Rabu, 25 Mei 2011

Damai Yang Terkoyak


Sebuah mimpi dalam indahnya kehidupan adalah kedamaian. Dimana ketenangan, kesederhanaan, kerukunan dan kepedulian terhadap alam bergerak bersama-sama dalam irama kehidupan yang kadang terasa indah kadang terasa mencekam. Indah, karena hati dan pikiran berjalan seiring dengan langkah alam yang tenang, pelan dan bersahabat. Dimana gerak dan langkah yang ringan berpadu dengan pandangan terhadap alam yang bebas tanpa halangan. Tegur dan sapa menghias dengan indahnya di setiap tatapan mata. Saling memberi dan menerima di setiap kebutuhan dan saling membantu disaat salah satu mendapatkan kesulitan.

Kedamaian akan terbentuk dalam kebersihan jiwa yang menyatu dengan lintasan alam. Berpadu dengan keinginan jiwa yang terbalut kesederhanaan dan tidak terkotori dengan ambisi-ambisi keduniaan. Sebuah kehidupan sederhana dengan ruh ketulusan yang berlalu diatas bumi yang selalu berputar dan berjalan tanpa ada cubitan atau lecutan-lecutan yang bisa menimbulkan goresan luka yang kadang begitu menyakitkan. Secercah kedamaian hidup yang hanya bisa kita rengkuh dengan pemahaman tentang kehidupan dan kepahaman tentang perasaan alam. Yang akhirnya bisa menumbuhkan perasaan bahwa hidup adalah sebuah perjalanan religi yang bertujuan untuk mencari dan mengumpulkan bekal untuk kehidupan hakiki dalam dekapan Rasulullah saw di sisi paling dekat dengan wujudnya Allah swt. Sayangnya, pemahaman tentang hidup dan perjalanan hidup bukanlah sebuah pilihan utama bagi insan yang hidup diatas putaran bumi yang sebenarnya juga hidup. Manusia cenderung untuk meninggalkan kehidupan dunia yang sebenarnya menuju ke kehidupan yang justru bernilai semu. Alam yang menjanjikan kedamaian hidup justru terabaikan dan bahkan jadi bulan-bulanan manusia. Bangunan-bangunan yang terbuat dari batu yang menjulang tinggi justru menjadikan sebuah kebanggaan dan kesombongan. Semakin banyak mengganti tanaman hijau dengan tanaman beton bertulang, semakin bangga diri manusia. Sementara semakin banyak bagian alam yang menjadi korban kompetisi menanam pohon batu yang sebenarnya hanya kebanggaan yang menipu pikiran dan perasaan kita.

Bukannya tidak boleh membangun istana batu, tetapi tumbuhnya banyak istana batu yang menjulang telah pula menumbuhkan banyak kemaksiatan. Sebuah perilaku yang bisa dikatakan selaras berjalan dengan tumbuhnya sifat-sifat sombong. Dimana rapatnya dinding batu telah melindungi semua perilaku didalamnya dari mata manusia. Ditambah lagi dengan gemerlapnya cahaya, gemulainya wanita dan gelimangnya harta yang ada di dalamnya telah membuat manusia benar-benar lupa akan jati dirinya. Jati diri manusia sebagai makhluk yang sedang menjalani proses belajar memahami hidup dan ujian-ujian yang ada di dalamnya. Ujian-ujian yang akan menjadi penentu dimana kelak hidup kita di kehidupan yang sebenarnya di kampung abadi yang bernama kampung akhirat.

Sementara kebanyakan manusia terlena dengan wujud nikmat dunia yang memperdayakan, mereka yang jauh dari keramaian dan berada di tempat yang sepi dan sunyi menjalani kehidupan dengan segala kesederhanaan yang ada. Dengan fasilitas yang serba terbatas manusia-manusia alam menjalani hidup dengan kesabaran dan “nrimo ing pandum”. Mereka menerima seberapapun rizki yang mereka dapatkan setiap harinya. Walaupun semua didapat dengan susah payah, tapi mereka tetap menyambut rizki yang merka peroleh dengan pujian kepada Allah swt. Mereka menyambut dengan ketaatan perintah menjalankan ibadah sebagai wujud rasa syukur atas kesempatan hidup dan nikmat di dunia. Tanpa rasa sombong, tanpa sikap iri dan dengki pada mereka yang hidup dengan gelimangnya harta di keramaian kota.

Tapi manusia tetaplah manusia. Kehendak yang diberikan pada tiap diri dan jiwanya telah membentuk sikap yang berbeda-beda. Sebagian menjadi pribadi yang taat beribadah, sebagian besar yang lain menjadi manusia yang ingkar dengan kenyataan hidup yang mereka jalani. Kalau bukan karena sayangnya Allah terhadap makhluk ciptaannya, niscaya akan musnah bangsa manusia. Dan Allah akan menggantinya dengan makhluk-makhluk ciptaan yang baru. Tetapi Allah adalah sebuah dzat yang maha benar dengan semua janjiNya. Manusia yang bagaimanapun besar menannggung dosa masih diberi kesempatan untuk bertobat dan kembali mengabdi kepadaNya. Kesempatan-kesempatan yang diberikan oleh Allah bersamaan dengan datangnya peringatan-peringatan berupa berbagai macam cobaan yang ada.

Ketakutan, kelaparan, kehilangan harta dan lapangan pekerjaan, kematian adalah sebagian cobaan yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Tetapi, peringatan dan cobaan tidak selalu harus datang pada mereka yang bergelimang dosa. Adakalanya sebuah peringatan akan kebenaran janji-janji Allah tentang kehidupan akhirat jatuh pada manusia yang hidup di alam yang penuh kedamaian. Sehingga harus jatuh korban yang kadang begitu banyak dari orang-orang yang sebenarnya hidup dalam kesederhanaan dan taat beribadah. Sebuah peringatan yang lebih bermakna sebagai tanda-tanda kebenaran kuasa Allah atas alam semesta telah dimaknai lain oleh mereka yang berada jauh dari lokasi cobaan berupa musibah.

Tanda-tanda kuasanya Allah yang menghancurkan sebuah komunitas hidup dengan mudah dan dalam waktu hanya sekejap kadang tidak berefek sama sekali bagi manusia-manusia yang bergelimang dosa di keramaian kota. Mereka mengira bahwa mereka yang terkena musibah telah mendapatkan azab dari Allah swt. Mereka merasa kasihan dengan para korban bencana dan berusaha untuk memberikan bantuan material untuk memperingan beban berat mereka yang menjadi korban. Padahal gambaran kenyataan sebenarnya belumlah tentu demikian. Jika Allah berkehendak bisa saja sebuah kota pusat maksiat hancur lebur dalam sekejap. Tetapi Allah hendak memberi peringatan kepada mereka di tempat lain yang jauh dari hidup mereka.

Belum tentu mereka yang mati dalam bencana alam akan sengsara di kehidupan selanjutnya. Bahkan mungkin Allah telah mengangkat mereka yang mati dalam bencana alam di tempat-tempat yang banyak menggambarkan kenikmatan-kenikmatan hidup di alam selanjutnya. Dan Allah telah menjadikan mereka korban bencana alam sebagai bagian dari tanda-tanda alam tentang ketauhidan dan kekuasaan Allah atas dunia dan akhirat. Justru mereka yang berada jauh dari lokasi bencanalah yang semestinya harus bisa membaca tanda-tanda alam tersebut. Sudah sepatutnya mereka yang masih hidup menjadikan bencana alam sebuah kesempatan untuk melihat diri sendiri. Mengoreksi diri tentang tingkah laku sehari-hari dan menghubungkannya dengan tujuan hidup yang diberikan oleh Allah kepadanya.

Kalau melihat gebyar hidup masyarakat kota yang penuh dengan pelanggaran terhadap larangan-larangan Allah yang termaktub dalam kitab sepertinya mayoritas manusia yang hidup di perkotaan akan menghuni berbagai tempat yang ada di neraka. Seperti firman Allah yang bermakna, tidak satupun dari diri manusia kecuali memasuki neraka. Kota dan desa laksana dua isi permukaan yang berpasangan. Cermin dari dua sisi kehidupan yang mempunyai dua makna antara putih dan hitam atau antara baik dan buruk. Yang diantara satu sisinya bisa menjadi tanda bagi sisi yang lainnya. Tapi tidak bisa merubah ketentuan-ketentuan yang telah melekat pada masing-masing dirinya.

Akibat maraknya perilaku maksiat yang terjadi di pusat-pusat kota telah menjadikan terkoyaknya kedamaian yang ada sisi kehidupan sebaliknya, yaitu tempat-tempat yang lengang dan sunyi yang berada jauh dari pusat-pusat keramaian yang akrab dengan dunia maksiat. Tempat-tempat yang dulunya begitu indah telah hancur berantakan sebagai tanda dan peringatan kebanyakan manusia. Masyarakat yang hidup sederhana dan apa adanya telah kehilangan alam yang dulunya begitu memberikan rasa tenang dan damai dalam kehidupan sehari-harinya. Alam yang selama ini menjadi teman akrab tiba-tiba menelan hampir semua yang ada. Memang kadang terasa begitu kejam di perasaan. Tapi Iman yang kuat telah memberikan semangat dan menimbulkan keyakinan bahwa kita semua hanyalah makhluk Allah, cepat atau lambat kita juga akan kembali menghadap Allah untuk mempertanggung jawabkan semua tingkah laku kita selama diberikannya kesempatan hidup di alam cobaan dan ujian yang kita jalani selama ini.

Kedamaian hidup yang terkoyak mudah-mudahan membawa hikmah bagi kita yang masih hidup dan membawa kebaikan bagi mereka yang menjadi korban. Bencana alam hanya sebuah peringatan bagi kita yang masih hidup. Disamping tanda-tanda bahwa alam ini hidup, bencana alam adalah sarana pengingat manusia tentang perilaku sehari-harinya yang telah banyak menyimpang dari ketentuan Allah swt. Dimana kemaksiatan sudah menghuni pikiran dan hati kita. Hingga nilai-nilai ibadah dalam tingkah laku sehari-hari hampir-hampir tidak kelihatan sama sekali. Kalaupun terlihat hanya sedikit sekali. Itupun sebenarnya hanya tutup atau cover dari banyaknya keburukan tingkah laku kita saja.

Hikmah atau pelajaran yang harus kita ambil dari terjadinya bencana minimal harus menumbuhkan rasa kepedulian terhadap sesama. Mungkin selama ini telah mengabaikan kehidupan orang-orang disekitar kita. Kita terlena dengan nafsu kebutuhan diri sendiri, hingga kita lupa kalau ada sebagian dari harta yang kita miliki adalah hak orang lain yang di amanatkan kepada kita untuk diserahkan kepada mereka yang berhak. Tapi kebanyakan dari kita lupa. Limpahan materi telah memalingkan mata dan hati kita pada kesenangan yang bersifat keduniaan semata. Padahal berlimpahnya harta yang kita miliki hanyalah cobaan dari Allah. Seberapa besar perhatian dan keikhlasan kita dalam beribadah. Seberapa besar keikhlasan kita dalam berkorban materi demi mulusnya jalan kita menuju limpahan ridhanya Allah kelak.

Selama ini kita tidak banyak belajar tentang banyaknya harta yang kita miliki. Yang ada dibenak kita hanyalah bagaimana cara untuk lebih melipat gandakan semua harta kita miliki saat ini. Disamping sibuk membelanjakan harta hanya untuk bersenang-senang, kita berpikir untuk berinvestasi dalam berbagai usaha. Sehingga harapan untuk melipatgandakan harta agar lebih banyak lagi bisa menjadi kenyataan. Meski kadang harus dengan melanggar dan mengakali ketatnya aturan-aturan dalam perniagaan yang sudah ditentukan tentang halal dan haramnya. Yang penting harta bisa lebih cepat berkembang pesat. Pemikiran seperti ini saat ini menjadi trend mereka yang ingin melipat gandakan harta yang mereka miliki.

Dan saat ini banyak sekali orang berlomba melipat gandakan uangnya dengan cara melipatkan keuntungan melalui pembayaran yang diperlambat pelunasannya. Tidak hanya berlaku untuk barang-barang mewah. Semua barang bisa dijadikan komoditi melipatgandakan keuntungan. Dan mereka menganggap bahwa cara yang demikian adalah halal. Mereka mengikuti fatwa orang-orang yang berkepentingan terhadap cara menggandakan uang seperti itu. Padahal keuntungan yang diraup akibat dari lamanya jangka waktu pelunasan tersebut jelas melebihi dari jumlah harga normal atau kontan. Tapi mereka menganggap cara tersebut adalah halal. Padahal sesungguhnya adalah cara yang di”halal-halal”kan.

Sifat-sifat ingin harta berlipat ganda itulah yang banyak memberikan kontribusi terhadap “pelit”nya kebanyakan dari kita untuk membelanjakan harta di jalan yang sesungguhnya. Sehingga salah satu cobaan yang diberikan oleh Allah adalah dengan membuat suasana trenyuh alam disekitarnya. Dengan membuat banyak orang lain menderita karena banyaknya musibah yang terjadi. Untuk sesaat kita berpikir ingin membantu mereka para korban bencana alam. Dan dengan rasa berat kita mengulurkan tangan kita untuk memberikan empati yang jumlahnya sangat tidak sepadan dengan harta yang kita miliki. Lalu kita merasa puas dengan apa yang telah kita lakukan tersebut. Padahal masih jauh dari kata sempurna. Karena hanya terbatas pada suasana “bencana”.

Diluar peristiwa bencana alam kita sangat berat menyisihkan sebagian kecil harta kita untuk jalan Allah. Banyaknya orang-orang tidak mampu secara materi disekitar kita tidak menjadikan kesempatan bersedekah dan memenuhi perintah Allah. Tapi justru kita menjadikan banyaknya orang yang tidak mampu membeli sesuatu secara kontan sebagai ladang suburnya “tangkai-tangkai” bunga dari pohon investasi kita. Dan cara ini sudah mewabah dihati banyak manusia di sekitar kita. Karena sudah terbukti bahwa cara seperti ini memberikan “speed” cukup kencang untuk menimbun dan melipatkan harta benda kita. Mudah-mudahan Allah menjauhkan diri kita semua cari cara-cara yang telah dihalalkan oleh segerombolan setan yang menyamar sebagai manusia.

Hikmah lain mungkin harus timbul perasaan untuk merawat “kehidupan” alam. Selama ini kita hanya bisa merusak alam tanpa bisa memperbaikinya. Kalaupun kita melakukan sesuatu perbaikan terhadap diri alam tujuannya tidak lain hanyalah untuk keuntungan secara material belaka. Kita membangun tempat wisata yang indah dengan investasi yang sangat besar. Untuk apa ? Tidak lain kecuali faktor keuntungan. Jika dirasa tidak menguntungkan selama beberapa tahun kedepan, tempat tersebut mungkin akan kita telantarkan atau bahkan kita hancurkan. Banyak sekali contoh yang seperti ini di sekitar kita. Simak saja, berapa banyak taman-taman di kota yang berubah fungsi menjadi bangunan megah yang justru banyak menyimpan maksiat ? Dan kita mendirikannya dengan memusnahkan komunitas kehidupan yang sebelumnya ada.

Hal-hal seperti itulah yang kadang kita anggap sepele. Dengan mudah kita melakukan pembantaian terhadap makhluk yang kita anggap tak berdaya semacam pepohonan dan binatang-binatang yang menempatinya. Kita benar-benar menganggap bahwa mereka tidak akan pernah bisa membalas dendam terhadap apa yang sudah kita lakukan. Tapi ketika terbukti alam bisa membalas semua apa yang telah kita lakukan terhadap mereka kitapun masih belum sepenuhnya percaya dan yakin tentang semua yang terjadi. Dan balasan dari alam yang demikian hebatpun belum bisa menyadarkan kita tentang kuasanya alam semesta untuk berbuat sesuatu seperti yang dikehendakiNya.

Sesungguhnyalah kita ini adalah sekumpulan makhluk yang mewarisi sifat-sifat sombongnya iblis. Yang merasa dirinya lebih tinggi dan lebih mulia derajatnya dari makhluk Allah yang lain. Kita hiasi diri dan hati kita dengan sifat tamak dan serakah. Sehingga kita tidak hanya cukup untuk mengambil dari alam sebagian saja dari yang kita perlukan. Ditambah lagi dengan sifat pelit atau “medhit” yang berlebihan semakin menjauhkan diri kita dari kewajiban “sedekah”. Berbeda sekali dengan sifat alam yang selalu ikhlas dalam bersedekah kepada manusia. Alam mencukupi kebutuhan hidup kita dari mulai sesuatu yang paling kecil sampai kebutuhan yang paling besar dan penting bagi keselamatan diri dan harta kita.

Sedangkan kita lebih suka merusak daripada memperbaiki alam. Kita tega membunuh binatang hanya untuk kepentingan bisnis. Kita bahkan tega menghancurkan kehidupan makhluk lain yang telah banyak membantu dalam kehidupan kita. Kenyataan yang ada sekarang membuktikan. Berapa banyak tempat-tempat di muara sungai yang dulunya begitu alami dan banyak dihuni berbagai macam ikan saat ini hanya berfungsi sebagai “mulut” yang memuntahkan kotoran atau limbah yang sangat berbahaya bagi makhluk hidup. Berapa banyak tempat yang dulunya begitu indah tapi setelah banyak manusia datang ketempat tersebut kemudian berubah menjadi tempat yang kotor dan jorok. Sampah berserakan dimana-mana. Belum lagi pengrusakan hutan dan pencemaran air laut akibat limbah yang dibuang ditengah laut secara diam-diam.

Mudah-mudahan Allah memberikan petunjuknya kepada kita sekalian yang selama ini membutakan mata dan hati dalam memahami arti kehidupan yang sebenarnya hanya untuk beribadah kepada Allah. Dan memberikan pula rahmatnya berupa kemudahan dalam memahami makna kebersamaan hidup dengan makhluk Allah yang lain. Juga kepahaman bahwa gemerlapnya dunia hanyalah kesenangan yang semu dan sebenarnya mencelakakan hidup kita kelak. Sehingga kita tidak akan lagi salah dalam melangkahkan kaki ke masa depan dalam cerahnya cahaya Allah dan lapangnya hati yang ada dalam masing-masing dada kita. Untuk kemudian melangkah bersama-sama di jalan Allah dalam Iman dan tauhid menuju ridhaNya.

Amiin.

Agushar, 11 Nopember 2010.
Selengkapnya...

Kontes Keindahan Kaki


Kata kaki belalang pertama kali saya dapatkan di novel detektif Nick Carter di waktu saya masih berumur belasan tahun. Dan saat ini kata tersebut sering melintas lagi di otak saya. Lalu saya coba untuk meneliti kata tersebut dengan fisik kaki belalang yang sesungguhnya. Tak ada sesuatu yang istimewa selain bentuk yang simetris dan ideal antara bagian depan atau paha dan bagian belakang atau kakinya. Yang paling khas pada diri kaki belalang adalah sebuah “ketelanjangan”. Karena belalang selalu tampil “no wear” alias tanpa busana. Dengan ringan tanpa beban belalang “menyelesaikan” hidupnya dengan kebebasan tanpa busana.

Belalang tetaplah belalang. Ketelanjangan belalang tidaklah menggugah syahwat manusia, terutama laki-laki. Tapi bagaimana jika ketelanjangan bagian bawah dari tubuh itu terjadi pada banyak wanita di muka bumi ? Sebuah kepastian adalah kerusakan “otak” yang berakibat pada kebobrokan moral. Karena bagian bawah tubuh perempuan adalah sesuatu yang paling menggugah syahwat laki-laki. Dan kita sudah bisa memperkirakan, apa yang ada di benak kaum laki-laki jika di depan matanya terpampang pemandangan yang mengundang selera syahwat. Tidak lain adalah “mundur” atau “maju terus pantang mundur”. QS. Al A`raaf 26.

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ﴿٢٦﴾
“Yaa baniiaadama qad anzalnaa `alakum libaasan yuwaarii sauatikum wariisyan, walibaasuttaqwaa dzaalika khairun, dzaalika min aayaatillahi la`allahum yadzakkaruunna”.

”Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

Aurat harus tertutup pakaian. Baik laki-laki maupun perempuan. Dan aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan wajah. Mengapa harus tertutup ? Kalau kita bertaklid buta terhadap ayat tentu tidak akan ada lagi pertanyaan seperti itu. Karena apa yang difirmankan dalam kitab adalah sebuah jaminan kebenaran dari Allah swt. Tapi keyakinan tanpa proses kadang juga menimbulkan keraguan. Dan aurat harus tertutup, karena di aurat tersimpan harga diri manusia. Di aurat tersimpan “malu” yang sangat besar. Yang jika terungkap bisa meporak-porandakan harga diri manusia sebagai ciptaan paling sempurna.

Ada nikmat yang “luar biasa” dalam aurat manusia. Yang membuat pikiran manusia akan selalu tertuju kepadanya. Karena manusia akan cenderung untuk mengulang-ulang sesuatu yang menyenangkan hatinya. Dan setan sangat senang pula bersarang pada sesuatu yang bisa dengan mudah meruntuhkan Iman. Jika pikiran manusia sudah terpancang pada nikmat yang ada pada aurat, maka sudah bisa dipastikan manusia tersebut akan sulit pula meng-Imani ayat-ayat yang ada di dalam kitab, terutama Al Qur`an. Karena mengumbar nafsu syahwat adalah sesuatu yang sangat dilarang oleh Allah. Dan manusia akan “nekad” melawan larangan-larangan Allah hanya demi kebebasan melampiaskan syahwatnya.

Mereka yang berada di luar Islam dan berada di negara bebas tak terbatas, mengekspresikan aurat mereka dengan bebas pula. Tak ada lagi batasan-batasan logis dalam berpakaian demi kebebasan syahwat. Kita yang berada jauh dengan mereka meyakini pula bahwa mereka begitu menikmati kehidupan bebas tak terbatas tersebut. Terutama dalam hal syahwat. Begitu bebas mereka mengumbar auratnya sehingga ketelanjangan seperti sebuah keharusan demi “back to nature”. Sebuah alasan yang mengada-ada untuk sebuah kepentingan maksiat yang sangat besar. Seakan-akan kebebasan perilaku mengumbar syahwat adalah sebuah kebutuhan paling utama dalam sebuah kehidupan manusia.

Karena sudah menjadi keinginan yang tidak bisa dibantah. Sebuah ketelanjangan lambat laun membentuk diri sebagai budaya. Sebuah budaya telanjang yang melibatkan kaum perempuan sebagai obyek utama. Sebuah budaya yang sebenarnya hanya mengeksploitasi tubuh wanita dan menempatkan perempuan di tempat yang paling rendah dibagian kehidupan manusia. Tapi seperti kita lihat, tidak sedikit pula perempuan yang suka dan menyediakan dirinya menjadi bagian dari budaya ini. Dengan berbagai alasan sosial maupun ekonomi, mereka para perempuan dengan sukarela menyediakan diri masuk dalam budaya yang sebenarnya menginjak-injak derajat dan martabat diri mereka.

Seperti yang kita lihat pula dalam kehidupan sekitar kita sehari-hari. Masyarakat yang sebelumnya jauh dari budaya telanjang, lambat laut larut pula dalam budaya tersebut. Walaupun masih bisa dikatakan setengah telanjang. Semakin hari semakin banyak kita temui perempuan di sekitar kita yang memakai pakaian begitu ketat. Yang menampakkan dengan jelas bentuk dan lekuk tubuh sampai begitu detil. Semakin banyak pula perempuan di negara yang mayoritas penduduknya muslim ini berpakaian minim dengan celana pendek mendekati pangkal atas kakinya. Maka kita patut pertanyakan kepada mereka ini, apakah mereka menganut agama Islam ? Ataukah mereka bagian dari orang-orang yang mengingkari Al Qur`an ?

Sudah jelas bagi mereka yang merasa muslim atau muslimah. Bahwa aurat wanita harus tertutup. Dan perintah itu merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Orang-orang Islam bukanlah orang-orang yang terkutuk menjadi kera dan babi. Orang Islam adalah orang yang berderajat tinggi dan menjunjung martabatnya di hadapan Allah dan dihadapan alam semesta. Orang Islam adalah orang yang berjalan di kehidupannya dengan petunjuk Allah, yaiitu Al Qur`an. Sehingga mutlak perlu dipertanyakan pada mereka para perempuan yang berpakaian ketat hingga nampak bentuk dan lekuk tubuhnya dan mereka perempuan yang memamerkan pahanya di tempat umum, apakah mereka orang Islam ? Ataukah mereka orang yang dikutuk sebagai manusia yang berperilaku seperti kera dan babi ?

Saat ini, di tahun 2010 yang sedang berjalan ini. Begitu banyak kita temui perempuan dengan bangga dan kepercayan diri yang kuat berjalan-jalan di tempat umum dengan paha yang hampir terbuka semua. Ditahun ini pula kita tidak sulit untuk melihat dan menemui perempuan berpakaian minim dan ketat di hampir semua tempat. Begitu ironis sekali. Islam yang jelas-jelas melarang perbuatan-perbuatan tersebut telah dengan mudah pula terinjak-injak dengan perilaku mereka yang mengaku diri sebagai bagian dari masyarakat muslim. Identitas mereka menunjukkan bahwa mereka penganut agama Islam, tapi cara berpakaian dan tingkah lakunya sehari-hari jauh dari ajaran Islam.

