Rabu, 14 April 2010

Ketika semangat Shalat meredup.

Ketika semangat shalat meredup.

Seperti air laut, iman juga ada pasang surutnya. Pasangnya air laut jarang sekali dipertahankan. Kecuali jika ada keperluan untuk “mengisi” daerah pertanian ikan atau tambak para petani ikan. Dengan jalan menutup bendungan kecil agar air laut yang masuk tidak segera “habis” masuk ke laut. Sedangkan “pasang”nya Iman harus dan wajib untuk dijaga atau dipertahankan. Kenapa ? Jika sampai terjadi kebobolan benteng atau bendungan Iman, kita akan kehilangan kendali. Kita tidak bisa lagi “berjalan” dalam hidup dalam keadaan “normal”.

Tingkah laku kita tak ubahnya seperti hewan atau binatang yang tidak mengenal kultur atau budaya. Tidak akan lagi bisa mengenali batasan-batasan syariat agama. Tidak akan lagi perduli pada siapa saja. Baik itu istri, suami, anak-anak kita, saudara-saudara kita tetangga kita. Apalagi orang-orang yang jauh dari kita. Lupa. Kita akan lupa pada mereka. Bahkan kita juga akan lupa pada siapa yang telah menciptakan kita.

Kita merasa Islam sejak lama. Dan kita juga bisa menjalankan shalat seperti yang di jalankan orang-orang lain. Tapi kadang kita tidak pernah merasa akan kebenaran Islam sebagai agama. Dan kita juga tidak pernah merasakan sesuatu yang lain yang terjadi pada diri kita disaat-saat kita menjalankan shalat. Yang hampir pasti terjadi adalah anggapan bahwa Islam adalah agama yang paling benar. Tanpa pernah menggali tentang kebenaran Islam itu sendiri. Dan yang hampir pasti terjadi adalah ketergesa-gesaan kita dalam menjalankan shalat. Mirip-mirip “taiso” peninggalan “saudara tua” kita, Nippon.

Tapi pada saat saat tertentu entah karena suatu sebab apa, tiba-tiba keinginan untuk melakukan shalat itu begitu menggebu. Rasanya tak ingin cepat lepas dari aktivitas shalat. Kedatangan waktu shalat yang lain selalu kita tunggu untuk kemudian tenggelam lagi dalam nikmatnya shalat. Keadaan ini bisa berlangsung “agak” lama. Relatif. Bisa selama 1 (satu) tahun, bisa juga sampai 5 (lima) atau 6 (enam) tahun.

Setelah periode itu, kemungkinan besar kita akan sampai pada titik jenuh ibadah shalat. Penyebab dari peristiwa seperti ini kebanyakan adalah, adanya rentang waktu yang kita sia-siakan sebelum titik jenuh itu datang. Kita berhenti dalam pemahaman ayat-ayat Allah. Baik yang ada di dalam kitabullah Al Qur`an dan ayat-ayat yang ada di alam semesta. Kita berhenti “ngaji” ilmu agama dari ustadz-ustadz yang ada di sekitar kita. Kita berpaling pada program-program Station Televisi yang semakin banyak jumlahnya.

Kejenuhan kita dalam “Ngaji” tentang ketauhidan tidak akan pernah dibiarkan oleh kelompok-kelompok yang telah berkomitmen untuk menyeberangkan kita dari keimanan menuju keingkaran. Kelompok yang tergabung dalam club “setan” akan senantiasa menunggu kelengahan kita dalam menjaga Iman. Mereka tidak menyerang dengan tangan kosong. Bahkan senjata mereka jauh lebih canggih dan lebih “halus' dari pada senjata “riil”.

Mereka bisa masuk ke dalam otak kita untuk kemudian mempengaruhi keputusan-keputusan yang akan kita ambil. Mereka bisa masuk kedalam telinga kita untuk kemudian membisiki telinga agar mendengarkan sesuatu yang tak berguna. Mereka bisa masuk ke mata kita untuk kemudian membelokkan bola mata kita ke arah yang tidak seharusnya. Mereka bisa membisikkan sesuatu di hati kita untuk kemudian menyarankan kesalahan dalam mempertimbangkan sesuatu. Bahkan yang lebih canggih mereka bisa masuk ke dalam aliran darah kita untuk kemudian mempengaruhi rangsangan sexual pada seseorang yang tidak seharusnya.

Hal seperti ini bisa terjadi pada siapa saja. Dan pada manusia level apa saja, tanpa kecuali. Rahasia kelemahan utama manusia sudah dikantongi oleh kelompok “setan”. Dengan kejutan-kejutan “nikmat” dunia, baik yang berupa materi maupun non materi manusia lebih mudah untuk dijatuhkan. Kemudian ditenggelamkan ke dasar lautan nikmat dunia yang paling dalam. Yang membuat manusia sulit bernafas lagi untuk timbul ke permukaan dan melihat kenyataan akan kebenaran.

