Kamis, 29 April 2010

Laut, Sebuah Pelajaran Hidup

Laut, sebuah pelajaran hidup.

Pernahkah anda ke laut atau ke pantai ? Jika belum pernah, anda perlu untuk mencoba melangkahkan kaki anda ke laut atau ke tepi pantai. Sendirian atau dengan keluarga. Cuma kalau dengan keluarga kepentingan kita untuk datang ke pantai atau laut hanya terbatas pada keinginan untuk menikmati keindahnya saja. Jarang sekali mereka yang datang ke laut atau pantai memperoleh sebuah kesan yang sebenarnya menyampaikan sebuah pesan kepada kita.

Sebuah pesan yang mengisyaratkan kepada setiap orang yang bisa melihat, yang bisa merasakan, yang bisa memahami akan kebenaran adanya suatu dzat yang mencipta dan mengatur semua yang ada di alam ini. Bahwa Allah itu benar adanya. Semua yang ada di sekitar kita baik yang terlihat atau yang tidak terlihat oleh mata kita adalah benar ciptaanNya. Dan semua informasi yang ada di dalam Al Qur`an adalah benar. Baik berupa perintah maupun berupa larangan. Dan kita wajib untuk mentaatinya secara mutlak.

Jika anda merasa pernah atau bahkan sering mengunjungi pantai, adakah pernah anda berpikir. Mengapa air laut rasanya asin ? Kenapa terlihat berwarna biru ? Mengapa pula berombak ? Mengapa air laut itu kadang pasang kadang surut ?

Air laut asin dikarenakan proses pelapukan batuan-batuan yang ada di bumi yang terbawa oleh air hujan yang turun ke bumi menuju ke laut. Hujan sendiri terjadi akibat dari menguapnya air laut karena panas matahari yang menembus atmosfer. Kemudian turun atau jatuh di daratan dan membawa material garam yang ada di batuan-batuan menuju ke laut. Hal ini berlangsung selama milyaran tahun hingga saat ini. Proses ini tidak berjalan dengan sendirinya. Semua diatur dan diperintah oleh Allah.

QS. Faathir : 9.

وَاللَّهُ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا فَسُقْنَاهُ إِلَىٰ بَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَحْيَيْنَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ كَذَٰلِكَ النُّشُورُ﴿٩﴾
”Wallahul ladzii arsalar riyaaha fatusyiiru sahaaban fasuqnaahu `ilaa baladin mayyitin fa`ahyainaa bihil ardha ba`da mautihaa kadzaalikan nusyuuru”

”Dan Allah, Dialah Yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu kesuatu negeri yang mati lalu Kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu”.

Hujan turun di suatu tempat adalah perintah Allah. Untuk menghidupkan kembali tanah yang mati atau kering dan tidak bermanfaat bagi manusia. Dari proses penguapan air laut sampai turun di suatu tempat dan kembali laut adalah sebuah kesengajaan. Air yang tadinya asin di “angkat” kemudian diturunkan dalam keadaan tawar. Dan disaring lagi dalam tanah untuk kemudian dikonsumsi manusia dalam keadaan bersih. Dan dikembalikan lagi ke laut melalui sungai dalam keadaan kotor. Kemudian di proses lagi. Demikian berlangsung jutaan tahun.

Ayat diatas menginformasikan kepada kita bahwa Allah benar-benar akan membangkitkan mereka yang sudah mati. Seperti dengan mudahnya Allah menghidupkan tanah yang mati atau tandus. Setelah “disiram” dengan air hujan, maka semua makhluk bisa hidup disana. Termasuk binatang dan tanaman.

Lantas kenapa berwarna biru ?
Warna biru disebabkan panjang gelombang cahaya matahari yang masuk ke atmosfer bumi mulai mengecil dan panjang gelombangnya sama dengan panjang gelombang warna biru sehingga secara keseluruhan bagian dari bumi terlihat berwarna biru. Maka dari itu planet bumi juga disebut planet biru.

Bagaimana pula terjadinya ombak di pantai ?
Ombak adalah gelombang yang ada dan terjadi di permukaan laut. Terjadi karena beberapa sebab. Diantaranya adalah hembusan angin dan juga di karenakan adanya atau terjadinya pasang surut akibat dari gravitasi bulan dan matahari. Bisa juga disebabkan karena gerakan-gerakan yang terjadi di dalam laut. Seperti aktifitas gunung berapi dalam laut.

Bagaimana terjadinya pasang surut air laut dan apa manfaatnya bagi manusia ?
Peristiwa terjadinya pasang surut air laut adalah karena gaya tarik dari bulan dan matahari. Keduanya sama-sama mempunyai pengaruh pada pasang surut air laut di permukaan bumi. Pasang naik tertinggi bisa terjadi di satu tempat di bumi apabila antara bumi, bulan dan matahari berada dalam satu garis. Yaitu pada saat bulan purnama. Dan pasang naik terendah air laut bisa terjadi jika antara bumi, bulan dan matahari membentuk posisi garis tegak lurus. Yaitu pada saat bulan terlihat seperempat bagian.

Uraian diatas adalah uraian ilmiah dari sebuah proses alam. Semua yang pernah terjadi dan sedang terjadi saat ini adalah sebuah uraian ayat-ayat atau tanda-tanda tentang eksistensinya Allah swt. Bahwa Allah itu benar adanya, dan sedang mengatur semua rangkaian gerak atau proses yang terjadi di alam semesta ini. Hanya kita saja yang tidak pernah mau memahami gerakan alam.

Semua gerakan alam ini mempunyai maksud dan tujuan yang jelas. Dan semua gerakan alam itu menunjukkan bahwa alam ini bukan benda mati. Mereka semua dalam keadaan hidup dan sedang bertasbih kepada Allah. Ada beberapa ayat yang menjelaskan kalau semua yang ada di langit dan di bumi ini bertasbih kepada Allah. Demikian juga dengan bulan dan bumi yang kita tempati ini.

Coba simak, apa yang bisa diambil manfaatnya bagi manusia dengan terjadinya pasang surut air laut.
Pada saat air pasang nelayan bisa membawa perahunya ke tengah laut dan mengambil apa saja yang ada di dalamya. Terutama ikan. Dan hasil tangkapan nelayan ini bisa untuk menghidupi para nelayan dengan seluruh keluarganya. Perhatikan apakah ini sebuah ketidaksengajaan ? Nelayan pantai tidak akan pernah sampai ke tengah laut jika tidak di jemput oleh laut itu sendiri. Demikian juga nelayan tidak akan bisa kembali ke daratan tanpa diantar oleh laut dengan pasangnya air. Dan air laut tidak akan pasang kalau Allah tidak memerintahkannya.

Pasangnya air laut juga digunakan untuk meluncurkan kapal-kapal besar yang telah selesai diproduksi atau diperbaiki. Dengan jalan memanfaatkan air pasang untuk mengangkat dan menempatkan kapal diatas dok dan meluncurkannya kembali pada saat air pasang juga. Pasang surut air laut Juga bermanfaat bagi pekerjaan konstruksi di daerah pantai atau tepi laut. Mereka bekerja di waktu air surut dan mengakhiri pekerjaan di waktu air pasang.

Pasangnya air laut juga membawa ikan-ikan untuk turut mencari makan di laut dangkal. Dan para pencari ikan yang tidak mempunyai perahupun bisa juga mencari ikan pada saat air mulai pasang. Dengan cara mengail, menjala atau mungkin memasang perangkap untuk kemudian diambil pada saat air mulai surut. Apakah ini bukan merupakan suatu keadilan bagi manusia ?

Jika dibelahan bumi terjadi pasang naik maka dibelahan bumi yang lain akan mengalami pasang surut. Disaat air surut para istri nelayan yang tinggal di rumah bisa memanfaatkan waktu untuk mencari kerang yang hidup di lubang-lubang kecil di pasir laut yang terhampar. Dengan rangsangan air kapur (apu atau enjet : jawa) mereka bisa memaksa keluar “Lorjuk” yang harga di pasaran per kilonya cukup tinggi. Disamping binatang-binatang laut lain seperti yang banyak kita jumpai di pasar-pasar tradisional di tepi pantai.

Setelah beberapa saat berlalu air kembali pasang naik dan menggenangi daratan pantai. Untuk apa ? Mengantarkan kembali nelayan yang sebelumnya berangkat melaut. Dan periode ini sudah diatur sedemikian rupa hingga tangkapan para nelayan bisa sampai ke pasar dan pembeli masih dalam keadaan segar. Dan itu berlangsung setiap hari. Dan terjadi di kedua belahan bumi secara bergantian.

Apakah itu bukan suatu keadilan bagi manusia ? Apakah semua peristiwa itu berjalan dengan sendirinya ? Tidak ! Mereka semua bergerak menuruti perintah Allah. Semua yang ada di bumi ini adalah makhluk dan semua dari mereka tunduk dan patuh pada perintah Allah. Tidak pernah membantah. Kecuali manusia. Manusia sering membantah apa-apa yang diperintahkan oleh Allah. Walaupun sudah di bekali dengan akal tetap saja manusia banyak yang menyangkal tentang semua “kebenaran” alam tersebut.

Laut menyimpan banyak pelajaran bagi manusia. Ikan yang ada di dalamnya tidak pernah terasa asin dagingnya apabila ikan tersebut belum menjadi bangkai yang kering. Hal itu disebabkan ikan tidak pernah terpengaruh dengan asinnya air laut. Garam itu nikmat rasanya dan dibutuhkan oleh manusia. Jika sebuah masakan tidak di bubuhi garam rasanya “anyep” atau “hambar” dan tidak mengundang selera makan. Harus di tambahkan garam untuk mengolah setiap masakan supaya lebih nikmat rasanya. Tapi kebanyakan garam juga bisa menyebabkan celaka bagi manusia.

