Minggu, 09 Mei 2010

Benciku sedalam Lautan.

Benciku sedalam lautan.

“Rasa” yang selalu menyertai pikiran kita mempunyai pengaruh yang dominan terhadap keputusan hati. Perasaan “sayang” kita terhadap sesama tak ubahnya seperti sebuah “pengakuan” terhadap hak hidup atau keberadaan orang lain di atas bumi ini. Maka perasaan “sayang” inipun hanya terbatas pada seseorang yang kita kenal. Baik itu saudara dekat atau saudara jauh. Teman dekat atau teman yang jauh. Atau hanya sekedar pernah berkenalan atau pernah “melihat” orang tersebut.

Kata sayang disini lebih bermakna “sedikit peduli” karena sama-sama makhluk Allah. Bisa juga bermakna “ngeman” (jawa) karena sama-sama manusia. Bukan pengertian sayang-nya orangtua kepada anak atau sebaliknya. Sayang-nya kakak terhadap adik atau sebaliknya. Sayang-nya seseorang dengan pacarnya. Sayangnya suami terhadap istrinya atau sebaliknya. Karena kata sayang disini tidak dikarenakan “milik” atau rasa “ingin” memiliki.

Kepada mereka yang belum kita kenal, kita lebih banyak untuk “tidak” merasa sayang. Sebuah ungkapan “Tak kenal maka tak sayang” memang benar-benar sebuah “kenyataan”. Hanya orang-orang yang kita kenal sajalah yang akan kita sayang. Marilah coba sedikit mengingat tingkah laku kita.

Jika bertemu dengan seseorang yang belum kita kenal, belum ada sedikitpun rasa “sayang” dalam hati kita. Hati akan menolak sebelum ada interaksi antara kita dengan orang “baru” tersebut. Rasa “sayang” akan mulai timbul jika kita melihat sedikit senyum yang tersimpul. Atau sekedar anggukan sebagai pertanda kita adalah makhluk yang “se-species”.

Rasa “sayang” seperti ini tidak ada batasan waktunya. Bisa berlanjut sayang atau berhenti dengan tiba-tiba. Penyebab “keputusan hati” ini adalah informasi yang masuk ke dalam kalbu kita. Kualitas informasi berupa “kesan” yang bernilai “positif” atau “negatif” akan sangat mempengaruhi keputusan hati untuk menerima atau tidak menerima orang baru tersebut masuk dalam kelompok orang-orang yang kita sayangi.

Jika kesan positif yang masuk, orang tersebut akan masuk kedalam kelompok yang kita “sayang”. Dan orang-orang yang masuk dalam kelompok ini bisa dan mudah berbalik menjadi orang-orang yang kita “benci”. Kenapa ? Mungkin karena interaksi yang sudah terjalin telah tergores. Goresan yang terjadi, walau cuma goresan kecil tapi tetap menyebabkan luka. Sebuah luka yang menyebabkan kata “benci” dalam hati muncul ke permukaan.

Kebencian yang terjadi dalam kelompok ini biasanya tidak berakibat yang sangat fatal. Hanya rasa ingin menjauh dan ber “ikrar” untuk tidak akan lagi berhubungan dekat. Karena belum adanya jalinan kasih. Ini bisa terjadi antara laki-perempuan, sesama perempuan atau sesama laki-laki. Jalinan kasih disini adalah keinginan untuk menjalin hubungan lebih erat seperti persahabatan. Pada fase ini seseorang akan berbagi dalam beberapa hal. Misalkan berbagi makanan atau “curhat” untuk permasalahan yang bersifat pribadi.

“Kasih” dan “sayang” bisa terjalin menjadi “kasih sayang” kalau interaksi kita dan seseorang menemukan sebuah kecocokan dalam beberapa hal. Dan inilah yang disebut persahabatan. Perasaan memberi dan menerima sudah ikut serta dalam fase ini. Tetapi kondisi seperti inipun belumlah aman. Pemeliharaan persahabatan yang salah, bisa menyebabkan timbulnya rasa “kebencian” yang lebih dalam daripada hanya sekedar sayang dari sebuah perkenalan.

Kata “melaut benciku” bisa timbul apabila kita tidak bisa menjaga perasaan sahabat kita. Hanya karena sesuatu hal yang sepele, kita menaikkan “suhu” emosi pada posisi “top” atau puncak. Sehingga kata-kata yang keluar dari mulut sudah tidak bisa lagi terkontrol oleh alam kesadaran kita. Dengan tiba-tiba sifat-sifat setan atau iblis menghiasi pikiran dan bibir kita. Kata-kata pedas saling terlontar hanya karena kita tidak ingin berada posisi yang “bersalah”. Rasa ingin “menghancurkan” mengakibatkan kata pedas dan kotor menjelma menjadi senjata yang “mematikan”.

Jika setan atau iblis yang menyertai masih belum merasa puas, per-cekcok-an bisa berlanjut pada “perkelahian” fisik. Pada diri perempuan bisa saling “menjambak” atau menampar. Kadang juga saling menarik kain atau pakaian hingga robek. Dan orang-orang disekitarnya akan berusaha melerai sambil menikmati. Tapi usaha melerai yang berpihak justru akan memperkeruh suasana. Dan setan akan semakin menari-nari karena mereka yang terlibat pertikaian semakin banyak.

Jika masing-masing diri belum mendapatkan “kesadaran”nya. Suasana akan semakin kacau. Para laki-laki akan terpancing untuk ikut dan masuk dalam pertikaian yang sedang berlangsung. Selama belum ada seseorang tampil sebagai penengah yang “adil”, selama itu pula mereka yang terlibat cenderung berpihak. Tidak jarang pula terjadi, “pertempuran” dilanjutkan laki-laki yang tadinya berusaha untuk melerai. Dan jika tidak segera berhenti, bisa dipastikan arena akan berubah menjadi pertempuran yang lebih hebat. Yang mungkin juga tidak terkendali.

Jika suasana sudah sampai pada titik puncak emosional. Tidak ada yang bisa menghentikan kecuali hanya “kesadaran”. Hanya kesadaran diri yang bisa menghentikan sebuah pertikaian. Jika pertikaian berhenti tanpa ada penyelesaian atau kesepakatan apapun, sebuah pertikaian akan berubah menjadi sebuah “permusuhan”. Karena sebuah pertikaian yang tidak tuntas dalam penyelesaian akan menimbulkan sebuah kata milik setan melenggang masuk dalam hati kita. Yaitu kata “dendam”.

“Dendam” akan tertanam dalam hati. Dan akan selalu menyertai sebuah “permusuhan”. Agar permusuhan menjadi lebih “sempurna” dendam mengajak seorang teman yang berinisial “balas”. Keduanya merupakan pasangan yang sangat serasi karena telah menjalin kerjasama begitu lama. Selama umur manusia dimuka bumi. Pada situasi ini setan atau iblis akan sedikit bersabar sambil sekali-sekali membisikkan kata-kata yang membangkitkan semangat “balas dendam”. Mereka menunggu saat yang tepat untuk menyiram bara yang bersemanyam di dada dengan “minyak neraka”.

Itulah sebuah gambaran akibat sebuah pertikaian yang terjadi “hanya” karena kesalahan dalam memelihara sebuah persahabatan. Kebencian yang tersimpan seharusnya sedikit demi sedikit akan terkikis dengan rasa “kasih sayang” yang tumbuh dari sebuah persahabatan. Tapi pengendalian diri terhadap emosi yang terabaikan akan dapat menjadi penyulut sebuah pertikaian kecil yang bisa menjadi demikian dalam dan besar.

Yang tidak kita sadari adalah usaha setan atau iblis yang selalu ingin membuat manusia selalu dalam pertikaian. Sebuah kata “Sesama muslim adalah saudara” telah melekatkan persatuan antara orang-orang beriman dalam Islam. Tetapi setan dan iblis telah tergelitik oleh kata ini. Mereka ingin membuktikan bahwa kata-kata itu tidak akan berlaku di kalangan kebanyakan manusia. Tidak juga orang beriman dalam Islam.

Mereka bekerja dengan semangat tinggi untuk membuktikan bahwa manusia lebih banyak yang mengikuti langkah setan dari pada jalan Allah. Mereka berkelana ke semua penjuru bumi sambil menebar “bibit-bibit” kebencian. Sambil sekali-sekali berbisik untuk keluar dari Iman, setan meraih banyak sukses dalam memasarkan “bibit” kebencian pada tiap diri manusia.

Kebencian yang timbul bukan hanya terbatas seperti gambaran dua orang yang menjalin sebuah persahabatan atau sekedar hanya kenalan. Tetapi kebencian juga bisa dengan mudah muncul pada diri dua orang yang bersaudara. Antara anak dan orang tua kadang bisa timbul rasa benci melebihi kebencian kita terhadap orang lain yang tidak ada hubungan kerabat sama sekali.

Dua saudara kandung yang saling membenci banyak kita temui di lingkungan tempat tinggal kita. Penyebab utamanya kebanyakan adalah rasa iri hati yang bersifat kebendaan atau keduniaan. Yang menyebabkan keduanya hanya terlihat sebagai saudara, tapi sebenarnya menyimpan sebuah rasa saling membenci. Jika berkumpul seakan sebuah keluarga yang harmonis. Tapi jika sudah terpisah tak ada perasaan lain kecuali sebuah rasa “benci”

Sedangkan kebencian yang muncul antara orang tua dan anak biasanya di picu oleh curahan kasih sayang yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lainnya. Banyak juga karena ingin menguasai harta benda yang masih dimiliki oleh orang tua. Bisa juga di picu karena keyakinan dan tingkah laku yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Misalnya anak yang “durhaka” atau orang tua yang berperilaku menyimpang dari seharusnya. Misalnya, pemabok, penjudi atau suka “daun” dan “kambing” muda.

Lain lagi akibatnya kalau setan melumuri “kasih sayang” antara dua orang yang sedang memadu cinta dengan bibit kebencian. Akibat yang timbul bisa menyebabkan ke-putus asa-an salah satu dari keduanya. Tidak jarang juga berakibat stress yang berkepanjangan. Dan sering pula timbul rasa keinginan untuk mengakhiri hidup dengan jalan pintas alias bunuh diri. Jika benar-benar bunuh diri berarti kinerja setan benar-benar sukses. Karena bisikannya telah berhasil mempengaruhi keputusan hati manusia.

Banyak sekali bibit-bibit penyulut “api” kebencian yang ditebarkan oleh setan dan teman-temannya. Hanya kita jarang sekali menyadari kalau setiap “konflik” yang terjadi selalu ditunggangi oleh setan. Kebanyakan dari kita justru hanyut terbawa oleh buaian dan tarian setan. Sepertinya kita tak mempunyai daya atau kekuatan untuk melawan atau menangkalnya. Bahkan banyak pula diantara kita yang justru menikmati tarian setan. Sehingga secara sukarela menyediakan diri menjadi pengikut-pengikutnya yang setia.

Kebencian yang muncul dari dalam hati kita lebih banyak berakibat negatif. Baik bagi diri kita maupun bagi orang lain yang kita benci. Rasa benci kadang tidak lagi menghiraukan akal atau rasio. Emosi yang tinggi kadang menyebabkan keluarnya kata-kata yang seharusnya tidak sampai terucap. Dalam situasi normal orang tidak akan mengeluarkan kata-kata sumpah dalam konotasi negatif. Tapi dalam situasi yang diliputi oleh setan seseorang bisa bersumpah dalam konotasi yang sangat-sangat negatif.

Ada yang bersumpah untuk tidak akan mengajak bicara selama-lamanya. Ada yang bersumpah untuk tidak menginjakkan kakinya di rumah orang yang mereka benci untuk selama-lamanya. Jika berpapasan di jalan membuang muka. Jika tiba urutan untuk berjabat tangan dalam suatu majelis melewatinya untuk kemudian berjabat tangan dengan orang lain.

Kita tidak pernah tahu kalau Islam melalui nabinya mengatakan, “Tidak halal seorang muslim, memutuskan hubungan dengan saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga hari, barang siapa memutuskan lebih dari tiga hari dan meninggal maka ia masuk neraka”.

Di riwayat yang lain Rasulullah mengatakan, “Barang siapa memutus hubungan dengan saudaranya selama setahun, maka ia seperti mengalirkan darahnya (membunuhnya)”. Dan Allahpun menolak memberikan ampunan kepada mereka yang saling bermusuhan seperti diriwayatkan di bawah ini :

“Semua amal manusia diperlihatkan (kepada Allah) pada setiap jum`at (setiap pekan) dua kali ; hari senin dan hari kamis. Maka setiap hamba yang beriman diampuni (dosanya), kecuali hamba yang diantara dirinya dengan saudaranya ada permusuhan. Difirmankan kepada malaikat : “Tinggalkanlah atau tangguhkanlah (pengampunan untuk) dua orang ini sehingga keduanya kembali berdamai”.

Maka, camkanlah hadist tersebut. Agar kita tidak mendapatkan kesulitan kelak di hari kiamat. Tebarkanlah rasa kasih sayang atau kepedulian kita terhadap sesama dengan dibarengi rasa “ingin” memberikan sesuatu yang berguna bagi mereka yang membutuhkan. Tumbuhkan juga rasa ingin mengayomi, melindungi dan memberdayakan orang lain dari kelumpuhan akibat kebodohan, kemiskinan dan ke-tidakpaham-an akan sesuatu hal, terutama dalam masalah ketauhidan.

Sekian. Selengkapnya...

Kamis, 06 Mei 2010

Memelihara Dendam.

Memelihara dendam menyimpan kebencian..

Kebencian berasal dari kata -benci- . Satu kata bermakna tidak suka yang disertai dengan sikap ingin memusuhi, menyudutkan, menyakiti, menghancurkan bahkan menghilangkan atau membunuh. Umur makna dari kata ini selaras dengan hidupnya manusia di bumi. Sejak keturunan pertama nabi Adam beranjak dewasa, kebencian sudah menghiasi hati manusia. Berbeda dengan kata “tidak suka”. Kata ini hanya berakibat “acuh” atau tidak menghiraukan tetapi tidak sampai berakibat fatal bagi orang yang dibenci. Dan lawan kata dari “tidak suka” otomatis adalah “suka” atau “senang”, sedangkan lawan kata “benci” yang lebih mendekati adalah “cinta” yang mempunyai makna sebaliknya dengan kata benci.

Contoh akibat dari rasa benci yang menimbulkan kesengsaraan adalah sejarah permulaan Islam. Masyarakat Quraisy saat itu begitu bencinya dengan ajaran baru yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. Sehingga mereka begitu tega menyudutkan dengan memfitnah nabi sebagai orang gila, orang yang mempunyai sakit ayan. Mereka menyakiti nabi dengan memukul, melempari dengan batu dan bahkan meludahi nabi.

Belum puas sampai disitu, orang kafir penduduk Mekah dengan teganya mengusir nabi untuk tidak berada dan berdiam diantara mereka. Hingga nabi Muhammad hidup di celah-celah batu gunung di pinggiran luar kota Mekah. Masih belum juga puas, mereka berusaha mencari dan membunuh nabi Muhammad agar tidak mempengaruhi keyakinan penduduk Mekah yang sudah berjalan ratusan tahun. Mereka melakukan segala cara agar dapat menangkap dan membunuh nabi dan membawa jasadnya ke hadapan pemimpin mereka.

Apa sebenarnya yang membuat penduduk Mekah saat itu begitu bencinya terhadap diri nabi ? Tak lain hanya karena nabi Muhammad keluar dari rumah dengan membawa sebuah ajaran yang lain dari apa yang sudah diyakini oleh seluruh penduduk mekah. Yaitu sebuah ajaran tentang “kebenaran” dalam ber”Tuhan”. Dengan sebuah kalimat “Laa ilaha illalah”, nabi telah memporak porandakan pikiran dan hati seluruh penduduk Mekah. Tapi nabi Muhammad dengan kesabaran yang luar biasa bisa menahan semua perlakuan kaum kafir Quraisy terhadap dirinya. Dan nabi lolos dari kejaran mereka yang ingin membunuhnya.

Berkat siapa ? Berkat Allah.
Disamping masih ada dari sebagian penduduk kota Mekah yang mencintainya dan keberadaan keluarga nabi yang tentu saja akan membela, Nabi Muhammad adalah seorang utusan yang sangat dicintai oleh Allah. Sehingga Allah menyelamatkannya dengan memberikan sebuah kekuatan Iman dan fisik yang tidak diberikan kepada orang lain, kecuali orang-orang yang dicintaiNya, seperti para nabi-nabi terdahulu. Kecintaan dari Allah sajalah yang mempunyai kekuatan di luar kekuatan manusia.

Cinta Allah adalah, menyayangi, mengasihi, melindungi, mengangkatnya pada derajat yang tinggi dan menempatkan pada tempat yang paling indah dan paling dekat yaitu disisiNya. Disisi Allah subhanahu wa ta`ala. Berbeda dengan cinta manusia yang hanya terfokus pada cinta antara laki-laki dan wanita. Yang begitu diagung-agungkan dan selalu dijadikan bahan pembicaraan. Dan yang selalu di-sejatikan.

Dalam perjalanan waktu, hampir semua penduduk Mekah mengakui tentang kebenaran ajaran yang dibawa nabi Muhammad. Mereka masuk ke dalam agama Islam setelah kejadian penaklukan kota Mekah oleh pasukan kaum muslimin. Tapi kebencian penduduk Mekah pada “kebenaran” itu ternyata juga kita warisi dan kita tanam di tempat yang paling tersembunyi di dalam hati masing-masing diri kita.

Benarkah kita menyimpan kebencian ?

Islam tumbuh karena rasa kasih sayang. Kasih sayang antara saudara se-iman yang telah membuat Islam begitu besar. Keinginan besar untuk menghilangkan “kebencian” adalah salah tujuan dari tiap agama atau keyakinan yang telah mempunyai pengikut. Baik dalam jumlah kecil maupun dalam jumlah yang besar. Tapi setan yang bersarang di hati masing-masing diri kita membuat usaha menghilangkan rasa kebencian itu menjadi sangat sulit.

Kita tahu kalau kita tidak boleh membenci sesuatupun didunia ini kecuali semua yang telah dilarang oleh Allah. Tetapi secara tidak sadar banyak diantara kita justru sukses memasarkan bibit-bibit kebencian di masyarakat. Budaya ghibah atau “ngrasani” atau menggunjing menjadi kebiasaan sehari-hari kita. Kalau tidak menggunjing dalam sehari saja rasanya hidup hari itu kurang sempurna.

Padahal kita juga tahu kalau “ngrasani” itu bagian dari memasarkan kebencian. Tapi kita tidak mau tahu, yang penting mulut ada kegiatan. Tak perduli apa dampak dari kata-kata yang kita ucapkan. Yang penting “hobby” sudah tersalurkan dan perasaan sudah plong. Karena semua kata-kata yang kasar, kotor lagi tajam sudah tidak lagi menghuni mulut. Minimal untuk satu hari.

Sadar atau tidak, kadang kita merasa selalu berbuat kebaikan. Dan kita selalu mengingat-ingat kebaikan yang pernah kita perbuat. Tapi kita juga hobby mengoleksi kesalahan atau keburukan orang lain. Kita menyimpan dengan rapi hampir semua “rahasia”atau aib orang lain. Terutama mereka yang tinggal tidak jauh dari tempat tinggal kita. Atau lingkungan kerja kita.

Satu contoh, saya pernah mempunyai teman yang jika bertemu seseorang selalu memuji-muji tentang apa yang telah dilakukan orang tersebut. Kemudian berpura-pura menasihati tentang segala sesuatu yang baik-baik. Lalu mulai menampakkan kebaikan-kebaikan yang pernah diperbuatnya. Dengan dibumbui kata-kata “Maaf ya, bukannya saya pamer atau riya, atau ingin dipuji, tapi,......”. Akhirnya semua apa yang telah diperbuatnya dan dirasa merupakan suatu “kebaikan” diungkapkan semua.

Tidak berhenti sampai disitu, kemudian mulai menyebut sebuah nama, baik dari lingkungan keluarganya sendiri maupun orang lain. Lalu mulai membanding-bandingkan apa yang telah di perbuatnya dengan apa yang telah dilakukan orang tersebut. Makin jauh lagi mulai mengungkap kejelekan atau aib orang yang di bicarakannya. Mengeluarkan semua rekaman kejelekan atau aib dari orang yang sedang dibicarakannya. Yang akhirnya menyimpulkan bahwa dirinya masih jauh lebih baik dari pada orang tersebut. Demikian selalu di ulang-ulang untuk orang yang sama. Dan selalu terjadi pula untuk orang lain yang dibicarakannya.

Orang-orang seperti ini tidah pernah menyadari kalau dia sedang melakukan pembunuhan karakter seseorang dan memuji diri sendiri serta ingin dipuji oleh orang lain. Dia merasa tidak melakukan sesuatu hal yang merugikan orang lain. Dan hanya sekedar membicarakannya saja. Dia tidak menyadari kalau perbuatannya bisa berdampak luas di masyarakat. Perbuatannya telah menanamkan bibit-bibit kebencian. Baik kepada orang yang sedang dibicarakannya maupun untuk dirinya sendiri.

Dan yang tidak disadari pula bahwa dia merasa semua orang senang pada dirinya, padahal tidak demikian. Mayoritas orang tidak senang dengan orang yang mempunyai sifat seperti itu. Kalaupun mau bertegur sapa hanya karena tidak ingin terlihat rasa “ketidaksenangan” dirinya terhadap orang tersebut. Banyak manusia enggan berhubungan dengan orang-orang yang senang “ngrasani”. Kenapa ?

Kebanyakan orang-orang seperti itu mempunyai sifat, banyak bicara, merasa lebih tahu dalam segala hal, suka menyombongkan diri, mau membantu tapi disertai tendensi tertentu, merasa diri lebih pandai, mendominasi percakapan, ingin di dengar orang tapi dia sendiri enggan mendengarkan orang lain. Enggan untuk meminta maaf jika melakukan kesalahan, juga enggan untuk memberi maaf kepada orang lain yang telah berbuat salah padanya. Selalu menyebut-nyebut kebaikan yang dilakukannya. Dan yang hampir pasti, orang seperti ini rajin memelihara “kebencian”.

Uraian diatas hanyalah sebuah contoh kecil dari setiap diri manusia yang mewarisi sifat benci. Padahal masih ada warisan “kebencian” yang disimpan oleh sekelompok orang. Misalnya dendam yang disimpan oleh sekelompok orang atau suku tertentu terhadap sekelompok orang atau suku yang lain. Biasanya dipicu oleh rasa sakit hati akibat salah satu anggota kelompok mereka yang dianiaya atau bahkan dibunuh oleh kelompok yang lain.

Ada lagi sebuah kebencian yang dipelihara dengan baik. Karena luka lama yang begitu sulit untuk dilupakan atau dimaafkan begitu saja. Seperti dendam orang-orang yahudi terhadap Nazi Jerman akibat peristiwa “holocaust” yaitu sebuah pembantaian manusia yang dilakukan tentara Jerman cs. atas perintah Adolf Hitler. Dan orang-orang yahudi adalah korban yang jumlahnya mencapai 1 juta jiwa.

Atau dendam orang-orang Islam atas kekejaman yang dilakukan oleh yahudi Israel di jalur gaza wilayah Palestina. Atau dendam orang-orang Islam atas Amerika karena telah membantai banyak kaum muslim di negara-negara Islam seperti Irak dan Afghanistan. Atau dendamnya warga negara barat dan Australia atas pengeboman yang dilakukan oleh sekelompok teroris, baik yang mengatakan dirinya Islam atau dari kelompok yang tidak senang dengan pemerintahan yang sedang berjalan.

Memang tidak bisa begitu saja disamakan antara kebencian pribadi dan kebencian sekelompok orang. Tapi dendam tetaplah dendam. Yang akan selalu menginginkan sebuah pembalasan. Dan dendam kesumat bahkan tidak akan berhenti hanya sampai tujuh turunan. Seperti dendam yang di pelihara oleh Iblis pada manusia karena tersingkir pada saat pemilihan khalifah dimuka bumi.

Sekecil apapun, sebuah dendam tetaplah menyimpan kebencian. Kebencian yang terpelihara sewaktu-waktu bisa menimbulkan upaya balas dendam. Bisa berupa teror dalam skala kecil atau sebuah penghancuran dalam skala besar. Dan jika tiba saatnya pelampiasan, tidak akan ada lagi nilai-nilai sebuah ajaran kebaikan. Yang dominan adalah nafsu untuk membunuh dan menghancurkan semua yang bisa dihancurkan. Hasilnya ?

Sebuah kehancuran infrastruktur yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Dan meninggalkan luka yang begitu dalam bagi mereka yang jadi korban. Yang menjamin akan lahirnya sebuah episode kebencian yang baru dari mereka yang semula tak mengenal apa itu “dendam”. Jerit dan tangis yang terdengar seakan mengisyaratkan akan adanya sebuah bentuk pembalasan yang entah bagaimana caranya. Asalkan dendam bisa terbalaskan.

Demikianlah, memang lebih mudah untuk bicara daripada melaksanakannya. Dendam harus mati dan kebencian harus luluh. Luluhnya kebencian adalah menyerahnya setan dan matinya dendam adalah takluknya iblis. Sesuatu yang musykil dan hampir mustahil. Tapi kita tidak boleh menyerah begitu saja dan menerima apa adanya dengan terpaksa. Mulailah dari diri kita sendiri untuk sedikit demi sedikit menahan diri dari luapan nafsu angkara murka. Yang justru akan membawa diri kita ke dalam kubangan benci dan dendam yang ditunggu dengan setia oleh setan. Dan akan membawa kita sebagai pasukan untuk bertempur melawan saudara-saudara kita sendiri yang seharusnya kita lindungi.

Sekian. Selengkapnya...

Senin, 03 Mei 2010

Hujan, Rahmat Yang Besar.

Hujan, rahmat yang besar.

Turunnya ditunggu-tunggu, tapi kalau kebanyakan justru mengganggu. Datangnya dinanti-nanti tapi jika datang tak henti-henti malah dibenci. Itulah hujan. Tapi hujan harus turun. Tak perduli waktunya mundur atau maju. Yang penting hujan turun. Dan hujan pasti akan turun. Jika hujan tidak turun, bencana besar akan terjadi. Dan jika turun terus menerus sepanjang tahun. Bagaimana nasib kita nanti ?

Berkah atau bencana. Tapi Al Qur`an menginformasikan bahwa hujan adalah rahmat yang besar. Bagi siapa ? Bagi semua yang ada dibawahnya. Kadang pikiran kita berhenti bersamaan dengan jatuhnya air hujan. Menunggu kapan hujan akan berhenti. Dan berharap hujan akan segera berhenti agar aktifitas kehidupan berjalan normal kembali. Menunggu dan sekali-sekali mengeluh. “Kenapa nggak segera berhenti ?”.

Kita mengeluh hanya karena tertunda mengawali aktifitas sehari-hari. Kita tidak pernah menyadari tentang diri “hujan”. Tidak pernah mau memahami secara mendalam tentang diri “hujan”. Mengapa harus turun setiap hari. Selama berbulan-bulan lagi. Kita sering juga berharap mudah-mudahan musim hujan segera lewat. Agar tidak diribetkan dengan jas hujan, cuci motor, cuci mobil, talang bocor, jalan tergenang, dan banjir yang selalu jadi langganan.

Kita semua tahu kalau setiap kali hujan yang turun adalah air. Dan yang kita tahu, air itu untuk minum, untuk mandi, untuk cuci, untuk memasak, untuk radiator, untuk aquarium, untuk kolam renang, untuk menyiram tanaman dan lain-lain. Kita tidak perduli bagaimana proses air itu bisa sampai ke daratan kemudian masuk ke sumur kemudian kita ambil dan kita gunakan. Bagi kita yang penting air itu ada dan bisa digunakan sesuai dengan keperluan.

Air adalah sumber kehidupan. Memang tak berlebihan. Kita tak bisa membayangkan kalau hidup tanpa air. Sehari saja tidak ada air kita sudah kebingungan. Apalagi sampai berbulan-bulan. Tapi kebanyakan dari kita tak bisa mengambil pelajaran dari adanya air. Yang kita tahu hanyalah, air harus ada. Kalau tidak ada harus kita cari, walaupun dengan pengorbanan yang begitu besar. Ambil saja contoh mereka yang mengambil air dari sebuah sumber yang berada jauh dari rumah tinggalnya. Misalnya di atas gunung. Betapa sulitnya keseharian hidup mereka.

Hujan adalah rahmat yang besar. Yang datangnya dari Allah. Dan keberadaan air hujan ini adalah untuk menunjang kehidupan di bumi. Untuk menunjang kebutuhan manusia dalam menjalani cobaan-cobaan selama hidupnya. Agar manusia bisa sampai pada ajal yang telah di tentukan olehNya. Air sengaja diciptakan oleh Allah untuk bumi dan segala yang ada diatasnya. Dan bumi mempunyai andil yang tidak kecil dalam penyediaan air ini.

Disamping makhluk pendukung yang lain, seperti matahari dengan panasnya, angin yang membawa awan, bumi mempunyai andil untuk menarik jatuh butiran-butiran air bersih yang telah terbentuk dari penguapan air laut di tempat-tempat yang membutuhkannya. Kemudian menarik lagi air-air yang kotor menuju ke laut untuk di sterilkan dan dijernihkan. Kemudian dilepaskan lagi dalam bentuk lain yang ringan agar bisa dibawa terbang oleh angin. Molekul-molekul air saling bertemu dan menikmati perjalanannya menuju ke satu tempat. Dan bumi akan menariknya apabila “rombongan” air itu sudah sampai pada tempat yang di tentukan.

Suatu proses penjernihan yang sangat canggih yang pernah kita lihat. Dan sebuah transportasi yang sangat mutakhir untuk mengantarkan barang kiriman ke tempat lain tanpa menggunakan roda dan jalan aspal yang mulus. Kecanggihan tehnologi yang pernah diciptakan oleh manusia masih jauh ketinggalan dibanding tehnologi alam. Hanya kesombongan manusia saja yang lebih banyak mengiringi semua apa yang telah ditemukannya. Sebenarnya manusia tidak pernah menciptakan. Manusia hanya menemukan apa yang telah di ciptakan oleh Allah swt.

Manusia boleh menganggap bahwa mereka telah menciptakan sesuatu yang paling canggih. Tapi disatu sisi manusia masih dibingungkan dengan penampakan benda angkasa yang lazim di sebut UFO. (Unidentification Object). Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab oleh manusia di alam ini. Terlalu luas dan terlalu dalam “Ilmu Allah” di alam semesta ini. Air adalah salah satu contohnya. Kita lebih banyak membahas tentang air dari mulai atom susunannya sampai dengan kegunaanya. Jarang sekali kita berusaha untuk memahami apa pesan yang di bawa oleh air dalam setiap perjalanannya.

Apa manfaat yang bisa diambil dari turunnya hujan ?

Bagi manusia air hujan yang turun kebumi bisa dimanfatkam untuk hampir semua aktifitas. Dari mulai mengairi sawah, memfungsikan lagi sumur-sumur yang kering, untuk minum, mandi, cuci dan segala aktifitas pekerjaan di semua sektor usaha produksi barang-barang kebutuhan rumah tangga, pertanian maupun kebutuhan industri. Hampir semua jenis pekerjaan yang dilakukan oleh manusia membutuhkan air. Begitu pentingnya air bagi manusia. Sehingga bisa dikatakan manusia tidak dapat hidup tanpa air.

Ketergantungan manusia pada air yang sangat tinggi menyebabkan rendahnya kebutuhan manusia akan “hadirnya” Allah sebagai Tuhan pada pikiran dan hati kita. Padahal ada dan tidaknya air di muka bumi ini mutlak karena kuasa Allah swt. yang memerintahkan air kotor menuju laut dan memerintahkan laut untuk mencuci serta menghembuskannya ke atas. Dan angin akan membawa “calon air” itu ke suatu tempat sesuai dengan perintahNya.

Pada saat tidak ada air kita banyak memohon kepada Allah agar segera diturunkan hujan. Tetapi setelah air melimpah tidak sedikitpun terlintas untuk mensyukuri berkah yang sangat besar itu kecuali cuma dengan ucapan hamdalah. Manusia banyak yang berpikir dengan mengucapkan hamdalah mereka sudah bersyukur. Dan kesyukuran yang diharuskan oleh Allah, hanya kita ukur dengan ucapan lisan. Tidak dengan amal perbuatan yang melibatkan pikiran, seluruh anggota badan dan hati.