Mengapa bisa terjadi seperti ini di bumi yang mayoritas rakyatnya ber KTP Islam ? Padahal sudah jelas, agama Islam mengajarkan pokok-pokok kehidupan ibadah kepada Allah swt. Sudah jelas pula perintah-perintah yang harus ditaati, juga larangan-larangan yang harus dijauhi. Tapi dalam keseharian kita justru lebih akrab dengan semua perilaku yang dilarang oleh Allah. Hal seperti ini terjadi pada kaum perempuan dan kaum laki-laki. Kalau kaum perempuan “suka” dan “ikhlas” menampakkan bagian dada, lengan dan hampir seluruh kakinya. Kaum laki-laki suka “bedhigasan” di jalan-jalan dan tempat-tempat umum. Suka menenggak “miras” dan suka “memelototi” aurat wanita di tempat-tempat umum yang “sengaja” mengingkari ajaran Islam.

Semua yang terjadi saat ini, baik kemerosotan ilmu maupun kemerosotan moral lebih banyak diakibatkan karena kita suka memelihara sikap munafiq. Kita mengaku Islam tapi kita tidak tahu apa-apa tentang Islam. Ajaran hidup beribadah yang demikian indah sengaja kita tutupi oleh gemerlapnya materi keduniaan. Bahkan demi materi kita bersedia untuk menukarnya dengan iman. Kalau dulu ketelanjangan hanya ada di bursa seks. Gambar di majalah. Lalu menular ke layar perak. Kemudian menjangkiti artis layar kaca. Dan saat ini pakaian “minimalis” sudah menjadi penyakit menular yang semakin lama semakin banyak penderitanya. Jalan-jalan dan tempat-tempat umum sudah menjadi ajang kontes kaki-kaki telanjang perempuan. Mereka berlomba untuk saling mengangkat jauh pakaian bawah mereka dari lutut.

Memang tidak bisa di pungkiri kalau banyak dari mereka adalah sekumpulan orang-orang yang ingkar terhadap Islam dan semua keyakinan yang ada di dalam Agama Islam. Mereka adalah sekumpulan orang-orang yang ingkar pada ketauhidan Allah. Tapi tidak bisa dipungkiri pula kalau banyak juga dari mereka yang memegang identitas beragama Islam tapi lebih suka berperilaku seperti orang-orang di luar Islam. Orang-orang seperti inilah yang sebenarnya sedang berperan menghancurkan nilai-nilai luhur ajaran Islam. Meskipun kadang mengelak dengan bermacam alasan, tapi yang pasti adalah sebuah pengingkaran terhadap ayat-ayat Allah yang ada dalam Al Qur`an. Yang juga menjadi pertanyaan adalah bagaimana mereka bisa dengan bebas melakukan “pelecehan” terhadap ayat-ayat Allah dengan pengingkarannya tersebut ?

Memang benar bahwa “ber-agama” tidaklah ada paksaan. Terutama untuk agama tauhid, Islam. Sehingga untuk patuh atau tidaknya seseorang kepada ajaran Islam juga tidak bisa dipaksa-paksa. Tapi harus diingat, bahwa mereka yang membawa identitas Islam adalah pengemban amanat Iman dan amalan salih. Sehingga ketika seseorang dengan sengaja melakukan pengingkaran terhadap ayat-ayat yang ada dalam Al Qur`an, seketika itu juga mereka harus berpikir tentang keIslaman mereka. Karena “malu” adalah sebagian dari Iman. Dan kesungguhan keyakinan adalah sebuah tuntutan dari sebuah kesaksian. Jika sebuah kesaksian bermula dari sebuah keyakinan, niscaya ketundukan menjadi sebuah harga mati yang tidak bisa di tawar-tawar lagi.

Lantas bagaimana dengan mereka yang sudah bersyahadat tapi tidak mau tunduk dan patuh pada apa yang diperintahkan ? Dua kemungkinan bagi mereka, pertama adalah sebuah kebohongan dan yang kedua adalah sebuah pembangkangan karena keraguan Iman. Mereka adalah pembohong, karena bersaksi tanpa keyakinan. Mungkin ada tendensi tertentu mereka mengucap dua kalimat syahadat. Menginginkan sebuah keselamatan atau kemudahan dalam urusan atau mereka sengaja menyusup ke dalam komunitas agama Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam. Biasanya yang seperti ini dilakukan oleh orang-orang berilmu yang kebenciannya terhadap Islam sudah begitu dalam. Hingga mereka menyediakan diri untuk berpura-pura Islam, tapi banyak menulis tentang sesuatu yang banyak menjadi penyebab perpecahan orang-orang mukmin.

Sedangkan pengingkaran yang banyak dilakukan oleh para perempuan dalam hal menutup aurat lebih banyak dilakukan karena sifat “narsis”. Karena bangga dengan dirinya, kecantikannya, kemolekan tubuhnya dan keyakinan akan banyak menarik perhatian lawan jenisnya serta keyakinan bahwa tubuhnya mempunyai nilai komersial yang tinggi. Sehingga mereka berlomba menaikkan pakaian bawahnya dan memendekkan pakaian atasnya. Mereka meyakini bahwa pakain mereka hanya mengikuti mode yang ada. Dan mereka tidak pernah menyadari bahwa keinginan untuk menampakkan aurat adalah hasil kinerja setan yang selalu berbisik ke telinganya.

Sebagian besar dari kita, baik laki-laki maupun perempuan memang lebih suka tunduk pada bisikan setan dari pada mematuhi perintah Allah dalam Al Qur`an. Dan setan paling suka memalingkan mata dan pikiran laki-laki pada bagian terbuka dari tubuh perempuan selain pada harta materi. Sedangkan para perempuan lebih suka diperhatikan. Apalagi diperhatikan kaum laki-laki. Sehingga banyak perempuan menggunakan banyak cara hanya untuk mendapatkan perhatian dari kaum laki-laki. Salah satu trik paling jitu untuk menarik perhatian kaum laki-laki adalah menggoda syahwatnya. Maka tidaklah mengherankan kalau para perempuan berlomba-lomba mengikuti trend mode minimalis dengan memaksimalkan daya tarik seksualnya. Hingga banyak laki-laki “guncang” imannya.

Terlepas dari semua hal tersebut diatas, mungkin memang begitulah tanda-tanda dekatnya hari kiamat. Keruntuhan Iman dan kemerosotan moral menjadi sesuatu yang sulit untuk dihindarkan. Hingga kita yang hidup saat ini juga “ikhlas” untuk menjadi bagian dari tanda-tanda kiamat itu sendiri. Tapi benarkah hari kiamat itu akan segera datang dan kita menjadi saksi kebenaran janji-janji Allah tentang hari kiamat ? Beruntunglah kita, karena Allah masih memberikan kesempatan untuk bertobat kepada kita. Peringatan Allah berupa banyaknya bencana secara beruntun yang terjadi di negara kita menjadi pemicu akal kita untuk merenungkan kembali keberadaan kita sebagai makhluk ciptaan Allah swt.

Kemaksiatan yang terjadi selama ini adalah karena tidak adanya kesungguhan kita, baik laki-laki maupun perempuan untuk menerima Islam secara “kaffah” dan Ikhlas. Kita hanya mau agama Islam tapi tidak mau aturan-aturannya. Selama ini kita hanya 1ber-islam di identitas saja. Kewajiban-kewajiban yang mutlak harus dikerjakan kita lalaikan begitu saja. Shalat, sedekah, puasa kita anggap sebagai sebuah beban yang sangat berat. Setiap saat kita tujukan mata dan pikiran kita pada materi dan budaya orang-orang barat yang non muslim. Hingga Islam yang kita anut sama sekali tidak punya tempat di hati atau jiwa kita. Akibatnya adalah pikiran kita dipenuhi oleh pemikiran dan perilaku orang non muslim.

Masih belum terlambat untuk kembali ke jalan Allah. Kesempatan tobat diberikan oleh Allah seluas-luasnya kepada kita. Tidak ada jalan lain untuk menghentikan kehancuran umat kecuali dengan mengisi jiwa dengan Iman. Betapapun sulit, Iman harus menjadi penghuni utama bilik-bilik hati kita. Hingga secara naluri pikiran dan semua bagian tubuh kita akan mengikuti dan menerima konsekwensi Iman secara ikhlas. Karena jika Iman menjadi tuan di dalam jiwa maka amal shalihpun akan mengalir dengan sendirinya. Hal itu tidak akan kita dapatkan hanya dengan pengakuan sebagai orang Islam saja. Iman akan kita dapatkan jika kita rela dan bersedia untuk memahami ilmu tentang Iman itu sendiri.

Benteng pelindung diri dari kemaksiatan adalah Iman yang kuat. Yang memberikan keyakinan tentang wujudnya Allah dan semua yang dijanjikannya kepada kita. Jika kita paham tentang Islam dan pokok-pokok ajaran Islam, lantas selalu berusaha untuk mempertebal Iman, niscaya kita akan selalu berpikir seribu kali untuk melanggar larangan-larangan Allah. Baik dalam hal perilaku maupun tata cara berpakaian dan menutup aurat. Mudah-mudahan kita semua mau berpikir dan menggunakan akal dan hati kita untuk mempertimbangkan segala sikap dan tingkah laku kita agar kehidupan kita jauh dan terbebas dari segala bala` dan bencana yang telah banyak menelan korban baik nyawa maupun harta yang telah kita miliki.

Sekian.

Agushar, 02 Nopember 2010.

Selengkapnya...

Senin, 02 Mei 2011

Bencana Tiada Henti


Semua akan terhanyut. Tidak hanya sesuatu yang tidak berguna yang ada di tepi jalan, tapi rumah seisinyapun akan ter”bandang pula”. Hanyut dihempas oleh derasnya air. Tidak pandang bulu, air akan membawa semua yang ada di depannya dan memporak-porandakan komunitas yang dilaluinya. Kemudian meninggalkan mereka semua dalam onggokan-onggokan yang tidak berdaya sama sekali. Meninggalkannya setelah “mencabuti” semua yang ada. Tidak hanya pohon-pohon dengan akarnya, tapi juga “sukma-sukma” yang bersemanyam ditubuh manusia. Sepertinya air sedang menunjukkan siapa jati dirinya.

Seperti tak ada habisnya bencana melanda bumi pertiwi ini. Kalau biasanya kita was-was di bulan Desember dan Januari, saat ini sepanjang tahun kita patut was-was. Karena bencana tidak lagi menunggu “gedhe-gedhene sumber” atau lebat-lebatnya hujan. Sejak “sat-sat-e” sumber di bulan September lalu telah banyak saudara-saudara kita di berbagai daerah yang dilanda banjir setinggi pinggang orang dewasa. Banjir setinggi itu sudah pasti bisa melumpuhkan aktifitas kita sehari-hari. Apalagi sampai disertai kata “bandang”. Sudah pasti pula akan “mbandang” segala sesuatu yang ada di sekitarnya.Indonesia tetap satu dan utuh. Walaupun daging dan tulang tercerai berai di luasnya samudra, indonesia akan tetap nusantara. Sekumpulan pulau-pulau yang berusaha hidup diantara besarnya dua benua dan luasnya dua samudra. Karena letak yang tercerai-berai membuat masing-masing tulang dan daging yang ada begitu rentan terhadap badai dan hempasan ombak. Sehingga mudah sekali hancur berkeping-keping jika alam sedang menggeliat. Ironisnya, setiap geliat dari alam adalah bencana buat makhluk hidup yang ada di atasnya. Dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan kita seperti tak pernah lepas dari bencana yang disebabkan geliatan alam ini. Tapi benarkah alam sengaja menebar bencana ?

QS. Ar Ruum : 41

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴿٤١﴾
“Zhaharal fasaadu fiil bahri wal bahri bimaa kasabat aydiinnaasi liyudziiqahum ba`dhal ladzii `amiluu la`allahum yarji`uuna.”

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Jarang kita berpikir bahwa alam ini hidup. Kecuali manusia, hewan dan tumbuhan semua yang ada di sekitar kita adalah benda mati. Sehingga layak untuk kita perlakukan dengan semena-mena. Toh mereka tidak akan pernah membalasnya. Tapi ternyata alam ini “hidup”. Seperti hidupnya manusia, hewan dan tumbuhan. Alam bisa berbuat sesuatu sesuai kehendaknya. Termasuk me”longsor”kan sebagian dirinya dan menyiram sebagian daratannya. Lantas pernahkah kita berpikir bahwa bencana yang terjadi selama ini adalah balasan alam ? Atau semua bencana yang terjadi hanyalah sebuah “kebetulan” saja ?

Ayat tersebut diatas menyatakan dengan jelas, bahwa manusia telah banyak membuat kerusakan pada diri alam (bumi). Dan Allah mengijinkan alam untuk membalasnya melalui ketentuanNya. Agar manusia sadar kalau mereka telah berbuat suatu kesalahan dan sebagai peringatan untuk tidak lagi mengulangi perbuatan serupa terhadap alam. Tapi seperti kebiasaan manusia selama ini, hanya ingat untuk sementara waktu saja. Setelah lewat waktunya perbuatan perusakan alam akan berlangsung lagi. Dan akan berhenti kemudian setelah “dibalas” oleh alam dengan ratusan bahkan ribuan korban manusia dan hancurnya infrastruktur yang dibangun dengan susah payah selama betahun-tahun.

Sebagian dari kita berpikir semua disebabkan karena ulah manusia. Ulah diri kita sendiri. Yang telah terhinggapi penyakit “rakus” dan apatis. Dengan membabat hutan seluas-luasnya dan menggali bumi sedalam-dalamnya tanpa memperdulikan apa akibat yang akan terjadi di kemudian hari. Sebagian lagi berpikir bahwa semua yang terjadi memang seharusnya terjadi. Tidak perlu disesali. Mati dan hidup adalah sebuah kepastian. Tinggal menunggu dan mengetahui saja, apa penyebab kematian masing-masing diri kita ? Sehingga kegiatan perusakan alam pun tetap berlanjut tanpa perhitungan dan tanpa beban. Hanya karena anggapan yang sangat sederhana dalam menyikapi arti hidup bagi kehidupan.

Memang benar pula, bahwa yang hidup pasti “akan” mati. Tapi bukan berarti yang hidup “harus” segera mati. Jika yang hidup “harus” segera mati, maka konotasinya adalah tak perduli berapa lama kita hidup dan perbuatan apa yang telah kita lakukan. Padahal konsep “hidup” manusia tidaklah demikian. Hidup manusia adalah sebuah kesengajaan dari Allah swt. Yaitu untuk diberi cobaan kepada mereka dengan berbagai kebaikan dan keburukan. Dan Allah akan memilih siapa diantara manusia yang paling baik amal perbuatannya untuk diberi balasan sesuai dengan semua yang dijanjikanNya. Dan memberi balasan yang setimpal pula terhadap mereka yang telah berbuat sesuatu yang telah dilarangnya.

QS. Al Mulk : 2

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ﴿٢﴾

“Alladzii khalaqal mauta wal hayaata liyabluwakum ayyukum ahsanu `amalaan, wahuwal `aziizulghafuuru.

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,

Penegasan makna serupa juga ada di QS. Muhammad ayat 31, QS. Huud ayat 7, QS. Al Anbiyaa` ayat 35. Bahwa manusia akan dicoba dengan berbagai hal yang baik dan berbagai hal yang buruk. Tujuannya adalah agar manusia nantinya bisa merasakan sebuah kehidupan yang sebenarnya dengan segala yang ada di dalamnya. Baik berupa kehidupan yang penuh kenikmatan maupun kehidupan yang penuh dengan balasan siksa. Semua itu tidak lain adalah sebagai pembuktian bahwa Allah dan segala yang telah dijanjikannya adalah benar belaka. Bahwa segala sesuatu tentang ketauhidan yang pernah dan sedang kita perdebatkan adalah sebuah kebenaran yang terbukti.

Banyaknya musibah yang terjadi di tahun-tahun belakangan ini seharusnya bisa menjadikan kita merenung dan mencoba untuk meresapi apa yang menjadi penyebabnya. Bukan hanya saling menuding dan menyalahkan orang lain. Apalagi menyalahkan Allah. Kebiasaan kita selama ini adalah selalu mencari kambing hitam atas segala sesuatu yang terjadi dan banyak menimbulkan korban. Dan kebiasaan kita yang lain adalah selalu menggunakan kesempatan disaat orang lain dalam kesempitan. Berusaha muncul ke permukaan dan berpura-pura jadi malaikat dengan berempati kepada para korban bencana alam. Padahal kemunculannya hanyalah ingin menebar pesona dengan membagikan bantuan yang tidak seberapa.

Tujuan yang utama dari para tokoh politik di negeri ini adalah “titip” simpati untuk kemudian ditagih kembali dalam bentuk “dukungan” suara. Mereka tidak perduli dengan situasi dan kondisi. Apa yang bisa dijadikan komoditas harus jadi komoditas. Tidak perduli pada peristiwa bencana alam sekalipun. Tidak perduli betapa kesedihan dan isak tangis berbaur dengan ambisi kekuasaan. Yang penting usaha menebar “pesona” bisa berakhir sukses dan bisa memperluas peta-peta daerah sebagai pendulang suaranya kelak. Dan setelah sukses nantinya mereka tidak lagi berusaha untuk mengingat-ingat lagi peristiwa bencana yang telah “menolongnya” mengantar pada tingginya kedudukan atau kekuasaannya.

Bencana yang bertubi-tubi datangnya, bukanlah datang dari Allah. Allah swt hanya memberikan ketentuanNya kepada alam ini. Sebab dan akibat bukanlah sesuatu yang bisa disangkal. Kecuali Allah menghendaki lain, sebuah ketentuan akan berjalan seperti adanya. Tidak hanya berlaku bagi makhluk yang berjenis manusia saja, tetapi berlaku bagi semua makhluk yang telah diciptakanNya. Akibat yang baik maupun yang buruk tentulah ada penyebabnya. Allah telah memberikan sebuah ketentuan yang baik bagi kita yang menhendaki kebaikan. Dan Allah juga memberikan sebuah ketentuan yang buruk bagi mereka yang melanggar rambu-rambu larangan. Baik dilakukan secara sengaja maupun tidak disengaja.

Celakanya, kebanyakan dari kita menganggap bahwa hanya manusia saja yang harus eksis hidup di alam. Semua yang ada selain manusia adalah “halal” untuk dikorbankan. Sehingga terjadilah setiap hari peristiwa pembantaian. Baik terhadap hewan, tumbuhan, manusia lain bahkan bumi yang setiap hari menjadi tempat pijakan. Kita tidak pernah berpikir bahwa alam bisa melakukan pembalasan atas semua perilaku kita. Hingga tiba saat-saat dimana kita tidak bisa sedikitpun menghindar dari “amukan” alam. Baik berupa banjir bandang, angin topan, gelombang pasang yang menerjang dan memporak-porandakan daratan sampai beratus-ratus kilometer jauhnya. Menghancurkan semua yang ada dan memisahkan banyak sekali ruh dari jasad. Tapi yang demikianpun hanya menimbulkan empati sesaat.

Bukti-bukti bahwa alam memang hidup sudah begitu nyata di depan mata, tapi kita tetap menganggap remeh dan sepele diri alam. Kita tetap menyukai pembantaian terhadap binatang, terhadap hutan-hutan yang “melindungi” dan “menghidupi” kita. Tanpa rasa belas kasihan kita gunduli “rambut” bumi. Kita tebang habis-habisan sambil tersenyum-senyum membayangkan lembaran-lembaran merah ratusan ribu. Tanpa pernah berusaha untuk memahami betapa bumi ini begitu tersiksa tanpa “rambut” hijaunya. Betapa merana dan menderitanya kematian-kematian pohon yang tumbang ditangan manusia-manusia yang berjiwa bengis dan berdarah dingin. Menebang lalu me”mutilasi” untuk kemudian diperdagangkan tanpa peduli dengan rintih tangis yang tak pernah terdengar.

Belum lagi dengan sikap dan tingkah laku kita yang selalu akrab dengan kemaksiatan. Jauh dari keimanan dan jauh pula dari perbuatan-perbutan yang dianjurkan. Jauhnya jarak kita dengan Imanlah yang menjadi penyebab utama perilaku kita lebih akrab dengan kemaksiatan. Seringnya kita meninggalkan perintah Allahlah yang menjadikan kita lebih akrab dengan perilaku-perilaku yang seharusnya kita tinggalkan. Kita tak menyadari kalau semua hal tersebut menjadi penyebab semua bencana di negeri ini. Kita lebih sibuk promosi diri demi kekuasaan dan kekayaan materi. Kita tak pernah menyediakan waktu untuk memahami apa kehendak Allah dengan perintah dan laranganNya. Bahkan kita tidak memperdulikannya.

Kita lebih suka untuk mencari kesalahan orang lain dan tidak pernah mau mengakui kesalahan sendiri. Kita lebih suka ber-demo dan menjadi koordinator, provokator bahkan penyandang dana dari peristiwa demonstrasi. Baik yang dilakukan oleh mahasiswa maupun yang dilakukan oleh rakyat kecil yang sebenarnya jauh dari dunia politik. Kita lebih suka untuk menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dan berhura-hura dari pada mendatangi tempat masjid untuk merefleksikan kesyukuran kita. Kita lebih banyak bersyukur di lisan saja dari pada dengan perbuatan yang nyata. Dan kita lebih suka menoleh ke belakang dari pada menatap lurus ke depan di jalan yang disediakan oleh Allah. Yaitu sebuah jalan keselamatan. Baik selamat di dunia maupun selamat di akhirat kelak.

Kebanyakan kita hanya ingat pada saat tertimpa musibah. Dimana kita sudah tidak punya lagi kekuatan untuk menahannya. Lalu kita mulai mendekat dan mulai menyadari bahwa kekuatan dan kesombongan yang pernah kita lakukan ternyata tidak berarti sama sekali bagi alam. Sekali alam bereaksi, tak satupun dari kita yang berada didekatnya akan selamat tanpa keterlibatan Allah. Dan Allah menyelamatkan sebagian kecil dari mereka yang berada di lokasi musibah sebagai saksi akan adanya sebuah kekuatan yang melebihi kekuatan apapun yang ada di alam ini. Tapi kadang kita juga tidak menyadari kalau sebuah keselamatan dari bencana adalah atas kehendak dan keterlibatan Allah.

Dan kita yang berada jauh dari lokasi bencana hanya bisa “miris” melihat beritanya dari media. Rasa iba dan kasihan lantas kita wujudkan dalam bentuk menggalang dana bantuan di manapun tempatnya untuk bisa sedikit membantu meringankan bebab berat mereka yang menjadi korban “geliatnya” alam. Kita yang berada jauh tak bisa lebih banyak berbuat lebih dari sekedar “membantu” dengan materi. Tapi hikmah dari peringatan Allah berupa datangnya bencana tak juga menyadarkan kita dari lelapnya Iman. Kita belum yakin kalau kita akan mati dengan segera. Kita menganggap kematian kita masih agak lama. Dan kita meneruskan lelapnya tidurnya Iman dengan hidup melawan arus dari alur hidup yang seharusnya.

Kita belum yakin kalau kita akan menghadapai pengadilan Allah. Dan kita juga belum yakin tentang kehidupan akhirat. Iman yang ada hanyalah hiasan. Bukan sebuah pilar kehidupan. Riak-riak keingkaran terhadap Iman kita telah menjadi ombak yang menari-nari diatas tenangnya air permukaan. Hingga mereka yang tidak banyak tahu tentang dosapun harus menanggung akibat dari perbuatan sekelompok orang-orang yang bahkan jauh dari tempat kejadian bencana. Kadang kita berpikir apa yang telah dilakukan oleh mereka yang menjadi korban sebuah bencana alam. Dan kita tak pernah berpikir tentang apa yang telah kita lakukan terhadap alam.

Dalam hidup sehari-hari kita tidak pernah perduli pada bumi yang kita injak. Kita hanya beranggapan bahwa bumi hanyalah tempat pijakan. Kita bahkan jarang sekali berpikir kalau kita ini parasit bumi. Kita berpijak padanya, mengambil makan darinya juga, mengambil air dari bumi juga. Tapi perlakuan kita pada bumi sepertinya kurang manusiawi. Kita hancurkan gunung-gunung kecil, kita bor sedalam-dalamnya lalu kita hisap “darah”nya semaksimal mungkin. Jadi wajar jika bumi sekali-sekali membalas perlakuan kita tersebut dengan “sedikit” gerakan yang cukup membuat manusia porak-poranda kehidupannya. Bahkan tidak sedikit pula yang kehilangan sebagian jasad dan nyawa.

Kita ini adalah sekumpulan masyarakat dalam satu wadah. Satu kesatuan bangsa. Satu wilayah negara. Belum tentu mereka yang terkena musibah adalah mereka yang telah berbuat kerusakan langsung terhadap diri alam. Alam hanya sekedar membalas. Memberi peringatan kepada kita agar jangan semena-mena terhadap dirinya. Mereka yang melakukan kerusakan alam kadang berada jauh dari lokasi bencana. Bahkan hidup nyaman dan hanya tinggal memerintah saja. Dan yang menjadi korban adalah rakyat jelata yang yang jauh dari kehidupan mewah. Kebanyakan mereka hanya mengambil dari alam sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja.

Bagaimanapun juga bencana adalah sebuah peringatan alam dari Allah. Tinggal bagaiman kita mencermati setiap kejadian bencana tersebut. Jika hanya dengan bantuan materi tanpa pernah berpikir pencegahan kerusakan alam, niscaya bencana-bencana alam lainya akan saling susul menyusul sepanjang tahun. Sesungguhnyalah sebuah peringatan harus dipahami sebagai perintah untuk introspeksi diri. Tentang bagaimana sikap dan tingkah laku kita sebagai “penghuni” alam yang diperingatkan dengan bencana alam ini. Penyebab terjadinya sesuatu yang menyedihkan bagi diri kita adalah karena tingkah laku kita sendiri sebagai manusia. Bukan hanya sekumpulan manusia secara parsial. Tetapi sebagai sekumpulan manusia secara keseluruhan.

Manusia di bumi sudah jauh dari melanggar perintah Allah. Sikap hidup dan perbuatan sehari-hari mayoritan condong ke sesuatu yang bersifat keduniaan. Tidak lagi mengindahkan perintah-perintah yang sebenarnya mengandung kebaikan. Lebih menyukai kemaksiatan dari pada perbuatan yang bermanfaat bagi orang lain. Lebih suka mengunjungi tempat hiburan dari pada tempat ibadah. Dan lebih suka mengumbar aurat dari pada menutupinya. Lebih suka menghujat daripada berperan serta dalam mewujudkan sebuah keinginan yang baik. Lebih suka mengorbankan orang lain untuk tujuan-tujuan yang bersifat pribadi. Lebih suka berpaling pada aturan-aturan yang dibuat manusia dari pada aturan-aturan Allah.

Semua sikap dan perbuatan kita sebenarnya banyak keluar dari jalur-jalur aturan Allah. Tapi kita dengan ringan tanpa beban menjalani semua tingkah laku kita yang “ingkar” tersebut. Dan ketika datang sebuah peringatan berupa bencana, kita berperilaku seakan-akan begitu dekat dengan Allah. Lalu menganggap semua yang terjadi adalah “cobaan” dari Allah. Memang benar cobaan dari Allah, tapi kebanyakan penyebabnya datang dari diri kita sendiri. Itulah yang harus dipelajari dan banyak dipahami oleh akal dan hati. Kita ini menjadi penyebab utama apa yang terjadi pada diri kita kelak. Baik sewaktu masih hidup di dunia, maupun kelak saat hidup di akhirat.

QS. An Nisaa` 79.

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا﴿٧٩﴾

“Maa ashaabaka min hasanatin faminallah, wa maa ashaabaka min sayyi`atin famin nafsika. Wa arsalnaka linnasi rasulan, wa kafaa billahi syahiidan”

”Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.

Sekian.
Selengkapnya...

Kamis, 28 April 2011

Kerusuhan Hati


30 September adalah sebuah kenangan pahit. Sebuah kenangan pahit yang terpelihara dihati anak-anak bangsa. Dimana putra-putra terbaik bangsa ini telah “dipulangkan” secara paksa oleh jasad-jasad yang menyimpan ambisi untuk menjadi penguasa negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Banyak hati yang terluka karena peristiwa tersebut, tak terkecuali generasi yang lahir kemudian. Dan perlahan mereka berusaha untuk memahami ada apa dibalik peristiwa tersebut. Begitu kejam dan sadisnya mereka memperlakukan saudaranya sendiri. Sebuah peristiwa biadab yang didasari oleh berbagai keinginan-keinginan kotor dengan muara kekuasaan.

Sedangkan 1 oktober adalah secangkir jamu yang dicampur madu yang menimbulkan efek timbulnya kekuatan baru dari jasad-jasad yang telah lunglai. Jasad-jasad yang kehilangan semangat. Jasad-jasad yang kehabisan air mata. Menyadarkan mereka dari pingsan sesaat bahwa semua telah terjadi dan tidak akan bisa kembali hanya dengan mengandalkan sedih dan air mata. Dibutuhkan kekuatan sejati untuk meraih dan memegang kendali kereta yang porak poranda. Dan butuh penyatuan tekad kembali semua yang telah terpencar untuk dapat melangkah pelan diatas jasad-jasad yang telah pergi membawa cita-cita dan ketulusan hatinya.
Tidak ada satupun jenis obat yang bisa menyembuhkan luka yang terlanjur menyobek dalamnya hati. Kesaktian Pancasila telah memberikan motivasi untuk bangkit dan berusaha memahami semua yang telah terjadi. Secangkir jamu yang memberikan kesadaran, betapa banyak pelajaran yang bisa diambil dari sebuah peristiwa yang melibatkan “kualitas” hati manusia. Kita tak pernah menyangka apa yang akan terjadi pada diri kita esok hari. Dan kita juga tak pernah menyangka apa yang akan dilakukan oleh orang-orang yang kita kenal di esok hari. Prasangka masih berupa prasangka ketika semua terjadi. Dan disaat kita sadar, semuanya telah terjadi. Semua telah mati dan semua telah berganti.

Puluhan tahun kita merangkak, berjalan dan berusaha untuk berlari mengejar ketertinggalan. Kesederhanaan kehidupan masyarakat telah memberikan gambaran semu tentang kemakmuran negeri ini. Prosentase laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi bukan berarti identik dengan kemakmuran rakyat. Ada perbedaan yang tipis antara kemakmuran dan kesederhanaan hidup rakyat. Makmur hanya bisa diterjemahkan dengan terpenuhinya kebutuhan primer secara mudah dan terjangkau. Tentu saja hal ini hanya berlaku bagi masyarakat kecil. Tidak berlaku bagi masyarakat kelas atas. Karena kemakmuran hanya milik masyarakat kelas atas.

Kesederhanaan bisa menjadi sebuah kemakmuran jika disubsidi silang dengan data-data kekayaan masyarakat kelas atas. Dan hal ini bisa terjadi kalau jurang pemisah antara si kaya dan si miskin begitu dalam dan menganga. Parahnya juga, kondisi tersebut telah berjalan atau berlangsung begitu lama dikehidupan rakyat. Mereka dipaksa untuk “nrimo ing pandum” selama bertahun-tahun. Dipaksa “mengalah” demi pembangunan infrastruktur yang tak kunjung habis. Rakyat kelas atas yang menikmati lahan dan besi serta tembok-temboknya. Sementara rakyat kecil hanya menikmati debu-debu yang membawa virus-virus flu tulang. Inilah hasil dari pergantian bulan antara September dan Oktober yang fenomenal itu.

Kekerasan dan kebiadaban pernah terjadi di negeri ini. Meskipun telah diusahakan menutup bayang-bayangnya dengan tabir kesaktian, toh narasi tentang kebiadaban itu sendiri tetap tersebar secara luas. Akibatnya adalah terciptanya sebuah “jurus maut” yang sewaktu-waktu bisa digunakan jika diperlukan. Dan jurus maut ini banyak dimiliki oleh kelompok-kelompok yang berjalan di kebaikan, di kejelekan atau bahkan kelompok yang suka berpura-pura baik. sedangkan rakyat kecil sengaja ditampung di dalam sebuah tempurung. Yang setiap harinya sulit untuk bergerak bebas. Selama dalam tempurung itulah rakyat lebih suka untuk “diam” dan menahan diri dari keinginan-keinginan yang sebenarnya hanya merupakan angan-angan belaka.

Usaha-usaha untuk mencoba melawan kesaktian Oktober sebenarnya telah berjalan berkali-kali dalam kurun waktu yang selaras dengan umur “keris mpu gandring”. Tapi selalu gagal dan berakhir dengan kekalahan dan kutukan seumur hidup bagi para pelakunya. Tapi ketika burung perkutut kesayangan pergi dan membawa semua yoni-yoni yang dimiliki, saat itulah mulai terlihat tanda-tanda dengan mulai bergetarnya pilar-pilar kesaktian untuk kemudian lari dan berbalik menikam Oktober dari berbagai arah. Peristiwanyapun telah bisa digambarkan dengan jelas mulai dari peristiwa jembatan semanggi. Lalu disusul oleh peristiwa-peristiwa lain yang saling bergantian sampai tiba waktunya hari ke 20 di bulan oktober.

Oktober lama telah jatuh dan Oktober yang lain tampil menggantikan. Dan sampai saat ini beberapa kali Pengukuhan dan Penyerahan keris “mpu Gandring” negeri ini juga dilakukan di “bulan” Oktober. Dengan demikian bulan Oktober masih tetap menggenggam “kesaktian”. Meskipun kesaktiannya sudah turun 20 tingkat. Tinggal 10 tingkat lagi oktober akan berada dititik akhir dinastynya. Dan rakyat juga harus bersiap-siap untuk menghadapi apa yang akan terjadi dengan dirinya sendiri, keluarganya, masyarakat sekitarnya, daerahnya dan negeri “gemah ripah loh jinawi” yang dicintainya.

Semua peristiwa yang terjadi setelah hilangnya yoni-yoni Oktober telah mengingatkan kembali kita pada peristiwa september. Dimana kerusuhan-kerusuhan yang terjadi kadang banyak melanggar batas-batas kemanusiaan. Kebiadaban yang terjadi telah membawa sepatu-sepatu yang banyak menyebabkan terinjaknya harkat dan martabat kemanusiaan, pelecehan terhadap kaum perempuan dan ketidak pedulian pada perkembangan psykologis anak-anak yang orangtuanya menjadi korban kerusuhan. Sekali lagi sebuah peristiwa telah mengajarkan kepada kita tentang perbuatan biadab yang ujung permasalahannya juga bermuara pada kekuasaan.

Sampai saat ini “kerusuhan” yang terjadi di negeri ini semakin tanpa jarak. Berbagai permasalahan tampaknya tidak bisa hanya diselesaikan di persidangan hukum. Sepertinya masyarakat sudah tidak lagi memperdulikan aturan-aturan hukum yang bertele-tele dan selalu memenangkan yang kuat. Walaupun yang lemah berada dikebenaran bukan berarti dia akan tampil sebagai pemenang dalam berperkara. Ditambah lagi dengan lemahnya aparat dalam mendeteksi kejadian-kejadian yang melibatkan massa. Sehingga begitu terlihat celah untuk memperbesar api sengketa antara dua pihak yang berperkara, saat itu juga minyak disiramkan untuk membuat api atau pertikaian berubah menjadi perkelahian masal.

Seperti yang kita lihat, berkali-kali pertempuran antara dua kubu menyisakan luka-luka yang menyayat hati, tidak jarang pula berakibat kematian. Sebuah kematian yang tidak pernah dikehendaki oleh mereka yang bertikai. Tapi semakin hari semakin marak saja peristiwa-peristiwa berdarah yang hampir pasti disertai peristiwa kematian. Hal ini tidak lain karena turunnya wibawa hukum negara di mata masyarakat dan bebasnya rakyat menyimpan dan menggunakan senjata tajam dalam setiap pertikaian yang terjadi. Cobalah kita amati kejadian atau peristiwa ulang di media. Kita bisa melihat dengan jelas orang-orang bebas mengayun-ayunkan senjata tajam dikerumunan manusia.

Kita juga melihat dengan jelas, aparat seperti tidak berdaya menghadapi orang-orang “bengis” di setiap pertikaian yang terjadi. Mereka terlihat seperti bingung harus berbuat apa. Mungkin juga takut terkena sabetan senjata. Akibatnya setiap orang yang membawa senjata tajam yang panjang tetap leluasa memegang dan menguasai senjatanya. Dan beberapa peristiwa serupa secara bersamaan terjadi di bulan September. Seperti sebuah perayaan peringatan sebuah peristiwa berdarah di september berpuluh-puluh tahun silam. Apakah memang benar seperti itu? Tentu saja jauh dari kebenaran. Tapi peristiwa saling serang dan saling bunuhnya memang benar-benar terjadi. Dan sepertinya akan menjadi sebuah trend di masyarakat kita.

Atau mungkin kita adalah pewaris sifat-sifat kejam dan sadis yang telah diperlihatkan oleh tokoh-tokoh pelaku kekejaman di masa lalu. Selama 30 tahun lebih hidup dalam pilar yang memang sengaja dibuat kokoh, selama itu pula kita meyimpan dan memendam golok sakti dan jurus andalan warisan tersebut. Tapi bukan berarti jurus-jurus maut tersebut telah hilang atau sirna begitu saja. Peristiwa-peristiwa tawuran masal antar kelompok masyarakat yang muncul selama ini menunjukkan bahwa kita memang masih memelihara dengan baik sifat-sifat kejam dan sadis yang telah dipertontonkan pada september berpuluh tahun silam. Dan kita bangga saat ini masih bisa mempertontonkan sebuah atraksi yang fenomenal tersebut.

Lalu siapakah yang patut disalahkan jika muncul peristiwa-peristiwa saling bunuh antar kelompok seperti beberapa peristiwa yang barusan berlalu? Tentu saja harus ditelaah lebih dalam dan lebih jauh. Hingga kesimpulan akhirnya tidak akan mengkambing hitamkan sekelompok orang yang “dianggap” paling bersalah. Padahal penyebab terjadinya kerusuhan-kerusuhan tidak bisa dilepaskan dari peran pemerintah, para pejabat pemerintah dan semua institusi pemerintah. Ambil saja contoh, jika institusi hukum sudah tidak lagi menjunjung tinggi kejujuran untuk sebuah keadilan, yang terjadi adalah hilangnya kepercayaan masyarakat pada hukum yang sedang berjalan. Dan hasilnya sudah bisa ditebak!.

