Senin, 02 Mei 2011

Bencana Tiada Henti


Semua akan terhanyut. Tidak hanya sesuatu yang tidak berguna yang ada di tepi jalan, tapi rumah seisinyapun akan ter”bandang pula”. Hanyut dihempas oleh derasnya air. Tidak pandang bulu, air akan membawa semua yang ada di depannya dan memporak-porandakan komunitas yang dilaluinya. Kemudian meninggalkan mereka semua dalam onggokan-onggokan yang tidak berdaya sama sekali. Meninggalkannya setelah “mencabuti” semua yang ada. Tidak hanya pohon-pohon dengan akarnya, tapi juga “sukma-sukma” yang bersemanyam ditubuh manusia. Sepertinya air sedang menunjukkan siapa jati dirinya.

Seperti tak ada habisnya bencana melanda bumi pertiwi ini. Kalau biasanya kita was-was di bulan Desember dan Januari, saat ini sepanjang tahun kita patut was-was. Karena bencana tidak lagi menunggu “gedhe-gedhene sumber” atau lebat-lebatnya hujan. Sejak “sat-sat-e” sumber di bulan September lalu telah banyak saudara-saudara kita di berbagai daerah yang dilanda banjir setinggi pinggang orang dewasa. Banjir setinggi itu sudah pasti bisa melumpuhkan aktifitas kita sehari-hari. Apalagi sampai disertai kata “bandang”. Sudah pasti pula akan “mbandang” segala sesuatu yang ada di sekitarnya.Indonesia tetap satu dan utuh. Walaupun daging dan tulang tercerai berai di luasnya samudra, indonesia akan tetap nusantara. Sekumpulan pulau-pulau yang berusaha hidup diantara besarnya dua benua dan luasnya dua samudra. Karena letak yang tercerai-berai membuat masing-masing tulang dan daging yang ada begitu rentan terhadap badai dan hempasan ombak. Sehingga mudah sekali hancur berkeping-keping jika alam sedang menggeliat. Ironisnya, setiap geliat dari alam adalah bencana buat makhluk hidup yang ada di atasnya. Dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan kita seperti tak pernah lepas dari bencana yang disebabkan geliatan alam ini. Tapi benarkah alam sengaja menebar bencana ?

QS. Ar Ruum : 41

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴿٤١﴾
“Zhaharal fasaadu fiil bahri wal bahri bimaa kasabat aydiinnaasi liyudziiqahum ba`dhal ladzii `amiluu la`allahum yarji`uuna.”

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Jarang kita berpikir bahwa alam ini hidup. Kecuali manusia, hewan dan tumbuhan semua yang ada di sekitar kita adalah benda mati. Sehingga layak untuk kita perlakukan dengan semena-mena. Toh mereka tidak akan pernah membalasnya. Tapi ternyata alam ini “hidup”. Seperti hidupnya manusia, hewan dan tumbuhan. Alam bisa berbuat sesuatu sesuai kehendaknya. Termasuk me”longsor”kan sebagian dirinya dan menyiram sebagian daratannya. Lantas pernahkah kita berpikir bahwa bencana yang terjadi selama ini adalah balasan alam ? Atau semua bencana yang terjadi hanyalah sebuah “kebetulan” saja ?

Ayat tersebut diatas menyatakan dengan jelas, bahwa manusia telah banyak membuat kerusakan pada diri alam (bumi). Dan Allah mengijinkan alam untuk membalasnya melalui ketentuanNya. Agar manusia sadar kalau mereka telah berbuat suatu kesalahan dan sebagai peringatan untuk tidak lagi mengulangi perbuatan serupa terhadap alam. Tapi seperti kebiasaan manusia selama ini, hanya ingat untuk sementara waktu saja. Setelah lewat waktunya perbuatan perusakan alam akan berlangsung lagi. Dan akan berhenti kemudian setelah “dibalas” oleh alam dengan ratusan bahkan ribuan korban manusia dan hancurnya infrastruktur yang dibangun dengan susah payah selama betahun-tahun.

Sebagian dari kita berpikir semua disebabkan karena ulah manusia. Ulah diri kita sendiri. Yang telah terhinggapi penyakit “rakus” dan apatis. Dengan membabat hutan seluas-luasnya dan menggali bumi sedalam-dalamnya tanpa memperdulikan apa akibat yang akan terjadi di kemudian hari. Sebagian lagi berpikir bahwa semua yang terjadi memang seharusnya terjadi. Tidak perlu disesali. Mati dan hidup adalah sebuah kepastian. Tinggal menunggu dan mengetahui saja, apa penyebab kematian masing-masing diri kita ? Sehingga kegiatan perusakan alam pun tetap berlanjut tanpa perhitungan dan tanpa beban. Hanya karena anggapan yang sangat sederhana dalam menyikapi arti hidup bagi kehidupan.

Memang benar pula, bahwa yang hidup pasti “akan” mati. Tapi bukan berarti yang hidup “harus” segera mati. Jika yang hidup “harus” segera mati, maka konotasinya adalah tak perduli berapa lama kita hidup dan perbuatan apa yang telah kita lakukan. Padahal konsep “hidup” manusia tidaklah demikian. Hidup manusia adalah sebuah kesengajaan dari Allah swt. Yaitu untuk diberi cobaan kepada mereka dengan berbagai kebaikan dan keburukan. Dan Allah akan memilih siapa diantara manusia yang paling baik amal perbuatannya untuk diberi balasan sesuai dengan semua yang dijanjikanNya. Dan memberi balasan yang setimpal pula terhadap mereka yang telah berbuat sesuatu yang telah dilarangnya.

QS. Al Mulk : 2

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ﴿٢﴾

“Alladzii khalaqal mauta wal hayaata liyabluwakum ayyukum ahsanu `amalaan, wahuwal `aziizulghafuuru.

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,

Penegasan makna serupa juga ada di QS. Muhammad ayat 31, QS. Huud ayat 7, QS. Al Anbiyaa` ayat 35. Bahwa manusia akan dicoba dengan berbagai hal yang baik dan berbagai hal yang buruk. Tujuannya adalah agar manusia nantinya bisa merasakan sebuah kehidupan yang sebenarnya dengan segala yang ada di dalamnya. Baik berupa kehidupan yang penuh kenikmatan maupun kehidupan yang penuh dengan balasan siksa. Semua itu tidak lain adalah sebagai pembuktian bahwa Allah dan segala yang telah dijanjikannya adalah benar belaka. Bahwa segala sesuatu tentang ketauhidan yang pernah dan sedang kita perdebatkan adalah sebuah kebenaran yang terbukti.

Banyaknya musibah yang terjadi di tahun-tahun belakangan ini seharusnya bisa menjadikan kita merenung dan mencoba untuk meresapi apa yang menjadi penyebabnya. Bukan hanya saling menuding dan menyalahkan orang lain. Apalagi menyalahkan Allah. Kebiasaan kita selama ini adalah selalu mencari kambing hitam atas segala sesuatu yang terjadi dan banyak menimbulkan korban. Dan kebiasaan kita yang lain adalah selalu menggunakan kesempatan disaat orang lain dalam kesempitan. Berusaha muncul ke permukaan dan berpura-pura jadi malaikat dengan berempati kepada para korban bencana alam. Padahal kemunculannya hanyalah ingin menebar pesona dengan membagikan bantuan yang tidak seberapa.

Tujuan yang utama dari para tokoh politik di negeri ini adalah “titip” simpati untuk kemudian ditagih kembali dalam bentuk “dukungan” suara. Mereka tidak perduli dengan situasi dan kondisi. Apa yang bisa dijadikan komoditas harus jadi komoditas. Tidak perduli pada peristiwa bencana alam sekalipun. Tidak perduli betapa kesedihan dan isak tangis berbaur dengan ambisi kekuasaan. Yang penting usaha menebar “pesona” bisa berakhir sukses dan bisa memperluas peta-peta daerah sebagai pendulang suaranya kelak. Dan setelah sukses nantinya mereka tidak lagi berusaha untuk mengingat-ingat lagi peristiwa bencana yang telah “menolongnya” mengantar pada tingginya kedudukan atau kekuasaannya.

Bencana yang bertubi-tubi datangnya, bukanlah datang dari Allah. Allah swt hanya memberikan ketentuanNya kepada alam ini. Sebab dan akibat bukanlah sesuatu yang bisa disangkal. Kecuali Allah menghendaki lain, sebuah ketentuan akan berjalan seperti adanya. Tidak hanya berlaku bagi makhluk yang berjenis manusia saja, tetapi berlaku bagi semua makhluk yang telah diciptakanNya. Akibat yang baik maupun yang buruk tentulah ada penyebabnya. Allah telah memberikan sebuah ketentuan yang baik bagi kita yang menhendaki kebaikan. Dan Allah juga memberikan sebuah ketentuan yang buruk bagi mereka yang melanggar rambu-rambu larangan. Baik dilakukan secara sengaja maupun tidak disengaja.

Celakanya, kebanyakan dari kita menganggap bahwa hanya manusia saja yang harus eksis hidup di alam. Semua yang ada selain manusia adalah “halal” untuk dikorbankan. Sehingga terjadilah setiap hari peristiwa pembantaian. Baik terhadap hewan, tumbuhan, manusia lain bahkan bumi yang setiap hari menjadi tempat pijakan. Kita tidak pernah berpikir bahwa alam bisa melakukan pembalasan atas semua perilaku kita. Hingga tiba saat-saat dimana kita tidak bisa sedikitpun menghindar dari “amukan” alam. Baik berupa banjir bandang, angin topan, gelombang pasang yang menerjang dan memporak-porandakan daratan sampai beratus-ratus kilometer jauhnya. Menghancurkan semua yang ada dan memisahkan banyak sekali ruh dari jasad. Tapi yang demikianpun hanya menimbulkan empati sesaat.

Bukti-bukti bahwa alam memang hidup sudah begitu nyata di depan mata, tapi kita tetap menganggap remeh dan sepele diri alam. Kita tetap menyukai pembantaian terhadap binatang, terhadap hutan-hutan yang “melindungi” dan “menghidupi” kita. Tanpa rasa belas kasihan kita gunduli “rambut” bumi. Kita tebang habis-habisan sambil tersenyum-senyum membayangkan lembaran-lembaran merah ratusan ribu. Tanpa pernah berusaha untuk memahami betapa bumi ini begitu tersiksa tanpa “rambut” hijaunya. Betapa merana dan menderitanya kematian-kematian pohon yang tumbang ditangan manusia-manusia yang berjiwa bengis dan berdarah dingin. Menebang lalu me”mutilasi” untuk kemudian diperdagangkan tanpa peduli dengan rintih tangis yang tak pernah terdengar.

Belum lagi dengan sikap dan tingkah laku kita yang selalu akrab dengan kemaksiatan. Jauh dari keimanan dan jauh pula dari perbuatan-perbutan yang dianjurkan. Jauhnya jarak kita dengan Imanlah yang menjadi penyebab utama perilaku kita lebih akrab dengan kemaksiatan. Seringnya kita meninggalkan perintah Allahlah yang menjadikan kita lebih akrab dengan perilaku-perilaku yang seharusnya kita tinggalkan. Kita tak menyadari kalau semua hal tersebut menjadi penyebab semua bencana di negeri ini. Kita lebih sibuk promosi diri demi kekuasaan dan kekayaan materi. Kita tak pernah menyediakan waktu untuk memahami apa kehendak Allah dengan perintah dan laranganNya. Bahkan kita tidak memperdulikannya.

Kita lebih suka untuk mencari kesalahan orang lain dan tidak pernah mau mengakui kesalahan sendiri. Kita lebih suka ber-demo dan menjadi koordinator, provokator bahkan penyandang dana dari peristiwa demonstrasi. Baik yang dilakukan oleh mahasiswa maupun yang dilakukan oleh rakyat kecil yang sebenarnya jauh dari dunia politik. Kita lebih suka untuk menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dan berhura-hura dari pada mendatangi tempat masjid untuk merefleksikan kesyukuran kita. Kita lebih banyak bersyukur di lisan saja dari pada dengan perbuatan yang nyata. Dan kita lebih suka menoleh ke belakang dari pada menatap lurus ke depan di jalan yang disediakan oleh Allah. Yaitu sebuah jalan keselamatan. Baik selamat di dunia maupun selamat di akhirat kelak.

Kebanyakan kita hanya ingat pada saat tertimpa musibah. Dimana kita sudah tidak punya lagi kekuatan untuk menahannya. Lalu kita mulai mendekat dan mulai menyadari bahwa kekuatan dan kesombongan yang pernah kita lakukan ternyata tidak berarti sama sekali bagi alam. Sekali alam bereaksi, tak satupun dari kita yang berada didekatnya akan selamat tanpa keterlibatan Allah. Dan Allah menyelamatkan sebagian kecil dari mereka yang berada di lokasi musibah sebagai saksi akan adanya sebuah kekuatan yang melebihi kekuatan apapun yang ada di alam ini. Tapi kadang kita juga tidak menyadari kalau sebuah keselamatan dari bencana adalah atas kehendak dan keterlibatan Allah.

Dan kita yang berada jauh dari lokasi bencana hanya bisa “miris” melihat beritanya dari media. Rasa iba dan kasihan lantas kita wujudkan dalam bentuk menggalang dana bantuan di manapun tempatnya untuk bisa sedikit membantu meringankan bebab berat mereka yang menjadi korban “geliatnya” alam. Kita yang berada jauh tak bisa lebih banyak berbuat lebih dari sekedar “membantu” dengan materi. Tapi hikmah dari peringatan Allah berupa datangnya bencana tak juga menyadarkan kita dari lelapnya Iman. Kita belum yakin kalau kita akan mati dengan segera. Kita menganggap kematian kita masih agak lama. Dan kita meneruskan lelapnya tidurnya Iman dengan hidup melawan arus dari alur hidup yang seharusnya.

Kita belum yakin kalau kita akan menghadapai pengadilan Allah. Dan kita juga belum yakin tentang kehidupan akhirat. Iman yang ada hanyalah hiasan. Bukan sebuah pilar kehidupan. Riak-riak keingkaran terhadap Iman kita telah menjadi ombak yang menari-nari diatas tenangnya air permukaan. Hingga mereka yang tidak banyak tahu tentang dosapun harus menanggung akibat dari perbuatan sekelompok orang-orang yang bahkan jauh dari tempat kejadian bencana. Kadang kita berpikir apa yang telah dilakukan oleh mereka yang menjadi korban sebuah bencana alam. Dan kita tak pernah berpikir tentang apa yang telah kita lakukan terhadap alam.

Dalam hidup sehari-hari kita tidak pernah perduli pada bumi yang kita injak. Kita hanya beranggapan bahwa bumi hanyalah tempat pijakan. Kita bahkan jarang sekali berpikir kalau kita ini parasit bumi. Kita berpijak padanya, mengambil makan darinya juga, mengambil air dari bumi juga. Tapi perlakuan kita pada bumi sepertinya kurang manusiawi. Kita hancurkan gunung-gunung kecil, kita bor sedalam-dalamnya lalu kita hisap “darah”nya semaksimal mungkin. Jadi wajar jika bumi sekali-sekali membalas perlakuan kita tersebut dengan “sedikit” gerakan yang cukup membuat manusia porak-poranda kehidupannya. Bahkan tidak sedikit pula yang kehilangan sebagian jasad dan nyawa.

Kita ini adalah sekumpulan masyarakat dalam satu wadah. Satu kesatuan bangsa. Satu wilayah negara. Belum tentu mereka yang terkena musibah adalah mereka yang telah berbuat kerusakan langsung terhadap diri alam. Alam hanya sekedar membalas. Memberi peringatan kepada kita agar jangan semena-mena terhadap dirinya. Mereka yang melakukan kerusakan alam kadang berada jauh dari lokasi bencana. Bahkan hidup nyaman dan hanya tinggal memerintah saja. Dan yang menjadi korban adalah rakyat jelata yang yang jauh dari kehidupan mewah. Kebanyakan mereka hanya mengambil dari alam sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja.

Bagaimanapun juga bencana adalah sebuah peringatan alam dari Allah. Tinggal bagaiman kita mencermati setiap kejadian bencana tersebut. Jika hanya dengan bantuan materi tanpa pernah berpikir pencegahan kerusakan alam, niscaya bencana-bencana alam lainya akan saling susul menyusul sepanjang tahun. Sesungguhnyalah sebuah peringatan harus dipahami sebagai perintah untuk introspeksi diri. Tentang bagaimana sikap dan tingkah laku kita sebagai “penghuni” alam yang diperingatkan dengan bencana alam ini. Penyebab terjadinya sesuatu yang menyedihkan bagi diri kita adalah karena tingkah laku kita sendiri sebagai manusia. Bukan hanya sekumpulan manusia secara parsial. Tetapi sebagai sekumpulan manusia secara keseluruhan.

Manusia di bumi sudah jauh dari melanggar perintah Allah. Sikap hidup dan perbuatan sehari-hari mayoritan condong ke sesuatu yang bersifat keduniaan. Tidak lagi mengindahkan perintah-perintah yang sebenarnya mengandung kebaikan. Lebih menyukai kemaksiatan dari pada perbuatan yang bermanfaat bagi orang lain. Lebih suka mengunjungi tempat hiburan dari pada tempat ibadah. Dan lebih suka mengumbar aurat dari pada menutupinya. Lebih suka menghujat daripada berperan serta dalam mewujudkan sebuah keinginan yang baik. Lebih suka mengorbankan orang lain untuk tujuan-tujuan yang bersifat pribadi. Lebih suka berpaling pada aturan-aturan yang dibuat manusia dari pada aturan-aturan Allah.

Semua sikap dan perbuatan kita sebenarnya banyak keluar dari jalur-jalur aturan Allah. Tapi kita dengan ringan tanpa beban menjalani semua tingkah laku kita yang “ingkar” tersebut. Dan ketika datang sebuah peringatan berupa bencana, kita berperilaku seakan-akan begitu dekat dengan Allah. Lalu menganggap semua yang terjadi adalah “cobaan” dari Allah. Memang benar cobaan dari Allah, tapi kebanyakan penyebabnya datang dari diri kita sendiri. Itulah yang harus dipelajari dan banyak dipahami oleh akal dan hati. Kita ini menjadi penyebab utama apa yang terjadi pada diri kita kelak. Baik sewaktu masih hidup di dunia, maupun kelak saat hidup di akhirat.

QS. An Nisaa` 79.

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا﴿٧٩﴾

“Maa ashaabaka min hasanatin faminallah, wa maa ashaabaka min sayyi`atin famin nafsika. Wa arsalnaka linnasi rasulan, wa kafaa billahi syahiidan”

”Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.

Sekian.
Selengkapnya...

Kamis, 28 April 2011

Kerusuhan Hati


30 September adalah sebuah kenangan pahit. Sebuah kenangan pahit yang terpelihara dihati anak-anak bangsa. Dimana putra-putra terbaik bangsa ini telah “dipulangkan” secara paksa oleh jasad-jasad yang menyimpan ambisi untuk menjadi penguasa negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Banyak hati yang terluka karena peristiwa tersebut, tak terkecuali generasi yang lahir kemudian. Dan perlahan mereka berusaha untuk memahami ada apa dibalik peristiwa tersebut. Begitu kejam dan sadisnya mereka memperlakukan saudaranya sendiri. Sebuah peristiwa biadab yang didasari oleh berbagai keinginan-keinginan kotor dengan muara kekuasaan.

Sedangkan 1 oktober adalah secangkir jamu yang dicampur madu yang menimbulkan efek timbulnya kekuatan baru dari jasad-jasad yang telah lunglai. Jasad-jasad yang kehilangan semangat. Jasad-jasad yang kehabisan air mata. Menyadarkan mereka dari pingsan sesaat bahwa semua telah terjadi dan tidak akan bisa kembali hanya dengan mengandalkan sedih dan air mata. Dibutuhkan kekuatan sejati untuk meraih dan memegang kendali kereta yang porak poranda. Dan butuh penyatuan tekad kembali semua yang telah terpencar untuk dapat melangkah pelan diatas jasad-jasad yang telah pergi membawa cita-cita dan ketulusan hatinya.
Tidak ada satupun jenis obat yang bisa menyembuhkan luka yang terlanjur menyobek dalamnya hati. Kesaktian Pancasila telah memberikan motivasi untuk bangkit dan berusaha memahami semua yang telah terjadi. Secangkir jamu yang memberikan kesadaran, betapa banyak pelajaran yang bisa diambil dari sebuah peristiwa yang melibatkan “kualitas” hati manusia. Kita tak pernah menyangka apa yang akan terjadi pada diri kita esok hari. Dan kita juga tak pernah menyangka apa yang akan dilakukan oleh orang-orang yang kita kenal di esok hari. Prasangka masih berupa prasangka ketika semua terjadi. Dan disaat kita sadar, semuanya telah terjadi. Semua telah mati dan semua telah berganti.

Puluhan tahun kita merangkak, berjalan dan berusaha untuk berlari mengejar ketertinggalan. Kesederhanaan kehidupan masyarakat telah memberikan gambaran semu tentang kemakmuran negeri ini. Prosentase laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi bukan berarti identik dengan kemakmuran rakyat. Ada perbedaan yang tipis antara kemakmuran dan kesederhanaan hidup rakyat. Makmur hanya bisa diterjemahkan dengan terpenuhinya kebutuhan primer secara mudah dan terjangkau. Tentu saja hal ini hanya berlaku bagi masyarakat kecil. Tidak berlaku bagi masyarakat kelas atas. Karena kemakmuran hanya milik masyarakat kelas atas.

Kesederhanaan bisa menjadi sebuah kemakmuran jika disubsidi silang dengan data-data kekayaan masyarakat kelas atas. Dan hal ini bisa terjadi kalau jurang pemisah antara si kaya dan si miskin begitu dalam dan menganga. Parahnya juga, kondisi tersebut telah berjalan atau berlangsung begitu lama dikehidupan rakyat. Mereka dipaksa untuk “nrimo ing pandum” selama bertahun-tahun. Dipaksa “mengalah” demi pembangunan infrastruktur yang tak kunjung habis. Rakyat kelas atas yang menikmati lahan dan besi serta tembok-temboknya. Sementara rakyat kecil hanya menikmati debu-debu yang membawa virus-virus flu tulang. Inilah hasil dari pergantian bulan antara September dan Oktober yang fenomenal itu.

Kekerasan dan kebiadaban pernah terjadi di negeri ini. Meskipun telah diusahakan menutup bayang-bayangnya dengan tabir kesaktian, toh narasi tentang kebiadaban itu sendiri tetap tersebar secara luas. Akibatnya adalah terciptanya sebuah “jurus maut” yang sewaktu-waktu bisa digunakan jika diperlukan. Dan jurus maut ini banyak dimiliki oleh kelompok-kelompok yang berjalan di kebaikan, di kejelekan atau bahkan kelompok yang suka berpura-pura baik. sedangkan rakyat kecil sengaja ditampung di dalam sebuah tempurung. Yang setiap harinya sulit untuk bergerak bebas. Selama dalam tempurung itulah rakyat lebih suka untuk “diam” dan menahan diri dari keinginan-keinginan yang sebenarnya hanya merupakan angan-angan belaka.

Usaha-usaha untuk mencoba melawan kesaktian Oktober sebenarnya telah berjalan berkali-kali dalam kurun waktu yang selaras dengan umur “keris mpu gandring”. Tapi selalu gagal dan berakhir dengan kekalahan dan kutukan seumur hidup bagi para pelakunya. Tapi ketika burung perkutut kesayangan pergi dan membawa semua yoni-yoni yang dimiliki, saat itulah mulai terlihat tanda-tanda dengan mulai bergetarnya pilar-pilar kesaktian untuk kemudian lari dan berbalik menikam Oktober dari berbagai arah. Peristiwanyapun telah bisa digambarkan dengan jelas mulai dari peristiwa jembatan semanggi. Lalu disusul oleh peristiwa-peristiwa lain yang saling bergantian sampai tiba waktunya hari ke 20 di bulan oktober.

Oktober lama telah jatuh dan Oktober yang lain tampil menggantikan. Dan sampai saat ini beberapa kali Pengukuhan dan Penyerahan keris “mpu Gandring” negeri ini juga dilakukan di “bulan” Oktober. Dengan demikian bulan Oktober masih tetap menggenggam “kesaktian”. Meskipun kesaktiannya sudah turun 20 tingkat. Tinggal 10 tingkat lagi oktober akan berada dititik akhir dinastynya. Dan rakyat juga harus bersiap-siap untuk menghadapi apa yang akan terjadi dengan dirinya sendiri, keluarganya, masyarakat sekitarnya, daerahnya dan negeri “gemah ripah loh jinawi” yang dicintainya.

Semua peristiwa yang terjadi setelah hilangnya yoni-yoni Oktober telah mengingatkan kembali kita pada peristiwa september. Dimana kerusuhan-kerusuhan yang terjadi kadang banyak melanggar batas-batas kemanusiaan. Kebiadaban yang terjadi telah membawa sepatu-sepatu yang banyak menyebabkan terinjaknya harkat dan martabat kemanusiaan, pelecehan terhadap kaum perempuan dan ketidak pedulian pada perkembangan psykologis anak-anak yang orangtuanya menjadi korban kerusuhan. Sekali lagi sebuah peristiwa telah mengajarkan kepada kita tentang perbuatan biadab yang ujung permasalahannya juga bermuara pada kekuasaan.