Hem,... betapa enaknya. Berkah berupa “kehidupan” hanya di barter dengan satu kalimat. Tidak berefek pada ketaatan pada perintahNya sama sekali. Yang ada hanyalah satu kalimat hamdalah dan “menggerutu” sepanjang hujan berlangsung. Pujian hanyalah sebuah awal dari rasa syukur. Perwujudan rasa syukur lebih tertuju pada amalan. Dengan mengerjakan ibadah dan menjalankan segala konsekwensi dari ibadah itu sendiri yang lebih banyak berupa perintah-perintah untuk menjalankan kebajikan selama hidup.

Cobalah untuk sedikit memahami apa akibat yang terjadi atau dihasilkan dengan turunnya hujan. Hujan adalah rahmat yang besar. Banyak ayat yang menjelaskan tentang akibat dari turunnya hujan. Beberapa ayat seperti, Al A`raaf 57, Al Baqarah 22, Ibrahim 32, Faathir 57 menjelaskan tentang hujan yang bisa menghasilkan buah-buahan karena pohonnya tumbuh subur akibat tersiram air hujan.

QS. Al A`raaf 57.

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ ۚ كَذَٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ﴿٥٧﴾
“Wahuwal ladzii yursilur riyaaha busyran baina yadai rahmatihi hatta idzaa aqallat sahaaban tsiqaala suqnaahu libaladin mayyitin fa`anjalnaa bihil maa`a fa`akhrajnaa bihi min kulli tsamarat, kadzaalika nukhrujul mautaa la`allakum tadzakkaruuna”.

”Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran”.

Kita melihat dengan mata kepala sendiri bahwa kekeringan yang terjadi di suatu daerah menyebabkan tanah menjadi tandus. Tidak bisa ditanami dengan tumbuhan apapun. Bahkan yang sudah tumbuhpun akan segera mati. Bahkan dikatakan bahwa bumi di daerah tersebut adalah bumi yang mati. Manusia banyak yang kebingungan tidak perduli kaya atau miskin. Dan jika kekeringan berlangsung terus tanpa turun hujan, diyakini akan banyak manusia yang mati pula.

Tetapi setelah Allah telah menurunkan hujan di daerah tersebut, apakah yang terjadi ? Dari tanah yang tandus tersebut muncul tanaman. Diawali dari tumbuhnya rerumputan, kemudian binatang-binatang kecil juga bermunculan. Kolam atau empang yang tadinya kering dengan tanah yang pecah-pecah di tumbuhi dengan benih-benih ikan. Atau tumbuhan buah yang tadinya hampir mati kemudian bersemi lagi dan berbuah lebat.

QS. Al An`am 99.

وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۗ انْظُرُوا إِلَىٰ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكُمْ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ﴿٩٩﴾
“Wahuwal ladzii anjala minas samaa`i maa`an fa`akhrajnaa bihi nabaata kulli syai`in fa`akhrajnaa minhu khadhiran nukhriju minhu habban mutarakiban waminan nakhli min thal`ihaa qinwanun daniyatun wa jannaatin min a`naabin wa zaituuna war rummaana musytabihan wa ghaira mutasyaabihin. Unzhuruu `ilaa tsamarihi idzaa atsmara wa yan`ihi, inna fii dzaalikum la`ayaatin liqaumin yu`minuuna”.

”Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman”.

Sawah-sawah yang tadinya kering mulai bisa dikerjakan dengan traktor. Kemudian ditanami bibit padi untuk kemudian beberapa bulan lagi di petik hasilnya. Demikian diulangi lagi untuk tanaman yang sama. Ladang-ladang yang awalnya tak satupun tanaman bisa tumbuh, setelah disiram air hujan hampir semua yang di tanam bisa tumbuh dengan baik. Untuk kemudian menghasilkan sayuran atau kebun-kebun yang pohonnya seakan hidup kembali untuk menghasilkan buah-buahan yang lebat.

Manfaat lain dari turunnya hujan adalah mengalirnya lagi air dari sumber-sumber air yang tadinya “habis” sehingga manusia dapat menggunakan air yang begitu bersih untuk menjalankan semua aktifitasnya. Aktifitas-aktifitas manusia yang menggunakan air ini ada yang menghasilkan uang. Selain untuk mencuci dan membersihkan diri, air juga dipakai untuk mengolah semua bahan yang akan di jual kembali ke orang lain.

Dengan demikian tak berlebihan kiranya kalau Allah mengatakan bahwa hujan adalah rahmat yang besar. Karena air ternyata dibutuhkan di semua sisi kehidupan. Baik manusia, tumbuhan maupun binatang-binatang yang banyak memanfaatkan tumbuhnya tanaman untuk makan mereka sehari-hari. Juga untuk minum dan berkubang sebagian binatang guna menghindari panasnya sinar matahari.

Sikap kita terhadap diri hujan ini lebih banyak berorientasi pada kepentingan diri pribadi kita. Dari mulai minum, mandi, cuci, memasak, usaha kecil kita sampai pada usaha industri berskala besar semua menjadi kepentingan utama. Sedang pesan yang dibawa oleh hujan agar manusia lebih banyak bersyukur dengan kedatangan rahmat berupa hujan justru lebih banyak di abaikan.

Tanda-tanda bahwa Allah yang membuat dan memerintahkan hujan untuk turun di bumi yang kita tempati ini tak pernah terlintas pada pikiran kita. Yang kita yakini adalah hujan akan turun pada saat musim hujan tiba. Dan hujan akan berhenti pada saat musim kemarau tiba. Bagaimana terhindar dari luapan air dan bagaimana mendapatkan air di saat musim kemarau selalu menjadi fokus pikiran kita.

Sedang air hujan yang telah membuat segala sesuatunya bisa berjalan normal dianggap suatu hal yang biasa. Kita tidak menyadari kalau turunnya hujan adalah untuk memberikan pemahaman pada kita agar manusia bisa melanjutkan umur yang sudah ditentukan ajalnya. Agar manusia bisa meneruskan ikut dalam ujian sampai saat-saat terakhir hidupnya. Agar manusia ingat, bahwa saat-saat hidupnya adalah sebuah ujian yang tidak bisa dianggap main-main.

Pesan yang lain dari air hujan adalah agar manusia lebih serius dalam menghadapi ujian hidup. Karena yang dibutuhkan manusia sebenarnya adalah “nilai” kelulusan. Bukan “ijazah” dengan nilai yang pas-pasan. “Nilai” menunjukkan kualitas kelulusan. Jika bisa meraih nilai yang tinggi kemungkinan akan mendapatkan “Ijazah” dengan predikat “mutaqqin”. Yang demikianlah yang sebenarnya dibutuhkan manusia.

Juga sebuah peringatan agar manusia tidak terlena dengan apa yang telah diperbuat dan diperolehnya selama musim kemarau. Hujan memberikan peringatan bahwa Allah masih ada dan eksis. Allah memberikan bukti kekuasanya dengan turunnya hujan. Dan Allah juga memberikan perumpamaan sebuah kebangkitan dengan menghidupkan bumi yang telah mati atau tandus. Menghidupkan tumbuhan dan hewan dari sebuah kematian. Memberikan rezki dengan buah-buahan yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia.

Dan hujan memberitahukan kepada segenap manusia di muka bumi bahwa berita tentang kebangkitan sesudah mati kita adalah benar. Dan yang demikian bukanlah perkara yang sulit bagi Allah. Terbukti hanya dengan menurunkan air hujan di permukaan bumi, semua makhluk bisa muncul, hidup dan tumbuh dengan pasti. Dan yang harus di ingat pula bahwa Allah akan mengadili manusia kelak di hari penghisaban. Yaitu sebuah hari dimana hanya Allah yang mengetahui kapan datangnya. Dan sebuah hari dimana semua makhluk akan datang kepadaNya tanpa ada satupun kata untuk membantah lagi.

Mudah-mudahan hujan bisa mengingatkan kita akan kuasanya Allah dalam membangkitkan diri kita sesudah kematian merenggut nyawa, yang begitu setia menemani kita dalam bersenang-senang selama hidup di dunia.


Sekian. Selengkapnya...

Jumat, 30 April 2010

Hujan, Tetesan Pencerahan.

Hujan, tetesan “pencerahan”.

Setiap tahun kita menjumpai musim hujan. Lamanya kira-kira 6 bulan atau setengah tahun. Bagi masyarakat pedesaan pikiran dan tenaga saat itu lebih banyak tercurah pada kegiatan bercocok tanam, berladang, mengatur aliran air. Atau kegiatan lain seperti menganyam tikar atau kesibukan lain yang bisa dikerjakan di dalam rumah. Lain lagi dengan masyarakat kota. Di musim hujan mereka lebih banyak disibukkan dengan payung, jas hujan, atap rumah yang bocor, cucian yang nggak kering, banjir di jalan-jalan kota sampai masalah kendaraan yang setiap hari harus di cuci karena gak “kober” resik.

Demikian selalu dalam setiap tahunnya. Hujan hanya mengatasi masalah kekeringan air. Selebihnya tak lebih dari gangguan atau hambatan bagi kegiatan kita. Bahkan mungkin juga bencana. Bagi masyarakat kota, selama air bersih pasokannya lancar selama itu pula kita tidak mengharapkan hujan berlangsung lama. Tetapi bagi masyarakat pedesaan datangnya hujan selalu ditunggu karena berkaitan dengan pekerjaan pertanian. Terutama untuk tanaman padi yang menjadi tumpuan masyarakat pedesaan.

Tapi apakah kita pernah berpikir, apa sih hujan itu ? Siapa yang membuat hujan ? Kapan hujan harus turun ? Dan dimana saja hujan harus turun ? Mengapa harus ada hujan ? Dan bagaimana proses terjadinya hujan ? Semua jawaban pertanyaan itu harus kita ketahui. Sehingga nantinya kita bisa mempersepsi tentang “hujan” dengan sebuah fakta tentang “kebenaran” makna sebuah ciptaan dan kehendak yang datangnya dari Allah swt..

Apakah “hujan” itu ?

Hujan adalah butiran-butiran dalam bentuk kristal es atau air yang terbentuk karena proses kondensasi yang kemudian jatuh ke permukaan bumi akibat gaya grafitasi. Yang turunnya kadang ditunggu, kadang juga dibenci. Turun sedikit dinanti-nanti. Turun berlebih dimaki-maki. Itulah “hujan”.

Siapakah yang membuat hujan ?

QS. Ibrahim : 32.

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً ….....﴿٣٢﴾
“Allahul ladzii khalaqas samaawaati wal ardha wa anjala minas samaa`i maa`an,...”

”Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, ….....”

QS. Al Baqarah : 22.

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً ,...﴿٢٢﴾
”Alladzii ja`ala lakumul ardha firaasyan was samaa`a binaa`an wa anjala minas samaa`i maa`an,...”

”Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, …....”

QS. Ar Ruum : 48.

اللَّهُ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَيَبْسُطُهُ فِي السَّمَاءِ كَيْفَ يَشَاءُ وَيَجْعَلُهُ كِسَفًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ ۖ فَإِذَا أَصَابَ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ﴿٤٨﴾
”Allahul ladzii yursilur riyaaha fatusyiiru sahaaban fayabsuthuhu fiis samaa`i kaifa yasyaa`u wa yaj`aluhu kisafan fataral wadqa yakhruju min khilaalihi, fa`idzaa ashaaba bihi man yasyaa`u min `ibaadihi `idzaa hum yastabsyiruuna”

”Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira”.

QS. An Nuur : 43.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ جِبَالٍ فِيهَا مِنْ بَرَدٍ فَيُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَصْرِفُهُ عَنْ مَنْ يَشَاءُ ۖ يَكَادُ سَنَا بَرْقِهِ يَذْهَبُ بِالْأَبْصَارِ﴿٤٣﴾
”Alam tara annallaha yuzjii sahaaban tsumma yu`allifu bainahu tsumma yaj`aluhu rukaaman fataral wadqa yakhruju min khilaalihi wayunazzilu minas samaa`i min jibaalin fiihaa min baradin fayushiibu bihi man yasyaa`u wa yashrifuhu `an man yasyaa`u, yakaadu sanaa barqihi yadzhabu bil abshaari”

”Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan”.

Beberapa ayat di atas hanyalah sebagian dari banyak ayat yang menginformasikan kalau yang menurunkan hujan adalah Allah. Allahlah yang mengatur proses terjadinya hujan dengan memerintahkan dari masing-masing diri air, awan dan angin untuk berproses demi kepentingan yang lebih besar, yaitu kehidupan.

Bisakah manusia membuat hujan ? Tidak bisa ! Memang ada istilah hujan buatan. Tapi masih memanfaatkan bahan atau material yang sudah ada di atas berupa awan. Awan atau bibit-bibit awan harus memililik kandungan air yang cukup, melayang atau terbang dengan kecepatan angin yang rendah. Caranya dengan menaburkan garam khusus yang halus dalam jumlah banyak untuk mempercepat terbentuknya awan jenuh. Awan jenuh kemudian jatuh ke daratan berupa butiran-butiran hujan.

Awan itu sendiri bukanlah buatan manusia. Awan adalah air yang mengubah dirinya menjadi uap (gas) untuk berdiam di angkasa. Kemudian terbang dengan “kendaraan” angin untuk menuju ke daerah tertentu. Selama dalam perjalanan itu mereka bergandeng dan bersatu dengan sesamanya untuk membentuk butiran-butiran air. Tujuannya adalah agar bisa kembali turun ke bawah dan bisa dimanfaatkan oleh makhluk yang ada di daratan.

Apakah kita pernah berfikir kalau apa yang ada di alam ini tidak mempunyai kehendak ? Kalau kita berfikir demikian berarti perlu untuk meneliti dan menelaah kembali anggapan kita tersebut. Alam ini hidup dan mempunyai kehendak. Bumi berputar karena bumi hidup. Jika bumi berhenti berputar, maka semua yang hidup di bumi akan mati. Bumi hidup, dan berkehendak untuk mempertahankan hidupnya. Maka bumi bergerak untuk menunjukan bahwa dirinya adalah makhluk hidup dan mempunyai kehendak.

Sebagai makhluk, bumi dan segala yang ada di dalamnya juga bertasbih kepada Allah, sebagai Pencipta semua yang ada di alam semesta. Anda bisa membaca Al Qur`an surat Al Hadiid, Al Hasyr, Ash Shaff, Al Jumu`ah, At Taghaabun. Awal dari surat-surat menginformasikan bahwa semua yang ada di langit dan bumi dan diantara keduanya bertasbih kepada Allah.

Dan kehendak dari air, angin dan bumi yang menarik titik hujan dari angkasa menuju permukaan dirinya adalah atas perintah Allah. Adakah selain dari Allah yang sanggup memerintahkan kepada mereka semua ? Tidak ada. Karena mereka hanya tunduk kepada perintah Allah. Karena mereka mempunyai keyakinan bahwa hanya perintah Allah yang mengandung “kebenaran”.

Jadi siapakah yang membuat hujan ? Jawabannya adalah, Allah swt. Bukan yang lain. Apalagi manusia. Manusia tidak membuat hujan. Manusia hanya tergesa-gesa mengambil “jatah” hujan. Minimnya kesabaran manusia dalam menghadapi cobaan Allah yang mengakibatkan manusia tidak sabar untuk merampas “jatah” hujan yang seharusnya bukan untuk wilayahnya. Tapi usaha manusia ini kadang juga sia-sia karena hujan buatan yang akan turun kadang justru turun di wilayah yang tidak di kehendaki. Sedangkan wiyahnya sendiri tetap dalam kekeringan. Hanya Allah yang mempunyai kuasa untuk mengaturnya.

Kapan hujan akan turun ?

Penyebab turunnya hujan ada beberapa macam. Tetapi kalau di negara kita turunnya hujan akibat adanya atau terjadinya angin musim. Hujan di negara kita terjadi antara bulan Oktober sampai dengan bulan April. Dan di daerah asia yang lainnya. Asia timur misalnya, hujan turun antara bulan Mei sampai dengan bulan Agustus.

Dimana hujan akan turun ?

Hujan akan turun di tempat-tempat yang membutuhkan air. Dengan berbagai sebab yang mengakibatkan hujan akan turun. Misalnya karena suhu udara yang panas disertai dengan angin turbulen. Akibat pertemuan dua angin yaitu angin pasat timur laut dan angin pasat tenggara yang menyebabkan terjadinya gumpalan awan jenuh dan mengakibatkan turunnya hujan.

Atau akibat pertemuan dari massa udara dingin dengan massa udara panas. Karena lebih berat, massa udara dingin ini berada di bawah yang mengakibatkan turunnya hujan lebat. Juga uap air yang naik ke daerah pegunungan, kemudian terjadi proses kondensasi dan turunlah hujan disekitar pegunungan tersebut.

Tetapi perhatikan juga informasi yang kita dapatkan dalam Al Qur`an ,

QS. Al A`raaf : 57.

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ ,.....﴿٥٧﴾
“Wahuwal ladzii yursilur riyaaha busran baina yadai rahmatihi, hatta idzaa aqallat sahaaban tsiqaalan suqnaahu libaladin maiyitin fa`anjalnaa bihil maa`a,...”

”Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, …..”

QS. Al Furqaan : 50.
وَلَقَدْ صَرَّفْنَاهُ بَيْنَهُمْ لِيَذَّكَّرُوا فَأَبَىٰ أَكْثَرُ النَّاسِ إِلَّا كُفُورًا﴿٥٠﴾
“Wa laqad sharrafnaahu bainahum liyadz dzakkaruu fa`abaa aktsarun nasi `illa kufuuran”

”Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu diantara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (dari padanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat).

QS. Al; Faathir : 9.

وَاللَّهُ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَسُقْنَاهُ إِلَىٰ بَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَحْيَيْنَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ كَذَٰلِكَ النُّشُورُ﴿٩﴾
”Wallahul ladzii arsalar riyaaha fatusyiiru sahaban fasuqnaahu `ilaa baladin maiyitin fa`ahyainaa bihil ardha ba`da mautihaa. Kadzaalikan nusyuuru”

”Dan Allah, Dialah Yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu kesuatu negeri yang mati lalu Kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu.

Allahlah yang menghalau awan ke suatu tempat. Suatu tempat yang dikatakan telah mati atau pengertian kita tanah yang tandus untuk kemudian Allah turunkan air untuk menghidupkan segala sesuatu di tempat tersebut. Dan ayat ini juga memberikan pengertian kepada kita untuk meyakini akan kebenaran “kebangkitan” sesudah mati.

Dan Allah juga mengatur dimana hujan akan turun. Antara daerah satu dengan daerah yang lain sudah ada waktunya sendiri-sendiri. Hal ini tak lain adalah untuk memberikan keadilan bagi seluruh makhluk yang ada di muka bumi. Dan demi kelangsungan kehidupan makhluk itu sendiri. Banyak sedikitnya hujan yang turun di suatu daerah sudah ada takarannya masing-masing. Secara logika seharusnya setiap daerah bisa menyerap dan menyimpan banyaknya curah hujan yang turun. Tetapi ulah manusia yang merusak banyak “kantong-kantong” penyimpan air menyebabkan air bisa berubah menjadi bencana yang tak terhindarkan.

Bergilirnya hujan dari satu tempat ke tempat yang lain harusnya menjadi pelajaran bagi manusia. Bahwa hal itu adalah sebuah “kesengajaan” agar bumi tetap hidup. Jika bumi hidup maka makhluk yang ada di atas bumi akan terjamin kehidupannya. Dan jika hujan hanya turun di satu tempat sepanjang tahun, maka bisa dipastikan, satu tempat dibumi akan mengalami kekeringan yang luar biasa yang tidak ada satu makhlukpun yang akan bisa bertahan hidup. Dan satu tempat yang lain akan mengalami bencana banjir yang juga luar biasa, yang bisa dipastikan akan menghentikan semua kegiatan manusia. Dan manusia akan sibuk dengan keselamatan dirinya sendiri. Yang pada akhirnya manusia akan menyusul makhluk-makhluk lain yang lebih dulu menyerah terhadap kehendak alam.

Bagaimana proses terjadinya “hujan” ?

Syarat-syarat terjadinya hujan adalah adanya udara yang naik dengan membawa kandungan uap air (gas/vapor). Uap air yang panas ini kemudian berubah dingin. Dan terjadilah proses kondensasi, yaitu berubahnya uap air dari gas menjadi cair. Bila suhu udara mencapai dibawah titik beku, maka butiran air akan menjadi butiran atau kristal es.

Butiran-butiran air yang semula kecil makin membesar akibat dari peristiwa kondensasi yaitu menyatunya molekul air selama terbawa oleh turbulensi udara. Kemudian butiran-butiran air itu tak kuasa menahan adanya grafitasi bumi lalu jatuhlah butiran-butiran tersebut ke bawah. Selama dalam perjalanan jatuhnya butiran-butiran air itu mengalami evaporasi karena aliran udara turbulen. Butiran yang tadinya besar berubah mengecil akibat terpisahnya partikel partikel pembentuknya menjadi aerosol.

Proses tersebut terjadi berulang-ulang selama jutaan tahun. Dan kita menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa. Sesuatu yang alamiah. Yang tidak perlu untuk di perdebatkan tentang kejadian dan manfaatnya karena sudah jelas prosesnya dan kegunaannya. Memang diantara manusia kebanyakan hanya berorientasi terhadap sesuatu mengenai ada dan kegunaannya saja. Tanpa harus tahu apa makna dari pesan yang dibawa oleh sesuatu tersebut.

Kita mempercayai secara tekstual bahwa tidak sia-sia segala sesuatu di alam ini tercipta. Tetapi jika ditanya apa makna dari pesan yang disampaikan dari sesuatu tersebut, kebanyakan dari kita akan menggelengkan kepala alias tidak tahu. Inilah kelemahan utama kita. Tidak mau susah atau repot. Yang melekat erat pada dari kita adalah kata “Pokok”. Pokok “urip”, pokok sehat, pokok “mangan”, pokok sekolah, pokok sembahyang, pokok “nang masjid” dan banyak “pokok” lain.

Yang kebanyakan tidak kita inginkan adalah pokok “mati”. Kita ingin mati kita di usia tua, tanpa rasa sakit, tidak mati dibunuh orang, tidak mati tertabrak truck, tidak “mendelik”, tidak “melet” dan lain lain. Tapi sebelum mati tidak pernah terlintas bagaimana usaha untuk tidak mati dalam keadaan “menggenaskan” tersebut.

Kita tidak menghendaki “proses”. Apalagi yang berbelit-belit. Kita lebih senang jika segala sesuatunya mirip-mirip dengan ilmu “sihir”. Tiba-tiba ada, ujug-ujug muncul, langsung “jadi”. Yang tidak kita kehendaki adalah langsung “mati”. Karena kebanyakan dari kita tidak menghendaki ada “mati” dalam sebuah kehidupan. Apalagi menyangkut diri kita.

Demikianlah, segala sesuatu ada prosesnya. Ada ilmunya. Jika kita bersikap tidak perduli dengan ilmu maka kita akan jadi MPP Alias, Manusia Plonga-Plongo. Alias tidak mengerti apa-apa. Bisanya cuma makan dan kenyang. Seperti sebuah tong sampah yang bisa bicara dan berjalan sendiri.

Mengapa harus ada hujan ?

“Cerah” dan “hujan” ibarat dua permukaan mata uang di satu keping atau lembaran. Yang keduanya tidak akan pernah dapat di pisahkan. Jika kita menemukan salah satu dari keduanya terpisah. Pasti, di situ kita menemukan sebuah “kepalsuan”. Demikian juga hujan. Jika hujan “tidak” harus ada, berarti “cerah” yang ada di sekitar bumi yang kita tempati ini adalah sebuah “kepalsuan”. Karena Allah menciptakan segala sesuatu di alam ini dalam keadaan berpasangan. Tidak terkecuali hujan dan cerah. Hujan harus turun karena bumi kita masih “hidup”. Dan hujan harus turun karena kehidupan harus berlangsung.

Air adalah “darah” bumi. Laut atau samudra adalah jantung kehidupan. Yang “memompa”, “mencuci” dan “mendistribusikan” ke setiap tempat yang membutuhkan. Hujan adalah “darah bersih” yang dialokasikan ke setiap bagian dari bumi dengan sistem distribusi yang paling canggih di alam ini. Dan kita ?

Kita adalah khalifatul ardh. Kita adalah “pemimpin” di muka bumi. Kita adalah “parasit” bumi. Tapi, kebanyakan kita justru menempatkan diri sebagai “benalu”. Sebuah “parasit” yang banyak merugikan diri bumi. Yang tidak banyak bermanfaat untuk kelangsungan hidup bumi. Hanya menyerap. Dan menghisap sari-sari makanan yang tersedia. Untuk kepentingan dirinya sendiri. Tak perduli dengan yang lain.

Dan kita semua tahu, “benalu” bukanlah “anggrek”. Benalu akan tertebang dan menempati tong sampah untuk kemudian di bakar di panasnya api. Tapi “anggrek” akan selamat. Akan diselamatkan. Dan akan dipelihara olehNya sampai titik “ajal”nya. Untuk kemudian berpindah di kehidupan yang lain dan menempati sebuah taman yang sangat indah. Yang jauh lebih indah dari tempat asalnya.

Lantas, siapakah diri kita yang sebenarnya ? “Anggrek”-kah ? Atau justru “benalu” ?

Selain Allah swt yang telah menciptakan kita, hanya kita sendirilah yang tahu siapa sebenarnya diri kita. Anggrek,......benalu,.......anggrek,........benalu,.......anggrek,.......benalu........”Benaluuuuuu”,.........!

Benar ! Kita ibarat be,......na,......luuuuuu. Selengkapnya...

Kamis, 29 April 2010

Laut, Sebuah Pelajaran Hidup

Laut, sebuah pelajaran hidup.

Pernahkah anda ke laut atau ke pantai ? Jika belum pernah, anda perlu untuk mencoba melangkahkan kaki anda ke laut atau ke tepi pantai. Sendirian atau dengan keluarga. Cuma kalau dengan keluarga kepentingan kita untuk datang ke pantai atau laut hanya terbatas pada keinginan untuk menikmati keindahnya saja. Jarang sekali mereka yang datang ke laut atau pantai memperoleh sebuah kesan yang sebenarnya menyampaikan sebuah pesan kepada kita.

Sebuah pesan yang mengisyaratkan kepada setiap orang yang bisa melihat, yang bisa merasakan, yang bisa memahami akan kebenaran adanya suatu dzat yang mencipta dan mengatur semua yang ada di alam ini. Bahwa Allah itu benar adanya. Semua yang ada di sekitar kita baik yang terlihat atau yang tidak terlihat oleh mata kita adalah benar ciptaanNya. Dan semua informasi yang ada di dalam Al Qur`an adalah benar. Baik berupa perintah maupun berupa larangan. Dan kita wajib untuk mentaatinya secara mutlak.

Jika anda merasa pernah atau bahkan sering mengunjungi pantai, adakah pernah anda berpikir. Mengapa air laut rasanya asin ? Kenapa terlihat berwarna biru ? Mengapa pula berombak ? Mengapa air laut itu kadang pasang kadang surut ?

Air laut asin dikarenakan proses pelapukan batuan-batuan yang ada di bumi yang terbawa oleh air hujan yang turun ke bumi menuju ke laut. Hujan sendiri terjadi akibat dari menguapnya air laut karena panas matahari yang menembus atmosfer. Kemudian turun atau jatuh di daratan dan membawa material garam yang ada di batuan-batuan menuju ke laut. Hal ini berlangsung selama milyaran tahun hingga saat ini. Proses ini tidak berjalan dengan sendirinya. Semua diatur dan diperintah oleh Allah.

QS. Faathir : 9.

وَاللَّهُ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَسُقْنَاهُ إِلَىٰ بَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَحْيَيْنَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ كَذَٰلِكَ النُّشُورُ﴿٩﴾
”Wallahul ladzii arsalar riyaaha fatusyiiru sahaaban fasuqnaahu `ilaa baladin mayyitin fa`ahyainaa bihil ardha ba`da mautihaa kadzaalikan nusyuuru”

”Dan Allah, Dialah Yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu kesuatu negeri yang mati lalu Kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu”.

Hujan turun di suatu tempat adalah perintah Allah. Untuk menghidupkan kembali tanah yang mati atau kering dan tidak bermanfaat bagi manusia. Dari proses penguapan air laut sampai turun di suatu tempat dan kembali laut adalah sebuah kesengajaan. Air yang tadinya asin di “angkat” kemudian diturunkan dalam keadaan tawar. Dan disaring lagi dalam tanah untuk kemudian dikonsumsi manusia dalam keadaan bersih. Dan dikembalikan lagi ke laut melalui sungai dalam keadaan kotor. Kemudian di proses lagi. Demikian berlangsung jutaan tahun.

Ayat diatas menginformasikan kepada kita bahwa Allah benar-benar akan membangkitkan mereka yang sudah mati. Seperti dengan mudahnya Allah menghidupkan tanah yang mati atau tandus. Setelah “disiram” dengan air hujan, maka semua makhluk bisa hidup disana. Termasuk binatang dan tanaman.

Lantas kenapa berwarna biru ?
Warna biru disebabkan panjang gelombang cahaya matahari yang masuk ke atmosfer bumi mulai mengecil dan panjang gelombangnya sama dengan panjang gelombang warna biru sehingga secara keseluruhan bagian dari bumi terlihat berwarna biru. Maka dari itu planet bumi juga disebut planet biru.

Bagaimana pula terjadinya ombak di pantai ?
Ombak adalah gelombang yang ada dan terjadi di permukaan laut. Terjadi karena beberapa sebab. Diantaranya adalah hembusan angin dan juga di karenakan adanya atau terjadinya pasang surut akibat dari gravitasi bulan dan matahari. Bisa juga disebabkan karena gerakan-gerakan yang terjadi di dalam laut. Seperti aktifitas gunung berapi dalam laut.

Bagaimana terjadinya pasang surut air laut dan apa manfaatnya bagi manusia ?
Peristiwa terjadinya pasang surut air laut adalah karena gaya tarik dari bulan dan matahari. Keduanya sama-sama mempunyai pengaruh pada pasang surut air laut di permukaan bumi. Pasang naik tertinggi bisa terjadi di satu tempat di bumi apabila antara bumi, bulan dan matahari berada dalam satu garis. Yaitu pada saat bulan purnama. Dan pasang naik terendah air laut bisa terjadi jika antara bumi, bulan dan matahari membentuk posisi garis tegak lurus. Yaitu pada saat bulan terlihat seperempat bagian.

Uraian diatas adalah uraian ilmiah dari sebuah proses alam. Semua yang pernah terjadi dan sedang terjadi saat ini adalah sebuah uraian ayat-ayat atau tanda-tanda tentang eksistensinya Allah swt. Bahwa Allah itu benar adanya, dan sedang mengatur semua rangkaian gerak atau proses yang terjadi di alam semesta ini. Hanya kita saja yang tidak pernah mau memahami gerakan alam.

Semua gerakan alam ini mempunyai maksud dan tujuan yang jelas. Dan semua gerakan alam itu menunjukkan bahwa alam ini bukan benda mati. Mereka semua dalam keadaan hidup dan sedang bertasbih kepada Allah. Ada beberapa ayat yang menjelaskan kalau semua yang ada di langit dan di bumi ini bertasbih kepada Allah. Demikian juga dengan bulan dan bumi yang kita tempati ini.

Coba simak, apa yang bisa diambil manfaatnya bagi manusia dengan terjadinya pasang surut air laut.
Pada saat air pasang nelayan bisa membawa perahunya ke tengah laut dan mengambil apa saja yang ada di dalamya. Terutama ikan. Dan hasil tangkapan nelayan ini bisa untuk menghidupi para nelayan dengan seluruh keluarganya. Perhatikan apakah ini sebuah ketidaksengajaan ? Nelayan pantai tidak akan pernah sampai ke tengah laut jika tidak di jemput oleh laut itu sendiri. Demikian juga nelayan tidak akan bisa kembali ke daratan tanpa diantar oleh laut dengan pasangnya air. Dan air laut tidak akan pasang kalau Allah tidak memerintahkannya.

Pasangnya air laut juga digunakan untuk meluncurkan kapal-kapal besar yang telah selesai diproduksi atau diperbaiki. Dengan jalan memanfaatkan air pasang untuk mengangkat dan menempatkan kapal diatas dok dan meluncurkannya kembali pada saat air pasang juga. Pasang surut air laut Juga bermanfaat bagi pekerjaan konstruksi di daerah pantai atau tepi laut. Mereka bekerja di waktu air surut dan mengakhiri pekerjaan di waktu air pasang.

Pasangnya air laut juga membawa ikan-ikan untuk turut mencari makan di laut dangkal. Dan para pencari ikan yang tidak mempunyai perahupun bisa juga mencari ikan pada saat air mulai pasang. Dengan cara mengail, menjala atau mungkin memasang perangkap untuk kemudian diambil pada saat air mulai surut. Apakah ini bukan merupakan suatu keadilan bagi manusia ?

Jika dibelahan bumi terjadi pasang naik maka dibelahan bumi yang lain akan mengalami pasang surut. Disaat air surut para istri nelayan yang tinggal di rumah bisa memanfaatkan waktu untuk mencari kerang yang hidup di lubang-lubang kecil di pasir laut yang terhampar. Dengan rangsangan air kapur (apu atau enjet : jawa) mereka bisa memaksa keluar “Lorjuk” yang harga di pasaran per kilonya cukup tinggi. Disamping binatang-binatang laut lain seperti yang banyak kita jumpai di pasar-pasar tradisional di tepi pantai.

Setelah beberapa saat berlalu air kembali pasang naik dan menggenangi daratan pantai. Untuk apa ? Mengantarkan kembali nelayan yang sebelumnya berangkat melaut. Dan periode ini sudah diatur sedemikian rupa hingga tangkapan para nelayan bisa sampai ke pasar dan pembeli masih dalam keadaan segar. Dan itu berlangsung setiap hari. Dan terjadi di kedua belahan bumi secara bergantian.

Apakah itu bukan suatu keadilan bagi manusia ? Apakah semua peristiwa itu berjalan dengan sendirinya ? Tidak ! Mereka semua bergerak menuruti perintah Allah. Semua yang ada di bumi ini adalah makhluk dan semua dari mereka tunduk dan patuh pada perintah Allah. Tidak pernah membantah. Kecuali manusia. Manusia sering membantah apa-apa yang diperintahkan oleh Allah. Walaupun sudah di bekali dengan akal tetap saja manusia banyak yang menyangkal tentang semua “kebenaran” alam tersebut.

Laut menyimpan banyak pelajaran bagi manusia. Ikan yang ada di dalamnya tidak pernah terasa asin dagingnya apabila ikan tersebut belum menjadi bangkai yang kering. Hal itu disebabkan ikan tidak pernah terpengaruh dengan asinnya air laut. Garam itu nikmat rasanya dan dibutuhkan oleh manusia. Jika sebuah masakan tidak di bubuhi garam rasanya “anyep” atau “hambar” dan tidak mengundang selera makan. Harus di tambahkan garam untuk mengolah setiap masakan supaya lebih nikmat rasanya. Tapi kebanyakan garam juga bisa menyebabkan celaka bagi manusia.

Ikan asin adalah ikan yang di keringkan dibawah terik matahari setelah melalui proses penggaraman. Keberadaan ikan yang diasinkan tersebut masih sangat di butuhkan oleh manusia, terutama untuk masyarakat bawah yang tidak mempunyai kemampuan untuk membeli ikan segar. Dan mereka membutuhkan “asin”nya ikan ini untuk membuat makan mereka menjadi lezat. Tetapi ada juga ikan asin yang mahal harganya. Yaitu untuk jenis ikan-ikan tertentu yang di “asin”kan.

Pelajaran yang bisa diambil dari ikan ini adalah walaupun hidup di air garam, sama sekali tidak membuat tubuh ikan terkontaminasi dengan “asin”nya garam. Demikian juga manusia. Harusnya tidak terlalu mengutamakan “keduniaan” walaupun manusia hidup di dunia dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya. Seharusnya manusia lebih berorientasi pada kehidupan setelah dunia yaitu kehidupan akhirat. Tidak terlena dengan kenikmatan-kenikmatan dan gemerlapnya kehidupan dunia. Itulah yang harusnya dipahami dari sebuah tangkapan seekor ikan dari lautan.

Lantas pelajaran apa yang bisa diambil dari keberadaan laut ? Coba saja kita simak. Laut “bersedia” menyimpan apa yang di butuhkan manusia. Laut yang begitu kaya, menyediakan dirinya untuk menjadi “gudang” atau “lumbung” makanan dan kekayaan materi bagi manusia. Airnya juga bisa dimanfaatkan untuk mengerakkan turbin-turbin uap untuk menghasilkan energi listrik yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Di daerah pesisir petani memanfaatkan air laut untuk memproduksi garam “krosok” dengan jalan ditampung dan di uapkan di tanah yang rata dan halus.

Laut bersedia menjadi jalan sekaligus mengantarkan manusia dari tepi ke tengah dan dari tengah ke tepi dengan bantuan angin yang mendorong layar-layar perahu nelayan. Laut bersedia menguapkan dirinya untuk kemudian tinggal di angkasa berupa awan dan rela untuk dibawa ke suatu tempat yang telah di tentukan. Kemudian menjatuhkan dirinya berupa butiran-butiran air yang tidak berbahaya bagi manusia di bawahnya.

Jatuhnya butir-butir air itu tak lain hanyalah untuk memberikan kehidupan makhluk yang ada di bawahnya. Bayangkan jika jatuhnya berupa bongkahan-bongkahan es batu. Pasti akan banyak jatuh korban dan mungkin manusia tidak akan bisa berkembang biak sebanyak sekarang ini. Bukankah ini sesuatu yang sudah diatur sedemikian rupa untuk kehidupan manusia ? Tapi banyak manusia yang “cuek” dan tidak mau tahu kalau dirinya diberi kehidupan, dilindungi, diberi rejeki yang demikian besar oleh Allah.

Belum lagi “keikhlasan”nya dalam menerima semua kotoran yang datang dari daratan akibat ulah manusia. Dengan seenaknya manusia membuang sampah di sungai. Kemudian sungai mengangkut sampah tersebut ke laut. Dan laut menerima dengan ikhlas sampah-sampah tersebut. Tapi laut harus “bersih”. Karena hanya yang baik dan bersih yang patut di persembahkan untuk kehidupan. Kotoran-kotoran yang masuk akan dilemparkan kembali ke tepi atau ke daratan setelah “dicuci” bersih untuk kemudian ditinggalkan pada saat air surut.

Sampai disini kita bisa menyimpulkan, betapa laut sangat berguna bagi kehidupan. Begitu Ikhlas mengorbankan diri untuk menguap menjadi awan dan kemudian turun untuk membasahi tempat-tempat yang membutuhkan serta rela menerima apapun yang dibuang ke laut oleh manusia. Begitu tulus laut mengabdi untuk kehidupan ini. Seakan memberikan contoh atau suri tauladan bagi manusia bagaimana seharusnya hidup.

Menghamba hanya kepada Allah, bersedia berkorban untuk makhluk atau manusia lain. Selalu membersihkan diri dari kotoran atau perbuatan dosa. Bersedia untuk selalu menolong manusia lain seperti laut membawa perahu atau kapal berlayar. Kesimpulannya adalah keberadaan laut sangat berguna atau bermanfaat bagi manusia dan makhluk-makhluk Allah yang lain. Begitulah seharusnya hidup. Dan Allah memberikan banyak sekali tanda-tanda dan contoh-contoh. Baik pada diri Rasulullah Sayyidina Muhammad saw maupun pada perilaku makhluk-makhluk Allah yang lain.

Mudah-mudahan luasnya laut dan indahnya pantai dapat menjadikan kita bisa memahami tentang kehidupan ini. Dan tidak segan-segan untuk mengambil pelajaran-pelajaran yang ada di dalamnya. Karena Allah tidak akan menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Pada semua ciptaanNya terdapat tanda-tanda dan pelajaran hidup yang sangat berharga bagi manusia.

sekian. Selengkapnya...

Jumat, 23 April 2010

Haruskah kita Meminta.

Haruskah kita meminta ?

Di tulisan sebelumnya saya mencoba sedikit mengupas masalah “pengemis”. Ada seseorang yang memang seharusnya meminta-minta dan ada pula dari mereka yang tidak seharusnya meminta-minta. Tapi kemudahan untuk mengumpulkan uang receh dengan hanya menjadi “pengemis” ini telah pula merangsang mereka yang seharusnya berusaha secara normal untuk ikut terjun di dalamnya.

Diantara mereka yang melibatkan diri dalam dunia “peminta-minta” itu ada yang bekerja secara sendiri-sendiri ada pula yang bekerja secara kelompok. Mereka ada yang mengkoordinir. Dengan alasan untuk kepentingan pembangunan masjid atau pondok pesantren atau yayasan pengasuh Yatim Piatu. Mereka rela untuk berjalan jauh dari tempat asal. Bahkan sejauh ratusan kilometer dari tempat asal.

Sekarang ini muncul banyak cara-cara pemungutan sumbangan dana. Misalnya yang sudah lama sekali berlangsung dan sampai sekarang masih berlangsung adalah praktik permintaan sumbangan di jalan-jalan raya. Dengan dalih untuk pembangunan masjid, sering kita jumpai permintaan sumbangan yang kadang justru membuat mecet jalanan dan membuat tidak nyaman pengguna jalan.

Meskipun model pemungutan sumbangan seperti itu pernah tidak di setujui oleh para ulama, tapi sampai saat ini masih saja ada yang melakukannya. Mereka bersikeras bahwa pemungutan sumbangan itu murni untuk pembangunan rumah ibadah. Mereka juga beranggapan dengan cara itu pembangunan akan lebih cepat selesai. Dan dengan cara itu pula mereka mencoba menggugah kemauan orang untuk bersedekah.

Yang tidak kita sadari adalah keterlibatan nama agama di dalamnya. Masjid identik dengan “rumah” Allah yang kalau diartikan adalah tempat beribadah sekumpulan orang-orang yang mengabdikan dirinya hanya kepada Allah. Allah tidak membutuhkan sedekah kita. Allah itu Maha Kaya. Kitalah yang membutuhkan Allah. Jadi seharusnya kitalah yang memberikan sedekah kepada mereka dengan kemauan sendiri. Bukan di minta ! Apalagi di jalan raya atau tempat-tempat umum.

Banyak alasan untuk membantah tentang “kebenaran” bahwa manusialah yang butuh Allah. Ada yang beralasan kita “menjemput bola” kok. Kita melayani mereka untuk bersedekah kok. Kita membantu untuk menyalurkan hasrat infaq mereka kok. Dan banyak lagi alasan-alasan lain untuk “pembenaran” apa yang telah dilakukannya.