Fungsi hukum akan berubah dari sebuah alat produksi keadilan berdasarkan kejujuran menjadi sebuah alat penguasa yang hanya efektif untuk “mengadili” rakyat kecil. Dimana yang kuat dan besar hampir selalu bisa mengalahkan yang kecil. Meskipun kesalahan bertumpuk pada mereka yang besar. Dan kekecewaan semakin hari semakin terakumulasi di hati rakyat kecil. Dimana semua kekecewaan tersebut terpendam jauh di kedalaman hati. Hal itu berlangsung selama berpuluh tahun. Dan ketika tiba waktu kebebasan, mereka tumpahkan semua kekecewaan terhadap institusi hukum melalui pengadilan jalanan. Dengan menggunakan senjata tajam yang kadang disertai tembakan peluru tajam.

Bagaimana rakyat tidak kecewa. Mereka yang “berjuang” di bidang hukum secara diam-diam “suka” melanggar hukum. Aparat keamanan yang bertugas “melindungi dan mengayomi” diam-diam juga “suka” menyembelih dan menguliti. Secara tidak langsung kondisi seperti ini membentuk ketidakpercayaan masyarakat terhadap person dan institusinya. Bahkan cenderung “membenci”. Hanya karena aturan dan prosedur yang harus dilalui saja rakyat kecil “bersedia” datang dan menjalani semua proses hukumnya. Sedangkan harapan mengenai pembagian “keadilan”, rakyat kecil bersikap pesimis. Selama belum ada keberpihakan para pelaku hukum terhadap “kebenaran” selama itu pula hukum akan menggencet rakyat kecil.

Kerusuhan-kerusuhan yang terjadi selama ini membutuhkan ketegasan dalam bertindak dari aparat hukum. Penyelesaian masalah dengan senjata tajam harus dilenyapkan dan harus ada tindakan tegas bagi mereka yang ketahuan menyimpan senjata tajam selain pisau dapur. Tapi ini bukanlah sebuah usaha yang mudah, karena sebagian besar masyarakat desa sangat akrab dengan senjata parang yang tajam. Dan sebagian masyarakat tertentu malah terbiasa membawa golok kemanapun mereka pergi. Alasannya adalah tradisi yang turun temurun. Ada lagi sebuah tradisi sekelompok masyarakat untuk saling bunuh dengan senjata tajam. Dan setiap orang dari mereka hampir pasti menyimpan senjata tajam khusus untuk “mencabut” nyawa.

Tapi usaha “membatasi” senjata tajampun tidak akan bisa mengatasi permasalahan jika tidak disertai usaha untuk berbuat “jujur dan adil”. Baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Jika para penguasa banyak yang bermental “bobrok”, jangan heran kalau rakyatnya juga banyak yang tertular kebobrokannya. Dan jangan berbicara tentang kejujuran dan keadilan jika kita tidak berada di dalam “jujur dan adil” itu sendiri. Sekian lama kita hidup dalam kemakmuran yang semu. Sekian lama kita hidup dalam “kebohongan” hukum. Semua itu adalah kenangan pahit. Tapi janganlah kita menjadikan kenangan pahit tersebut sebagai dasar untuk kembali berbuat kejam dan sadis terhadap saudara-saudara kita sendiri.

Peristiwanya kejam puluhan tahun lalu jangan dijadikan contoh upaya meraih keinginan atau menyelesaikan permasalahan. Bagaimanapun juga kita dihidupkan dengan kasih sayang Allah. Dan dididik untuk selalu sabar dan saling mengingatkan dalam kesabaran. Pengalaman pahit hendaknya kita simpan dan kita ambil pelajarannya. Jangan sampai kita terlupa dan justru tenggelam dalam bayang-bayang kepahitan di masa silam. Selama puluhan tahun kita dalam “cengkeraman” pasukan telik sandi negara. Tapi ketika kita sudah bebas, janganlah berperilaku seperti harimau lapar yang keluar dari kandangnya.

Selama puluhan tahun hidup dalam keterbatasan hak bukanlah sesuatu yang “buruk”. Ada nilai kesabaran yang tinggi dalam periode jaman baru tersebut. Dan hal itu berlaku bagi mereka yang ber”jihad” untuk diri sendiri, agama dan negaranya. Kita telah melihat, berapa banyak mereka yang bersedia berkorban jiwa dan raganya justru hidup dalam kekurangan materi alias “melarat”. Dan jika sang penguasa diingatkan tentang hal tersebut, yang keluar adalah kalimat klasik yang berintikan “perjuangan tanpa pamrih” dan bersembunyi dalam kata “patriotisme”. Karena para pejuang bangsa tersebut tidak ingin menodai ketulusan “jihad” mereka, akhirnya lebih memilih untuk berprinsip “nrimo ing pandum”.

Mereka rela hidup dengan pensiun yang minim. Dan mereka menahan diri dari gejolak hati yang tidak bisa menerima “ketidakadilan” bagi diri mereka. Sementara banyak dari mereka yang hanya bersembunyi di waktu gerilya saat ini hidup dengan bergelimang harta dan bisa membeli surga-surga di dunia. Sementara para veteran hanya diberi “kebanggaan” dengan sebuah uniform yang berbau perjuangan lengkap dengan bintang-bintang jasa mereka. Walaupun tinggal sedikit, sisa-sisa pelaku sejarah perjuangan masih bisa kita jumpai di home base mereka yang ada di tiap-tiap kota. Tak lama lagi mereka akan habis dan hanya menyisakan kata-kata heroik “merdeka atau mati” yang lambat laun akan berubah menjadi “lebih baik hidup dari pada mati konyol”.

Sebuah warisan hati yang bersih, namun lambat laun terkotori dengan keinginan-keinginan atau ambisi yang tidak lagi memperdulikan jiwa saudara sendiri. Jika dahulu bisa dikiaskan dengan anjing berebut tulang, kerusuhan yang terjadi saat ini tidak jelas apa yang diperebutkan. Kebanyakan pelakunya adalah “preman” bayaran. Yang menjadikan “order” kerusuhan sebagai ladang mencari nafkah dan pelampiasan nafsu untuk melukai bahkan membunuh. Dan pemberi ordernya adalah mereka yang memang menyukai kekacauan dan tidak menyukai kestabilan politik terjadi di negeri ini. Mereka inilah pewaris-pewaris sebenarnya pemikiran September puluhan tahun yang lalu.

Mudah-mudahan masyarakat kita segera menyadari dan keluar dari permainan yang bersumber dari ke-rusuh-an hati atau kekotoran hati dari orang-orang yang haus kekuasaan dan terlena karena tingginya jabatan. Tidak mudah terbujuk oleh orang-orang yang sengaja ber”bisnis” kerusuhan untuk membuat suasana di masyarakat tetap dalam kekacauan. Sehingga para penguasanya tidak ada kesempatan berbuat kebaikan untuk rakyat dan negaranya serta tidak lagi mendapat kepercayaan masyarakat. Yang bisa berakibat terpancingnya rakyat kecil untuk menjadikan penguasa sebagai musuh bersama. Dan para provokator dan sang pemberi order “kerusuhan” senang dan puas menikmati hasil kerjanya.

Sekian.
Selengkapnya...

Jumat, 22 April 2011

Kemana Kita Berkiblat ?


Kiblat dalam Islam identik dengan arah Shalat. Makna kiblat dalam shalat adalah arah untuk menghadapkan diri, hati dan pikiran kepada Allah swt. Sedangkan shalat adalah sebuah ibadah yang sudah ditentukan waktu dan tata caranya. Arahnya? Sampai saat ini arah shalat atau kiblat shalat adalah Ka`bah yang berada di Masjidil Haram. Dan arah ini adalah perintah dari Allah swt. Pusat atau titik pusat sebuah pusaran manusia yang saling bersambung dalam melaksanakan perintah Allah yaitu shalat. Kiblat ibadah sudah ditentukan oleh Allah dan hidup manusia adalah untuk kepentingan ibadah. Tapi dalam hidup yang berorientasi ibadah ini ternyata kita telah banyak mengalihkan kiblat ke arah lain. Ke arah yang tidak seharusnya.

Kiblat shalat umat Islam adalah Ka`bah di masjidil Haram. Kiblat hidup tak ada lain kecuali ridha Allah swt. dan ajaran Rasulullah saw. Rasulullah Muhammad adalah pemimpin umat sekaligus pemimpin negara. Pada beliau ada contoh atau teladan kepemimpinan dan perilaku yang baik. Tapi karena kecenderungan manusia lebih banyak ke arah keberhasilan dunia, maka belasan abad kemudian kiblat hidup manusia tidak lagi menuju ke ridha Allah swt dan perilaku Rasulullah saw. Islam memang berkembang pesat sekali. Tapi perkembangan secara kuantitas belum tentu berkorelasi dengan Kualitas beragama. Keislaman kita lebih banyak kita miliki karena “warisan” dari orang tua kita. Kita terlahir sudah dalam keadaan ber”agama” Islam. Yang demikian sepertinya telah membuat kita cukup “puas”.
Umumnya sebuah warisan, ada yang semakin meningkat, ada yang tetap, ada pula yang semakin habis. Seperti juga kita yang mewarisi Iman. Bisa tetap beriman saja sudah lumayan bagusnya. Meski kadang banyak yang hanya asal beriman. Sangat Sedikit dari banyaknya pewaris Iman yang semakin bertambah Imannya. Mereka mengisi Iman mereka dengan Ilmu. Sebagian ada yang berhasil ke derajat yang lebih tinggi dengan menempatkan dirinya menjadi seorang ustadz atau Kyai. Dan sebagian besar yang lain justru mengalami kebangkrutan Iman. Karena kesalahan menentukan kiblat kehidupan dan melupakan kiblat shalat. Terlalu sering melakukan “barter” Iman dengan makanan, pakaian, gemerlapnya malam dan “gengsi” dalam kasta di masyarakat.

Semenjak manusia berpikir gengsi atau prestise dalam hidupnya, sejak ltulah dia mempreteli iman warisannya. Tidak akan berani keluar rumah tanpa membawa merek tertentu. Gaya hidup atau life style yang diikuti berkiblat pada bangsa-bangsa yang sudah begitu maju atau modern dunianya. Padahal Rasulullah saw tidak meniru atau bahkan tidak tertarik pada gemerlapnya dunia yang ditawarkan oleh bangsa Rumawi. Bahkan sejak awal-awal kenabian beliau tidak pernah tertarik dengan tawaran “dunia” dari kaum jahil Quraisy. Tapi kita yang hidup saat ini justru memalingkan diri dari keteladanan yang dibawa beliau serta para sahabatnya. Kebanyakan dari kita juga menganggap bahwa hidup dalam kesederhanaan adalah sesuatu sudah usang. Kita lalu menciptakan motto “orang Islam harus kaya”

QS. At Takaatsur 1- 2.

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ﴿١﴾حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ﴿٢﴾

“Alhaakumut takaatsur, hattaa zurtumul maqaabira.

(1)Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, (2)sampai kamu masuk ke dalam kubur.

Di ayat selanjutnya Allah melarang berkali-kali dan meyakinkan kepada kita tentang akibat yang akan benar-benar kita lihat dan kita saksikan sendiri. Dan Allah juga meyakinkan pada kita akan kepastian melihat bahkan masuk kedalam neraka jahim. Juga tentang kepastian pertanggung jawaban limpahan harta yang kita kumpulkan selama hidup. Jujur atau tidak, kita telah mengingkari sebuah peringatan yang diwujudkan dalam sebuah surat. QS. At Takaatsur ayat 1 sampai dengan akhir ayat. Kemegahan dalam hidup, dan selalu dalam keadaan bermegah-megahan sampai di akhir hidup telah banyak melalaikan manusia dari kewajiban untuk taat beribadah kepada Allah.

Marilah kita mencoba untuk melihat kenyataan yang saat ini sedang berjalan. Dari mulai pemberian nama bayi yang lahir, kita sudah meng”impor” dari Eropa dan Amerika. Kita bangga anak kita mempunyai nama yang “keren” seperti bintang-bintang film dan penyanyi “west”. Kita buang nama-nama pilihan yang mengandung bahan “lokal”. Ada perasaan “malu” untuk dan terbelakang jika harus menggunakan nama-nama lokal. Sebuah bukti kalau kita sudah dikuasai oleh setan bejuluk “gengsi”. Memang pemberian nama anak adalah hak prerogatif orang tua. Tapi sekali lagi bahwa dari pemilihan nama saja kita sudah tahu kemana seseorang berkiblat. Berlomba-lomba menggunakan nama orang yang banyak memusuhi Islam dan “mencibir” nama-nama lokal.

Lalu cara berpakaian. Bahan dan model lebih suka yang berbau “asing”. Alergi dengan bahan lokal dan beranggapan bahwa bahan lokal “hanya” untuk mereka yang berada di level ekonomi bawah. Suka menggunakan pakaian “minim” bahkan setengah telanjang. Seperti orang-orang “barat” yang dalam hatinya selalu memusuhi Islam. Memang ada sebagian dari kita yang “taat” pada anjuran agama. Dengan menutup “aurat” seperti yang dianjurkan. Tapi banyak pula yang tidak tahu cara “menutup” aurat yang benar. Hingga pakaian yang harusnya “menutup” berubah peran laksana daun untuk “mbrengkes” pindang. Aurat yang mestinya tertutup jadi ter”buntel”. Ketat sekali, seperti tak ada bedanya antara pakaian dan alat kontrasepsi “plembungan”. Padahal telanjang itu menampakkan bentuk, lekuk dan kepolosan. Memang tidak polos, tapi tetap saja mereka telanjang ! Itu untuk kaum perempuan Dan inilah kiblat pakaian kita.

Pendidikan juga demikian. Mereka yang “kaya raya” gengsi menyekolahkan anaknya di sekolah negeri. Apalagi hanya SD Inpres. Beruntung saat ini sudah tidak ada lagi yang namanya SD Inpres. Semua SD inpres sudah dinegerikan. Mereka bersekolah di sekolah favorit khusus untuk anak-anak orang kaya. Sebagian besar lagi bersekolah di manca negara. Terutama di negara yang sudah “maju” pendidikan formalnya. Setelah lulus dari luar negeri, pemikirannyapun juga sudah berubah. Berubah seperti pemikiran orang-orang “bebas” dan menganggap pemikir-pemikir lokal masih berada beberapa level dibawahnya. Hingga mereka yang lulusan luar negeri hampir selalu memaksakan pemikirannya yang berkiblat di negara penganut kebebasan. Masuk diakal memang. Kalau yang dipakai pemikiran lokal, ya untuk apa mereka belajar keluar negeri ? Barat, itulah kiblat hati kita, bukan Islam dan ajarannya.

Memilih design rumah juga demikian. Mayoritas design rumah yang ditawarkan di masyarakat berciri Eropa atau western. Dan merupakan sebuah kebanggaan untuk bisa memilikinya. Design lokal yang berciri khas dianggap ketinggalan jaman. Mereka berlomba-lomba untuk mengcopy paste model bangunan ala Eropa atau Amerika. Demikian juga dengan “isi” atau perabot yang ada di dalam rumah. Kalau bisa semua terisi dengan perabot buatan luar negeri. Dan itu sangat membanggakan bagi mereka yang berduit. Ya, memang kesanalah kita ini berkiblat. Boleh ? Kenapa tidak boleh ? Cuma ada sayangnya. Banyak dari saudara kita yang tinggal di rumah-rumah reyot. Banyak karyawan atau buruh tinggal di kos-kosan yang sempit, pengap dan campur baur antara mandi, makan dan tidur. Kenapa tidak kita alihkan kelebihan harta untuk belanja di jalan Allah ?

Kepemimpinan? Berbagai buku biografi kita baca. Dari mulai Adolf Hitler sampai Barrack Obama. Begitu banyaknya hingga kita kebingungan harus meneladani siapa? Padahal sejarah kehidupan Rasulullah saw memberikan tuntunan hidup dan teladan bagaimana harus menjalani kehidupan. Tapi siapa diantara kita yang “mau” mengambil contoh kepemimpinan Rasulullah saw.? Sebuah kepemimpinan yang berorientasi pada Allah untuk kepentingan umat. Seorang pemimpin yang tidak bertambah “kaya”, meski memimpin sampai di akhir hayatnya. Rasulullah dan sahabatnya telah memberikan sebuah teladan yang sangat-sangat berat untuk diikuti pemmpin Islam saat ini. Pemimpin- pemimpin yang hidup di abad ini “malu” menjalani hidup sederhana. Apalagi serba pas-pasan. Hampir semua cenderung memperkaya diri.

Kita bisa melihat di sekitar kita. Para pemimpin yang sebelumnya hidup pas-pasan, beberapa tahun kemudian setelah jadi pemimpin hidupnya berbalik 180 derajat. Kaya dan eksklusif. Jauh meninggalkan rakyatnya. Berperan besar menciptakan jurang pemisah antara kaum the have dan kaum the mlarat. Sejak bergulirnya revormasi politik banyak sekali “akar” yang berubah jadi rotan “abal-abal”. Pemimpin dan wakil rakyat banyak dihuni pak “Ogah” dan pak “Ableh”. Kerjanya ogah-ogahan kalau urusan uang selalu bilang “pokoknya beres Bleh !”. Seperti tong kosong, hanya bunyinya yang nyaring. Isinya ? Gemblondang ! Kosong ! Seperti brengkesan isi gas buang ! Memang inilah kenyataan yang harus diterima umat.

Padahal sebagai umat Islam yang telah mengantongi “jurus-jurus” putih warisan Rasulullah saw, kita tinggal mengcopy dan menjalankan saja. Dan pasti tidak akan ada “bisik-bisik” yang merencanakan kedeta atau penggulingan kekuasaan secara paksa. Kenapa harus digulingkan ? Adakah pemimpin sekualitas yang akan “sangggup” menggantikannya ? Tidak akan pernah ada manusia yang sekualitas Rasulullah di jaman beliau. Demikian juga dengan kedua sahabatnya di kemudian hari. Tak menumpuk harta dan tak berlomba untuk masuk dalam daftar manusia terkaya di bumi. Kita yang saat ini jadi pemimpin lebih suka menggunakan jurus-jurus “kelabu”. Yaitu jurus hitam yang dipadu dengan janji-janji putih. Jurus kelabu yang segera menghitam ketika janji hanya tinggal janji.

Rasulullah tidak berjanji kepada umatnya. Rasulullah hanya memberitakan janji Allah untuk mereka yang beriman. Rasulullah yang akan menjadi saksi kepasrahan diri orang-orang beriman nanti di pengadilan Allah. Dan Rasulullah berlepas diri dari mereka yang haus kekuasaan. Karena kehausan berkuasa lebih banyak menimbulkan sifat arogan. Pemimpin-pemimpin dunia barat adalah contoh pemimpin yang arogan. Tanpa meneliti kebenaran tindakan yang akan dilakukan mereka langsung turut menyebar peluru-peluru maut membumihanguskan beberapa negara yangmayoritas penduduknya umat muslim. Dan lucunya, hal seperti ini disponsori oleh negara yang mengaku paling mengagungkan hak asazi manusia, Amerika.

Kiblat kita telah berpindah tapi kita semua tidak menyadarinya. Hanya di waktu shalat kita mengarahkan diri ke ka`bah. Baitullah. Itupun jika shalat kita tulus. Padahal keikhlasan kita dalam menjalankan shalat masih menjadi sebuah pertanyaan besar. Diluar shalat pikiran dan hati kita lebih banyak berkiblat pada keberhasilan materi. Keberhasilan kepemimpinan adalah sebuah proses panjang yang melibatkan banyak pihak. Sehingga bisa dikatakan bahwa keberhasilan kepemimpinan adalah hasil kerja kolektif. Dan itu sudah ditunjukkan oleh Islam di awal-awal perkembangannya. Tapi saat ini kepemimpinan Rasulullah sudah dianggap usang. Tidak ada yang mau melirik lagi. Memang benar kalau Rasulullah adalah penutup para nabi, karena memang tidak mungkin lagi ada manusia sekualitas dengan Rasulullah saw. Meski sudah lewat 14 abad.

Yang membuat cemas adalah banyaknya pemimpin Islam yang berkhianat setelah keberhasilan hidup dunianya diangkat tinggi-tinggi oleh Islam. Lebih senang berkawan dengan keturunan jahudi dari pada bergaul dengan saudara sendiri. Bermewah-mewahan dan tidak mau tahu penderitaan orang-orang muslim di bagian bumi yang lain. Cuek dan sok “aman dan damai”, padahal kenyataannya mereka adalah orang-orang yang takhluk pada kaki jahudi dan keturunannya. Kehilangan keyakinan tentang benar dan nyatanya bantuan Allah berupa “burung” ababil. Hingga tidak ada lagi keberanian untuk me”melotot”kan mata atas kezhaliman yang menimpa saudara-saudara seiman dalam tauhid. Habis sudah warisan hati “baja” Rasulullah dan para sahabatnya. Yang tertinggal hanya kemampuan diplomasi “omong kosong” layaknya penjual jamu keliling.

Kiblat, memberikan gambaran kemana arah tujuan seseorang. Kiblat dalam shalat yang telah ditentukan saja masih belum bisa menjamin keselarasan antara gerak, pikiran dan hati. Apalagi kiblat hidup yang dijamin kebebasannya. Meskipun membawa bekal segudang Ilmu Iman dan Islam jika tidak ada perwujudannya, perlahan tapi pasti akan tertutup oleh gelimang dan gemerlapnya dunia. Suatu hal yang bukan merupakan pilihan Rasulullah saw disaat beliau mempunyai kemampuan untuk melakukannya. Sekaligus merupakan suatu hal yang sangat sulit dilakukan oleh para pemimpin yang hidup di abad 20 saat ini. Dimana hidup dan gemerlap dunia telah menghalangi pandangan mata. Hingga kita sulit mengenali warna kebenaran yang nampak di depan mata.

Sekian.
Selengkapnya...

Selasa, 19 April 2011

Libya Dikepung Iblis


Kekuatan rakyat parsial tidak akan banyak memberikan harapan untuk sebuah revolusi. Apalagi hanya mengandalkan material yang serba terbatas. Kekuatan immaterial kadang justru lebih banyak dan lebih cepat membuahkan hasil. Seperti yang telah ditunjukkan oleh negara tetangga Filipina. Kekuatan menarik simpati tidak hanya dari golongan masyarakat sipil tapi dari kelompok militerpun juga terbius untuk bergabung dengan kekuatan rakyat. Hasilnya sudah bisa ditebak, presiden terguling tanpa harus banyak jatuh korban. Demikian juga yang terjadi di mesir. Meski kita juga bisa mengatakan bahwa lepasnya kendali militer dari tangan penguasa diakibatkan karena kejenuhan politik. Kejenuhan terhadap profil kepemimpinan yang statis.

Apa yang terjadi di Libya saat ini adalah sebuah contoh kekuatan yang terlahir prematur. Pemicunya adalah lahirnya kekuatan-kekuatan baru di sekelilingnya. Tapi apa mau dikata, maju kena mundurpun kena peluru juga. Kata orang jawa, “Cincing-cincing gak urung yo teles”, maka dengan kekuatan seadanya, bayi revolusi Libya tetap maju berperang meski harus berjalan tertatih-tatih. Hasilnya sudah bisa ditebak, para revolusioner Libya menabrak “gunung” Khadafi. Karena meski tua, cengkeraman presiden yang satu ini masih kuat untuk menuntun militernya. Perlahan namun pasti kekuatan prematur bergerak mundur untuk menyusun kembali kekuatan. Tentu saja sambil berharap bantuan dari “dunia” lain akan segera tiba.
Semula, kita semua mungkin bisa berharap bahwa presiden Kadhafi akan mundur dan memberikan kekuasaan kepada “rakyat”. Dan tentu semula kita semua juga berharap bahwa Libya tetap akan berpendirian kuat untuk menjadi pemimpin perlawanan terhadap dunia barat yang mempunyai hobby campur tangan urusan orang dan agresi untuk sebuah penghancuran. Tapi semua mungkin hanya angan-angan saja. Kadhafi ternyata memilih untuk bertahan sampai titik darah penghabisan. Padahal implikasinya bisa berpengaruh sampai tujuh turunan. Lihat saja apa yang terjadi di Irak. Dan perhatikan pula apa yang akan terjadi di Irak kelak. Hancur lebur oleh pasukan koalisi. Lalu mereka menawarkan jasa memperbaikinya untuk kemudian bercokol sampai tidak ada lagi “oksigen” di Irak yang bisa mereka hirup.

Irak adalah sebuah contoh nyata. Sebuah negara yang di embargo selama bertahun-tahun ternyata telah merontokkan taring-taring kewibawaanya. Maka jika perang dipaksakan, yang terjadi adalah Show of Force. Sebuah pamer kekuatan sekaligus kawasan uji rudal nuklir dan senjata kimia mungkin akan menjadi kenyataan. Dan saat itu Presiden Saddam tidak punya pilihan selain bertahan sambil sekali-sekali melemparkan “scud” nya. Tapi sekali lagi, sekuat apapun militer Irak saat itu tak akan pernah bisa “bernafas” menghadapi serbuan pasukan koalisi yang telah terinjeksi cairan Iblis. Yang terjadi kemudian sudah pula bisa ditebak bahwa pemerintahan yang terbentuk kemudian tidak lagi merepresentasikan pemikiran orang Irak yang mayoritas muslim. Kemungkinan yang paling besar hanyalah menterjemahkan kemauan penanam saham kehancuran Irak.