Pada saat-saat seperti itu keinginan untuk shalat tidak lagi menggebu bahkan cenderung untuk malas. Tidak ada gairah. Sepertinya shalat tidak begitu berarti lagi. Hari-hari yang biasanya rindu waktu waktu shalat. Tidak lagi terlintas waktu datangnya shalat. Keinginan yang lain lebih kuat untuk di lampiaskan. Bahkan kita cenderung selalu menginginkannya. Kitabullah Al Qur`an yang dulu tidak pernah lepas dibaca setiap harinya, sudah mulai ditinggalkan perlahan-lahan.

Begitu kuatnya serikat setan menyerang seseorang yang tadinya begitu intens dalam ibadah shalat menjadi seseorang yang tidak lagi merindukan shalat. Dan begitu canggihnya senjata yang digunakan sehingga membuat seseorang begitu tunduk dan patuh pada perintah-perintah selanjutnya. Begitu patuh di bujuk untuk keluar dari kebiasaan shalat malam yang telah bertahun-tahun di jalaninya. kenapa bisa begitu ?

Selain banyaknya waktu yang telah kita sia-siakan. Kita tidak konsisten dalam membentuk diri dan pribadi kita. Kita setengah setengah dalam menempuhnya. Tidak intens dalam mempelajarinya. Kurang memahami bagaimana menjaga atau memelihara Iman. Kita bahkan tidak menyadari kalau “musuh” senantiasa mengintai seluruh aktifitas kita. Menunggu kapan kita lengah. Hingga dengan mudah lawan memaksa kita untuk menyerah dan tunduk bahkan bertekuk lutut di bawah pengaruhnya.

Bagaimana cara menghindarkannya ?

Seperti battery ponsel, Iman perlu untuk sering-sering di charge. Ada banyak jalan untuk “maintenance” Iman ini. Diantara jalan-jalan itu adalah
Menambah Ilmu dengan senantiasa membaca kitabullah Al Qur`an serta memahami arti dan maknanya. Pemahaman terhadap ayat-ayat Allah ini akan berakibat pada bertambahnya keimanan. Membaca sirah Nabi Muhammad dan meneladani semua apa yang di lakukan oleh beliau. Membaca kitab kitab yang berkaitan dengan ilmu agama. Semua itu akan selalu membuat kita ingat pada Allah.
Memperbanyak amal perbuatan yang baik. Iman tidak dapat terpisah dengan amal shalih. Dengan memperbanyak berbuat baik kepada manusia lain, terutama yang di anjurkan dan di atur oleh Al Qur`an akan semakin menambah keimanan kita. Karena kita akan langsung mengetahui tentang kebenaran dan manfaat dari perbuatan kita sendiri yang telah dianjurkan oleh Islam. Dan kita akan semakin tahu kalau Islam membawa kebenaran.
Memperbanyak dzikir. Banyak mengingat Allah. Di setiap saat ingatan kepada Allah harus tetap di usahakan. Diusahakan untuk mengingat Allah baik di waktu duduk, berdiri maupun di waktu berbaring. Hingga setiap saat kita bisa selalu bersama dengan Allah. Dan pasti diri dan hati kita akan selalu terlindungi dari serangan-serangan setan yang kadang tidak kita ketahui dari mana datangnya.
Berfikir dan merenungkan kejadian-kejadian yang terjadi di alam ini. Misalnya peredaran bumi, bulan dan matahari. Bergantinya siang dan malam. Dan banyak kejadian-kejadian alam yang lain yang bisa di jadikan bahan renungan untuk memperoleh kepastian akan kebenaran keberadaan Allah dengan kekuasaan dan segala yang di ciptakannya

Secara sederhana dapat disimpulkan, agar iman kita senantiasa terjaga kekuatannya, jadikanlah diri kita termasuk dalam golongan “Ulil Albaab”. Seperti yang di gambarkan di salah satu ayat.

QS. Ali Imraan : 190.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ﴿١٩٠﴾
“Inna fii khalqis samaawaati wal ardhi wakhtilafil laili wan nahaari laayaatin li`ulil albaabi”

”Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,

QS. Ali Imraan : 191.

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ﴿١٩١﴾
“Alladziina yadzkuruunallaha qiyaaman wa qu`uudan wa `alaa junuubihim wa yatafakkaruuna fii khalqis samaawaati wal ardhi robbanaa maa khalaqta haadza baathilan subhaanaka faqinaa `adzaabannari”

”(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Membaca kitabullah adalah salah satu bentuk dzikir (ingat) kepada Allah, sedangkan pemahaman terhadap ayat-ayat akan menambah kekuatan iman kita. Perhatikan satu ayat di bawah ini.

QS. Al Anfaal : 2

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ﴿٢﴾
“Innamal mu`minuunal ladziina `idzaa dzukirallahu wajilat quluubuhum wa`idza tuliyat `alaihim ayaatuhu zadathum `imanan wa alaa rabbihim yatawakkaluuna”

”Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”.

Sekian.

Tidak ada komentar: