif besar, yang tradisional biayanya begitu minimal.
Sedangkan memancing “berkah” bisa di ibaratkan memancing dengan cara tradisional. Alat yang digunakan tidak perlu mahal, juga tidak perlu membayar ticket begitu besar. Asal segala sesuatu yang berkaitan dengan turunnya berkah dipenuhi, Insya Allah berkah dari Allah pasti akan turun dan sampai kepada kita. Dengan persiapan secukupnya dan kesungguhan hati dalam “meminta” serta kesabaran dalam menunggu realisasi berkah yang kita harapkan, niscaya kita akan mendapatkannya. Yang sangat diperlukan adalah kesabaran dan ketaatan dalam Iman atau keyakinan kepada Allah sebagai pencipta, penguasa sekaligus pemberi berkah bagi semua umat manusia di dunia.
Memancing berkah tidak memerlukan stick yang harganya jutaan rupiah. Sebagai ganti “senar” adalah do`a atau permintaan dan stick setnya adalah “Iman” atau keyakinan pada tauhidnya Allah. Umpannya adalah “sedekah” secukupnya disertai keikhlasan. Dengan berharap terkabulnya permintaan serta rasa takut tidak terkabulkan, kita tunggu hasil do`a kita dengan “kesabaran”. Sudah cukupkah ? Belum ! Coba perhatikan firman Allah di bawah ini.
QS. Al Mu`min : 60.
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴿٦٠﴾
”Wa qaalaa rabbukumud `uunii astajib lakum. Innal ladziina yastakbiruuna `an `ibaadatii sayadkhuluuna jahannama daakhriina”.
Dan Tuhanmu berfirman : "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".
QS. Al Baqarah : 186.
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ﴿١٨٦﴾
“Wa idzaa sa`alaka `ibaadii `annii fa`innii qariibun, ujiibu da`watad daa`in idzaa da`aani, falyastajiibuulii wal yu`minuubii la`allahum yarsyuduuna”.
”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.
Dua ayat tersebut adalah jaminan dari Allah swt. bahwa setiap diri kita, dipersilahkan untuk meminta sesuatu kepada Allah. Dan pasti Allah akan mengabulkannya. Ini adalah sebuah janji dari Allah dan pasti akan di tepati olehNya. Mereka yang menyombongkan diri dan tidak percaya akan kuasanya Allah dalam memenuhi janjinya serta enggan atau tidak mau menyembah dan meminta kepada Allah, akan ditempatkan di neraka sebagai suatu kepastian yang telah di tetapkan.
Ayat dibawahnya bahkan lebih spesifik lagi menjelaskan bagaimana agar do`a kita dikabulkan oleh Allah. Maka hendaknya tiap diri yang berdo`a atau meminta mempunyai sifat “taat” terhadap apa yang diperintahkan kepadanya. Taat dengan memenuhi semua perintahNya, baik shalat, zakat dan sedekah, puasa serta ibadah haji jika mempunyai kemampuan materi. Dan kesemuanya dari palaksanaan perintah tersebut mutlak harus dilandasi dengan “Iman” atau keyakinan terhadap tauhidnya Allah dan kuasanya Allah dengan kebenaran semua sifat-sifatnya.
Lantas apa korelasinya dengan orang memancing ?
Memancing hanyalah sebuah perumpamaan untuk orang yang berdo`a dengan mengharapkan sesuatu kepada Allah. Tiap orang yang “memancing” hampir pasti mengharapkan akan dapat “ikan”. Dan ikan yang di dapat hampir pasti lebih besar dari pada “umpan” yang di pasang. Dan ini sudah pasti, karena ikan yang “kecil: tidak akan bisa untuk menelan “umpan” plus mata kailnya. Jadi hasil yang akan kita dapatkan dari “memancing” pasti lebih besar dari “umpan”.
Stick atau “walesan” adalah Iman yang berfungsi sebagai “pegangan”. Tali “senar” adalah do`a atau permintaan yang kita sampaikan. Mata kail adalah tumpuan asa atau harapan yang berpadu dengan rasa takut akan lolosnya “ikan” atau sasaran. Dzikir atau ingatan kepada Allah berfungsi sebagai shalat dan “umpan” yang ada di mata kail adalah “sedekah” nya. Jika semua itu sudah terpenuhi, kita tinggal menunggu dengan kesabaran “ketentuan” Allah tentang kapan turunnya berkah yang kita harapkan.
Demikian juga do`a kita, jika semua syarat sebuah permintaan atau terkabulnya do`a kita sudah terpenuhi, maka yang harus diperhatikan adalah pelaksaan ibadah shalat dan kesabaran dalam menunggu ketentuan datangnya hasil do`a kita dari Allah swt. Shalat dan kesabaran ini menjadi syarat mutlak dalam pengajuan permintaan kita kepada Allah. Seperti yang informasikan dua ayat di bawah ini.