Jika tidak membawa-bawa nama Allah atau nama agama Islam. Silakan saja mereka lakukan yang demikian. Tapi jika kita membawa nama Islam sebagai “penghipnotis” orang agar mau menyumbang hasrat kita, hal yang demikian sangat tidak bijaksana. Terlalu merendahkan nilai sebuah ajaran agama yang mengharuskan untuk berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan sesuatu sebelum memutuskan untuk “meminta-minta”.

Tidak bisakah kita untuk selalu berusaha mengajak umat untuk memenuhi kewajiban untuk berinfaq demi tegaknya agama Allah dan demi keselamatan diri kita sendiri ? Apakah meminta sumbangan dengan cara itu merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan dana pembangunan rumah Allah ? Tidakkah kita menyadari kalau cara tersebut lebih di dominasi oleh besarnya nafsu untuk tergesa-gesa agar pembangunan segera selesai ?

Dan tidakkah kita juga menyadari kalau-kalau dalam ketergesaan kita dipengaruhi oleh sesuatu yang menginginkan kita menempuh jalan yang justru bisa membuat kita “kewirangan” ? Sesungguhnya kita harus lebih bersemangat untuk melakukan pencerahan-pencerahan hati umat agar tidak segan untuk berinfaq demi agama dan demi diri umat sendiri. Toh yang demikian itu memang diperintahkan. Bahkan merupakan pilar perbuatan kebajikan.

Contoh lain adalah pemungutan sumbangan yang meng-atasnama-kan Islam. Yang cara memintanya dengan berkeliling ke tempat-tempat umum. Terutama di pasar-pasar tradisional. Mereka membawa rombongan yang masing-masing orang membawa kaleng-kaleng untuk di isi uang sedekah dari orang-orang yang di jumpainya. Dan di belakang mereka sebuah mobil station membututi langkah kaki para peminta sumbangan itu dengan mengumandangkan shalawat dan kata-kata yang bermakna minta sumbangan.

Ada lagi yang di “drop” di ujung jalan kampung lalu serombongan orang keluar menuju rumah-rumah sambil membawa map berisikan surat permintaan sumbangan. Kemudian satu per satu rumah dimasuki. Tak perduli itu rumahnya orang muslim atau rumah non muslim. Pernah saya tanya dari mana asalnya, mereka menjawab dari jawa tengah. Saya berpikir, jauh sekali orang-orang ini minta sumbangan. Alasan mereka untuk pondok pesantren.

Kadang saya juga berpikir, apa ya benar mereka meminta sumbangan untuk pondok pesantren sampai sedemikian jauh ratusan kilometer ? Kadang memang meragukan orang-orang ini. Sudah gitu membawa nama Islam lagi. Apa ya benar Islam membolehkan mencari dana dengan cara seperti itu ?

Setiap kali menghadapi orang-orang seperti itu selalu datang keraguan yang sama. Apa ya benar agama saya mengharuskan mencari dana sumbangan untuk pondok, pembangunan Masjid, untuk panti asuhan dengan cara demikian. Seakan-akan tidak ada lagi orang-orang Islam yang mau datang untuk menyumbangkan hartanya di jalan Allah.

Apakah orang-orang itu mengerti kalau cara-cara demikian itu justru membuat turunnya martabat umat Islam ? Apakah mereka juga tidak tahu kalau yang demikian itu justru menjadi bahan tertawaan umat di luar Islam ? Peran mereka dalam meminta sumbangan itu bisa di ibaratkan melepas satu per satu penutup aurat Islam. Satu hal yang sangat penting sekali adalah malu itu sebagian dari Iman. Jika sebagian umat Islam tanpa rasa malu lagi berani melakukan “minta-minta” sumbangan di tempat-tempat umum dan disaksikan oleh umat-umat beragama lain, maka pelan tapi pasti kredibilitas Islam sebagai agama yang kita anggap “benar” akan semakin terkikis.

Yang agak baru yang saya temui adalah “meminta” di Anjungan Tunai Mandiri atau ATM. Dengan alasan untuk panti asuhan mereka memberikan masing-masing orang yang akan masuk ke bilik ATM selembar amplop kosong ber-label Yayasan Yatim Piatu. Cara ini juga di pakai di bus-bus antar kota. Mereka ini berpakaian begitu rapi. Ada laki-laki ada juga yang perempuan. Tidak seperti umumnya orang yang meminta-minta mereka terlihat begitu berwibawa, sopan, bagus bicaranya. Tapi pada dasarnya mereka itu “meminta” sumbangan. Tidak berbeda dengan yang telah saya ceritakan di atas.

Mungkin mereka hendak meminta dengan cara “terhormat”. Dengan berpakaian rapi dan bersepatu. Berdiri di sebelah pintu bilik ATM. Atau di bus-bus antar kota. Membagikan amplop kosong. Berharap amplop diserahkan kembali sudah berisi uang. Tentunya uang kertas. Bukan uang “receh”. Tentunya juga berharap yang dimasukkan ke amplop adalah satu lembar atau lebih uang yang baru saja diambil dari “mesin” ATM. Jadi, paling tidak ya lima puluh ribuan.

Tapi apa ada ya yang mengisi amplop itu dengan uang lima puluh ribuan atau bahkan mungkin seratus ribuan. Kalau ada siapa ya yang akan menerima sumbangan tersebut ? Pernah saya tanya tentang jumlah karyawan yang terlibat dalam pemungutan sumbangan. Mereka menjawab tidak ada karyawan. Yang ada cuma relawan. Saya tidak tahu para relawan ini mendapat gaji apa benar-benar rela tidak digaji. Atau mungkin ada aturan-aturan tentang bagi hasil dari perolehan “minta-minta” tersebut.

Kalau sama sekali tidak mendapatkan “hasil” saya pribadi ya kurang percaya. Kenapa ? Sekarang ini siapa sih di negara ini yang bisa di percaya ? Negara kita ini mayoritas penduduknya beragama Islam. Tapi pribadi-pribadi yang tercetak justru telah menghasilkan” image” kalau negara ini penuh dengan koruptor. Bahkan menurut urutan, negara kita ada di daftar “atas” negara yang penuh dengan kasus korupsi. Para pejabatnya saja nggak bisa di percaya, apalagi mereka yang yang nggak jelas asal usulnya.

Orang boleh meminta kalau sudah dalam keadaan terpaksa. Itupun harus terbatas pada kebutuhan perut untuk hari itu saja. Untuk esok dia harus mengusahakannya lagi. Kalau alasannya menggalang dana untuk menghidupi anak yatim piatu, tidak adakah cara lain yang lebih terhormat dan lebih manusiawi ?

Sudah tidak adakah umat muslim yang perduli dengan perintah agamanya sendiri ? Hingga umat yang jumlahnya mayoritas ini harus dibuat “malu” dengan jalan “diminta” dengan disaksikan oleh umat-umat beragama lain ?

Banyak cara yang lebih arif untuk menggalang dana demi kepentingan anak yatim. Seperti yang sudah ada di Surabaya. Dengan bekerja sama dengan lembaga atau institusi pemerintah atau swasta. Setiap bulan para karyawan rela menyisihkan sebagian kecil penghasilannya untuk sedekah. Dengan imbalan informasi tentang dunia Islam melalui sebuah bulletin, sedikit demi sedikit dana akan terkumpul untuk yayasan. Dan cara ini lebih “Islami”. Karena ada faktor usaha untuk membuat sekumpulan berita tentang Islam dan dakwah Islam. Disini ada faktor “kerja” sebagai usaha untuk mendapatkan sesuatu.

Rasulullah pernah bersabda, “Demi Allah yang hidupku dalam genggamanNya, seseorang yang mengambil seutas tali kemudian mencari kayu bakar, lalu kayu tersebut diangkutnya di atas punggungnya, adalah lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada orang lain yang mungkin dia akan diberi atau di tolak”.

Harus ada sedikit “usaha”. Dan “usaha” inilah yang harus dimodifikasi bentuknya. Bukan cuma “tampilannya” saja yang dibuat perlente tapi essensinya tetap minta-minta. Dan cara ini juga kurang manusiawi, karena dengan menyodori amplop yang seharusnya diisi uang. Sementara orang lain melihat kronologis proses “minta-minta” tersebut. Cara ini seperti menembak sekaligus mempermalukan sasaran.

Bagaimana tidak, ajaran agama menganjurkan untuk tidak segan memberi pada mereka yang membutuhkan, tidak pelit. Sementara kita semua yang antri di depan ATM sudah mengetahui kalau pemberi amplop itu “minta” sumbangan. Mau menolak langsung di luar pintu kok “sawangan-ne” wong jelas-jelas mau ambil uang kok nggak mau dimintai sumbangan. Kok cik medhite, kata orang jawa. Mau diterima amplopnya tapi keluar ATM dikembalikan kosong kok ya “kebacut”. Wong yang terima amplop kembali bilang banyak terima kasih. Padahal amplope “kosong”. Kita yang mengalami jadi serba repot. Nggak dikasih terkesan “bakhil” dikasih justru menambah semangat mereka.

Dari segi agama memang tidak membolehkan untuk berpikir negatif. Mau memberi ya beri saja, nggak usah mikir yang macem-macem. Lakukan sesuatu yang baik dengan senang hati. Karena di “senang hati” ada keikhlasan. Jika memberi tapi disertai dengan rasa curiga, juga tak akan menghasilkan apa-apa buat yang memberi. Kalaupun di beri juga tidak akan menyelesaikan masalah. Mereka akan tetap terus meminta dan meminta lagi. Sepanjang hari, sepanjang minggu. Malah bisa-bisa sepanjang tahun.

Padahal sudah jelas, mereka itu tidak membawa nama sendiri. Mereka bersembunyi di balik pondok pesantren, yayasan anak yatim dan gerakan-gerakan sosial lainnya. Dan bagaimanapun kemasannya tetap saja essensinya adalah “meminta”. Yang sangat tidak dianjurkan oleh agama. Yang dianjurkan adalah “berusaha” untuk memenuhi kebutuhan kita. Jika memang tidak mampu lagi untuk berusaha, apa boleh buat. Minta lah walaupun hasilnya hanya cukup untuk mengganjal perut.

Tulisan ini hanya untuk memancing pembaca untuk berkomentar. Bagaimana seharusnya kita harus bersikap terhadap masalah seperti itu. Hasilnya adalah tergantung masing-masing diri kita. Mau langsung “kasih saja” “atau tidak usah dikasih” masing-masing ada konsekwensinya sendiri-sendiri. “Dikasih” berkesan baik tapi tidak tahu aliran dananya. Dan semakin membuat mereka bersemangat untuk meminta. Tidak dikasih, konsekwensinya adalah pandangan orang terhadap kita pada saat itu. Terkesan “medhit, pelit, kikir, bakhil” semua menyatu dalam diri kita.

Sekian. Selengkapnya...