Sampai saat ini “kerusuhan” yang terjadi di negeri ini semakin tanpa jarak. Berbagai permasalahan tampaknya tidak bisa hanya diselesaikan di persidangan hukum. Sepertinya masyarakat sudah tidak lagi memperdulikan aturan-aturan hukum yang bertele-tele dan selalu memenangkan yang kuat. Walaupun yang lemah berada dikebenaran bukan berarti dia akan tampil sebagai pemenang dalam berperkara. Ditambah lagi dengan lemahnya aparat dalam mendeteksi kejadian-kejadian yang melibatkan massa. Sehingga begitu terlihat celah untuk memperbesar api sengketa antara dua pihak yang berperkara, saat itu juga minyak disiramkan untuk membuat api atau pertikaian berubah menjadi perkelahian masal.

Seperti yang kita lihat, berkali-kali pertempuran antara dua kubu menyisakan luka-luka yang menyayat hati, tidak jarang pula berakibat kematian. Sebuah kematian yang tidak pernah dikehendaki oleh mereka yang bertikai. Tapi semakin hari semakin marak saja peristiwa-peristiwa berdarah yang hampir pasti disertai peristiwa kematian. Hal ini tidak lain karena turunnya wibawa hukum negara di mata masyarakat dan bebasnya rakyat menyimpan dan menggunakan senjata tajam dalam setiap pertikaian yang terjadi. Cobalah kita amati kejadian atau peristiwa ulang di media. Kita bisa melihat dengan jelas orang-orang bebas mengayun-ayunkan senjata tajam dikerumunan manusia.

Kita juga melihat dengan jelas, aparat seperti tidak berdaya menghadapi orang-orang “bengis” di setiap pertikaian yang terjadi. Mereka terlihat seperti bingung harus berbuat apa. Mungkin juga takut terkena sabetan senjata. Akibatnya setiap orang yang membawa senjata tajam yang panjang tetap leluasa memegang dan menguasai senjatanya. Dan beberapa peristiwa serupa secara bersamaan terjadi di bulan September. Seperti sebuah perayaan peringatan sebuah peristiwa berdarah di september berpuluh-puluh tahun silam. Apakah memang benar seperti itu? Tentu saja jauh dari kebenaran. Tapi peristiwa saling serang dan saling bunuhnya memang benar-benar terjadi. Dan sepertinya akan menjadi sebuah trend di masyarakat kita.

Atau mungkin kita adalah pewaris sifat-sifat kejam dan sadis yang telah diperlihatkan oleh tokoh-tokoh pelaku kekejaman di masa lalu. Selama 30 tahun lebih hidup dalam pilar yang memang sengaja dibuat kokoh, selama itu pula kita meyimpan dan memendam golok sakti dan jurus andalan warisan tersebut. Tapi bukan berarti jurus-jurus maut tersebut telah hilang atau sirna begitu saja. Peristiwa-peristiwa tawuran masal antar kelompok masyarakat yang muncul selama ini menunjukkan bahwa kita memang masih memelihara dengan baik sifat-sifat kejam dan sadis yang telah dipertontonkan pada september berpuluh tahun silam. Dan kita bangga saat ini masih bisa mempertontonkan sebuah atraksi yang fenomenal tersebut.

Lalu siapakah yang patut disalahkan jika muncul peristiwa-peristiwa saling bunuh antar kelompok seperti beberapa peristiwa yang barusan berlalu? Tentu saja harus ditelaah lebih dalam dan lebih jauh. Hingga kesimpulan akhirnya tidak akan mengkambing hitamkan sekelompok orang yang “dianggap” paling bersalah. Padahal penyebab terjadinya kerusuhan-kerusuhan tidak bisa dilepaskan dari peran pemerintah, para pejabat pemerintah dan semua institusi pemerintah. Ambil saja contoh, jika institusi hukum sudah tidak lagi menjunjung tinggi kejujuran untuk sebuah keadilan, yang terjadi adalah hilangnya kepercayaan masyarakat pada hukum yang sedang berjalan. Dan hasilnya sudah bisa ditebak!.

Fungsi hukum akan berubah dari sebuah alat produksi keadilan berdasarkan kejujuran menjadi sebuah alat penguasa yang hanya efektif untuk “mengadili” rakyat kecil. Dimana yang kuat dan besar hampir selalu bisa mengalahkan yang kecil. Meskipun kesalahan bertumpuk pada mereka yang besar. Dan kekecewaan semakin hari semakin terakumulasi di hati rakyat kecil. Dimana semua kekecewaan tersebut terpendam jauh di kedalaman hati. Hal itu berlangsung selama berpuluh tahun. Dan ketika tiba waktu kebebasan, mereka tumpahkan semua kekecewaan terhadap institusi hukum melalui pengadilan jalanan. Dengan menggunakan senjata tajam yang kadang disertai tembakan peluru tajam.

Bagaimana rakyat tidak kecewa. Mereka yang “berjuang” di bidang hukum secara diam-diam “suka” melanggar hukum. Aparat keamanan yang bertugas “melindungi dan mengayomi” diam-diam juga “suka” menyembelih dan menguliti. Secara tidak langsung kondisi seperti ini membentuk ketidakpercayaan masyarakat terhadap person dan institusinya. Bahkan cenderung “membenci”. Hanya karena aturan dan prosedur yang harus dilalui saja rakyat kecil “bersedia” datang dan menjalani semua proses hukumnya. Sedangkan harapan mengenai pembagian “keadilan”, rakyat kecil bersikap pesimis. Selama belum ada keberpihakan para pelaku hukum terhadap “kebenaran” selama itu pula hukum akan menggencet rakyat kecil.

Kerusuhan-kerusuhan yang terjadi selama ini membutuhkan ketegasan dalam bertindak dari aparat hukum. Penyelesaian masalah dengan senjata tajam harus dilenyapkan dan harus ada tindakan tegas bagi mereka yang ketahuan menyimpan senjata tajam selain pisau dapur. Tapi ini bukanlah sebuah usaha yang mudah, karena sebagian besar masyarakat desa sangat akrab dengan senjata parang yang tajam. Dan sebagian masyarakat tertentu malah terbiasa membawa golok kemanapun mereka pergi. Alasannya adalah tradisi yang turun temurun. Ada lagi sebuah tradisi sekelompok masyarakat untuk saling bunuh dengan senjata tajam. Dan setiap orang dari mereka hampir pasti menyimpan senjata tajam khusus untuk “mencabut” nyawa.

Tapi usaha “membatasi” senjata tajampun tidak akan bisa mengatasi permasalahan jika tidak disertai usaha untuk berbuat “jujur dan adil”. Baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Jika para penguasa banyak yang bermental “bobrok”, jangan heran kalau rakyatnya juga banyak yang tertular kebobrokannya. Dan jangan berbicara tentang kejujuran dan keadilan jika kita tidak berada di dalam “jujur dan adil” itu sendiri. Sekian lama kita hidup dalam kemakmuran yang semu. Sekian lama kita hidup dalam “kebohongan” hukum. Semua itu adalah kenangan pahit. Tapi janganlah kita menjadikan kenangan pahit tersebut sebagai dasar untuk kembali berbuat kejam dan sadis terhadap saudara-saudara kita sendiri.

Peristiwanya kejam puluhan tahun lalu jangan dijadikan contoh upaya meraih keinginan atau menyelesaikan permasalahan. Bagaimanapun juga kita dihidupkan dengan kasih sayang Allah. Dan dididik untuk selalu sabar dan saling mengingatkan dalam kesabaran. Pengalaman pahit hendaknya kita simpan dan kita ambil pelajarannya. Jangan sampai kita terlupa dan justru tenggelam dalam bayang-bayang kepahitan di masa silam. Selama puluhan tahun kita dalam “cengkeraman” pasukan telik sandi negara. Tapi ketika kita sudah bebas, janganlah berperilaku seperti harimau lapar yang keluar dari kandangnya.

Selama puluhan tahun hidup dalam keterbatasan hak bukanlah sesuatu yang “buruk”. Ada nilai kesabaran yang tinggi dalam periode jaman baru tersebut. Dan hal itu berlaku bagi mereka yang ber”jihad” untuk diri sendiri, agama dan negaranya. Kita telah melihat, berapa banyak mereka yang bersedia berkorban jiwa dan raganya justru hidup dalam kekurangan materi alias “melarat”. Dan jika sang penguasa diingatkan tentang hal tersebut, yang keluar adalah kalimat klasik yang berintikan “perjuangan tanpa pamrih” dan bersembunyi dalam kata “patriotisme”. Karena para pejuang bangsa tersebut tidak ingin menodai ketulusan “jihad” mereka, akhirnya lebih memilih untuk berprinsip “nrimo ing pandum”.

Mereka rela hidup dengan pensiun yang minim. Dan mereka menahan diri dari gejolak hati yang tidak bisa menerima “ketidakadilan” bagi diri mereka. Sementara banyak dari mereka yang hanya bersembunyi di waktu gerilya saat ini hidup dengan bergelimang harta dan bisa membeli surga-surga di dunia. Sementara para veteran hanya diberi “kebanggaan” dengan sebuah uniform yang berbau perjuangan lengkap dengan bintang-bintang jasa mereka. Walaupun tinggal sedikit, sisa-sisa pelaku sejarah perjuangan masih bisa kita jumpai di home base mereka yang ada di tiap-tiap kota. Tak lama lagi mereka akan habis dan hanya menyisakan kata-kata heroik “merdeka atau mati” yang lambat laun akan berubah menjadi “lebih baik hidup dari pada mati konyol”.

Sebuah warisan hati yang bersih, namun lambat laun terkotori dengan keinginan-keinginan atau ambisi yang tidak lagi memperdulikan jiwa saudara sendiri. Jika dahulu bisa dikiaskan dengan anjing berebut tulang, kerusuhan yang terjadi saat ini tidak jelas apa yang diperebutkan. Kebanyakan pelakunya adalah “preman” bayaran. Yang menjadikan “order” kerusuhan sebagai ladang mencari nafkah dan pelampiasan nafsu untuk melukai bahkan membunuh. Dan pemberi ordernya adalah mereka yang memang menyukai kekacauan dan tidak menyukai kestabilan politik terjadi di negeri ini. Mereka inilah pewaris-pewaris sebenarnya pemikiran September puluhan tahun yang lalu.

Mudah-mudahan masyarakat kita segera menyadari dan keluar dari permainan yang bersumber dari ke-rusuh-an hati atau kekotoran hati dari orang-orang yang haus kekuasaan dan terlena karena tingginya jabatan. Tidak mudah terbujuk oleh orang-orang yang sengaja ber”bisnis” kerusuhan untuk membuat suasana di masyarakat tetap dalam kekacauan. Sehingga para penguasanya tidak ada kesempatan berbuat kebaikan untuk rakyat dan negaranya serta tidak lagi mendapat kepercayaan masyarakat. Yang bisa berakibat terpancingnya rakyat kecil untuk menjadikan penguasa sebagai musuh bersama. Dan para provokator dan sang pemberi order “kerusuhan” senang dan puas menikmati hasil kerjanya.

Sekian.
Selengkapnya...

Jumat, 22 April 2011

Kemana Kita Berkiblat ?


Kiblat dalam Islam identik dengan arah Shalat. Makna kiblat dalam shalat adalah arah untuk menghadapkan diri, hati dan pikiran kepada Allah swt. Sedangkan shalat adalah sebuah ibadah yang sudah ditentukan waktu dan tata caranya. Arahnya? Sampai saat ini arah shalat atau kiblat shalat adalah Ka`bah yang berada di Masjidil Haram. Dan arah ini adalah perintah dari Allah swt. Pusat atau titik pusat sebuah pusaran manusia yang saling bersambung dalam melaksanakan perintah Allah yaitu shalat. Kiblat ibadah sudah ditentukan oleh Allah dan hidup manusia adalah untuk kepentingan ibadah. Tapi dalam hidup yang berorientasi ibadah ini ternyata kita telah banyak mengalihkan kiblat ke arah lain. Ke arah yang tidak seharusnya.

Kiblat shalat umat Islam adalah Ka`bah di masjidil Haram. Kiblat hidup tak ada lain kecuali ridha Allah swt. dan ajaran Rasulullah saw. Rasulullah Muhammad adalah pemimpin umat sekaligus pemimpin negara. Pada beliau ada contoh atau teladan kepemimpinan dan perilaku yang baik. Tapi karena kecenderungan manusia lebih banyak ke arah keberhasilan dunia, maka belasan abad kemudian kiblat hidup manusia tidak lagi menuju ke ridha Allah swt dan perilaku Rasulullah saw. Islam memang berkembang pesat sekali. Tapi perkembangan secara kuantitas belum tentu berkorelasi dengan Kualitas beragama. Keislaman kita lebih banyak kita miliki karena “warisan” dari orang tua kita. Kita terlahir sudah dalam keadaan ber”agama” Islam. Yang demikian sepertinya telah membuat kita cukup “puas”.
Umumnya sebuah warisan, ada yang semakin meningkat, ada yang tetap, ada pula yang semakin habis. Seperti juga kita yang mewarisi Iman. Bisa tetap beriman saja sudah lumayan bagusnya. Meski kadang banyak yang hanya asal beriman. Sangat Sedikit dari banyaknya pewaris Iman yang semakin bertambah Imannya. Mereka mengisi Iman mereka dengan Ilmu. Sebagian ada yang berhasil ke derajat yang lebih tinggi dengan menempatkan dirinya menjadi seorang ustadz atau Kyai. Dan sebagian besar yang lain justru mengalami kebangkrutan Iman. Karena kesalahan menentukan kiblat kehidupan dan melupakan kiblat shalat. Terlalu sering melakukan “barter” Iman dengan makanan, pakaian, gemerlapnya malam dan “gengsi” dalam kasta di masyarakat.

Semenjak manusia berpikir gengsi atau prestise dalam hidupnya, sejak ltulah dia mempreteli iman warisannya. Tidak akan berani keluar rumah tanpa membawa merek tertentu. Gaya hidup atau life style yang diikuti berkiblat pada bangsa-bangsa yang sudah begitu maju atau modern dunianya. Padahal Rasulullah saw tidak meniru atau bahkan tidak tertarik pada gemerlapnya dunia yang ditawarkan oleh bangsa Rumawi. Bahkan sejak awal-awal kenabian beliau tidak pernah tertarik dengan tawaran “dunia” dari kaum jahil Quraisy. Tapi kita yang hidup saat ini justru memalingkan diri dari keteladanan yang dibawa beliau serta para sahabatnya. Kebanyakan dari kita juga menganggap bahwa hidup dalam kesederhanaan adalah sesuatu sudah usang. Kita lalu menciptakan motto “orang Islam harus kaya”

QS. At Takaatsur 1- 2.

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ﴿١﴾حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ﴿٢﴾

“Alhaakumut takaatsur, hattaa zurtumul maqaabira.

(1)Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, (2)sampai kamu masuk ke dalam kubur.

Di ayat selanjutnya Allah melarang berkali-kali dan meyakinkan kepada kita tentang akibat yang akan benar-benar kita lihat dan kita saksikan sendiri. Dan Allah juga meyakinkan pada kita akan kepastian melihat bahkan masuk kedalam neraka jahim. Juga tentang kepastian pertanggung jawaban limpahan harta yang kita kumpulkan selama hidup. Jujur atau tidak, kita telah mengingkari sebuah peringatan yang diwujudkan dalam sebuah surat. QS. At Takaatsur ayat 1 sampai dengan akhir ayat. Kemegahan dalam hidup, dan selalu dalam keadaan bermegah-megahan sampai di akhir hidup telah banyak melalaikan manusia dari kewajiban untuk taat beribadah kepada Allah.

Marilah kita mencoba untuk melihat kenyataan yang saat ini sedang berjalan. Dari mulai pemberian nama bayi yang lahir, kita sudah meng”impor” dari Eropa dan Amerika. Kita bangga anak kita mempunyai nama yang “keren” seperti bintang-bintang film dan penyanyi “west”. Kita buang nama-nama pilihan yang mengandung bahan “lokal”. Ada perasaan “malu” untuk dan terbelakang jika harus menggunakan nama-nama lokal. Sebuah bukti kalau kita sudah dikuasai oleh setan bejuluk “gengsi”. Memang pemberian nama anak adalah hak prerogatif orang tua. Tapi sekali lagi bahwa dari pemilihan nama saja kita sudah tahu kemana seseorang berkiblat. Berlomba-lomba menggunakan nama orang yang banyak memusuhi Islam dan “mencibir” nama-nama lokal.

Lalu cara berpakaian. Bahan dan model lebih suka yang berbau “asing”. Alergi dengan bahan lokal dan beranggapan bahwa bahan lokal “hanya” untuk mereka yang berada di level ekonomi bawah. Suka menggunakan pakaian “minim” bahkan setengah telanjang. Seperti orang-orang “barat” yang dalam hatinya selalu memusuhi Islam. Memang ada sebagian dari kita yang “taat” pada anjuran agama. Dengan menutup “aurat” seperti yang dianjurkan. Tapi banyak pula yang tidak tahu cara “menutup” aurat yang benar. Hingga pakaian yang harusnya “menutup” berubah peran laksana daun untuk “mbrengkes” pindang. Aurat yang mestinya tertutup jadi ter”buntel”. Ketat sekali, seperti tak ada bedanya antara pakaian dan alat kontrasepsi “plembungan”. Padahal telanjang itu menampakkan bentuk, lekuk dan kepolosan. Memang tidak polos, tapi tetap saja mereka telanjang ! Itu untuk kaum perempuan Dan inilah kiblat pakaian kita.

Pendidikan juga demikian. Mereka yang “kaya raya” gengsi menyekolahkan anaknya di sekolah negeri. Apalagi hanya SD Inpres. Beruntung saat ini sudah tidak ada lagi yang namanya SD Inpres. Semua SD inpres sudah dinegerikan. Mereka bersekolah di sekolah favorit khusus untuk anak-anak orang kaya. Sebagian besar lagi bersekolah di manca negara. Terutama di negara yang sudah “maju” pendidikan formalnya. Setelah lulus dari luar negeri, pemikirannyapun juga sudah berubah. Berubah seperti pemikiran orang-orang “bebas” dan menganggap pemikir-pemikir lokal masih berada beberapa level dibawahnya. Hingga mereka yang lulusan luar negeri hampir selalu memaksakan pemikirannya yang berkiblat di negara penganut kebebasan. Masuk diakal memang. Kalau yang dipakai pemikiran lokal, ya untuk apa mereka belajar keluar negeri ? Barat, itulah kiblat hati kita, bukan Islam dan ajarannya.

Memilih design rumah juga demikian. Mayoritas design rumah yang ditawarkan di masyarakat berciri Eropa atau western. Dan merupakan sebuah kebanggaan untuk bisa memilikinya. Design lokal yang berciri khas dianggap ketinggalan jaman. Mereka berlomba-lomba untuk mengcopy paste model bangunan ala Eropa atau Amerika. Demikian juga dengan “isi” atau perabot yang ada di dalam rumah. Kalau bisa semua terisi dengan perabot buatan luar negeri. Dan itu sangat membanggakan bagi mereka yang berduit. Ya, memang kesanalah kita ini berkiblat. Boleh ? Kenapa tidak boleh ? Cuma ada sayangnya. Banyak dari saudara kita yang tinggal di rumah-rumah reyot. Banyak karyawan atau buruh tinggal di kos-kosan yang sempit, pengap dan campur baur antara mandi, makan dan tidur. Kenapa tidak kita alihkan kelebihan harta untuk belanja di jalan Allah ?

Kepemimpinan? Berbagai buku biografi kita baca. Dari mulai Adolf Hitler sampai Barrack Obama. Begitu banyaknya hingga kita kebingungan harus meneladani siapa? Padahal sejarah kehidupan Rasulullah saw memberikan tuntunan hidup dan teladan bagaimana harus menjalani kehidupan. Tapi siapa diantara kita yang “mau” mengambil contoh kepemimpinan Rasulullah saw.? Sebuah kepemimpinan yang berorientasi pada Allah untuk kepentingan umat. Seorang pemimpin yang tidak bertambah “kaya”, meski memimpin sampai di akhir hayatnya. Rasulullah dan sahabatnya telah memberikan sebuah teladan yang sangat-sangat berat untuk diikuti pemmpin Islam saat ini. Pemimpin- pemimpin yang hidup di abad ini “malu” menjalani hidup sederhana. Apalagi serba pas-pasan. Hampir semua cenderung memperkaya diri.

Kita bisa melihat di sekitar kita. Para pemimpin yang sebelumnya hidup pas-pasan, beberapa tahun kemudian setelah jadi pemimpin hidupnya berbalik 180 derajat. Kaya dan eksklusif. Jauh meninggalkan rakyatnya. Berperan besar menciptakan jurang pemisah antara kaum the have dan kaum the mlarat. Sejak bergulirnya revormasi politik banyak sekali “akar” yang berubah jadi rotan “abal-abal”. Pemimpin dan wakil rakyat banyak dihuni pak “Ogah” dan pak “Ableh”. Kerjanya ogah-ogahan kalau urusan uang selalu bilang “pokoknya beres Bleh !”. Seperti tong kosong, hanya bunyinya yang nyaring. Isinya ? Gemblondang ! Kosong ! Seperti brengkesan isi gas buang ! Memang inilah kenyataan yang harus diterima umat.

Padahal sebagai umat Islam yang telah mengantongi “jurus-jurus” putih warisan Rasulullah saw, kita tinggal mengcopy dan menjalankan saja. Dan pasti tidak akan ada “bisik-bisik” yang merencanakan kedeta atau penggulingan kekuasaan secara paksa. Kenapa harus digulingkan ? Adakah pemimpin sekualitas yang akan “sangggup” menggantikannya ? Tidak akan pernah ada manusia yang sekualitas Rasulullah di jaman beliau. Demikian juga dengan kedua sahabatnya di kemudian hari. Tak menumpuk harta dan tak berlomba untuk masuk dalam daftar manusia terkaya di bumi. Kita yang saat ini jadi pemimpin lebih suka menggunakan jurus-jurus “kelabu”. Yaitu jurus hitam yang dipadu dengan janji-janji putih. Jurus kelabu yang segera menghitam ketika janji hanya tinggal janji.

Rasulullah tidak berjanji kepada umatnya. Rasulullah hanya memberitakan janji Allah untuk mereka yang beriman. Rasulullah yang akan menjadi saksi kepasrahan diri orang-orang beriman nanti di pengadilan Allah. Dan Rasulullah berlepas diri dari mereka yang haus kekuasaan. Karena kehausan berkuasa lebih banyak menimbulkan sifat arogan. Pemimpin-pemimpin dunia barat adalah contoh pemimpin yang arogan. Tanpa meneliti kebenaran tindakan yang akan dilakukan mereka langsung turut menyebar peluru-peluru maut membumihanguskan beberapa negara yangmayoritas penduduknya umat muslim. Dan lucunya, hal seperti ini disponsori oleh negara yang mengaku paling mengagungkan hak asazi manusia, Amerika.

Kiblat kita telah berpindah tapi kita semua tidak menyadarinya. Hanya di waktu shalat kita mengarahkan diri ke ka`bah. Baitullah. Itupun jika shalat kita tulus. Padahal keikhlasan kita dalam menjalankan shalat masih menjadi sebuah pertanyaan besar. Diluar shalat pikiran dan hati kita lebih banyak berkiblat pada keberhasilan materi. Keberhasilan kepemimpinan adalah sebuah proses panjang yang melibatkan banyak pihak. Sehingga bisa dikatakan bahwa keberhasilan kepemimpinan adalah hasil kerja kolektif. Dan itu sudah ditunjukkan oleh Islam di awal-awal perkembangannya. Tapi saat ini kepemimpinan Rasulullah sudah dianggap usang. Tidak ada yang mau melirik lagi. Memang benar kalau Rasulullah adalah penutup para nabi, karena memang tidak mungkin lagi ada manusia sekualitas dengan Rasulullah saw. Meski sudah lewat 14 abad.

Yang membuat cemas adalah banyaknya pemimpin Islam yang berkhianat setelah keberhasilan hidup dunianya diangkat tinggi-tinggi oleh Islam. Lebih senang berkawan dengan keturunan jahudi dari pada bergaul dengan saudara sendiri. Bermewah-mewahan dan tidak mau tahu penderitaan orang-orang muslim di bagian bumi yang lain. Cuek dan sok “aman dan damai”, padahal kenyataannya mereka adalah orang-orang yang takhluk pada kaki jahudi dan keturunannya. Kehilangan keyakinan tentang benar dan nyatanya bantuan Allah berupa “burung” ababil. Hingga tidak ada lagi keberanian untuk me”melotot”kan mata atas kezhaliman yang menimpa saudara-saudara seiman dalam tauhid. Habis sudah warisan hati “baja” Rasulullah dan para sahabatnya. Yang tertinggal hanya kemampuan diplomasi “omong kosong” layaknya penjual jamu keliling.

Kiblat, memberikan gambaran kemana arah tujuan seseorang. Kiblat dalam shalat yang telah ditentukan saja masih belum bisa menjamin keselarasan antara gerak, pikiran dan hati. Apalagi kiblat hidup yang dijamin kebebasannya. Meskipun membawa bekal segudang Ilmu Iman dan Islam jika tidak ada perwujudannya, perlahan tapi pasti akan tertutup oleh gelimang dan gemerlapnya dunia. Suatu hal yang bukan merupakan pilihan Rasulullah saw disaat beliau mempunyai kemampuan untuk melakukannya. Sekaligus merupakan suatu hal yang sangat sulit dilakukan oleh para pemimpin yang hidup di abad 20 saat ini. Dimana hidup dan gemerlap dunia telah menghalangi pandangan mata. Hingga kita sulit mengenali warna kebenaran yang nampak di depan mata.

Sekian.
Selengkapnya...

Selasa, 19 April 2011

Libya Dikepung Iblis


Kekuatan rakyat parsial tidak akan banyak memberikan harapan untuk sebuah revolusi. Apalagi hanya mengandalkan material yang serba terbatas. Kekuatan immaterial kadang justru lebih banyak dan lebih cepat membuahkan hasil. Seperti yang telah ditunjukkan oleh negara tetangga Filipina. Kekuatan menarik simpati tidak hanya dari golongan masyarakat sipil tapi dari kelompok militerpun juga terbius untuk bergabung dengan kekuatan rakyat. Hasilnya sudah bisa ditebak, presiden terguling tanpa harus banyak jatuh korban. Demikian juga yang terjadi di mesir. Meski kita juga bisa mengatakan bahwa lepasnya kendali militer dari tangan penguasa diakibatkan karena kejenuhan politik. Kejenuhan terhadap profil kepemimpinan yang statis.

Apa yang terjadi di Libya saat ini adalah sebuah contoh kekuatan yang terlahir prematur. Pemicunya adalah lahirnya kekuatan-kekuatan baru di sekelilingnya. Tapi apa mau dikata, maju kena mundurpun kena peluru juga. Kata orang jawa, “Cincing-cincing gak urung yo teles”, maka dengan kekuatan seadanya, bayi revolusi Libya tetap maju berperang meski harus berjalan tertatih-tatih. Hasilnya sudah bisa ditebak, para revolusioner Libya menabrak “gunung” Khadafi. Karena meski tua, cengkeraman presiden yang satu ini masih kuat untuk menuntun militernya. Perlahan namun pasti kekuatan prematur bergerak mundur untuk menyusun kembali kekuatan. Tentu saja sambil berharap bantuan dari “dunia” lain akan segera tiba.
Semula, kita semua mungkin bisa berharap bahwa presiden Kadhafi akan mundur dan memberikan kekuasaan kepada “rakyat”. Dan tentu semula kita semua juga berharap bahwa Libya tetap akan berpendirian kuat untuk menjadi pemimpin perlawanan terhadap dunia barat yang mempunyai hobby campur tangan urusan orang dan agresi untuk sebuah penghancuran. Tapi semua mungkin hanya angan-angan saja. Kadhafi ternyata memilih untuk bertahan sampai titik darah penghabisan. Padahal implikasinya bisa berpengaruh sampai tujuh turunan. Lihat saja apa yang terjadi di Irak. Dan perhatikan pula apa yang akan terjadi di Irak kelak. Hancur lebur oleh pasukan koalisi. Lalu mereka menawarkan jasa memperbaikinya untuk kemudian bercokol sampai tidak ada lagi “oksigen” di Irak yang bisa mereka hirup.

Irak adalah sebuah contoh nyata. Sebuah negara yang di embargo selama bertahun-tahun ternyata telah merontokkan taring-taring kewibawaanya. Maka jika perang dipaksakan, yang terjadi adalah Show of Force. Sebuah pamer kekuatan sekaligus kawasan uji rudal nuklir dan senjata kimia mungkin akan menjadi kenyataan. Dan saat itu Presiden Saddam tidak punya pilihan selain bertahan sambil sekali-sekali melemparkan “scud” nya. Tapi sekali lagi, sekuat apapun militer Irak saat itu tak akan pernah bisa “bernafas” menghadapi serbuan pasukan koalisi yang telah terinjeksi cairan Iblis. Yang terjadi kemudian sudah pula bisa ditebak bahwa pemerintahan yang terbentuk kemudian tidak lagi merepresentasikan pemikiran orang Irak yang mayoritas muslim. Kemungkinan yang paling besar hanyalah menterjemahkan kemauan penanam saham kehancuran Irak.

Libya saat ini pada posisi yang hampir sama dengan Irak. Sama-sama dibenci dan dicari kesalahannya untuk kemudian dikeroyok beramai-ramai atas nama PBB. Kejenuhan sebagian masyarakat Libya terhadap kepemimpinan Presiden Kadhafi telah menimbulkan perlawanan rakyat secara parsial. Ketika para pemberontak dalam posisi terjepit dan tidak lagi bisa bernafas, ketika itu juga akan menggundang semut-semut berambut merah untuk membantu mengangkat senjata. Setelah umpan-umpan warga pribumi dimakan oleh pasukan pemerintah maka, show of force seperti di Irakpun akan segera dimulai. Dan serangga-serangga darat maupun udara akan silih berganti membombardir seluruh bagian bumi Libya.

“Tego Larane gak tego patine”.

Sebuah perumpamaan jawa yang sampai saat ini masih “berlaku”. Meskipun sebagian diri kita semula tidak tertarik dengan “lamanya” kepemimpinan presiden Moammar Kadhafi dan berharap agar segera mundur, tapi kenyataanya berbeda. Apa mau dikata ? Toh pergantian pemimpin dan ideologi baru juga belum tentu menjanjikan kehidupan yang penuh Iman. Kebebasan yang di idamkan rakyat selama ini justru banyak menimbulkan kemudharatan. Manusia lebih banyak yang menjauh dari Iman dan beralih pada kemaksiatan. Tawaran demokrasi tentang kebebasan adalah pondasi terhamparnya kemaksiatan secara global. Bukti-bukti yang telah ada di depan mata adalah saksi-saksi yang tak bisa bicara. Tapi bukan berarti negara monarchi tidak bebas kemaksiatan. Rata-rata negara monarchi yang masih eksis di benua eropa adalah penganut kebebasan bermaksiat. Sangat-sangat bergantung “siapa' yang memimpinnya.

Saat Kadhafi memutuskan untuk menyapu bersih para pengunjuk rasa yang cenderung memberontak, kita semua berpikir pasti akan ada pembantaian manusia. Kadhafi mungkin tidak akan memaafkan rakyatnya yang berusaha untuk menggulingkan kekuasaan yang telah di pegang selama 40 tahun lebih. Lalu tiba-tiba pasukan srigala datang dan menyerang dengan membabi buta. Bom-bom mutakhir di muntahkan di seantero wilayah Libya. Hasilnya ? Sudah bisa dipastikan bahwa Irak ke dua pasti terjadi di negara Kadhafi. Kekhawatiran tentang adanya pembunuhan masal para pemberontak belum terbukti tapi pemusnahan manusia bahkan sudah dimulai. Kembali dunia Islam dijadikan sasaran uji coba senjata mutakhir dari pasukan Iblis negara-negara teroris. Bisakah kita menerka mengapa ini semua bisa terjadi ?

Siapakah yang mengundang Koalisi iblis ?

Liga Arab ! Ya liga Arab ternyata yang menjadi pemicu kehancuran dunia Islam sendiri. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Karena mayoritas dari kita adalah orang-orang “munafik”. Kelihatan berorientasi akhirat tapi sebenarnya tak mau kehilangan dunia. Demikian juga dengan sekumpulan negara-negara yang tergabung dalam liga Arab. Mereka banyak berhubungan dengan negara-negara kafir dan takut kehilangan “dunia” kekafiran yang dibawanya. Mereka saling iri dan dengki dengan negara-negara sesama muslim. Sama-sama berlomba untuk “nggolek bolo” orang-orang yang dalam hatinya tak pernah bersih dari permusuhan terhadap orang Islam. Hingga sampai pada kesempatan untuk memutuskan sebuah “kebenaran” bertindak, tindakan yang diambilnyapun justru malah mencelakakan.

Keterlibatan United Nation ternyata murni atas permintaan Liga Arab. Karena kekhawatiran yang sangat akan terjadinya pelanggaran kemanusiaan oleh pasukan loyalis Kadhafi terhadap sebagian rakyat Libya. Kok bisa hal seperti ini terjadi. Bangsa satu rumpun yang secara sengaja atau tidak telah menanam saham yang sangat besar atas hancurnya negara tetangga yang notebene adalah saudaranya sendiri. Hal ini tidak akan pernah terjadi kalau diantara negara-negara yang bertetangga tersebut tidak menyimpan rasa “kebencian”. Lantas apa yang menyebabkan mereka saling membenci hingga tidak ada kepedulian untuk menyelesaikan secara kekeluargaan “arab”. Kenapa harus pasukan Iblis yang “diundang”. Kemungkinan besar penyebab utamanya hanya tidak adanya perasaan “sehati” dalam kata dan perbuatan. Terutama dalam bersikap terhadap kekafiran dunia barat.

Kembali ke pertanyaan mengapa hal ini bisa terjadi ? Besar kemungkinan Liga Arab telah dihuni pemimpin-pemimpin yang anti Arab. Pemimpin-pemimpin vampire yang tega minum darah saudaranya sendiri. Pemimpin-pemimpin “susupan” Yahudi Israel. Mungkin bisa juga demikian, karena menyatukan sikap untuk konflik yang terjadi di Palestina saja begitu sulit. Dan hanya menjadi penonton atas tindakan sewenang-wenang Israil terhadap warga Palestina. Maka tidak mengherankan kalau liga Arab juga menghendaki Libya untuk ikut mereka meng”hamba” pada sekumpulan “setan” dari “maghribi”. Agar “sama-sama” menerapkan “kebebasan berekspresi” seperti “piaraan” Charles Darwin.

Bagaimana sikap Dunia ?

Rusia meminta Koalisi untuk tidak menyerang tempat-tempat yang dihuni masyarakat sipil. Sebuah permintaan yang “hanya” tinggal permintaan. Karena pasukan yang sudah kerasukan Iblis tidak akan pernah mengindahkan seruan. Bahkan seruan yang bagaimanapun baiknya. Kenyataanya, pasukan koalisi tetap dan terus saja membombardir pemukiman sipil serta menjatuhkan banyak korban. Mengapa ? Bukankah Rusia juga super power ? Tak lain, karena Rusia bukanlah Uni Sovyet di era sebelum Gorbachev. Rusia bukanlah seteru abadi NATO. Hingga Amerika yang meminjam Perancis untuk memimpin penghancuran tidak perlu repot-repot menanggapi seruan Rusia yang mungkin hanya “Lips service” seperti kebanyakan negara “boneka” Amerika.

China meminta resolusi untuk menyerang Libya dibatalkan. Tapi apa yang kita lihat ? Penghancuran justru dimulai dan terus berlangsung. Bukankah China juga anggota tetap United Nation ? Sekali lagi, bahwa pasukan yang sudah kerasukan Iblis tidak akan pernah menggubris. Jangankan hanya lisan dan tulisan, bantuan pengiriman pasukan Musliminpun tidak akan menghentikan aksi teroris sekelas Amerika, Perancis, Inggris dan sekutunya. Bahkan justru akan menambah semangat berlipat bagi pasukan Iblis, karena peluru dan bom-bom mereka akan semakin banyak mengalirkan darah orang-orang Islam yang mereka benci. Memang itulah yang mereka mau. Mereka hanya menunggu waktu atau kesempatan yang paling aman menyerang sekaligus “cuci tangan”. Karena penghancuran dan pembantaian sudah “direstui” oleh United Nation.

Bagaimana dengan dunia Islam ? Di sekitar Libya bahkan justru banyak yang menikmati “pesta” kembang api yang dilakukan oleh pasukan koalisi. Tak ada yang berani mengacungkan diri untuk membantu Kadhafi menghadapi serangan pasukan Iblis. Kebanyakan negara “penakut” justru akan lebih takut lagi kalau Bom Iblis sudah mulai dijatuhkan. Kita diam dan “hanya” menyebut asma Allah. Tak ada usaha nyata dari para pemimpin yang mengaku dirinya Islam. Diam dan membiarkan Kadhafi “gulung koming” sendirian menahan gempuran bom-bom pemusnah manusia. Sejengkal demi sejengkal “tanah” yang sudah ratusan tahun berserah diri kepada Allah luluh lantak. Jeritan dan raungan silih berganti. Cucuran air mata dan darah membanjiri tanah kelahiran mereka sendiri.

Kita yang mengaku Moslem Diam. Tak bereaksi apa-apa. Takut. Takut menghadap kematian yang sudah pasti. Padahal diseberang lautan ada kesempatan untuk membuktikan diri atas kebenaran kesaksian yang kita ucapkan belasan kali dalam sehari semalam. Lebih ironis lagi kalau kita melihat dan yakin bahwa ada pasukan moslem yang justru turut serta mengambil bagian dalam usaha pemusnahan umat Islam. Itulah pengkhianat Allah sesungguhnya. Dan masih ada lagi sebuah Ironi lain. Jika ada sekelompok muslim yang bersedia menjemput kematian syahidnya di medan perang melawan iblis, mereka menghalanginya. Mereka memberikan argumen “mati konyol” untuk sebuah usaha menolong “agama” Allah.

Saya tidak tahu apakah mereka yang melarang “jihad” menegakkan agama Allah di medan perang masih memendam Iman dalam Islam. Apakah mereka tidak menyadari kalau “mati konyol” itu lebih banyak disebabkan oleh “ketakutan” mereka terhadap kematian. Ketakutan seorang pemimpin terhadap kematiannya sendiri. Dan ketakutan seorang pemimpin yang sudah takhluk sebelum berperang. Kemenangan di perang Badr adalah karena Allah. Juga karena pemimpin yang turut andil didalamnya. Yakni turut sertanya Rasulullah saw. Kekalahan di perang Uhud karena pasukan yang mengabaikan komando dan terpesona dengan dunia yang tertinggal musuh. Tapi kemenangan di akhir perang adalah karena motivasi terlibatnya Rasulullah saw sebagai pemimpin.

Yah, beginilah kalau dunia Islam dipimpin oleh makhluk-makhluk padang rumput. Bukan dipimpin oleh seorang yang terbiasa hidup di kerasnya batu dan tebing. Terbiasa menikmati manisnya dunia selama 24 jam penuh. Sampai nyali yang diwariskan oleh panglima-panglima Islam luntur terbawa keringat. Tak kuasa menghadapi kematian. Tak yakin dengan pertolongan Allah. Tak percaya dengan janji surganya Allah melalui peperangan di jalan Allah. Lebih suka jadi penonton dan mengomentari jalannya “jihad”. Lebih suka mengumpat musuh hanya ketika berada dalam kamar pribadi. Dan suka bersembunyi dikolong-kolong dipan ketika langit bergemuruh.

Saat ini kadhafi adalah pembela Islam yang sesungguhnya. Dan pemimpin dunia saat ini yang mengklaim dirinya Islam hendaknya segera introspeksi mengenai keislamannya. Jauh sebelum ada Pakta Warsawa dan NATO, Islam sudah membentuk pakta “Al Muslimun Ikhwanun”. Dan ingat orang Islam yang tidak perduli pada saudaranya dan membiarkan saudaranya terinjak-injak oleh pakta Kafiruun, kelak akan mempertanggung jawabkan di hadapann Allah swt. Dosa-dosa kita dalam membiarkan hancurnya peradaban Islam di Irak mungkin akan bertambah lagi dengan dosa-dosa ketidak pedulian kita mengenai apa yang telah terjadi di Libya. Jika kita memang memaksakan diri untuk “diam” maka tinggal menghitung berapa korban amukan pasukan Iblis yang akan menjadi saksi “diam” kita saat mereka membutuhkan pertolongan.

Hidup awalnya bukan sebuah kemauan. Tetapi mereka yang terlanjur hidup dalam Iman dan Islam ada dua pilihan. Hidup untuk mati atau mati untuk kehidupan kelak. Karena pada dasarnya, mati di akhir hidup hanyalah sebuah jalan untuk kehidupan yang sebenarnya. Dan kematian di akhirat adalah sebuah siksaan yang tidak pernah kita temukan selama kita hidup di dunia. Mati ketika membela agama Allah dan membantu sesama muslim adalah kematian yang “disaksikan” kebenaran Imannya. Sedangkan mati setelah menyaksikan dan membiarkan penyiksaan saudara-saudara se Iman adalah mati dalam kehinaan. Matinya seorang pengkhianat Rasulullah saw. Karena telah beraksi “diam” ketika mampu berbuat sesuatu.

Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan bagi mereka yang saat ini berada dalam cengkeraman pasukan Iblis. Dan memberikan petunjuk kepada para pemimpin di dunia Islam yang saat ini “lumpuh”. Semoga Allah menghukum mereka para pemimpin koalisi dengan hukuman yang “setimpal” atas kebiadaban yang mereka lakukan selama di dunia. Dan mudah-mudahan pula malaikat-malaikat Allah segera turun memberikan bantuan seperti saat pasukan Rasulullah saw. membutuhkan. Dan marilah kita katakan bersama, bahwa yang benar adalah benar, yang bathil adalah bathil. Bahwa yang benar kelak pasti akan mengalahkan yang bathil. Dan jangan pernah lupa bahwa membiarkan saudara lumpuh dalam siksaan musuh Allah adalah sebuah kebathilan.Wahaii pemimpin-pemimpin dunia Islam !!! Katakan sesuatu dan rakyat akan mendukungmu.

sekian.



Selengkapnya...

Rabu, 22 September 2010

Ramadhan Telah Berlalu.


Tak terasa kita telah berada di bulan syawal. Sebuah bulan yang diawali dengan persiapan dua rakaat shalat sunat hari raya fitri. Kemudian berlanjut dengan sebuah momen yang sangat indah dari keseluruhan rangkaian kehidupan kita selama setahun penuh. Sebuah peleburan dosa yang mulai mengeras atau bahkan telah membatu. Karena telah teronggok dan terbiarkan selama hampir satu tahun. Dosa-dosa yang terabaikan karena ego kita, karena kesombongan kita, karena keengganan kita untuk mengakui kesalahan yang telah kita perbuat, karena nafs kita yang penuh sampah, karena pikiran negatif kita yang telah banyak berperan merajut dan melahirkan dosa-dosa, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia.

Allah telah mengampuni semua dosa-dosa yang telah kita perbuat dan membebaskan kita dari api neraka kelak. Tentu saja jika puasa yang telah kita jalankan benar-benar puasa yang ber”kualitas”. Tidak terjangkiti oleh penyakit-penyakit hati dan terbungkus oleh keikhlasan karena Allah semata. Tetapi dosa-dosa yang telah kita perbuat kepada orang tua kita, sanak saudara kita, tetangga kita, rekan kerja kita belumlah terhapus tanpa keikhlasan mereka dalam memberi maaf atas semua kesalahan yang kita perbuat atas diri mereka. Oleh karena itu, bulan syawal adalah sebuah kesempatan yang paling baik dan indah untuk saling meminta dan memberi maaf atas semua bentuk kesalahan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

Sebuah kesempatan yang benar-benar indah, tapi benarkah kita telah mendapatkan apa yang kita harapkan? Dosa antara sesama kita memang ada kemungkinan besar untuk lebur atau luluh lantak, tapi kegemaran kita memelihara kebencian telah membuat kita tidak pernah bisa melupakan sebuah perlakuan yang pernah melukai perasaan kita. Kebebasan yang kita berikan kepada lisan kita cenderung lebih banyak melahirkan dosa-dosa baru yang kadang lebih menyakitkan dari dosa-dosa lama kita. Sehingga momen di awal bulan syawal tak lebih berarti dari pada sekedar basa-basi saja. Karena pertemuan pertama setelah kita berpisah dari peristiwa jabat tangan akan mengingatkan kembali pada luka lama yang sulit untuk kita lupakan.

Ramadhan adalah misteri bagi sebagian besar orang. Rahmat, ampunan dan pembebasan yang ada di dalamnya menjadi tanda tanya yang pernah berimbas pada keinginan untuk bertanya dan menggali apa sebenarnya manfaat puasa bagi kita. Baik bagi jasad maupun bagi jiwa kita. Ketidak pahaman kita tentang puasa menjadikan diri kita tak ubahnya seperti meng ”copy paste” sebuah “contoh salah” yang seharusnya kita hindarkan. Jika kita mencontoh puasa ular atau ayam, perilaku kita setelah puasa tak ubahnya seperti sebelum kita berpuasa. Sedangkan contoh “nyata” dari puasa ulat tak pernah menggerakkan hati kita untuk meyakini sebuah keniscayaan dari janji Allah untuk mengubah diri dan jiwa menjadi lebih baik dan lebih berkualitas.

Bertahun-tahun kita bertemu ramadhan bahkan selama hidup kita. Tapi selama itu pula kita tidak pernah bisa memahami arti dan makna puasa kecuali hanya sekedar tekstual atau “katanya” saja. Kita lebih banyak mengawali puasa dengan niat “diluar” hati. Lalu makan sahur semaksimal dan senikmat mungkin. Kemudian menahan diri terhadap makanan dan minuman diwaktu siang. Mengabaikan hal-hal yang justru banyak mengurangi kesempurnaan puasa. Membiarkan mata, telinga, lisan dan hati bebas sebebas-bebasnya. Dan mengakhirinya dengan melahap berbagai jenis makanan yang telah dipersiapkan sebelumnya secara sempurna. Dan menambah dengan makanan lain diwaktu malam ketika tak ada sesuatu yang menghalangi antara mulut dan perut kita.

Padahal pada diri puasa terdapat manfaat yang sangat besar untuk manusia. Sebagai pencegah dan pelindung diri dari berbagai macam penyakit yang dibawa sebagian besar makanan dan minuman yang kita buang ke perut kita. Lalu sebagai sarana untuk mengubah kualitas diri dari yang semula ingkar menjadi beriman. Dari yang semula asal beriman menjadi sungguh-sungguh beriman. Dari kesungguhan beriman menjadi orang-orang yang bertakwa. Ibaratnya sebuah perubahan dari dari sebuah makhluk rakus dan selalu berbuat kerusakan menjadi sebuah makhluk yang indah, tajam penglihatannya, kokoh cengkeramannya, sensitif perasaanya dan tak terbatas langkahnya.

Pernahkah kita berpikir bahwa kita akan menjadi diri yang berbeda dengan sebelum kita berpuasa ? Bagaimana perilaku lisan kita setelah kita berpuasa satu bulan ? Bagaimana kualitas shalat kita ? Bagaimana pemahaman Al Qur`an kita ? Seberapa besar kepedulian kita terhadap sesama ? Seberapa besar pengorbanan kita di jalan Allah melalui jihad ? Dan seberapa besar kemauan kita mengaplikasikan akhlak Al Qur`an dalam kehidupan keseharian kita. Dan yakinkah kita bahwa “puasa” bisa mewujudkan semua perubahan yang kita kehendaki ? Jika kita tidak yakin, tentu saja kita harus mencari lebih banyak bukti-bukti bahwa puasa bisa mewujudkan semua perubahan yang kita kehendaki.

Begitu pentingnya arti puasa bagi manusia dan begitu sayangnya Allah kepada kita, sampai-sampai Allah menawarkan turunnya rahmat di sepertiga awal bulan ramadhan. Lalu janji ampunan atas semua dosa di sepuluh hari kedua. Dan janji pembebasan dari panasnya api neraka serta sebuah malam yang disebut lebih baik dari seribu bulan yaitu “Lailatul Qodr”. Rahmat, ampunan, pembebasan dan lailatul qodar adalah janji yang tak akan dipungkiri oleh Allah, karena Allah tidak pernah mengingkari janji seperti kita biasa melakukannya. Karena apa ? Karena pentingnya hidup dengan Iman dan amal shalih. Karena pentingnya mensyukuri kenikmatan hidup dengan mengabdi hanya kepada Allah. Karena pentingnya hidup dengan ketaqwaan.

Ya, hanya taqwa yang bisa memberikan ridhanya Allah kepada kita. Dan jika kita memahami arti penting dari keridhaan Allah pada hidup kita, tentunya kita mengharapkan terjadinya perubahan pada diri kita. Agar kita bisa hidup dengan Iman, agar kita bisa hidup dengan amalan yang shalih, agar kita bisa hidup dengan pengabdian sepenuhnya hanya kepada Allah, agar kita bisa hidup dengan ketaatan pada perintah dan larangan Allah dan agar kita bisa mencapai derajat hidup orang-orang yang bertaqwa. Yang semua itu bisa menjadikan kita lebih mudah untuk mendapatkan ridhanya Allah. Bisa mencapai derajat orang-orang yang disayang oleh Allah dengan terpenuhinya semua apa yang kita minta. Dan tempat yang paling indah kelak, yaitu di sisi Allah.