QS. Al Baqarah : 45.
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ﴿٤٥﴾
“Wasta`iinuu bish shabri wa shalaati, wa innahaa la kabiiratun illaa `alal khaasyi`iina”.
”Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',
QS. Al Baqarah : 153.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ﴿١٥٣﴾
“Yaa ayyuhal ladziina aamanuusta`iinuu bish shabri wa shalaati, innallaha ma`ash shaabiriina”.
”Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”.
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sebagian orang menerjemahkan “Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat”. Bisa pula di maknai untuk tetap menjalankan shalat sebagai suatu kewajiban yang mutlak. Jangan pernah meninggalkan shalat, karena shalat merupakan ibadah utama bagi orang-orang yang beriman. Dalam shalat adalah bukti interaksi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Dan kesabaran adalah bukti kekuatan Iman seorang hamba terhadap “ujian” yang di hadapinya.
Lalu adakah perintah yang lain dari Allah agar permintaan kita pasti terpenuhi ? Marilah kita perhatikan salah satu ayat di surat :
QS. Al Qashash : 77.
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ﴿٧٧﴾
“Wabtaghi fiimaa aataakallahud daral aakhirata, wa laa tansa nashiibaka minad dunyaa, wa ahsin kaamaa ahsanallahu ilaika, wa laa tabghil fasaada fiil ardhi, innallaha laa yuhibbul mufsidiina”
”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.
Ayat ini memerintahkan kepada kita untuk mengusahakan diri demi kepentingan akhirat. Tapi ayat ini juga mengingatkan kepada kita untuk tidak melupakan kepentingan dunia kita. Lalu Allah memerintahkan kepada kita untuk selalu berbuat baik terhadap sesama, seperti Allah juga selalu berbuat baik kepada kita. Untuk apa ? Agar orang lain juga merasakan kebaikan-kebaikan kita dan akan ikut men”support” do`a-do`a kita. Sehingga kita bisa memperbesar harapan untuk terkabulnya permintaan-permintaan kita kepada Allah swt.
Hasilnya ? Tetap merupakan hak prerogatif Allah. Ada yang dikabulkan dalam waktu yang dekat, ada yang ditunda untuk jangka waktu yang relatif, ada pula yang dikabulkan kelak di periode akhirat. Sangat tergantung dengan apa yang kita mintakan kepada Allah. Jika permintaan kita berupa materi keduniaan, mungkin juga akan dikabulkan selama kita masih hidup di dunia. Hanya kemungkinan waktunya yang kita tidak dapat memastikan. Jika menyangkut urusan akhirat, sangat mungkin akan dikabulkan kelak di akhirat.
Tapi mungkin juga bisa terjadi permintaan materi keduniaan tidak dikabulkan, lalu Allah mengganti dengan kenikmatan-kenikmatan kehidupan akhirat. Karena bagaimanapun Allah menghendaki sesuatu yang lebih baik bagi hambanya. Terutama mereka yang paling sabar dalam menghadapi ujian-ujian yang diberikan kepadanya. Dan hal seperti ini hanya bisa terjadi kepada orang-orang yang memasrahkan dirinya kepada Allah, sehingga minimnya limpahan materi dalam kehidupan dunia tidak menjadikan dirinya berpaling dari Allah.
“Memancing” hanyalah sebuah kata pinjaman. Yang padanya ada sebuah pelajaran yang bisa kita ambil. Dari Iman atau keyakinan dan amalan yang baik yang di cerminkan dengan “usaha” dan segala sesuatu yang harus di persiapkan untuk “menjemput” berkah Allah demi kehidupan dunia akhirat. Lalu dipadukan dengan sikap sabar dalam menerima ketentuan Allah, niscaya akan kita dapatkan sebuah ketentuan yang paling baik buat diri kita yang diberikan oleh Allah untuk hidup kita kelak di akhirat.
Sebuah kehidupan yang sebenarnya, yang tidak hanya berumur puluhan tahun, tetapi jauh melebihi waktu yang pernah kita bayangkan lamanya. Masa yang tidak sebanding dengan ujian hidup di dunia. Begitu lamanya, hingga kita tidak mengenal kata kematian seperti kehidupan kita di dunia. Kekal. Sepanjang Allah menghendaki kekalnya. Tidak akan pernah berakhir, sepanjang Allah belum menggulung langit dan melenyapkan semua yang ada di alam semesta ini.
Sekian.
Wrote by : Agushar.
Selengkapnya...
Jumat, 04 Juni 2010
Fenomena Siang dan Malam.

Sebuah peristiwa yang rutin terjadi setiap hari adalah saling bergantinya antara keadaan siang dan malam hari. Mayoritas manusia, termasuk diri kita menganggap hal itu adalah kejadian biasa. Tidak perlu mendapatkan perhatian khusus, karena hal itu berlangsung terus menerus dan setiap hari kita pasti menjumpainya. Seperti sarapan, makan siang, makan malam, berangkat tidur, bangun dari tidur, siang dan malam adalah suatu kebiasaan. Sebuah kebiasaan yang selalu berlalu tanpa adanya kesan dan pesan yang mendalam.
Siang pasti datang, demikian juga malam. Kita menyambut siang dengan persiapan kegiatan. Sebuah kegiatan yang monoton seperti berangkat kerja, sekolah, ke pasar atau main-main untuk anak usia dini. Dari ke hari kita menghadapi hal yang hampir sama. Dan sering pula kita mengawali semua kegiatan tersebut dengan “sarapan” atau makan pagi. Sebuah kegiatan yang terkesan itu itu saja. Atau sebuah rutinitas yang sebenarnya “membosankan” tapi kita sangat menikmatinya. Entah dengan suka rela atau terpaksa.
Hal seperti itu berlangsung terus selama kita masih bernafas. Paling tidak untuk lima atau enam hari dari hari Senin sampai hari Jum`at atau sabtu. Sedangkan hari minggu kita bisa merencanakan sesuatu yang lain. Mungkin refreshing. Dengan mengunjungi sanak keluarga yang berada jauh dari tempat tinggal kita atau mengunjungi tempat-tempat rekreasi. Atau memutuskan untuk tetap tinggal di rumah dengan menyelesaikan pekerjaan yang berkaitan dengan situasi dan kondisi dalam rumah.
Jika malam mulai menampakkan gelapnya, kita menyambutnya dengan kilauan cahaya lampu. Menyelesaikan sedikit urusan di luar rumah atau memanjakan diri dengan hiburan. Ada beberapa pilihan dalam menghibur diri di malam hari. Keluar rumah dengan mengeluarkan biaya yang besar kecilnya relatif. Tergantung pilihan hiburan dalam bentuk dan kemasannya. Atau justru diam dirumah dengan memelototi “setan kotak” alias televisi. Sampai beberapa saat kemudian menyusul gelapnya malam dengan mata yang terpejam. Tidur. Demikian setiap harinya, siang dan malam kita lalui dengan variasi-variasi kegiatan yang beraneka ragam tergantung pada kepentingan masing-masing orang.
Apa sebenarnya siang dan malam itu ?
Siang adalah situasi di bagian permukaan bumi yang mendapatkan cahaya dari matahari akibat dari rotasi atau perputaran bumi pada porosnya. Situasi dimana manusia memanfaatkan terangnya alam untuk mencari karunia Allah berupa rizqi yang bersifat materi. Suatu keadaan dimana manusia menyibukkan diri dengan kepentingan masing-masing. Muara dari masing-masing kegiatan yang dilakukan oleh sebagian besar manusia juga berbeda-beda.
Ada yang bermuara di “ilmu”, seperti mereka yang memanfaatkan waktu untuk belajar di sekolah. Ada pula yang bermuara di “materi” seperti mereka yang bekerja atau berusaha untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Juga sekalian untuk menunjang kehidupan esok harinya atau masa yang akan datang. Dengan menyisihkan sebagian rizqi atau hasil berupa materi yang di dapat setelah sebagian yang lain digunakan untuk memenuhi kebutuhan pada hari yang sama.
Sedangkan malam adalah situasi dimana sebagian permukaan bumi berada dibalik matahari sehingga tidak mendapatkan cahaya. Situasi dimana manusia memanfaatkannya untuk beristirahat setelah seharian bergelut dengan urusannya masing-masing. Ada yang bermuara pada “istirahat” total. Yaitu mereka yang memanfaatkan malam untuk “tidur”. Ada yang bermuara pada “hiburan”, untuk menikmati malam setelah seharian dalam kelelahan. Ada yang bermuara pada “pengabdian”. Yaitu mereka yang memanfaatkan malam dengan banyak menyebut nama Allah melalui media shalat malam atau tahajud.
Bagaimana proses peristiwa itu terjadi ?
Matahari adalah sebuah bola gas yang berpijar. Bentuknya tidak padat tapi berbentuk plasma. Yang terus bersinar dengan menukar zat hidrogen dengan zat helium melalui sebuah proses yang disebut dengan “fusi” nuklir. Setiap saat matahari “ bersedekah” untuk alam dengan massa sebesar 4 juta ton. Dengan sedekah sebesar itu setiap saat, matahari telah memberikan cahaya yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia di permukaan bumi.
Sedangkan bumi adalah sebuah planet yang mempunyai massa sebesar 59.760 milyar ton. Dan diameter 12.756 km. Jaraknya dengan matahari adalah 149.680.000 km atau dibulatkan 150 juta km. Bentuk dari bumi ini adalah bulat pipih di atas dan bawahnya yang disebut kutub utara dan kutub selatan. Bumi berputar pada porosnya dengan kecepatan sekitar 1.669 km/jam. Sambil berputar bumi “berjalan” mengitari matahari pada garis edarnya (orbit) atau manzilah dengan kecepatan 107.000 km/jam. Dalam perjalanan “hidup”nya bumi ditemani oleh sebuah satelit, yaitu bulan yang senantiasa setia mengikuti dan mengitarinya.
Kita adalah sebuah parasit bumi. Kita adalah sekelompok penumpang “pesawat” bulat yang melesat dengan kecepatan luar biasa, 107.000 km/jam. Karena besarnya “pesawat” atau “kapal” yang kita tumpangi, hingga kecepatan yang jauh melebihi larinya motor di moto GP dan mobil formula 1 tak bisa kita rasakan layaknya seperti melesatnya sebuah motor dengan kecepatan tinggi. Begitu tenangnya “pesawat” bumi ini sehingga kita bisa leluasa untuk bergerak kemanapun kita mau tanpa harus takut terlempar.
Berputarnya bumi pada porosnya itulah yang menyebabkan terjadinya gelap dan terang di sebagian permukaan bumi. Kita menyebutnya dengan kata “siang dan malam”. Sebuah peristiwa yang menyebabkan kita bisa memisahkan kapan kita harus beraktifitas dan kapan kita harus beristirahat. Untuk merasakan hangatnya sinar matahari dan indahnya bulan dan bintang. Untuk bisa merasakan hiruk pikuknya kehidupan dan kesunyian di kegelapan malam.
Dan berjalannya bumi dan bulan pada “jalur”nya menyebabkan kita mengetahui hitungan bulan dan tahun. Waktu yang dibutuhkan oleh bumi untuk mengitari matahari adalah 1 tahun atau 365 hari. Semua peristiwa tersebut mempunyai kegunaan dalam kehidupan di bumi dan demi menyempurnakan umur manusia dari lahir hingga ajalnya. Dan sebuah kepastian akan adanya sebuah dzat yang mempunyai kemampuan mengatur kesemuanya itu demi bergulirnya sebuah kata, yaitu “kehidupan”.
QS. Yunus : 5.
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ﴿٥﴾
“Huwal ladzii ja`alasy syamsa dhiyaa`an wal qamara nuuran waqaddarahu manaazila lita`lamuu `adadas siniina wal hisaaba, maa khalaqallahu dzaalika illa bil haqqi, yufashshilul aayaati liqaumin ya`lamuuna”
”Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui”.
Mengapa harus ada siang dan malam ?
Siang dan malam adalah sebutan untuk dua bagian dari permukaan bumi. Dimana pada saat-saat tertentu tersinari cahaya matahari dan pada saat yang lain tidak mendapatkan sinar kecuali hanya cahaya yang dipantulkan bulan. Sedang dua keadaan itu pasti terjadi akibat dari berputarnya bumi dalam perjalanannya mengitari matahari. Karena dua keadaan yang saling bergantian inilah kita sekarang masih bisa menikmati hidup kita. Kita bisa menikmati indahnya alam di siang hari dan indahnya bintang-bintang di malam hari.
QS. Al Qashash : 71
قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِضِيَاءٍ ۖ أَفَلَا تَسْمَعُونَ﴿٧١﴾
“Qul araaitum in ja`alallahu `alaikumul laila sarmadan ilaa yaumil qiayamati man `illahu ghairulllahi ya`tikum bi dhiyaa`in. Afalaa tasma`uuna”
”Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?"
Jika malam berlangsung terus menerus, yang terjadi adalah membekunya air yang ada di seluruh bagian bumi yang gelap. Jika berlangsung lebih lama lagi bahkan semua akan membeku termasuk cairan yang ada dalam tubuh kita. Sehingga diperkirakan dalam hitungan hari semua makhluk di bumi akan mati. Tidak ada kehidupan. Bahkan untuk diri bumi sendiri. Karena hidupnya bumi ditandai dengan bergeraknya bumi pada porosnya dan berjalannya bumi pada orbit yang telah di tentukan oleh Allah swt.
Peristiwa seperti ini harusnya bisa menjadi pelajaran bagi kita kalau kita masih menginginkan sebuah kehidupan. Terutama untuk kehidupan diri kita sendiri. Karena semua gerakan dan lalu lintas dari semua planet tersebut sudah di atur oleh Allah. Bumi sudah diperintahkan oleh Allah untuk berjalan dengan sudut kemiringan tertentu agar masing-masing bagian dari bumi mendapatkan sinar dengan adil. Sesuai dengan kebutuhannya.
QS. Al Qashash : 72
قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ النَّهَارَ سَرْمَدًا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَٰهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِلَيْلٍ تَسْكُنُونَ فِيهِ ۖ أَفَلَا تُبْصِرُونَ﴿٧٢﴾
” Qul araaitum in ja`alallahu `alaikumun nahara sarmadan ilaa yaumil qiayamati man `illahu ghairulllahi ya`tiikum bilailil taskunuuna fiihi. Afalaa tubshiruuna”.
”Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?"
Allah memberikan pertanyaan itu pada kita, sebuah pertanyaan yang seharusnya membuat kita sadar bahwa peristiwa siang dan malam adalah sebuah kesengajaan dari Allah untuk membuat segala apa yang ada di bumi bisa hidup. Panas yang terus menerus bisa menguapkan seluruh air yang ada di permukaan bumi. Tidak terkecuali cairan yang ada di tubuh kita.
Dalam sebuah buku yang pernah saya baca meginformasikan, hanya dalam beberapa jam saja panas di permukaan bumi bisa meningkat tajam. Jika panas puncak terjadi terus menerus selama lebih dari 100 jam, bisa di pastikan seluruh air yang ada di permukaan bumi, termasuk dalam tubuh kita akan menguap. Dan hanya membutuhkan waktu sekitar 200 jam, seluruh kehidupan di permukaan bumi akan musnah. Tapi Allah menjaga kondisi panas di permukaan bumi tetap dalam batas-batas panas tertentu untuk menjaga kelangsungan hidup bumi dan semua yang ada di atasnya.
Allah sengaja menjadikan siang untuk manusia, agar di siang hari itu mereka mencari sebagian karuniaNya. Dan pada malam harinya mereka memanfaakan waktu untuk beristirahat. Dan Allah menciptakan semua itu tak lain hanyalah agar manusia bersyukur. Dengan mentaati semua perintah Allah dan menjauhi semua yang dilarangNya. Selalu berusaha untuk menjadikan dirinya seorang yang hanya menghamba kepada Allah. Dan selalu berusaha untuk menjadikan dirinya sebagai seorang yang bertaqwa.
QS. Al Qashash : 73
وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ﴿٧٣﴾
“Wa min rahmatihi ja`ala lakumul laila wan nahaara litaskunuu fiihi wa litabtaghuu min fadhlihi wa la`allakum tasykuruuna.
”Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.”
Siang dan malam adalah sebuah tanda. Yaitu tanda-tanda bahwa Allah kuasa untuk memerintahkan kepada semua makhluk untuk tunduk kepadaNya. Termasuk bumi, bulan dan matahari. Cukup banyak ayat-ayat mengenai kuasanya Allah untuk menundukkan siang dan malam agar selalu bergantian dalam kemunculannya. Dn menerangkan bahwa peristiwa siang dan malam adalah tanda-tanda Allah bagi mereka yang mau berpikir.
Kita bisa meneliti di beberapa ayat diantaranya QS. Al Israa` 12 ; QS. Ar Ruum 23 ; QS. An Naml 86 ; QS. Al Furqan 47 & 62 ; QS. An Nuur 44 ; QS. Yunus 6 & 67 ; QS. Ali Imraan 190 ; QS. Al Mu`min 61 ; QS. Al Baqarah 164. dan ayat-ayat lain yang masih berkaitan dengan siang dan malam.
Demikianlah, siang dan malam adalah sebuah tanda bagi manusia yang mau berfikir, yang mau melihat, yang mau mendengarkan, yang mau bersyukur kepada Allah. Tetapi kenyataannya banyak manusia yang tidak mau bersyukur. Tidak mau melihat, tidak mau berfikir tidak mau mendengar tentang tanda-tanda kuasanya Allah ini. Kita hanya mau berfikir tentang kebutuhan materi untuk hidup kita. Kita tidak perduli dengan Iman dan kehidupan setelah kematian kita.
Kita cenderung “cuek” atau tidak perduli dengan semua kejadian alam ini. Kita hanya cenderung untuk menikmati dan tidak mau mengambil pelajaran yang ada pada diri siang dan malam yang hampir tiap hari kita jumpai. Kita membiarkan berlalu begitu saja pelajaran hidup berupa tanda-tanda yang diberikan oleh Allah dengan peristiwa-peristiwa alam yang terjadi di sekitar kita. Dan kita menyia-nyiakan waktu yang diberikan oleh Allah kepada kita yang sebenarnya dipakai untuk memahami tanda-tanda kebenaran tentang kehidupan akhirat dengan segala apa yang akan terjadi di dalamnya.
Hanya kekaguman yang kita ungkapkan, bukannya sebuah kesadaran akan arti pentingnya Iman yang sebenarnya. Sebuah kekaguman yang hanya berguna untuk melepaskan dahaga kita tentang keindahan alam. Untuk memanjakan hati dengan rasa senang dengan indahnya sebuah penciptaan. Bukan sebuah kesadaran tentang kuasanya Sang Pencipta. Bukan pula sebuah kesadaran akan pasti datangnya hari kiamat dan hari kebangkitan kita untuk menuju sebuah pengadilan dunia akhirat.
Mudah-mudahan Allah segera memberikan cahayanya kepada kita semua agar masing-masing diri kita memperoleh sebuah pencerahan batin untuk mensyukuri semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepada kita. Dan mudah-mudahan pula Allah selalu memberikan bimbingan dan petunjuknya dalam memahami ayat-ayat atau tanda-tandaNya. Baik yang ada dalam Al Qur`an maupun yang terserak di diseluruh alam semesta.
sekian.
Wrote by : Agushar.
Selengkapnya...
Rabu, 02 Juni 2010
Hidangan dari Langit.

QS. Al Maaidah : 114.
قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ ۖ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ﴿١١٤﴾
“Qaala `iisabnu maryamallahumma rabbanaa anzil `alainaa maa`idatan minas samaa`i takuunu lana `iidan liawwalinaa wa aakhirinaa wa ayatan minka, warzuqnaa wa anta khairur raaziqiina”
”Isa putera Maryam berdoa: "Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama".
Sebagian dari kita ada yang berdo`a dengan referensi ayat tersebut diatas. Tidak ada masalah, karena dinukil dari Al Qur`an. Permasalahannya adalah, pada saat kita meminta dengan mengucapkan kata-kata dari Al Qur`an tersebut, apa yang terlintas di benak kita ? Apakah hidangan siap saji yang tertata rapi di atas meja seperti kalau kita makan “prasmanan” “ ataukah hidangan lain yang nyata-nyata turun dari langit, misal berupa hujan. Atau berupa petunjuk yang bisa membuat kita mendapatkan sebuah pencerahan batin. Tapi bukankah petunjuk itu sudah diturunkan oleh Allah dari langit, berupa Al Qur`an ?
Marilah kita mencoba untuk sedikit mencermati ayat tersebut dan hubungannya dengan ayat-ayat sebelumnya serta ayat-ayat sesudahnya. Mungkin akan bisa tergambar dengan jelas makna rangkaian ayat tersebut dengan memperhatikan ayat demi ayat yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.
QS. Al Maaidah : 112.
إِذْ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيعُ رَبُّكَ أَنْ يُنَزِّلَ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ ۖ قَالَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ﴿١١٢﴾
”Idz qaalal hawaariiyuuna yaa `iisaabna maryama hal yastathii`u rabbuka an yunazzila `alainaa maa`idatan minas samaa`i, qaalaat taquullaha in kuntum mu`miniina”
”(Ingatlah), ketika pengikut-pengikut Isa berkata: "Hai Isa putera Maryam, sanggupkah Tuhanmu menurunkan hidangan dari langit kepada kami?". Isa menjawab: "Bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman".
QS. Al Maaidah : 113.
قَالُوا نُرِيدُ أَنْ نَأْكُلَ مِنْهَا وَتَطْمَئِنَّ قُلُوبُنَا وَنَعْلَمَ أَنْ قَدْ صَدَقْتَنَا وَنَكُونَ عَلَيْهَا مِنَ الشَّاهِدِينَ﴿١١٣﴾
”Qaaluu nuziidu an na`kula minhaa wa tathma`inna quluubunaa wa na`lama an qad shadaqtanaa wa nakuuna `alaihaa minay syahidiina”.
”Mereka berkata: "Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya tenteram hati kami dan supaya kami yakin bahwa kamu telah berkata benar kepada kami, dan kami menjadi orang-orang yang menyaksikan hidangan itu".
Dua ayat tersebut memberikan informasi kepada kita bahwa, ada keraguan di hati mereka yang mengikuti Nabi Isa dalam meyakini bahwa Nabi Isa as. Benar-benar Nabi utusan Allah. Mereka menginginkan bukti yang nyata di mata mereka untuk bisa mempercayai dan meyakini bahwa Nabi Isa benar-benar Nabi utusan Allah seperti yang selama ini di katakan kepada para pengikutnya tersebut.
Mereka mengajukan permintaan yang sebenarnya tidak bisa diterima oleh akal. Sebuah hidangan dari langit. Hidangan yang dimaksudkan adalah benar dalam bentuk makanan yang siap untuk dimakan. Hal yang biasanya hanya bisa dilakukan oleh tukang “sihir”. Dan permintaan para pengikut Nabi Isa itu semula hanya dijawab dengan sebuah kalimat yang mengingatkan mereka agar betaqwa kepada Alah jika mereka benar-benar beriman kepada Allah.
Tapi ketika nyata bahwa permintaan mereka tidak main-main atau suatu permintaan yang sangat serius untuk membuktikan bahwa apa yang dikatakan kepadanya mengenai kenabian dirinya adalah benar. Bukan merupakan kebohongan. Untuk menambah pengetahuan mereka bahwa Nabi Isa adalah Nabi utusan Allah. Juga untuk menambah makin mantapnya keyakinan mereka tentang kerasulan Nabi Isa. Serta keinginan untuk menyaksikan sendiri bahwa Nabi Isa mampu memenuhi permintaan mereka yang hampir mustahil.
Kemudian Nabi Isa memohon kepada Allah dengan beberapa kalimat, “Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki Yang Paling Utama".
Saya begitu yakin, bahwa pada saat mengucapkan do`a tersebut Nabi Isa benar-benar meminta kepada Allah sesuatu seperti apa yang dibayangkan oleh para pengikutnya. Yaitu sebuah hidangan berupa makanan yang siap untuk dimakan. Janji Nabi Isa adalah akan menjadikan hari itu, yaitu hari turunnya hidangan tersebut menjadi hari raya atau hari yang akan dimuliakan oleh segenap pengikutnya yang hidup di masa itu serta orang-orang yang datang (hidup) sesudah mereka. Serta akan menjadi tanda bukti akan kekuasaan Allah serta bukti kenabian dirinya atau bukti bahwa dirinya adalah benar seorang “Nabi” yang telah diutus oleh Allah.
Allah mendengar permintaan Nabi Isa. Kemudian Allah berfirman :
QS. Al Maaidah : 115.
قَالَ اللَّهُ إِنِّي مُنَزِّلُهَا عَلَيْكُمْ ۖ فَمَنْ يَكْفُرْ بَعْدُ مِنْكُمْ فَإِنِّي أُعَذِّبُهُ عَذَابًا لَا أُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ﴿١١٥﴾
”Qaalallahu innii munazziluhaa `alaikum, faman yakfur ba`du minkum fa`innii u`adzdzibuhu `adzaaban laa u`adzdzibuhu ahadan minal `aalamiina”.
”Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan hidangan itu kepadamu, barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah (turun hidangan itu), maka sesungguhnya Aku akan menyiksanya dengan siksaan yang tidak pernah Aku timpakan kepada seorangpun di antara umat manusia".
Perhatikan ayat tersebut, Allah akan mengabulkan permintaan Nabi Isa seperti apa yang diminta oleh para pengikutnya. Yaitu sebuah hidangan yang siap untuk dimakan. Tapi dengan sebuah janji dari Allah, jika mereka tetap dalam keingkarannya tentang ketauhidan Allah dan kenabian Isa as, maka Allah akan menyiksa mereka dengan sebuah siksaan yang tidak pernah ditimpakan kepada seorangpun manusia di bumi.
Kemudian malaikat turun seraya membawa hidangan dari langit, berupa tujuh buah roti dan tujuh macam lauk-pauk, lalu mereka memakan sebagian dari makanan tersebut sampai mereka kenyang. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas hidangan tersebut berupa roti dan daging, lalu mereka di perintahkan agar jangan sampai berkhianat dengan janjinya dan juga jangan menyimpannya hingga keesokan harinya. Akan tetapi ternyata mereka berkhianat dan menyimpan sebagian hidangan itu sampai keesokan harinya, akhirnya mereka dikutuk menjadi kera-kera dan babi-babi. Demikian yang tertulis dalam Al Qur`an dan tafsirnya.
Kutukan menjadi kera dan babi ini mungkin tidak bisa diartikan secara lahir dengan berubahnya tubuh mereka menjadi binatang kera dan babi. Tetapi bisa pula diartikan berubahnya sifat-sifat mereka akibat pengkhianatan janji beriman menjadi atau persis dengan sifat-sifat kera dan babi. Dimana sifat-sifat kera yang tidak pernah mengenal malu untuk selalu menunjukkan pantatnya kepada siapa saja. Dan sifat-sifat babi yang “cuek” atau tidak perduli dengan apa yang diperbuat oleh babi jantan lain terhadap babi perempuan pasangannya. Sehingga satu babi perempuan bisa hidup dengan dua atau tiga babi jantan dalam satu kandang.
Lantas bagaimana dengan kita yang saat ini menjadikan ayat tersebut sebagai rujukan do`a kita ?
Saya coba untuk mengulang lagi, kira-kira apa yang ada di benak kita saat kita mengucapkan do`a atau permintaan kepada Allah berupa hidangan dari langit ? Apakah itu makanan siap untuk dimakan seperti yang kita temui tiap hari ? Ataukah yang lain, misal berupa air hujan ? Atau rizqi berupa petunjuk dari Allah ? Kalau petunjuk, kenapa kita nggak langsung minta “petunjuk” saja dari Allah berupa pemahaman ayat-ayatnya ?
Karena dalam do`a tersebut Nabi Isa benar-benar minta “hidangan” dalam arti yang sesungguhnya. Yang bisa dimakan. Yang bisa dinikmati. Yang bisa membuat perut kenyang. Dan hidangan itu benar-benar diantar oleh malaikat dari langit. Mereka benar-benar menikmati hidangan tersebut. Bahkan ada yang menyimpannya sampai esok harinya. Lalu bagaimana dengan permintaan kita ?
Jika Allah benar-benar akan menurunkan buat kita sesuatu seperti apa yang kita inginkan, apakah kita benar akan menjadikan hari turunnya “hidangan” tersebut sebagai “hari raya” atau sebagai hari yang kita muliakan untuk kita dan anak cucu kita kelak ? Atau justru kita akan mengingkarinya seperti para pengikut Nabi Isa as. Lalu sudah siapkan kita untuk menerima akibat dari keingkaran itu ?
“Hidangan” bagi sebagian kita tetaplah sebuah hidangan. Minimal rizqi berupa materi. Kalau sebuah petunjuk, katakan saja sebagai sebuah petunjuk. Jika memang materi yang ada di benak kita, lalu oleh Allah diturunkan secara melimpah kepada kita, akankah kita menjadikannya sebagai sebuah “hari raya” ? Dan menjadikannya sebagai bukti kekuasaan Allah ?
Padahal bukti-bukti tentang kuasanya Allah yang sudah jelas nampak di depan mata kita saja kita banyak mengabaikannya. Isi atau kandungan Al Qur`an yang terbukti kebenarannya banyak memberikan bukti tentang kuasanya Allah. Tapi kita hampir tidak penah memperhatikan. Kita lebih banyak menyimpannya sebagai benda “keramat” dari pada membaca untuk mempelajarinya dan memperoleh petunjuk darinya.
Lalu benarkah limpahan “hidangan” berupa materi yang kita miliki bisa menambah keyakinan kita tentang tauhidnya Allah ? Dalam kenyataan sehari-hari yang kita lihat justru memberikan gambaran bahwa sebagian besar dari kita kalau mendapat rizqi berupa materi yang berlimpah, justru banyak yang lupa kepada Allah. Dan lebih banyak terlena dengan harta benda yang telah di kuasakan oleh Allah kepada kita tersebut. Lebih banyak bermewah-mewah dalam penampilan dari pada membelanjakannya di jalan Allah.
“Hidangan” nyata yang kita dapat dari “kenduri” atau kondangan saja tidak banyak mempengaruhi kualitas Iman kita. Padahal jelas “berkat” berupa nasi dan lauk pauk serta kue-kue yang kita bawa pulang adalah “hidangan” yang kita harap-harap. Seperti kalau kita berdoa dengan referensi dari Nabi Isa tersebut. Dan kita tidak menjadikan hari diwaktu kita dapat “berkat” tersebut sebagai hari raya yang akan selalu kita muliakan.
Boleh-boleh saja kita berdo`a dengan do`a yang di ucapkan oleh Nabi Isa tersebut, tapi yang lebih penting adalah apa yang kita maksudkan dengan permintaan do`a itu. Atau justru kita hanya berdo`a dengan asal mengucapkan saja tanpa harus paham apa yang kita ucapkan ? Lantas bagaimana kita bisa melakukan sesuatu yang kita sendiri tidak tahu maksudnya ? Dengan kata lain, “asal” sudah berdo`a, tak perduli apa isi dari do`a-do`a yang kita ucapkan. Dan apa akibat yang akan di timbulkannya.
Untuk itu marilah kita selalu berusaha memahami tentang semua apa yang kita ucapkan. Baik dalam komunikasi sehari-hari dengan orang-orang di sekitar kita dalam bahasa yang sudah kita mengerti maupun dalam berkomunikasi dengan “Allah” melalui media Shalat dan do`a-do`a yang kita ucapkan. Sehingga kita bisa dikatakan benar-benar dalam keadaan “sadar”. Tahu atau mengerti semua yang kita ucapkan. Bukan seperti perkataan atau ucapan orang-orang yang terkena pengaruh alkohol hingga dirinya tidak tahu dan tidak sadar semua apa yang dilakukan dan diucapkannya.
Islam adalah agama Ilmu. Ayat-ayat dalam Al Qur`an sarat dengan Ilmu-ilmu Pengetahuan. Oleh karena itu, beragamalah dengan Ilmu. Karena segala sesuatu itu ada ilmunya. Dan Allah melarang kita untuk mengikuti segala sesuatu yang kita sendiri tidak tahu ilmunya. Karena sesungguhnya Mata, Telinga dan Hati akan dimintai pertanggungan jawabnya kelak di akhirat.
Sekian.
Wrote by : Agushar.
Selengkapnya...