Libya saat ini pada posisi yang hampir sama dengan Irak. Sama-sama dibenci dan dicari kesalahannya untuk kemudian dikeroyok beramai-ramai atas nama PBB. Kejenuhan sebagian masyarakat Libya terhadap kepemimpinan Presiden Kadhafi telah menimbulkan perlawanan rakyat secara parsial. Ketika para pemberontak dalam posisi terjepit dan tidak lagi bisa bernafas, ketika itu juga akan menggundang semut-semut berambut merah untuk membantu mengangkat senjata. Setelah umpan-umpan warga pribumi dimakan oleh pasukan pemerintah maka, show of force seperti di Irakpun akan segera dimulai. Dan serangga-serangga darat maupun udara akan silih berganti membombardir seluruh bagian bumi Libya.

“Tego Larane gak tego patine”.

Sebuah perumpamaan jawa yang sampai saat ini masih “berlaku”. Meskipun sebagian diri kita semula tidak tertarik dengan “lamanya” kepemimpinan presiden Moammar Kadhafi dan berharap agar segera mundur, tapi kenyataanya berbeda. Apa mau dikata ? Toh pergantian pemimpin dan ideologi baru juga belum tentu menjanjikan kehidupan yang penuh Iman. Kebebasan yang di idamkan rakyat selama ini justru banyak menimbulkan kemudharatan. Manusia lebih banyak yang menjauh dari Iman dan beralih pada kemaksiatan. Tawaran demokrasi tentang kebebasan adalah pondasi terhamparnya kemaksiatan secara global. Bukti-bukti yang telah ada di depan mata adalah saksi-saksi yang tak bisa bicara. Tapi bukan berarti negara monarchi tidak bebas kemaksiatan. Rata-rata negara monarchi yang masih eksis di benua eropa adalah penganut kebebasan bermaksiat. Sangat-sangat bergantung “siapa' yang memimpinnya.

Saat Kadhafi memutuskan untuk menyapu bersih para pengunjuk rasa yang cenderung memberontak, kita semua berpikir pasti akan ada pembantaian manusia. Kadhafi mungkin tidak akan memaafkan rakyatnya yang berusaha untuk menggulingkan kekuasaan yang telah di pegang selama 40 tahun lebih. Lalu tiba-tiba pasukan srigala datang dan menyerang dengan membabi buta. Bom-bom mutakhir di muntahkan di seantero wilayah Libya. Hasilnya ? Sudah bisa dipastikan bahwa Irak ke dua pasti terjadi di negara Kadhafi. Kekhawatiran tentang adanya pembunuhan masal para pemberontak belum terbukti tapi pemusnahan manusia bahkan sudah dimulai. Kembali dunia Islam dijadikan sasaran uji coba senjata mutakhir dari pasukan Iblis negara-negara teroris. Bisakah kita menerka mengapa ini semua bisa terjadi ?

Siapakah yang mengundang Koalisi iblis ?

Liga Arab ! Ya liga Arab ternyata yang menjadi pemicu kehancuran dunia Islam sendiri. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Karena mayoritas dari kita adalah orang-orang “munafik”. Kelihatan berorientasi akhirat tapi sebenarnya tak mau kehilangan dunia. Demikian juga dengan sekumpulan negara-negara yang tergabung dalam liga Arab. Mereka banyak berhubungan dengan negara-negara kafir dan takut kehilangan “dunia” kekafiran yang dibawanya. Mereka saling iri dan dengki dengan negara-negara sesama muslim. Sama-sama berlomba untuk “nggolek bolo” orang-orang yang dalam hatinya tak pernah bersih dari permusuhan terhadap orang Islam. Hingga sampai pada kesempatan untuk memutuskan sebuah “kebenaran” bertindak, tindakan yang diambilnyapun justru malah mencelakakan.

Keterlibatan United Nation ternyata murni atas permintaan Liga Arab. Karena kekhawatiran yang sangat akan terjadinya pelanggaran kemanusiaan oleh pasukan loyalis Kadhafi terhadap sebagian rakyat Libya. Kok bisa hal seperti ini terjadi. Bangsa satu rumpun yang secara sengaja atau tidak telah menanam saham yang sangat besar atas hancurnya negara tetangga yang notebene adalah saudaranya sendiri. Hal ini tidak akan pernah terjadi kalau diantara negara-negara yang bertetangga tersebut tidak menyimpan rasa “kebencian”. Lantas apa yang menyebabkan mereka saling membenci hingga tidak ada kepedulian untuk menyelesaikan secara kekeluargaan “arab”. Kenapa harus pasukan Iblis yang “diundang”. Kemungkinan besar penyebab utamanya hanya tidak adanya perasaan “sehati” dalam kata dan perbuatan. Terutama dalam bersikap terhadap kekafiran dunia barat.

Kembali ke pertanyaan mengapa hal ini bisa terjadi ? Besar kemungkinan Liga Arab telah dihuni pemimpin-pemimpin yang anti Arab. Pemimpin-pemimpin vampire yang tega minum darah saudaranya sendiri. Pemimpin-pemimpin “susupan” Yahudi Israel. Mungkin bisa juga demikian, karena menyatukan sikap untuk konflik yang terjadi di Palestina saja begitu sulit. Dan hanya menjadi penonton atas tindakan sewenang-wenang Israil terhadap warga Palestina. Maka tidak mengherankan kalau liga Arab juga menghendaki Libya untuk ikut mereka meng”hamba” pada sekumpulan “setan” dari “maghribi”. Agar “sama-sama” menerapkan “kebebasan berekspresi” seperti “piaraan” Charles Darwin.

Bagaimana sikap Dunia ?

Rusia meminta Koalisi untuk tidak menyerang tempat-tempat yang dihuni masyarakat sipil. Sebuah permintaan yang “hanya” tinggal permintaan. Karena pasukan yang sudah kerasukan Iblis tidak akan pernah mengindahkan seruan. Bahkan seruan yang bagaimanapun baiknya. Kenyataanya, pasukan koalisi tetap dan terus saja membombardir pemukiman sipil serta menjatuhkan banyak korban. Mengapa ? Bukankah Rusia juga super power ? Tak lain, karena Rusia bukanlah Uni Sovyet di era sebelum Gorbachev. Rusia bukanlah seteru abadi NATO. Hingga Amerika yang meminjam Perancis untuk memimpin penghancuran tidak perlu repot-repot menanggapi seruan Rusia yang mungkin hanya “Lips service” seperti kebanyakan negara “boneka” Amerika.

China meminta resolusi untuk menyerang Libya dibatalkan. Tapi apa yang kita lihat ? Penghancuran justru dimulai dan terus berlangsung. Bukankah China juga anggota tetap United Nation ? Sekali lagi, bahwa pasukan yang sudah kerasukan Iblis tidak akan pernah menggubris. Jangankan hanya lisan dan tulisan, bantuan pengiriman pasukan Musliminpun tidak akan menghentikan aksi teroris sekelas Amerika, Perancis, Inggris dan sekutunya. Bahkan justru akan menambah semangat berlipat bagi pasukan Iblis, karena peluru dan bom-bom mereka akan semakin banyak mengalirkan darah orang-orang Islam yang mereka benci. Memang itulah yang mereka mau. Mereka hanya menunggu waktu atau kesempatan yang paling aman menyerang sekaligus “cuci tangan”. Karena penghancuran dan pembantaian sudah “direstui” oleh United Nation.

Bagaimana dengan dunia Islam ? Di sekitar Libya bahkan justru banyak yang menikmati “pesta” kembang api yang dilakukan oleh pasukan koalisi. Tak ada yang berani mengacungkan diri untuk membantu Kadhafi menghadapi serangan pasukan Iblis. Kebanyakan negara “penakut” justru akan lebih takut lagi kalau Bom Iblis sudah mulai dijatuhkan. Kita diam dan “hanya” menyebut asma Allah. Tak ada usaha nyata dari para pemimpin yang mengaku dirinya Islam. Diam dan membiarkan Kadhafi “gulung koming” sendirian menahan gempuran bom-bom pemusnah manusia. Sejengkal demi sejengkal “tanah” yang sudah ratusan tahun berserah diri kepada Allah luluh lantak. Jeritan dan raungan silih berganti. Cucuran air mata dan darah membanjiri tanah kelahiran mereka sendiri.

Kita yang mengaku Moslem Diam. Tak bereaksi apa-apa. Takut. Takut menghadap kematian yang sudah pasti. Padahal diseberang lautan ada kesempatan untuk membuktikan diri atas kebenaran kesaksian yang kita ucapkan belasan kali dalam sehari semalam. Lebih ironis lagi kalau kita melihat dan yakin bahwa ada pasukan moslem yang justru turut serta mengambil bagian dalam usaha pemusnahan umat Islam. Itulah pengkhianat Allah sesungguhnya. Dan masih ada lagi sebuah Ironi lain. Jika ada sekelompok muslim yang bersedia menjemput kematian syahidnya di medan perang melawan iblis, mereka menghalanginya. Mereka memberikan argumen “mati konyol” untuk sebuah usaha menolong “agama” Allah.

Saya tidak tahu apakah mereka yang melarang “jihad” menegakkan agama Allah di medan perang masih memendam Iman dalam Islam. Apakah mereka tidak menyadari kalau “mati konyol” itu lebih banyak disebabkan oleh “ketakutan” mereka terhadap kematian. Ketakutan seorang pemimpin terhadap kematiannya sendiri. Dan ketakutan seorang pemimpin yang sudah takhluk sebelum berperang. Kemenangan di perang Badr adalah karena Allah. Juga karena pemimpin yang turut andil didalamnya. Yakni turut sertanya Rasulullah saw. Kekalahan di perang Uhud karena pasukan yang mengabaikan komando dan terpesona dengan dunia yang tertinggal musuh. Tapi kemenangan di akhir perang adalah karena motivasi terlibatnya Rasulullah saw sebagai pemimpin.

Yah, beginilah kalau dunia Islam dipimpin oleh makhluk-makhluk padang rumput. Bukan dipimpin oleh seorang yang terbiasa hidup di kerasnya batu dan tebing. Terbiasa menikmati manisnya dunia selama 24 jam penuh. Sampai nyali yang diwariskan oleh panglima-panglima Islam luntur terbawa keringat. Tak kuasa menghadapi kematian. Tak yakin dengan pertolongan Allah. Tak percaya dengan janji surganya Allah melalui peperangan di jalan Allah. Lebih suka jadi penonton dan mengomentari jalannya “jihad”. Lebih suka mengumpat musuh hanya ketika berada dalam kamar pribadi. Dan suka bersembunyi dikolong-kolong dipan ketika langit bergemuruh.

Saat ini kadhafi adalah pembela Islam yang sesungguhnya. Dan pemimpin dunia saat ini yang mengklaim dirinya Islam hendaknya segera introspeksi mengenai keislamannya. Jauh sebelum ada Pakta Warsawa dan NATO, Islam sudah membentuk pakta “Al Muslimun Ikhwanun”. Dan ingat orang Islam yang tidak perduli pada saudaranya dan membiarkan saudaranya terinjak-injak oleh pakta Kafiruun, kelak akan mempertanggung jawabkan di hadapann Allah swt. Dosa-dosa kita dalam membiarkan hancurnya peradaban Islam di Irak mungkin akan bertambah lagi dengan dosa-dosa ketidak pedulian kita mengenai apa yang telah terjadi di Libya. Jika kita memang memaksakan diri untuk “diam” maka tinggal menghitung berapa korban amukan pasukan Iblis yang akan menjadi saksi “diam” kita saat mereka membutuhkan pertolongan.

Hidup awalnya bukan sebuah kemauan. Tetapi mereka yang terlanjur hidup dalam Iman dan Islam ada dua pilihan. Hidup untuk mati atau mati untuk kehidupan kelak. Karena pada dasarnya, mati di akhir hidup hanyalah sebuah jalan untuk kehidupan yang sebenarnya. Dan kematian di akhirat adalah sebuah siksaan yang tidak pernah kita temukan selama kita hidup di dunia. Mati ketika membela agama Allah dan membantu sesama muslim adalah kematian yang “disaksikan” kebenaran Imannya. Sedangkan mati setelah menyaksikan dan membiarkan penyiksaan saudara-saudara se Iman adalah mati dalam kehinaan. Matinya seorang pengkhianat Rasulullah saw. Karena telah beraksi “diam” ketika mampu berbuat sesuatu.

Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan bagi mereka yang saat ini berada dalam cengkeraman pasukan Iblis. Dan memberikan petunjuk kepada para pemimpin di dunia Islam yang saat ini “lumpuh”. Semoga Allah menghukum mereka para pemimpin koalisi dengan hukuman yang “setimpal” atas kebiadaban yang mereka lakukan selama di dunia. Dan mudah-mudahan pula malaikat-malaikat Allah segera turun memberikan bantuan seperti saat pasukan Rasulullah saw. membutuhkan. Dan marilah kita katakan bersama, bahwa yang benar adalah benar, yang bathil adalah bathil. Bahwa yang benar kelak pasti akan mengalahkan yang bathil. Dan jangan pernah lupa bahwa membiarkan saudara lumpuh dalam siksaan musuh Allah adalah sebuah kebathilan.Wahaii pemimpin-pemimpin dunia Islam !!! Katakan sesuatu dan rakyat akan mendukungmu.

sekian.



Selengkapnya...