Semua janji yang baik dari Allah adalah keinginan buat kita. Dan kita bisa memintanya kepada Allah. Tentu saja semua syarat terpenuhinya permintaan kita juga harus kita laksanakan. Allah mengabulkan permintaan orang-orang yang meminta, maka iman dan amal shalih adalah sesuatu yang pasti harus kita penuhi. Kemudian sabar dan tetap menjalankan shalat serta selalu berbuat baik kepada orang lain. Dan puasa adalah amalan yang sangat penting untuk terkabulnya semua permintaan kita. Jika semua syarat tersebut sudah kita penuhi, maka bertawakallah kepada Allah. Dan hasil terbaik pasti akan kita peroleh. Baik secara langsung, tertunda waktunya atau terkabulkan kelak di periode akhirat dengan kenikmatan-kenikmatan yang tidak kita pernah kita jumpai di dunia.

Oleh karena itu janganlah kita menganggap remeh puasa ramadhan yang hampir setiap tahun kita jumpai. Dan bulan ramadhan yang penuh keberkahan bukanlah omong kosong. Kewajiban puasa di bulan ramadhan adalah sebuah kesempatan yang mungkin tidak akan kita jumpai lagi di tahun yang akan datang. Karena hanya Allahlah yang mengetahui dengan pasti kapan ajal kita akan datang. Jika umur kita masih panjang kemungkinan besar kita akan mendapatkan kesempatan bertemu dengan bulan ramadhan yang akan datang. Tapi jika ajal kita akan jatuh pada tahun ini juga berarti kita kehilangan kesempatan di tahun yang akan datang. Padahal puasa ramadhan kita kemarin belum memberikan sesuatu yang berarti pada kita.

Untuk itu marilah kita segera mengevaluasi sikap dan tingkah laku kita kedepan. Tentu saja sikap dan tingkah laku yang ada hubungannya dengan ibadah. Yaitu usaha untuk memenuhi semua permintaan Allah dan mengutamakan Iman diatas semua kepentingan dunia. Jika ramadhan yang lalu kita shalat, bagaimana shalat kita setelah ramadhan berlalu. Jika kita rajin untuk shalat berjama`ah di masjid, terutama di waktu Isya` dan subuh, bagaimana shalat berjama`ah kita di masjid setelah ramadhan berlalu, jika kita menahan makan dan minum selama ramadhan yang lalu, bagaimana nafsu makan dan minum kita setelah ditinggalkan bulan ramadhan. Karena kebanyakan kita mengutamakan selera makan yang berlebihan.

Semua perilaku kita haruslah kita evaluasi lagi dengan teliti. Jika tidak ada perubahan dan perilaku kita kembali seperti disaat sebelum berpuasa, maka pastikan bahwa kita tidak mendapatkan sesuatu apapun dari ritual puasa satu bulan yang telah kita lakukan. Karena puasa adalah sarana menggapai keinginan dan sarana untuk mengubah kualitas diri dari orang yang tidak perduli ibadah menjadi orang yang menghamba kepada Allah. Introspeksilah diri anda dengan cermat. Jika memang benar-benar tidak berefek apapun setelah berpuasa ramadhan, segera lakukan taffakur. Berpikir dan teruslah berpikir untuk apa sebenarnya kita hidup dan dihidupkan oleh Allah di dunia ini.

Teruslah berusaha. Karena tidak ada kata terlambat bagi sebuah “taubat” dan sadar akan spiritual yang mutlak kita butuhkan. Baik selama dalam hidup di dunia maupun kelak saat hidup di dunia yang lain. Pertahankan iman dan usahakan agar selalu bertambah kuat waktu demi waktu. Jagalah lisan dengan selalu mengucapkan sesuatu yang benar. Jangan suka mengobral ucapan-ucapan yang tidak perlu. Apalagi yang tidak berkaitan dengan ibadah. Jagalah selalu untuk shalat diawal-awal waktu, karena yang demikian itu menunjukkan semangat ibadah kita. Usahakan selalu berjama`ah Isya` dan subuh di masjid. Kerena dua waktu tersebut adalah waktu terberat bagi orang-orang yang mewajibkan shalat atas dirinya.

Jadikan ibadah shalat menjadi sebuah kebutuhan diri dan pribadi kita. Jangan hanya terbatas pada sekedar menjalankan kewajiban saja. Karena ibadah yang dilakukan dengan “terpaksa” tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali sekedar gugurnya kewajiban atas diri kita. Dan keikhlasan adalah “ruh” dari sebuah ibadah yang kita lakukan. Tanpa keikhlasan kita tidak akan sampai pada ridhanya Allah atas kehidupan kita di dunia. Keterpaksaan hanya akan melahirkan beban dan keraguan sedangkan keikhlasan akan mendekatkan kita kepada Allah. Dengan selalu berjalan di atas jalanNya dan selalu bertindak atau betingkah laku atas namaNya. Dan selalu menyelaraskan dengan perintah berperilaku yang ada dalam kitabNya, yaitu Al Qur`an.

Perubahan kualitas diri bukanlah sesuatu yang mustahil terwujud, tetapi merupakan sesuatu yang sangat mungkin terwujud jika kita benar-benar mengusahakannya. Berkali-kali berjumpa dengan bulan ramadhanpun, jika tidak memahami apa yang ada di bulan bulan ramadhan dan paham akan diri “puasa” niscaya kita tak akan pernah mendapatkan apa yang ada pada ramadhan dan puasanya. Kita akan selalu kembali dan kembali seperti sediakala seperti saat sebelum ramadhan. Dan jika membiarkan hal ini berlangsung terus selama hidup kita, berarti kita hidup dalam kejahilan tentang agama. Oleh karena itu segeralah untuk mengevaluasi diri setelah ramadhan berlalu dan segera tentukan langkah untuk segera melakukan perubahan diri ke arah yang lebih baik dalam beribadah.

Makna Idhul fitri bukan hanya untuk meyakinkan diri tentang kebenaran janji Allah akan bebasnya kita dari api neraka. Tetapi harus bisa dirasakan oleh mereka yang berpuasa ramadhan. Satu syawal bukan hanya ritual saling memaafkan antara sesama tetapi harus bisa dijadikan pembatas antara kebodohan dalam beragama dengan pemahaman arti pentingnya ibadah buat kita. Jika di setiap satu syawal kita bisa meningkat satu tahapan ibadah saja, itupun lebih baik dari pada tidak meninggalkan efek sama sekali. Satu tingkat tahapan beribadah jika kita tempuh berkali-kali selama hidup kita pada saat bertemu bulan ramadhan niscaya bisa mengantarkan kita pada arti dan makna sesungguhnya tentang pentingnya ibadah bagi kehidupan kita.

Bukan berarti di luar bulan ramadhan kita tidak dapat meningkatkan Iman dan kualitas ibadah. Waktu yang hampir sebelas bulan adalah lebih dari cukup untuk dipakai meningkatkan Iman seseorang. Tapi kekhususan bulan suci ramadhan bisa membuat sebuah lompatan kualitas Iman seseorang dari sebuah keraguan menjadi sebuah keyakinan yang sangat dalam. Apalagi jika dilakukan dengan sepenuh hati dan bisa mendapatkan pahala ibadah di malam kemuliaan yang sangat besar nilainya. Mengapa? Karena ada puasa. Dan inilah yang menjadikan bulan ramadhan menjadi bulan yang penuh berkah karena Syahadat, shalat, zakat, infaq, sedekah, puasa dan keinginan untuk berhaji ada di sini.

Tapi jangan kita lalu berpikir, bahwa kita pasti akan mendapatkan pahala ibadah di malam kemuliaan hanya dengan mengkhususkan secara khusyu` ibadah hanya di bulan ramadhan. Pahala ibadah dimalam tersebut hanya bisa diperoleh apabila kita intens beribadah selama setahun sebelum ramadhan atau bahkan mungkin selama bertahun-tahun sebelum ramadhan terakhir yang kita jumpai. Dengan demikian dituntut kesungguhan dalam menjalankan ibadah. Dan kesungguhan dalam beribadah hanya bisa diperoleh hanya jika mengetahui dan menguasai ilmunya ibadah. Jika tidak, kita tetap akan terapung-apung dalam keraguan tentang kebenaran semua janji-janji Allah tentang tentang indahnya surga dan hebatnya siksa neraka.

Setengah bulan syawal telah kita lalui. Walaupun kita telah melewatinya dengan kebiasaan-kebiasaan yang telah berjalan dari tahun ke tahun, seperti tradisi pulang kampung atau bepergian kemana saja untuk mengisi liburan yang relatif panjang, janganlah kita lupa akan arti pentingnya ramadhan dan satu syawal. Sebagai tanda kembali “fitrah” atau kembali suci seperti bayi yang baru lahir kita usahakan untuk selalu ingat dan selalu berusaha agar jiwa yang bersih dan terisi dengan hal-hal yang baik tidak lagi kita kotori dengan sesuatu yang akan membuat kotor lagi jiwa kita. Mempertahankan diri dari kekotoran jiwa adalah sesuatu yang sangat sulit dari pada membersihkan jiwa di bulan ramadhan.

Sebab bulan ramadhan sudah di design oleh Allah menjadi sebuah bulan yang mempunyai banyak keistimewaan. Berbeda dengan bulan-bulan lain. Sehingga dalam kerugian yang besarlah orang-orang yang berjumpa dengan bulan ramadhan, tapi tidak memanfaatkannya dengan baik dan sungguh-sungguh. Hingga setelah lewatnya bulan tersebut kita masih bertanya-tanya tentang apa istimewanya bulan ramadhan. Hal ini biasa terjadi pada mereka yang tidak perduli pada ibadah dan dan tidak mengenal ilmu ibadah. Tidak perduli diri sendiri juga tidak perduli orang lain, sehingga bulan yang seharusnya menjadi sarana untuk menyeberang dari keraguan ke keyakinan, hanya lewat dan tersia-siakan.

Berbeda dengan orang-orang yang berilmu, lewatnya bulan ramadhan menyebabkan tangis yang tak bisa lagi dipertahankan cucuran air matanya. Kesedihan yang mendalam karena ditinggalkan bulan ramadhan menyebabkan seseorang untuk lebih intens dalam beribadah. Sebab mereka masih berharap agar bisa kembali menjumpai lagi bulan ramadhan ditahun yang akan datang. Maka mereka berdoa agar dipanjangkan umurnya dan bisa berjumpa lagi dengan bulan ramadhan. Dan jika Allah menghendaki lain dengan ajalnya, merekapun tak kuasa menghadangnya. Dan satu-satunya jalan adalah ibadah yang lebih bersemangat dan lebih baik agar kalau kelak kita dijemput ajal sebelum datangnya ramadhan yang akan datang, kita akan benar-benar mati dalam keadaan berserah diri kepada Allah swt.

sekian.
Selengkapnya...

Kamis, 02 September 2010

Surga Merindukannya.


Setiap gerak dan langkah mengandung sebuah keinginan, walaupun hanya sebuah keinginan untuk bergerak dan melangkahkannya saja. Bergerak dan melangkah untuk tujuan ibadahpun demikian juga. Penyebab atau alasan paling utama kita beribadah adalah perintah Allah swt. Yang berimbas pada sebuah kata, yaitu “pengabdian”. Pada alasan ini kita akan mengabaikan semua alasan yang telah ada maupun yang akan muncul. Tidak ada keinginan lain kecuali “keridhaan” Allah swt terhadap setiap gerak dan langkah kita. Tak ada tendensi atau maksud lain kecuali sebuah keinginan agar kita termasuk orang-orang yang berpredikat “Hamba Allah”. Sebuah level tertinggi untuk seorang makhluk.

Alasan kedua kita ber-ibadah adalah, terbebasnya kita dari siksa atau azab neraka akibat kelalaian kita terhadap perintah ibadah. Neraka yang digambarkan begitu hebat dan pedih siksanya membuat kita “takut”, hingga kita memilih untuk “taat” kepada perintah Allah. Sedangkan ketakutan kita terhadap “neraka” juga menimbulkan sebuah keinginan untuk mencari sebuah tempat yang menjanjikan suasana sebaliknya. Yaitu sebuah suasana yang jauh dari siksa dan dekat dengan suasana yang selalu membahagiakan. Dan Allah telah mempersiapkan dan menyediakan apa yang menjadi keinginan kita tersebut. Yaitu “surga”.

Surga yang digambarkan penuh dengan kenikmatan telah mengusik keinginan kita untuk menjadi salah satu orang yang akan menghuninya kelak. Semakin tinggi kekuatan keimanan kita semakin yakin pula kita tentang kebenaran semua berita tentang “surga”. Dan keyakinan kita tentang kebenaran surga telah memberikan motivasi yang sangat besar terhadap “semangat” ibadah kita. Hingga tanpa sengaja alasan atau penyebab kita beribadah adalah keinginan yang besar untuk menjadi salah satu penghuninya kelak. Dan itu bukanlah sebuah kesalahan, karena Allah menciptakan surga memang untuk “dihuni” oleh mereka yang menginginkannya dan berhak atas warisan dari Allah tersebut. Yaitu Surga dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya.

Surga adalah makhluk Allah juga. Keberadaan surga juga untuk ditempati. Dan sampai saat ini surga masih menunggu makhluk-makhluk yang akan menjadi penghuninya. Khusus untuk manusia ada kriteria-kriteria tertentu yang menjadikannya sebagai orang-orang yang dirindukan oleh surga. Rasulullah saw memberitahukan kepada kita bahwa ada empat amalan yang harus atau selalu dilakukan. Jika kita mengamalkanya secara konsisten, Insya Allah akan memberikan dampak “takut” dan “taat” kepada ancaman dan perintah Allah swt. Diantara amalan-amalan tersebut adalah :

Pertama adalah, orang yang senantiasa membaca Al-Qur’an.

Al Qur`an adalah kalamullah. Ayat-ayat suci yang berisikan petunjuk dan pembeda antara yang haq dan yang bathil. Sebuah petunjuk yang akan mengantarkan kita ke jalan yang lurus, yaitu jalan Allah. Maka siapapun yang suka membacanya, tahu artinya, paham maknanya lalu mewujudkannya dalam perilaku sehari-hari, maka sudah sewajarnyalah kalau surga merindukannya. Jangan salah ! Hanya orang yang membaca Qur`an dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari saja yang akan dirindukan oleh surga, bukan mereka yang hanya membaca tapi sama sekali tidak berakibat pada meningkatnya kualitas ibadah.

Al Qur`an adalah sebuah petunjuk. Jika petunjuk yang ada di dalamnya di ikuti atau dijalankan, pasti akan menjadikan diri kita orang yang taat, tetapi jika kita tidak perduli dengan isi atau kandungan Al Qur`an, kitapun tidak akan mendapatkan apa-apa. Karena kita menjadikan Al Qur`an hanya sebagai bacaan, bukan sebagai tuntunan hidup untuk beribadah. Maka dari itu, jika kita menginginkan diri kita menjadi orang-orang yang dirindukan oleh surga hendaknya kita senantiasa membacanya. Dengan memberikan atau menyempatkan waktu untuk membaca, memahami maknanya dan merealisasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Tanpa memahami arti dan makna yang terkandung dalam Al Qur`an, mustahil kita akan bisa mengetahui apa pesan sebenarnya yang dibawa oleh Al Qur`an. Dan ini kebanyakan terjadi pada diri kita yang sudah merasa puas bisa membaca huruf-huruf yang terangkai dalam ayat-ayatnya. Padahal belum bisa memberikan dampak yang nyata pada kualitas keimanan kita. Maka dari itu janganlah kita merasa sudah “Islam” sebelum kita bisa memahami apa makna “Islam” itu sendiri. Karena segala sesuatu pasti ada ilmunya. Demikian juga dengan Islam yang kita anut selama ini.

Islam adalah agama Ilmu. Disamping ayat-ayat alam yang banyak tersebar di jagad raya, Al Qur`an adalah sumber ilmu ketauhidan, Juga merupakan sumber kekuatan Iman. Maka dari itu banyak-banyak membaca Al Qur`an akan membawa kita pada ketaatan yang akan berujung pada ketakwaan kita kepada Allah swt. dan kita juga harus ingat bahwa, hanya ketakwaan yang akan membawa kita pada kemuliaan. Baik dimata manusia maupun dihadapan Allah swt. Jadikanlah Al Qur`an sebagai bacaan wajib sehari-hari, dan janganlah melupakan arti dan maknanya.

Kedua, mereka yang menjaga “lidah”nya.
Lemas, tidak ada tulangnya, tapi jika sudah aktif bisa mengubah dunia. Tidak keras, tapi bisa begitu tajam seperti tajamnya sebilah pedang. Jika tidak berhati-hati dalam menggunakannya lidah bisa sangat berbahaya. Baik bagi orang lain maupun bagi diri sendiri. Sumber sebuah pertikaian kebanyakan di awali dengan kata-kata atau ucapan yang menyinggung perasaan. Oleh karena itu Rasulullah saw, pernah bersabda, barang siapa mengaku beriman kepada Allah, hendaklah ia berkata benar atau diam. Begitu pentingnya peran “lidah” hingga Rasulullah pun sampai berkata demikian.

Dengan lisan kita bisa berkomunikasi. Jika lisan tidak berfungsi, rasanya hidup kurang berarti. Tapi ingat, jika salah dalam menggunakan lisan, maka temanpun bisa menjadi lawan. Semakin sering salah dalam penggunaan lisan semakin banyak pula orang yang akan memusuhi kita. Allah memberikan kepada kita nikmat berbicara, tapi bukan untuk berbicara sembarangan, apalagi pembicaraan yang mengandung banyak dosa, seperti bicara kotor, bohong, memfitnah orang lain. Lisan diberikan untuk berkata benar, untuk mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.

Janganlah terlalu banyak mengumbar kata-kata, apalagi kata-kata yang tidak banyak berguna. Mungkin maksud kita kadang hanya untuk “bergurau”, tapi jika orang yang kita maksud tersinggung perasaanya, bisa jadi merupakan awal sebuah malapetaka. Karena kebanyakan konflik bermula dari kesalahan dalam ucapan. Dan diam kadang bisa menjadi pilihan yang baik untuk menghindari banyaknya kesalahan dalam ucapan. Bukan berarti kita harus selalu diam. Jika dibutuhkan kita “wajib” untuk berbicara. Tentu saja hanya pembicaraan yang benar saja yang harus kita ucapkan.

Hanya ucapan yang baik yang bisa menghasilkan kebaikan. Ucapan yang jelek, kotor, kasar hanya akan menjadi sumber pertikaian, permusuhan, pertengkaran dan peperangan. Sebuah perintah yang diikuti oleh banyak orang akan sangat berbahaya jika dipergunakan untuk kejelekan. Maka sudah sewajarnya pula kalau surga merindukan orang-orang yang bisa menjaga lidahnya, mengingat peran lidah yang begitu penting untuk kedamaian umat manusia. Dan hanya mereka yang berimanlah yang bisa menjaga lisannya.

Ketiga, memberi makan orang yang kelaparan.

Dalam bahasa jawa, Urip iku Nguripi. Dalam pengertian kita hidup adalah menghidupi atau mendukung kehidupan. Allah maha hidup. Allahlah yang membuat hidup, maka Allah pulalah yang menghidupi semua ciptanNya. Dan kita sebagai manusia, yang bisa menggunakan akal dan pikirannya sudah sepatutnya mendukung kehidupan. Dengan tidak berbuat kerusakan di muka bumi yang bisa menyebabkan “musnah”nya mahkluk hidup yang lain. Bahkan kita harus berbuat kebaikan terhadap kehidupan. Dengan merawat dan menyayangi makhluk lain seperti kita menyanyangi diri kita sendiri.

Makan adalah sebuah usaha untuk mempertahankan hidup. Dan hidup tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada Allah. Sedangkan lapar adalah sebuah keadaan yang membahayakan bagi kelangsungan hidup. Sebuah keadaan yang bisa menyebabkan hilangnya kesempatan seseorang untuk beribadah dan berbuat amal shalih. Maka, memberi makan kepada mereka yang kelaparan adalah kontribusi yang sangat baik bagi kelangsungan kehidupan. Sebuah perilaku baik yang pantas untuk mendapatkan balasan dari Allah dengan berlipat ganda.

Segayung air yang kita siramkan pada sebatang pohon adalah sebuah kebaikan. Siraman air pada tanaman di sebuah taman adalah sebuah usaha untuk melanggengkan sebuah kehidupan. Walaupun kematian pasti akan menjemput, tapi dukungan kita terhadap kelangsungan kehidupan adalah sebuah nilai yang sangat tinggi dan sangat bemanfaat. Seember air yang kita sediakan untuk minuman binatang ternak adalah sebuah dukungan terhadap kelangsungan kehidupan juga. Dan kelak Allah akan memperlihatkan semua kebaikan-kebaikan tersebut. Bahkan tidak ada yang tersembunyi. Semua akan nampak dihadapan kita.

Dan sesungguhnya, Allah akan memberikan balasan kepada kita, sekecil apapun kebaikan yang pernah kita perbuat. Seteguk air yang kita berikan kepada seseorang yang menderita kehausan akan menolong kita di akhirat kelak pada saat banyak orang dilanda kehausan. Karena Allah akan memberikan minum kepada kita. Dan sebungkus makanan yang kita berikan kepada mereka yang kelaparan, juga akan menolong kita kelak di akhirat pada saat banyak orang dilanda kelaparan. Karena Allah memberi makan kita. Dan yakinlah, bahwa Allah akan memberikan pertolongan kepada kita, manakala kita mau memberikan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan.

Keempat, Orang-orang yang berpuasa di bulan ramadhan.

Allah mewajibkan kita puasa di bulan Ramadhan, maka barang siapa berpuasa berarti merupakan sebuah ketaatan. Allah memberikan berkah, rahmat dan ampunan serta pembebasan dari api neraka, maka ibadah puasa “hanya” untuk Allah. Mengapa ? Karena kesungguhan kita dalam berpuasa atau menjalankan kewajiban ibadah tersebut hanya Allah saja yang mengetahui. Karena sesungguhnya banyak dari kita tidak tulus dalam menjalankan perintah puasa. Dan banyak pula dari kita mengabaikan larangan-larangan yang harus dihindari oleh orang yang sedang berpuasa.

Maka hanya mereka yang berpuasa dengan ikhlas karena Allah sajalah yang akan mendapatkan semua pahala puasa. Disiang hari mereka menahan lapar dan haus, menahan lisan, menahan semua nafsu yang timbul dari dalam jiwa, menahan syahwat. I`tikaf atau berdiam di dalam masjid. Dimalam hari mereka memanfaatkan waktu untuk shalat, membaca Qur`an dan berkholwat serta ibadah-ibadah yang lain. Tujuannya tidak lain hanya mengharapkan ridhanya Allah atas puasa dan ibadah yang sedang dilakukannya. Maka tidaklah berlebihan kalau surga merindukan orang-orang yang seperti ini.

Jika kita selalu berusaha dan bisa mewujudkan diri kita dengan empat perilaku diatas, Insya Allah surga akan selalu merindukan kita. Tapi jangan lupa, perintah ibadah yang utama seperti Shalat, zakat dan amalan-amalan yang lain jangan sampai diabaikan. Karena meninggalkan salah satu ibadah yang mutlak harus dilaksanakan adalah sebuah kepincangan dalam beribadah. Maka dari itu landasan Iman haruslah dibangun sedemikian kuat, sehingga semua perintah utama akan bisa dilaksanakan tanpa ada rasa lebih utama salah satu dari yang lain.

Sebenarnya, kita beribadah ini tidak harus terpancang pada keinginan terbebasnya kita dari neraka atau keinginan kita untuk masuk surga dengan segera. Tetapi yang paling penting untuk orientasi adalah ibadah karena Allah semata. Surga dan neraka adalah milik Allah, yang akan dipergunakan untuk memberikan “balasan” kepada umat manusia yang taat dan yang ingkar. Jika kita menyediakan diri untuk “taat” kepada Allah, niscaya kita akan mewarisi surga. Akan tetapi jika sebaliknya, pasti kita akan mewarisi neraka. Karena, semua itu sudah merupakan ketentuan dari Allah untuk makhluknya.

Untuk itu kesadaran tentang “keadilan” Allah dalam memberikan balasan kepada seluruh umatnya hendaknya juga menjadi keyakinan yang harus dibangun. Karena bukan surga dan neraka yang menyebabkan kita hidup di dunia, tetapi karena “kesempatan” yang diberikan oleh Allah saja yang menyebabkan kita “ikut” dalam kompetisi atau perlombaan yang banyak sekali memberikan ujian hidup. Kesempatan hidup yang mengandung banyak ujian itu tidak lain untuk membuktikan siapa diantara kita yang paling baik amal ibadahnya. Dan Allah akan memberikan hak masing-masing diri kita sesuai dengan apa yang telah kita perbuat semasa kita dalam masa “ujian”.

Sekian.
Selengkapnya...