Ikan asin adalah ikan yang di keringkan dibawah terik matahari setelah melalui proses penggaraman. Keberadaan ikan yang diasinkan tersebut masih sangat di butuhkan oleh manusia, terutama untuk masyarakat bawah yang tidak mempunyai kemampuan untuk membeli ikan segar. Dan mereka membutuhkan “asin”nya ikan ini untuk membuat makan mereka menjadi lezat. Tetapi ada juga ikan asin yang mahal harganya. Yaitu untuk jenis ikan-ikan tertentu yang di “asin”kan.

Pelajaran yang bisa diambil dari ikan ini adalah walaupun hidup di air garam, sama sekali tidak membuat tubuh ikan terkontaminasi dengan “asin”nya garam. Demikian juga manusia. Harusnya tidak terlalu mengutamakan “keduniaan” walaupun manusia hidup di dunia dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya. Seharusnya manusia lebih berorientasi pada kehidupan setelah dunia yaitu kehidupan akhirat. Tidak terlena dengan kenikmatan-kenikmatan dan gemerlapnya kehidupan dunia. Itulah yang harusnya dipahami dari sebuah tangkapan seekor ikan dari lautan.

Lantas pelajaran apa yang bisa diambil dari keberadaan laut ? Coba saja kita simak. Laut “bersedia” menyimpan apa yang di butuhkan manusia. Laut yang begitu kaya, menyediakan dirinya untuk menjadi “gudang” atau “lumbung” makanan dan kekayaan materi bagi manusia. Airnya juga bisa dimanfaatkan untuk mengerakkan turbin-turbin uap untuk menghasilkan energi listrik yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Di daerah pesisir petani memanfaatkan air laut untuk memproduksi garam “krosok” dengan jalan ditampung dan di uapkan di tanah yang rata dan halus.

Laut bersedia menjadi jalan sekaligus mengantarkan manusia dari tepi ke tengah dan dari tengah ke tepi dengan bantuan angin yang mendorong layar-layar perahu nelayan. Laut bersedia menguapkan dirinya untuk kemudian tinggal di angkasa berupa awan dan rela untuk dibawa ke suatu tempat yang telah di tentukan. Kemudian menjatuhkan dirinya berupa butiran-butiran air yang tidak berbahaya bagi manusia di bawahnya.

Jatuhnya butir-butir air itu tak lain hanyalah untuk memberikan kehidupan makhluk yang ada di bawahnya. Bayangkan jika jatuhnya berupa bongkahan-bongkahan es batu. Pasti akan banyak jatuh korban dan mungkin manusia tidak akan bisa berkembang biak sebanyak sekarang ini. Bukankah ini sesuatu yang sudah diatur sedemikian rupa untuk kehidupan manusia ? Tapi banyak manusia yang “cuek” dan tidak mau tahu kalau dirinya diberi kehidupan, dilindungi, diberi rejeki yang demikian besar oleh Allah.

Belum lagi “keikhlasan”nya dalam menerima semua kotoran yang datang dari daratan akibat ulah manusia. Dengan seenaknya manusia membuang sampah di sungai. Kemudian sungai mengangkut sampah tersebut ke laut. Dan laut menerima dengan ikhlas sampah-sampah tersebut. Tapi laut harus “bersih”. Karena hanya yang baik dan bersih yang patut di persembahkan untuk kehidupan. Kotoran-kotoran yang masuk akan dilemparkan kembali ke tepi atau ke daratan setelah “dicuci” bersih untuk kemudian ditinggalkan pada saat air surut.

Sampai disini kita bisa menyimpulkan, betapa laut sangat berguna bagi kehidupan. Begitu Ikhlas mengorbankan diri untuk menguap menjadi awan dan kemudian turun untuk membasahi tempat-tempat yang membutuhkan serta rela menerima apapun yang dibuang ke laut oleh manusia. Begitu tulus laut mengabdi untuk kehidupan ini. Seakan memberikan contoh atau suri tauladan bagi manusia bagaimana seharusnya hidup.

Menghamba hanya kepada Allah, bersedia berkorban untuk makhluk atau manusia lain. Selalu membersihkan diri dari kotoran atau perbuatan dosa. Bersedia untuk selalu menolong manusia lain seperti laut membawa perahu atau kapal berlayar. Kesimpulannya adalah keberadaan laut sangat berguna atau bermanfaat bagi manusia dan makhluk-makhluk Allah yang lain. Begitulah seharusnya hidup. Dan Allah memberikan banyak sekali tanda-tanda dan contoh-contoh. Baik pada diri Rasulullah Sayyidina Muhammad saw maupun pada perilaku makhluk-makhluk Allah yang lain.

Mudah-mudahan luasnya laut dan indahnya pantai dapat menjadikan kita bisa memahami tentang kehidupan ini. Dan tidak segan-segan untuk mengambil pelajaran-pelajaran yang ada di dalamnya. Karena Allah tidak akan menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Pada semua ciptaanNya terdapat tanda-tanda dan pelajaran hidup yang sangat berharga bagi manusia.

sekian.

Tidak ada komentar: